← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Twenty Eight

Agnes Menemukan Celah

POV: Agnes

Aku menghabiskan malam dengan melihat pola yang sama berulang kali.

Serangan terhadap Aegis tidak pernah bergerak lurus. Ia selalu memutar, berhenti, lalu muncul dari jalur yang sudah dianggap bersih.

Al menyebutnya serangan yang meniru.

Aku menyebutnya kebiasaan seseorang yang takut terlihat pintar.

Orang yang benar-benar memahami sistem akan membuat pola yang lebih bersih. Penyerang ini justru terlalu sering menyalin bagian yang tidak perlu.

“Kamu udah meriksa ini sejak tadi,” kata Al dari belakangku.

“Karena ada yang salah.”

“Bagian mana?”

“Mereka buka pintu sama kunci lama.”

Al duduk di sampingku. “Kunci lama udah nggak aktif.”

“Secara resmi.”

Aku memperbesar tampilan log. Ada tiga transaksi yang memakai token lama, tetapi sistem menerimanya sebagai permintaan pembaruan. Itu seharusnya tidak mungkin.

“Lihat ini,” kataku.

Al mencondongkan tubuh.

“Token itu nggak nembus sistem. Sistem yang nganggep token itu bagian dari proses pemulihan.”

“Jadi?”

“Jadi seseorang nanam jalur pemulihan palsu sebelum sistem diupdate.”

Al menatap layar. “Kapan?”

Aku membuka arsip lama.

Tiga tahun lalu.

“Kamu punya akses ke arsip penelitian lama?” tanyanya.

“Aku bikin aplikasi pemetaan dokumentasi buat tim internal. Semua arsip yang nggak terenkripsi tersusun di sini.”

“Kamu nggak pernah bilang bisa ngelakuin ini.”

“Kamu nggak pernah nanya.”

“Kalian bertiga suka sekali ngomong itu.”

“Karena emang benar.”

Al tidak membantah.

Aku menemukan nama modul yang membuat tengkukku terasa dingin. Modul itu dibuat oleh tim eksternal bernama Asterion Labs sebelum seluruh proyek dihentikan.

Di daftar kontributor, ada satu nama yang muncul berkali-kali.

Raka Mahendra.

“Siapa dia?” tanya Al.

“Mantan arsitek keamanan Aegis.”

“Kenapa dia keluar?”

“Versi resmi: perbedaan visi.”

“Versi nggak resmi?”

“Dia mau jual akses ke investor asing.”

Al mengambil ponselnya. “Mikael.”

Nama itu segera muncul di layar.

“Kamu juga nemu Raka?” tanya Mikael.

“Agnes yang nemu,” kata Al.

“Kalau gitu, Agnes nemu orang yang selama ini kami cari.”

Jantungku berdebar.

“Apa maksudnya?” tanyaku.

Mikael mengirim dokumen lama. Di dalamnya ada email antara Raka dan Victor.

Email itu tidak menyebut Aegis secara langsung. Mereka memakai istilah proyek dan aset strategis. Namun tanggalnya sama dengan saat Victor mulai mendorong Helena menerima investor baru.

“Victor tahu tentang sistem ini sejak awal,” kataku.

“Dia mungkin nggak tahu identitas Zero,” kata Al.

“Tapi dia tahu cukup buat jual pintu masuk.”

Al mengambil napas panjang. “Kita harus ngasih tahu Clara dan Helena.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Kami turun ke ruang keluarga. Eve dan Clara sedang memeriksa rekaman kamera dari percetakan.

Clara langsung berdiri ketika melihat wajah Al.

“Apa yang terjadi?”

Aku meletakkan laptop di atas meja.

“Kami nemu jalur pemulihan palsu,” kataku. “Jalur itu ditanem tiga tahun terus oleh Raka Mahendra. Victor berkomunikasi sama dia pada periode yang sama.”

Helena datang dari ruang kerja setelah mendengar namanya.

“Victor?” tanyanya.

Clara memberikan dokumen itu kepadanya.

Helena membaca sampai selesai. Wajahnya tidak menunjukkan banyak emosi, tetapi jemarinya mulai gemetar.

“Aku pernah percaya sama dia,” katanya.

“Dia bukan satu-satunya orang yang terlibat,” kata Al.

“Apa maksudmu?”

Al memandang kami semua.

“Serangan ini nggak cuma buat ngambil data. Mereka mau maksa Aegis buka struktur inti. Kalau berhasil, mereka bisa jual ulang algoritma dan ngendaliin perusahaan yang bergantung padanya.”

“Kenapa mereka ngincer keluarga kita?” tanya Eve.

“Karena mereka ngira Zero berada deket sama kalian.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku menatap Al.

Dia tidak menyebut namanya sendiri, tetapi jawabannya terasa terlalu dekat.

“Kamu tahu siapa Zero?” tanya Clara.

Al tidak menjawab.

Pertanyaan itu menggantung sampai laptopku berbunyi.

Ada percobaan penghapusan data dari server cadangan.

“Mereka tahu kita nemu jalurnya,” kataku.

Aku menghubungkan laptop ke server melalui jalur aman. Al memintaku mundur, tetapi aku menggeleng.

“Aku bisa ngunci arsip ini.”

“Agnes, jangan ambil risiko.”

“Kalau aku berhenti sekarang, mereka bakal hapus bukti.”

Clara berdiri di belakangku. “Kami semua di sini.”

Eve mengambil ponselnya. “Aku bakal hubungi petugas keamanan.”

Al menatapku beberapa detik, lalu mengangguk.

“Oke. Aku bakal ngikutin arahmu.”

Kalimat itu membuat tanganku lebih stabil.

Serangan kedua datang seperti gelombang. Sistem mencoba memaksa laptopku keluar dari jalur aman, tetapi aku membuat salinan palsu dan mengarahkannya ke ruang kosong.

“Mereka ngira udah berhasil,” kataku.

“Jangan terlalu cepat puas,” kata Al.

“Aku tahu.”

Aku menunggu sampai penyerang membuka folder bukti. Pada saat itu, sistem menangkap jejak koneksi mereka.

Lokasinya muncul di layar.

Data center lama di kawasan pelabuhan.

“Mereka bakal ngelakuin ekstraksi fisik,” kata Al.

“Kapan?” tanya Clara.

Aku membaca jadwal sinkronisasi.

“Besok malam.”

Al menutup laptopku.

“Kita nggak nunggu sampai besok.”

“Apa rencanamu?” tanya Eve.

“Kita mindahin semua aset penting.”

“Terus nyerahin sisanya ke polisi?” tanya Agnes.

“Nggak. Kita buat mereka dateng ke tempat yang kita pilih.”

Aku memandang Al. “Kamu mau makai umpan?”

“Kali ini bukan kamu.”

“Kamu?”

“Aku.”

Aku menyentuh lengannya. “Jangan pergi sendirian.”

Al menatapku.

“Kamu bilang kami harus berdiri di sisimu,” lanjutku. “Jadi jangan suruh kami nunggu di rumah.”

Dia menghela napas. “Kalian benar-benar nggak mudah dilindungi.”

“Kami nggak minta dilindungi terus,” kataku. “Kami minta dipercaya.”

Al mengangkat tangannya dan menyentuh pipiku.

Ciuman kami terjadi di tengah ruang keluarga, di depan Clara dan Eve yang langsung berpura-pura sibuk membaca dokumen.

Ciuman itu dalam, tenang, dan membuat seluruh tubuhku gemetar karena aku tahu malam berikutnya mungkin tidak akan sesederhana ini.

Ketika kami berpisah, Al berbisik, “Jangan jauh dariku besok.”

“Aku nggak bakal.”

Di layar yang masih menyala, lokasi data center berkedip merah.

Untuk pertama kalinya, aku tidak hanya menemukan celah dalam sistem.

Aku menemukan jalan menuju orang yang mencoba menghancurkan rumah kami.

Al tidak langsung pergi setelah kami selesai bekerja. Dia duduk di lantai dekat mejaku sambil membaca daftar bukti.

“Kamu lelah,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamu bisa berhenti.”

“Aku juga tahu.”

Dia menatapku. “Kenapa tetap lanjut?”

“Karena kalau aku berhenti cuma karena takut, besok aku bakal lebih takut lagi.”

Al mengangguk, lalu mengambil salah satu perangkat cadangan. “Mulai sekarang, jangan simpan semua salinan di tempat yang sama.”

“Aku udah tahu.”

“Aku cuma mastiin.”

“Kamu mulai kedengeran kayak aku.”

“Itu bukan pujian.”

Aku tersenyum. Di tengah ancaman dan layar yang terus berubah, percakapan kecil itu membuat malam terasa sedikit lebih normal.

Malam itu, aku membuat salinan seluruh bukti ke tiga perangkat berbeda. Satu kusimpan di server, satu kukirim kepada penyidik melalui jalur resmi, dan satu lagi kusimpan dalam penyimpanan pribadi.

Clara membantuku memeriksa nama-nama yang muncul di dokumen. Eve menghubungi orang-orang yang mungkin mengenali kendaraan Nusa Shield. Al bekerja dengan Mikael tanpa mengeluh meski sudah lewat tengah malam.

Kami tidak lagi bergerak sebagai orang-orang yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.

Kami bergerak seperti satu tim.

Sebelum tidur, Al menghampiriku di depan kamar.

“Terima kasih,” katanya.

“Buat apa?”

“Karena kamu nggak mundur.”

“Aku takut.”

“Aku tahu.”

“Aku tetap takut.”

Al mengangguk. “Aku juga.”

Pengakuan itu membuatku lebih tenang daripada semua penjelasan teknis.

Aku memegang tangannya. “Besok jangan bohong kalau keadaan makin parah.”

“Aku nggak bakal.”

“Jangan bikin janji kalau kamu nggak bisa nepatin.”

“Aku bakal berusaha.”

Aku menatapnya tajam.

“Baik,” katanya. “Aku bakal nepatin.”

Kali ini aku percaya.