← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Seventeen

Nama yang Tidak Pernah Dicari

POV: Al

Aku tidak tidur malam itu.

Bukan karena foto Damar. Aku sudah memastikan ayah tidak pergi ke rumah sakit sendirian dan tidak ada orang asing yang mengikuti mobilnya.

Aku tidak tidur karena seseorang di luar sana tahu cara menghubungkan pekerjaanku dengan rumah ini.

Pukul satu lewat dua puluh, ponsel cadanganku bergetar.

Nomor yang muncul tidak tersimpan, tetapi aku mengenalnya.

Mikael.

Aku keluar dari kamar dan naik ke balkon kecil di lantai tiga. Angin malam cukup dingin untuk membuat suara percakapan tidak terdengar sampai ke dalam rumah.

“Bicara,” kataku setelah menerima panggilan.

“Kami dapet permintaan dari dua perusahaan asing buat buka kembali lisensi Aegis.”

“Tolak.”

“Mereka nawarin angka yang jauh lebih besar.”

“Tetap tolak.”

“Zero, ini bukan keputusan kecil.”

Aku melihat lampu taman di bawah. “Aku lagi nggak bisa ngurus proyek baru.”

“Mereka minta bertemu denganmu.”

“Mereka nggak tahu siapa aku.”

“Mereka tahu cukup banyak.”

Aku diam.

Mikael melanjutkan, “Ada pihak yang nyoba beli hak paten lewat perusahaan perantara. Mereka makai nama yang sama dengan salah satu grup di Indonesia.”

“Wijaya?”

“Kami belum bisa mastiin.”

Aku menggenggam pagar balkon.

Aegis bukan sekadar algoritma yang kubuat lalu kulupakan. Sistem itu sudah dipakai banyak jaringan transaksi di luar negeri. Kalau seseorang mencoba membelinya melalui perusahaan yang terhubung dengan Victor, masalahnya jauh lebih besar daripada konflik keluarga.

“Jangan kirim dokumen apa aja ke Indonesia,” kataku.

“Kami udah nahan semua proses.”

“Periksa siapa yang ngajuin.”

“Udah. Identitasnya dilindungi perusahaan cangkang.”

“Bongkar.”

Mikael tertawa kecil. “Kamu kedengeran kayak Zero lagi.”

“Aku emang Zero.”

“Itu nama yang nggak bisa kamu gunakan di rumah.”

“Aku tahu.”

Dari balik pintu kaca, aku melihat bayangan seseorang di lorong.

Aku menutup mikrofon ponsel.

“Aku bakal ngehubungin kamu lagi,” kataku.

“Tunggu. Kami juga perlu persetujuan tentang distribusi royalti bulan ini.”

“Kirim ke rekening biasa.”

“Jumlahnya cukup besar.”

“Aku tahu.”

“Kamu mau kami alihkan ke rekening lain?”

“Nggak perlu.”

Aku memutus panggilan.

Ketika berbalik, Clara berdiri di dekat pintu balkon.

Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di sana.

“Kamu denger?” tanyaku.

“Cukup.”

“Seharusnya kamu tidur.”

“Kamu juga.”

Aku memasukkan ponsel ke saku. “Aku lagi kerja.”

“Dengan siapa?”

“Klien.”

“Mikael?”

Aku menatapnya.

“Aku denger namanya,” kata Clara. “Terus dia manggil kamu Zero.”

“Nama panggilan.”

“Nama panggilanmu?”

“Di internet.”

“Kamu terkenal?”

“Nggak.”

“Dia ngebahas royalti.”

“Orang IT juga dapet royalti.”

“Sebesar apa?”

“Tergantung kontrak.”

Clara melangkah mendekat. “Al.”

“Hm?”

“Kamu sebenarnya kerja buat siapa?”

“Banyak orang.”

“Jawabanmu nggak pernah jelas.”

“Karena pertanyaanmu selalu mau tahu terlalu banyak.”

Clara memeluk kedua tangannya. “Aku cuma mau tahu apakah kamu lagi bawa masalah ke rumah ini.”

Aku menatapnya. “Masalahnya udah ada sebelum aku datang.”

“Tapi kamu tahu sesuatu.”

“Aku tahu seseorang nyoba beli sesuatu yang bukan miliknya.”

“Apa hubungannya sama perusahaan kami?”

“Belum tahu.”

“Kamu bisa nyari tahu?”

“Bisa.”

“Terus kamu bakal ngasih tahu aku?”

“Kalau udah pasti.”

Clara terlihat ingin marah, tetapi menahannya.

“Kamu tahu apa yang paling bikin aku kesal?” tanyanya.

“Banyak.”

“Kamu selalu keliatan tenang ketika semua orang lain panik.”

“Panik nggak bikin masalah lebih cepat selesai.”

“Kadang orang cuma mau ditemenin panik.”

Aku menatap wajahnya. “Kamu mau ditemenin?”

Clara terdiam.

“Bukan itu maksudku,” katanya.

“Aku tahu.”

Dia berjalan kembali ke pintu. Sebelum pergi, dia menoleh.

“Kalau ada sesuatu yang ngebahayain Mama atau adik-adikku, bilang.”

“Aku bakal bilang.”

“Jangan cuma lindungi mereka diam-diam.”

“Aku nggak janjiin.”

Clara menatapku kesal, tetapi tidak membalas.

Setelah dia pergi, aku membuka laptop cadangan. Di dalamnya ada beberapa dokumen yang tidak pernah kusimpan di jaringan rumah.

Aku mencari nama perusahaan cangkang yang disebut Mikael.

Hasilnya tidak banyak. Namun, satu alamat muncul berulang kali.

Alamat kantor cabang milik perusahaan Victor.

Aku menutup laptop.

Aku kembali menghubungi Mikael setelah Clara pergi.

“Cari hubungan antara perusahaan cangkang itu dan Victor,” kataku.

“Kalau kami nemu bukti, apa yang bakal kamu lakukan?”

“Simpan.”

“Nggak langsung nyerang?”

“Nggak.”

“Kamu berubah sejak tinggal bersama keluarga itu.”

“Aku cuma punya lebih banyak alasan buat berhati-hati.”

Mikael tertawa kecil. “Kamu biasanya nggak peduli kalau orang lain benci kamu.”

“Aku masih nggak peduli.”

“Tapi sekarang kamu peduli kalau mereka diserang.”

Aku tidak menjawab.

Dia mengirimkan laporan sementara. Perusahaan cangkang itu memang punya hubungan dengan salah satu direktur yang dekat dengan Victor. Belum cukup untuk menuduh, tetapi cukup untuk membuatku tidak tenang.

“Jangan kirim laporan ini ke perangkat rumah,” kataku.

“Kamu takut mereka lihat?”

“Aku nggak mau mereka tahu sebelum waktunya.”

“Termasuk perempuan-perempuan itu?”

“Terutama mereka.”

“Kenapa?”

“Karena mereka udah cukup banyak masalah.”

“Atau karena kamu takut mereka lihat siapa dirimu?”

Aku memutus panggilan.

Beberapa saat kemudian, aku membuka rekening yang selama ini jarang kugunakan. Royalti Aegis baru saja masuk. Jumlahnya lebih besar daripada seluruh nilai rumah yang kutinggali sekarang.

Aku tidak merasa bangga melihat angka itu.

Uang hanya berguna kalau bisa menyelesaikan sesuatu. Saat ini, uang tidak bisa membuat Helena mempercayai ayahku, tidak bisa menghentikan Victor, dan tidak bisa membuat Agnes berhenti terluka.

Sebelum menutup layar, aku menemukan satu transaksi kecil dari perusahaan cangkang tersebut. Nilainya tidak besar, hanya biaya konsultasi, tetapi tanggalnya bertepatan dengan hari ketika perangkat palsu muncul di jaringan Wijaya.

Orang yang menerima pembayaran itu memakai nama samaran. Namun, pola rekeningnya mengarah kepada seorang konsultan keamanan yang pernah bekerja untuk Victor.

Aku tidak menyimpan kesimpulan itu di komputer rumah. Aku menulisnya di kertas, lalu membakarnya di wastafel.

Clara mungkin belum mempercayaiku. Helena juga belum tahu siapa yang sedang menyerang perusahaannya. Aku tidak boleh membawa bukti setengah jadi kepada mereka hanya karena ingin terlihat berguna.

Di layar ponsel, pesan dari Mikael kembali muncul.

We can protect the project, but we cannot protect your family.

Aku membaca kalimat itu lama.

Selama ini, Zero bisa menghilang dari jaringan mana pun. Aku bisa mengganti identitas, memindahkan aset, dan memutus semua hubungan sebelum orang lain menemukan jejak.

Tapi keluarga Wijaya tidak bisa melakukan itu.

Untuk pertama kalinya, aku mulai mengerti kenapa orang kaya selalu memiliki pengawal, pengacara, dan orang-orang yang memeriksa setiap sudut rumah.

Uang tidak menghilangkan bahaya. Uang hanya membuat bahaya datang dari lebih banyak arah.

Aku menutup layar sebelum siapa pun melihat.

Di rumah ini, tidak ada seorang pun yang tahu siapa aku sebenarnya.

Untuk sementara, itu memang lebih aman.

Tapi semakin lama aku tinggal di sini, semakin sulit menyembunyikan nama yang selama ini tidak pernah dicari siapa pun.