← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Four

Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi

Agnes mulai mengawasiku sejak hari kedua.

Dia melakukannya dengan cara yang tidak terlalu halus. Setiap kali aku keluar kamar, dia tiba-tiba muncul di ujung lorong. Ketika aku turun untuk mengambil air, dia duduk di ruang tengah dengan ponsel mengarah ke wajahnya, tetapi matanya terus mengikuti gerakanku.

Aku membiarkannya.

Kalau seseorang ingin tahu apakah aku akan mencuri vas bunga atau membuka brankas keluarga, setidaknya dia harus diberi kesempatan untuk kecewa.

Pagi itu, aku bekerja di kamar sampai hampir siang. Koneksi internet rumah cukup cepat, meskipun sistem keamanannya buruk. Beberapa perangkat terhubung tanpa pengaturan yang benar, dan salah satu kamera luar masih menggunakan kata sandi bawaan pabrik.

Aku tidak menyentuh apa pun. Aku hanya menyimpan catatan di kepala.

Sekitar pukul sebelas, aku turun untuk membuat kopi. Agnes sedang duduk di sofa sambil memainkan tablet retaknya.

“Tablet itu belum boleh dipakai,” kataku.

Dia menatapku. “Aku cuma buka satu aplikasi.”

“Baterainya tetap menggembung.”

“Kalau meledak, kamu bisa benerin?”

“Kalau tanganmu putus, nggak.”

Agnes mendengus. “Kamu selalu punya jawaban menyebalkan.”

“Kamu selalu punya pertanyaan yang sama.”

Aku membuat kopi, lalu kembali ke kamar.

Saat menutup pintu, mataku menangkap sesuatu di dekat rak buku. Sebuah titik hitam kecil menempel di sudut kayu. Bentuknya hampir menyatu dengan warna rak, tetapi lampu kecil di sampingnya berkedip setiap beberapa detik.

Aku berdiri diam.

Kamera tersembunyi.

Posisinya mengarah tepat ke meja kerja dan sebagian besar ruangan.

Aku mengambil kursi, berdiri di atasnya, lalu melepas kamera itu dari tempatnya. Tidak ada kabel. Kamera menggunakan koneksi nirkabel dan baterai kecil.

Aku menekan tombolnya. Lampunya mati.

Lima menit kemudian, pintuku diketuk.

Agnes masuk tanpa menunggu jawaban. Wajahnya terlihat terlalu polos untuk seseorang yang baru saja memasang kamera tersembunyi.

“Kamu manggil aku?” tanyanya.

Aku menunjukkan kamera di tanganku.

Wajahnya berubah.

“Itu bukan punyaku.”

“Aku belum bilang apa-apa.”

“Aku juga nggak tahu kenapa kamu megang benda itu.”

“Karena tadi ada di rak.”

Agnes menutup pintu di belakangnya. “Kamu ngebongkar barang-barangku?”

“Ini bukan barangmu.”

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Dari mana?”

Aku membalik kamera itu dan menunjukkan bagian belakangnya. “Model ini dibeli lewat akun Helena dua minggu lalu. Tapi bukan dia yang masang.”

Agnes memandang benda itu dengan wajah yang perlahan kehilangan keberanian.

“Kamu ngeretas sistem rumah?”

“Nggak.”

“Kamu baru aja bilang tahu kamera ini dibeli lewat akun Mama.”

“Struk pembelian dikirim ke email bersama.”

“Kamu buka email keluarga?”

“Emailnya terbuka di komputer ruang kerja.”

“Jadi kamu tetap buka?”

“Aku lihat karena layarnya menyala.”

Agnes meraih kamera itu, tetapi aku menahannya.

“Jangan dipasang lagi.”

“Kenapa?”

“Karena kamera ini terhubung ke internet tanpa pengamanan yang bagus.”

“Emangnya siapa yang mau lihat?”

“Orang lain.”

“Kamu nakut-nakutin aku?”

“Aku cuma jelasin.”

Agnes melipat tangan di dada. “Aku masang itu buat ngawasin kamu.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Sejak lampunya berkedip.”

“Terus kenapa kamu nggak marah?”

Aku menaruh kamera itu di meja. “Aku lagi males banget.”

Agnes menatapku seolah jawaban itu lebih membuatnya kesal daripada kalau aku berteriak.

“Kamu harusnya marah. Aku masang kamera di kamar kamu.”

“Iya.”

“Terus?”

“Terus aku tahu.”

“Kamu nggak punya harga diri?”

“Punya.”

“Kelihatannya nggak.”

“Aku cuma nggak mau buang-buang tenaga buat hal yang udah selesai.”

Agnes menunduk sebentar. Kemudian dia mengambil kamera itu lagi.

“Aku cuma mau mastiin kamu nggak ngambil sesuatu dari rumah ini.”

“Kalau mau mastiin, periksa aja tasku.”

“Boleh?”

“Silakan.”

Agnes terlihat kaget. “Serius?”

Aku mengambil tas ransel dari dekat lemari dan meletakkannya di atas kasur. Isinya hanya beberapa pakaian, charger, dompet, dua buku, dan laptop kerja.

Agnes membuka salah satu saku. Dia memeriksa semuanya tanpa menemukan apa pun selain kabel dan sebatang permen yang sudah meleleh.

“Kamu benar-benar nggak bawa apa-apa,” katanya.

“Aku udah bilang.”

“Bisa aja barangnya udah kamu sembunyiin.”

“Di mana?”

“Aku nggak tahu.”

“Berarti penyembunyiannya bagus.”

Agnes hampir tersenyum, tetapi segera menahannya.

Aku mengambil kamera dari tangannya dan membuka penutup baterai. “Kalau kamu tetap mau makainya, minimal matiin akses jarak jauhnya.”

“Kamu mau bantuin aku?”

“Aku mau mastiin nggak ada orang lain yang lihat kamar ini.”

“Bedanya apa?”

“Kalau kamu yang lihat, aku bisa ngusir kamu.”

Agnes duduk di tepi kasur. “Kamu aneh.”

“Udah dibilang.”

Aku memutus koneksi kamera itu, lalu mengembalikannya kepada Agnes.

“Jangan pasang di sini lagi.”

“Kalau aku pasang di tempat lain?”

“Pakai model yang lebih bagus.”

Agnes menatapku. “Kamu beneran bantuin aku buat mata-matain kamu.”

“Aku benerin kesalahanmu.”

“Tetap aja ngebantu.”

“Jangan kepedean.”

Dia terdiam, lalu memandang laptop di meja. “Kamu kerja apa sebenarnya?”

“Udah kubilang. IT.”

“IT apa?”

“Banyak.”

“Jawabanmu ngebosenin.”

“Pertanyaanmu berulang.”

Agnes mengambil kamera itu, lalu berjalan ke pintu. Sebelum keluar, dia berhenti.

“Al.”

“Hm?”

“Jangan bilang Clara.”

“Tentang kamera?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Dia pasti bakal marahin aku.”

“Emang salahmu.”

“Kamu bisa aja nggak bilang.”

Aku menatapnya. “Bisa.”

“Jadi?”

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Kamu masih bakal masang lagi atau nggak.”

Agnes menggigit bibir. “Nggak.”

“Oke.”

Dia keluar dan menutup pintu.

Aku kembali ke laptop, tetapi belum sempat duduk ketika terdengar suara gaduh dari lorong. Eve sedang memarahi Agnes karena mengambil kamera dari ruang penyimpanan tanpa izin. Agnes membalas dengan suara yang lebih keras.

Clara menyuruh mereka berhenti. Helena bertanya apa yang terjadi. Ayah terdengar tertawa kecil, mungkin karena tidak tahu harus melakukan apa lagi.

Aku memasang earphone.

Lima menit kemudian, pintuku diketuk lagi.

Kali ini Agnes masuk sambil membawa tablet retaknya.

“Jangan suruh aku pergi,” katanya sebelum aku bertanya.

“Aku belum nyuruh.”

“Tabletku makin panas.”

Aku mengulurkan tangan. “Sini.”

Agnes menyerahkannya dengan ragu.

Aku membuka bagian belakangnya, melepas baterai yang menggembung, dan mematikan perangkat sepenuhnya.

“Jangan dipakai sampai baterainya diganti.”

“Kamu bisa benerin?”

“Bisa.”

“Kapan?”

“Nanti.”

“Nanti kapan?”

“Kalau udah ada baterainya.”

Agnes memeluk tabletnya yang sudah mati. “Kamu bisa langsung pesan?”

“Bisa.”

“Tolong.”

Aku menatapnya. Itu pertama kalinya dia meminta sesuatu tanpa nada menantang.

“Kirim modelnya.”

Agnes mengangguk, lalu berjalan keluar.

Di ambang pintu, dia berbalik. “Al?”

“Apa?”

“Terima kasih.”

Aku kembali menatap layar laptop. “Jangan pasang kamera lagi.”

“Iya.”

Setelah pintu tertutup, aku baru menyadari bahwa untuk pertama kalinya sejak datang, seseorang di rumah ini tidak menatapku seperti pencuri.

Hanya seperti orang aneh yang bisa memperbaiki tablet.

Menurutku, itu sudah kemajuan.