Chapter Twenty Seven
Eve Tidak Mau Diam
POV: Eve
Sejak Clara pulang dari rapat, dia tidak mau menjelaskan apa pun selain kalimat, “Semuanya masih aman.”
Aku benci kalimat itu.
Kalimat tersebut biasanya berarti tidak ada yang mau mengakui bahwa keadaan sudah buruk.
Al menjadi lebih pendiam dari biasanya. Agnes membawa laptop ke ruang makan dan tidak mengangkat kepala selama berjam-jam. Clara terus menerima telepon dari kantor. Mama dan Damar berbicara dengan suara pelan di ruang kerja.
Aku satu-satunya yang terlihat tidak melakukan apa-apa.
Awalnya aku mencoba bercanda. Tidak ada yang tertawa.
“Kalau kalian semua mau jadi karakter film mata-mata, setidaknya beri aku peran yang bagus,” kataku.
Agnes hanya menjawab, “Eve, jangan sekarang.”
Kalimat itu membuatku berhenti.
Aku pergi ke kamar dan menutup pintu. Bukan karena tersinggung. Aku hanya tidak mau mereka melihat bahwa aku merasa tidak berguna.
Aku memang bukan ahli keamanan seperti Al. Aku bukan pemimpin perusahaan seperti Clara. Aku juga tidak bisa membaca pola kode seperti Agnes.
Aku hanya tahu cara membaca orang.
Selama ini, semua orang menganggap itu bukan kemampuan yang serius. Aku pun sering memakainya untuk bercanda, menggoda, atau menghindari percakapan yang membuatku tidak nyaman.
Tapi orang tetap menunjukkan sesuatu ketika mereka berpikir tidak ada yang memperhatikan.
Aku membuka kembali foto dari unggahan yang dibuat dua malam lalu. Foto itu menampilkan meja makan, lampu teras, dan bayangan sebuah mobil hitam di ujung jalan.
Mobil itu tidak terlihat jelas, tetapi bentuk lampu belakangnya khas.
Aku mengirim foto itu kepada seorang teman yang bekerja di event organizer. Dia sering berurusan dengan penyewaan kendaraan dan mengenal banyak pengemudi.
Aku butuh bantuan. Mobil model ini sering dipakai siapa?
Balasannya datang dua puluh menit kemudian.
Kalau dari bentuknya, bisa jadi mobil operasional perusahaan keamanan. Kenapa?
Cuma penasaran.
Kamu tidak pernah cuma penasaran.
Aku mengabaikan pesan terakhirnya.
Aku mencari unggahan publik dari perusahaan keamanan yang disebut Clara. Mereka sedang mengawal beberapa acara bisnis minggu ini. Salah satu fotonya memperlihatkan mobil dengan lampu belakang yang sama.
Nomor polisinya tertutup, tetapi logo kecil di kaca belakang masih terlihat.
Aku membawa temuan itu kepada Clara.
Dia membaca layar ponselku, lalu menatapku.
“Kamu dapetin ini dari mana?”
“Internet.”
“Eve.”
“Aku nggak ngeretas apa aja.”
“Aku nggak bilang kamu ngeretas.”
“Wajahmu bilang begitu.”
Clara menghela napas. “Mobil ini bisa aja kebetulan sama.”
“Bisa. Tapi mobil itu muncul deket rumah kita dua kali, terus muncul deket kantor pada hari yang sama ketika vendor Asterion dateng.”
Agnes mengambil ponselku. “Logo ini bukan logo perusahaan. Ini tanda unit.”
Al yang sejak tadi berdiri di dekat jendela mendekat.
“Kamu nemu ini sendiri?” tanyanya.
“Iya.”
“Kenapa nggak langsung bilang?”
“Karena kalian lagi sibuk bikin aku merasa kayak vas bunga.”
“Aku nggak pernah nganggep kamu vas bunga.”
“Kamu natap aku kayak aku bisa pecah.”
Al ingin menjawab, tetapi Clara memotong.
“Apa rencanamu?”
“Aku mau nemuin teman yang ngenalin kendaraan itu.”
“Nggak sendirian,” kata Al.
“Aku nggak bilang sendirian.”
“Kamu bahkan belum ngomong tempatnya.”
“Gudang perlengkapan acara di daerah Kemang.”
Al langsung menggeleng.
“Al,” kataku, “aku nggak bakal masuk ke gudang gelap sambil bawa gunting kecil. Aku bakal bertemu orang di kafe depan gedung, siang hari, bersama Agnes dan satu petugas keamanan.”
Agnes mengangkat tangan. “Aku ikut.”
Clara menatap kami berdua, lalu memijat pelipis.
“Aku juga bakal ngirim dua orang,” katanya.
“Nah, itu baru namanya kencan keluarga,” kataku.
Tidak ada yang tertawa, tetapi kami tetap berangkat.
Temanku datang terlambat lima belas menit. Dia membawa foto kendaraan dan nama perusahaan penyewa.
“Mobil ini disewa atas nama subkontraktor,” katanya.
“Asterion?” tanya Agnes.
“Bukan. Perusahaan kecil bernama Nusa Shield.”
Al membaca dokumen itu dari balik bahuku.
“Nusa Shield nggak punya izin operasional lengkap,” katanya.
“Kamu tahu semua?” tanyaku.
“Aku baca.”
“Kamu baca dengan cara yang serem.”
Temanku menunjuk foto lain. “Ada hal aneh. Dua hari terus, mobil ini nggak dipakai buat acara. Sopirnya cuma nganter seseorang ke percetakan tua di belakang gudang.”
“Percetakan?” tanyaku.
“Iya. Tempatnya udah lama nggak beroperasi.”
Clara melalui telepon memerintahkan petugas keamanan memeriksa lokasi dari luar. Al ingin melarang kami mendekat, tetapi aku sudah melihat ekspresinya.
Dia tahu petunjuk itu penting.
Kami tiba di depan percetakan ketika matahari mulai turun. Pintu depan tertutup, tetapi ada suara mesin dari bagian belakang.
Al berdiri di sampingku. “Kita nunggu tim.”
“Aku tahu.”
“Jangan masuk.”
“Aku tahu.”
“Eve.”
“Aku denger.”
Dia menatapku.
“Kamu mau ngomong aku keras kepala?”
“Aku mau ngomong terima kasih.”
Aku terdiam.
“Kamu nemu jalur yang nggak kami lihat,” lanjutnya. “Itu bantu.”
Rasa kesal yang sejak tadi menumpuk mendadak tidak punya tempat untuk berdiri.
“Aku nggak mau cuma bantu secara kebetulan,” kataku.
“Maksudmu?”
“Aku mau kamu percaya sama aku sebelum aku nemu sesuatu.”
Al diam.
“Kamu boleh lindungin aku,” lanjutku. “Tapi jangan hapus aku dari rencana.”
Dia mengangguk. “Oke.”
“Jangan bilang baik kalau kamu bakal lupa besok.”
“Aku nggak bakal lupa.”
Aku memegang bagian depan bajunya dan menariknya mendekat.
“Kamu tahu aku lagi marah?”
“Iya.”
“Kamu takut?”
“Iya.”
“Bagus.”
Aku mencium dia di balik bayangan papan reklame yang sudah kusam.
Al membalas tanpa ragu. Tangannya memegang pinggangku, sementara aku merasakan napasnya berubah ketika ciuman itu menjadi lebih dalam.
Ketika kami berpisah, dia menyentuhkan dahinya ke dahiku.
“Kamu tetap nyebelin,” katanya.
“Kamu suka.”
“Iya.”
Jawaban itu membuatku ingin menciumnya lagi, tetapi suara Agnes terdengar dari belakang.
“Kalau udah selesai, kami nemu kamera di pintu samping.”
Aku mundur dari Al.
“Kamu nggak lihat apa-apa,” kataku.
Agnes menatap kami datar. “Aku lihat terlalu banyak.”
Tim keamanan datang beberapa menit kemudian. Mereka menemukan ruangan kosong, beberapa kartu akses bekas, dan satu kamera yang masih aktif.
Di dalam kameranya tersimpan rekaman rumah kami dari sudut jalan.
Aku tidak lagi merasa seperti vas bunga.
Aku merasa seperti seseorang yang baru saja melihat tangan tak terlihat menyentuh keluargaku.
Dan aku tidak akan membiarkan tangan itu terus bergerak tanpa perlawanan.
Di perjalanan pulang, Al tidak banyak bicara. Namun kali ini diamnya tidak terasa seperti dinding.
“Kamu benar-benar bakal masukin aku ke rencana?” tanyaku.
“Aku bakal nyoba.”
“Kamu masih makai kata nyoba.”
“Karena aku nggak mau janjiin sesuatu secara sembarangan.”
Aku memandangnya. “Aku nggak butuh janji besar. Aku cuma perlu tahu bahwa ketika kamu takut, kamu nggak langsung ngunci pintu.”
Al mengangguk pelan.
Sesampainya di rumah, aku meminta semua orang tidak menghapus foto, pesan, atau rekaman apa pun. Aku juga membuat daftar orang yang sempat berada dekat rumah dan kantor. Untuk pertama kalinya, cara bercandaku tidak dipakai untuk menghindari masalah. Aku menggunakannya untuk mengingat detail kecil yang mungkin dilewatkan orang lain.
Malamnya, aku meminta semua orang duduk di ruang tengah. Aku menjelaskan dari mana foto itu berasal dan mengakui bahwa aku sengaja memakai jaringan pertemananku untuk mencari informasi.
Clara tidak memarahiku. Agnes mencatat setiap detail. Al hanya menatapku dengan cara yang membuatku tahu dia sedang berusaha tidak terlalu protektif.
“Kalau aku mau bantu lagi,” kataku, “aku bakal ngasih tahu lebih dulu.”
“Terus kalau aku minta kamu mundur?” tanya Al.
“Aku bakal denger alasannya.”
“Bukan langsung menurut?”
“Jangan serakah.”
Eve yang biasanya mudah membuat suasana ringan ternyata benar-benar takut. Aku melihat tangannya gemetar ketika dia menutup ponsel.
“Aku nggak mau kehilangan rumah ini,” katanya.
Clara duduk di sampingnya. “Kita nggak bakal kehilangan.”
Aku menatap Al. “Kita?”
Al mengangguk. “Kita.”
Kata itu terdengar sederhana. Tapi malam itu, kata itu membuatku yakin bahwa aku bukan lagi orang yang berdiri di pinggir masalah.
Aku berada di dalam lingkaran yang sama dengan mereka.
Dan kalau seseorang ingin masuk ke rumah kami, dia harus melewati kami semua.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam reading
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi