← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Seven

Masalah Clara

POV: Clara

Aku tidak suka ketika Al benar.

Bukan karena dia salah bicara. Justru masalahnya, dia jarang bicara tanpa alasan.

Pagi itu, tim audit mengonfirmasi adanya transaksi duplikat di cabang timur. Jumlahnya tidak kecil. Kalau angka tersebut masuk ke laporan kuartal, perusahaan bisa mengalami kerugian besar dan dewan direksi akan menjadikanku orang pertama yang disalahkan.

Aku duduk di ruang kerja sambil menatap laporan yang sama untuk ketiga kalinya.

Al sudah melihat kejanggalannya hanya dari grafik yang ditampilkan di lorong.

Aku membutuhkan dua tahun pendidikan bisnis dan hampir satu dekade pengalaman untuk menemukan sesuatu yang dia sadari dalam beberapa detik.

Rasanya menyebalkan.

“Kak Clara?”

Asistanku muncul di pintu. “Tim audit nunggu keputusan.”

“Tunda lima belas menit.”

“Mereka udah nunggu sejak tadi.”

“Kalau gitu, mereka bisa nunggu sedikit lagi.”

Dia mengangguk lalu pergi.

Aku membuka kembali log akses. Perangkat yang menggunakan identitas laptop Al memang muncul pada waktu yang sama ketika laporan dibuka. Namun, sistem operasinya berbeda. Itu berarti seseorang membuat perangkatnya terlihat seperti milik Al, tetapi tidak cukup teliti untuk meniru seluruh sistem.

Al langsung melihatnya.

Aku tidak tahu harus menganggapnya apa. Cerdas? Mencurigakan? Atau keduanya?

Ponselku bergetar. Pesan dari Mama masuk.

Tolong ajak Al ke kantor lagi kalau dia bersedia.

Aku menatap pesan itu beberapa detik sebelum membalas.

Dia tidak mudah diajak.

Balasannya datang cepat.

Kamu juga tidak mudah mengajak orang.

Aku menghela napas.

Mama selalu membela orang yang baru dikenalnya. Kali ini orang tersebut adalah suami barunya dan anak laki-laki yang datang membawa satu ransel, laptop tua, serta sikap seolah seluruh dunia tidak menarik.

Aku menemukan Al di ruang makan. Dia sedang minum kopi sambil membaca sesuatu di ponsel.

“Kamu ada waktu?” tanyaku.

Dia menatapku sebentar. “Ada.”

“Bagus. Ikut aku ke kantor.”

“Nggak.”

Aku menarik kursi di depannya. “Aku belum selesai bicara.”

“Aku udah selesai jawab.”

Kalimat itu persis seperti yang dia ucapkan kepadaku kemarin. Aku tidak tahu apakah dia sengaja menirukanku atau memang sesingkat itu setiap saat.

“Aku butuh bantuanmu.”

Al meletakkan ponselnya. “Bantuan apa?”

“Ngecek log jaringan.”

“Kamu punya tim keamanan.”

“Mereka lagi kerja.”

“Aku juga.”

“Kamu lagi minum kopi.”

“Kopi bagian dari pekerjaan.”

Aku memandangnya tajam. “Al.”

Dia menghela napas. “Berapa lama?”

“Satu jam.”

“Empat puluh menit.”

“Satu jam.”

“Lima puluh.”

“Setuju.”

Aku baru sadar bahwa kami baru saja melakukan negosiasi untuk sesuatu yang sebenarnya sudah dia setujui sejak awal.

Di kantor, aku membawa Al langsung ke ruang keamanan. Dua anggota tim sudah menyiapkan salinan log. Mereka terlihat tidak nyaman melihatku membawa orang luar, apalagi seseorang yang dituduh terlibat dalam kebocoran.

Al duduk dan mulai membaca data.

Dia tidak banyak bertanya. Hanya meminta rentang waktu tertentu, nama router, serta daftar perangkat yang terhubung. Setelah itu, matanya bergerak cepat dari satu baris ke baris lain.

“Perangkat ini bukan cuma niru nama laptopmu,” katanya.

Aku berdiri di belakangnya. “Apa lagi?”

“Dia nyalin identitas perangkat, tapi lupa ngubah pola koneksinya.”

“Maksudnya?”

“Laptopku terhubung ke jaringan dengan interval tertentu. Perangkat ini masuk dan keluar terlalu cepat.”

Salah satu staf keamanan mendekat. “Bisa dipastikan?”

Al menunjuk grafik. “Lihat jeda ini. Perangkat normal bakal ngirim permintaan kecil secara berkala. Ini makai sambungan singkat, ngambil file, terus keluar.”

“Kayak perangkat yang cuma dipakai buat nyuri data,” kataku.

“Iya.”

Aku menatap Al. “Bisa dilacak?”

“Kalau log belum dihapus.”

Staf keamanan membuka data tambahan. Al meminta mereka mencari satu pola tertentu. Dua menit kemudian, mereka menemukan perangkat yang sama muncul di lantai eksekutif tiga hari sebelumnya.

“Lokasinya?” tanyaku.

“Ruang rapat utama.”

Aku langsung teringat Victor.

Al tidak menyebut namanya. Dia hanya memandangku dengan wajah datar.

“Kamu pikir dia?” tanyaku.

“Aku nggak bilang.”

“Tapi kamu berpikir begitu.”

“Aku berpikir semua orang yang ada di ruangan itu harus diperiksa.”

Aku menatap layar. Victor memang berada di sana. Namun, menuduhnya tanpa bukti akan membuat masalah lebih besar.

“Kamu bisa bantu buktiinnya?”

“Bisa.”

“Berapa lama?”

“Tergantung seberapa banyak orang yang mau hapus jejak.”

“Kalau aku ngasih kamu akses penuh?”

Al menoleh kepadaku. “Aku nggak butuh akses penuh.”

“Kamu tadi bilang butuh izin.”

“Izin terbatas.”

“Kenapa?”

“Karena akses penuh bikin semua orang keliatan bersalah.”

Jawaban itu membuatku diam.

Dia memang berbeda dari orang-orang yang biasa bekerja di sekitarku. Mereka selalu meminta ruang lebih besar, jabatan lebih tinggi, dan akses yang lebih luas. Al justru menolak semuanya.

Setelah hampir satu jam, dia berdiri.

“Selesai?” tanyaku.

“Buat hari ini.”

“Kita belum tahu siapa pelakunya.”

“Kita tahu cara dia masuk.”

“Itu belum cukup.”

“Tapi udah lebih baik daripada nuduh orang yang bawa laptop.”

Aku memandangnya. “Kamu masih ngebahas itu?”

“Victor yang mulai.”

“Kamu nggak pernah marah?”

“Aku marah kalau perlu.”

“Terus sekarang nggak perlu?”

“Belum.”

Al pergi lebih dulu. Aku mengikutinya sampai lorong lift.

“Al.”

Dia berhenti.

“Terima kasih.”

“Kamu udah bilang.”

“Belum.”

“Tadi kamu bilang.”

“Maksudku, buat kemarin.”

“Aku juga udah nerima.”

Aku menatap punggungnya yang menjauh. Ada sesuatu yang sangat mengganggu dari cara dia menerima ucapan terima kasih. Dia tidak terlihat senang, tidak terlihat malu, dan tidak terlihat mengharapkan balasan.

Seolah-olah membantu orang memang sesuatu yang biasa baginya.

Malamnya, aku kembali ke rumah lebih dulu daripada Al. Aku menemukan Mama sedang berbicara dengan Damar di ruang tengah.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Mama.

Aku tahu siapa yang dimaksud.

“Dia nggak kayak yang kita kira,” jawabku.

Mama tersenyum. “Kamu mulai suka sama dia?”

“Jangan berlebihan.”

“Aku cuma nanya.”

“Aku mulai nganggep nggak berbahaya.”

“Itu kemajuan besar.”

Aku ingin menyangkal, tetapi tidak bisa.

Beberapa saat kemudian, Al pulang. Dia melepas sepatu di dekat pintu, mengangguk kepadaku, lalu berjalan menuju kamarnya.

“Al,” panggilku.

Dia menoleh.

“Besok… kalau kamu nggak sibuk, aku mungkin butuh bantuan lagi.”

“Kirim pesan.”

“Kamu nggak keberatan?”

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Kamu minta bantuan atau merintah.”

Aku hampir tersenyum. “Aku bakal minta.”

“Oke.”

Dia pergi.

Aku berdiri di tempat selama beberapa detik.

Aku masih belum mempercayai Al sepenuhnya.

Sebelum tidur, aku membuka ulang dokumen perjanjian yang sudah ditandatangani Al. Tambahan klausulnya sederhana, tetapi cukup untuk membuatku merasa tidak nyaman.

Dia tidak meminta perlindungan untuk dirinya sendiri. Dia hanya meminta agar ayahnya tidak dipermalukan.

Aku teringat bagaimana dia berdiri di ruang rapat, sendirian di antara orang-orang yang jauh lebih berkuasa, lalu mengatakan bahwa data mereka tidak masuk akal tanpa berusaha terlihat hebat.

Al tidak sedang mencari tempat di keluarga kami.

Mungkin justru itu yang membuatku mulai takut kalau dia benar-benar pergi.

Namun, untuk pertama kalinya, aku mulai berharap dia tidak benar-benar pergi setelah seminggu.