Chapter Thirty Four
Zero di Depan Dunia
POV: Al
Aku pernah membayangkan hari ketika identitasku terbuka.
Dalam bayangan itu, aku berada sendirian di ruang gelap, dikelilingi layar, menonton namaku muncul di jutaan perangkat. Tidak ada suara manusia. Tidak ada tangan yang menyentuhku. Tidak ada orang yang bisa dipakai untuk melawanku.
Aku pikir itu cara paling aman.
Aku salah.
Hari itu aku berdiri di ruang konferensi bersama tiga perempuan yang tidak pernah membiarkanku bersembunyi terlalu lama.
North Vale mengajukan tuntutan balasan. Mereka menuduh Aegis melakukan sabotase terhadap demonstrasi mereka. Pengacara mereka menyebut paket autentikasi sebagai serangan siber.
Ruang sidang dipenuhi kamera.
Hakim meminta semua pihak menjelaskan bukti.
Pengacara North Vale menunjukku.
“Klien kami percaya bahwa Algo Djikstra makai sistemnya buat ngerusak platform yang sah.”
Aku berdiri.
“Platform itu makai kode curian,” jawabku.
“Nggak ada bukti bahwa kode itu milik Anda.”
“Ada.”
Mikael menampilkan catatan pengembangan. Agnes menyiapkan log. Clara membawa dokumen lama dari perusahaan. Eve mengatur komunikasi dengan jurnalis yang mengikuti sidang.
Semua bagian yang dulu kusimpan sendiri sekarang berada di depan publik.
Hakim menanyakan bukti kepemilikan.
Aku memberikan catatan tangan, versi kode, tanggal pengembangan, dan kontrak lisensi.
North Vale mencoba menyela.
Pengacara mereka bertanya, “Kenapa Anda makai identitas anonim selama bertahun-tahun jika Anda nggak nyembunyiin sesuatu?”
“Karena anonimitas lindungi pekerjaan saya dari tekanan perusahaan besar.”
“Terus kekayaan Anda?”
“Berasal dari lisensi, paten, investasi, dan aset yang tercatat.”
“Apakah Anda ngehindarin pajak?”
“Nggak.”
“Apakah keluarga Wijaya nerima keuntungan khusus?”
“Nggak.”
“Apakah Anda punya hubungan pribadi sama tiga putri Helena Wijaya?”
Aku menarik napas.
Pertanyaan itu tidak berkaitan dengan perkara.
Namun kamera sudah mengarah kepadaku.
Aku bisa menolak menjawab. Pengacara menyarankan itu. Tetapi aku melihat Clara, Eve, dan Agnes di kursi belakang.
Aku tidak ingin mereka menjadi rumor yang terus disembunyikan.
“Hubungan pribadi saya nggak ngaruhin kepemilikan Aegis,” kataku. “Namun saya nggak bakal biarin hubungan tersebut dipakai buat ngerendahin mereka.”
Ruangan hening.
“Mereka bukan bagian dari konspirasi. Mereka bukan penerima uang. Mereka adalah orang-orang yang bantu nyelametin bukti ketika banyak pihak nyoba ngancurinnya.”
Aku tahu kalimat itu akan dipotong menjadi berita.
Aku tetap mengatakannya.
Sidang ditunda untuk pemeriksaan lanjutan. Namun sebelum kami keluar, ponsel Mikael bergetar.
“Serangan baru,” katanya.
Aku membaca laporan.
Server North Vale yang sempat kami jebak sedang memindahkan kode ke jaringan global. Mereka tidak lagi mencoba menyembunyikan pencurian. Mereka ingin menyebarkan versi rusak algoritma ke banyak perusahaan, lalu menyalahkan Aegis ketika sistem itu gagal.
“Kalau kode rusak itu nyebar,” kata Agnes, “kita nggak bisa ngehentiin semuanya.”
“Bisa,” kataku.
“Bagaimana?”
“Aku harus matiin kunci validasi utama.”
Clara menatapku. “Apa akibatnya?”
“Semua sistem yang makai lisensi Aegis bakal berhenti sementara.”
“Termasuk perusahaan yang sah?”
“Iya.”
Eve memucat. “Jadi kamu bisa nyelametin sistem, tapi juga bikin banyak perusahaan kehilangan akses.”
“Kalau aku nggak ngelakuinnya, kode curian bakal dianggep resmi.”
Agnes memeriksa angka di layar. “Berapa lama pemadaman?”
“Antara tiga puluh menit sampai dua jam.”
“Terus asetmu?”
“Sebagian kontrak bisa batal.”
Clara memegang tanganku. “Kamu bakal kehilangan banyak.”
“Aku tahu.”
“Nggak. Kamu belum jawab. Kamu bakal kehilangan berapa banyak?”
Aku menyebut jumlahnya.
Eve menatapku kosong.
Agnes menutup mulut.
Clara hanya menggenggam tanganku lebih erat.
“Kalau itu satu-satunya cara,” katanya, “lakukan.”
Aku menatapnya. “Kamu nggak perlu nyetujuin.”
“Aku nggak nyetujuin kehilanganmu,” katanya. “Aku nyetujuin keputusan yang nyelametin lebih banyak orang.”
Kami kembali ke ruang kerja darurat.
Mikael menghubungkan semua jaringan. Agnes menyiapkan pengumuman teknis. Clara berbicara dengan perusahaan yang akan terdampak. Eve mengatur jalur informasi agar publik tidak panik.
Aku membuka kunci validasi utama.
Selama bertahun-tahun, aku menganggap kunci itu sebagai bagian dari diriku. Tanpa kunci tersebut, Aegis bukan lagi sistem yang sama. Semua yang kubangun, semua kekayaan, semua pengaruh, bergantung pada beberapa baris keputusan.
Tanganku berhenti di atas keyboard.
Aku teringat alasan pertama aku membangun Aegis.
Bukan untuk menjadi kaya.
Bukan untuk dikenal.
Aku hanya ingin membuat sistem yang lebih aman daripada sistem yang pernah merugikan orang-orang kecil.
“Al,” kata Agnes.
Aku menoleh.
“Kamu nggak sendirian,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kalau kamu takut, bilang.”
“Aku takut.”
Clara berdiri di sebelahku. “Bagus. Berarti kamu masih sadar ini penting.”
Eve menyandarkan dagunya di bahuku. “Terus kalau kamu gagal, kami bakal nyalahin kamu sambil tetap bantu.”
Aku hampir tersenyum.
Aku menekan tombol.
Kunci validasi utama mati.
Di seluruh dunia, jaringan Aegis masuk mode aman. Transaksi tertunda. Perusahaan mengirim peringatan. Media kembali membuat judul besar.
Namun kode curian tidak bisa menyebar.
Mikael berteriak dari layar, “Mereka nyoba maksa pemulihan manual!”
Agnes menjawab, “Aku udah tutup jalurnya.”
Clara masuk ke panggilan perusahaan. “Jangan lakukan pemulihan tanpa verifikasi.”
Eve membaca pernyataan resmi ke beberapa wartawan.
Aku bekerja tanpa mengangkat kepala.
Serangan itu berubah menjadi perang terbuka. North Vale menggunakan ribuan perangkat untuk membanjiri jaringan. Raka mengirim kunci palsu. Victor, dari ruang tahanan, mencoba menghubungi seseorang.
Untuk setiap serangan, kami membangun dinding baru.
Waktu berlalu.
Satu jam.
Dua jam.
Akhirnya, Mikael mengirim pesan.
Jaringan stabil. Kode curian berhenti.
Aku bersandar di kursi.
Tidak ada sorakan.
Tidak ada musik.
Hanya suara napas orang-orang yang masih berada di ruangan.
Di luar ruang kerja, staf keamanan mulai mengirim laporan. Perusahaan yang bergantung pada Aegis meminta penjelasan, sementara sebagian lainnya mengancam akan menuntut kerugian.
“Aku bakal nanganin mereka,” kata Clara.
“Aku bisa bantu.”
“Kamu udah nyelametin jaringan. Sekarang biarkan aku nyelametin orang-orang yang panik.”
Eve membuka halaman pembaruan publik. Agnes menambahkan dokumentasi teknis agar penjelasan kami tidak berubah menjadi rumor.
Aku memandang mereka.
“Kenapa?” tanya Eve.
“Aku baru sadar aku nggak perlu ngerjain semua hal.”
“Lama sekali sadarnya,” kata Clara.
Kami bekerja sampai dini hari. Satu per satu jaringan kembali stabil. Beberapa perusahaan mengirim laporan bahwa layanan mereka sudah pulih. Tidak sempurna dan tidak cepat, tetapi jujur.
Mikael mengirim pesan terakhir.
Semua kode curian berhasil diisolasi. Tidak ada penyebaran lebih lanjut.
Aku menutup mata.
“Sekarang kamu boleh bernapas,” kata Eve.
Aku menarik napas panjang. Selama bertahun-tahun, aku mengira kemenangan berarti tidak kehilangan apa pun. Malam itu aku mengerti bahwa kemenangan kadang berarti memilih kerugian yang bisa diterima agar orang lain tidak kehilangan jauh lebih banyak.
“Bagaimana rasanya?” tanya Agnes.
“Kayak baru selesai berlari tanpa tahu garis akhirnya ada.”
Clara menatapku. “Bagian ini selesai.”
Kami tertawa kecil ketika Eve memaksaku makan. Tawa itu terdengar aneh di tengah ruang penuh layar dan bukti hukum, tetapi justru itu yang membuatku tahu perang sudah berhenti.
Tidak ada kemenangan besar yang terlihat seperti film. Hanya empat orang yang masih duduk bersama setelah memilih keputusan sulit.
Aku tidak menyelamatkan dunia sendirian.
Aku hanya membuka pintu, lalu membiarkan orang-orang yang kucintai masuk.
Clara memelukku dari belakang.
Eve mencium pipiku.
Agnes berdiri di depanku dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu kehilangan berapa banyak?” tanya Eve.
“Belum tahu.”
“Takut?”
“Iya.”
“Bagus.”
Aku menatap mereka.
“Aku kira setelah identitas terbuka, aku bakal merasa bebas,” kataku.
“Belum?” tanya Clara.
“Belum.”
Agnes menyentuh tanganku. “Mungkin bebas bukan berarti nggak kehilangan apa aja.”
“Terus?”
“Bebas berarti kamu bisa milih apa yang rela kamu kehilangan.”
Aku memandang layar yang gelap.
Untuk pertama kalinya sejak membangun Aegis, aku tidak merasa sedang mempertahankan milikku.
Aku sedang mempertahankan alasan mengapa semua itu kubangun.
Dan ketika tiga perempuan itu berdiri di sisiku, aku tahu keputusan tersebut bukan lagi milikku sendiri.
Itu keputusan kami.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia reading
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi