Chapter Twenty Four
Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
POV: Al
Aku tahu masalah akan datang ketika Eve mengirim pesan singkat.
Ruang keluarga. Sekarang. Jangan bawa alasan.
Aku turun dan menemukan tiga perempuan itu sudah duduk di sofa. Clara berada di tengah. Eve bersandar dengan tangan terlipat. Agnes memegang bantal terlalu erat.
Aku berhenti di dekat pintu.
“Aku harus duduk?” tanyaku.
“Iya,” kata Clara.
Aku duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka.
“Kamu udah kencan sama Clara,” kata Eve.
“Iya.”
“Kamu juga kencan denganku,” lanjut Eve.
“Iya.”
Agnes menunduk. “Terus denganku.”
“Iya.”
Eve menunjukku. “Kamu nggak bisa cuma jawab iya.”
“Pertanyaannya nggak ada.”
“Kami nggak lagi bermain tanya jawab.”
“Aku tahu.”
Clara menarik napas. “Kami mau tahu apa maksudmu.”
Aku melihat mereka satu per satu.
Tidak ada yang terlihat seperti sedang bercanda. Bahkan Eve tidak tersenyum.
“Maksudku jelas,” kataku. “Aku suka sama kalian.”
Agnes mengangkat wajah.
“Tapi kamu nggak pernah bilang,” kata Eve.
“Kalian nggak nanya.”
“Kami udah nanya berkali-kali,” kata Clara.
“Kalian nanya apakah aku suka sama orang tertentu.”
“Itu sama,” jawab Clara.
“Nggak.”
Eve berdiri. “Kamu nyium kami bertiga. Kamu pergi kencan sama kami bertiga. Terus kamu masih ngomong nggak jelas?”
“Aku nggak ngomong nggak jelas.”
“Kamu bikin kedengeran kayak laporan teknis.”
“Karena aku nggak mau ada yang salah paham.”
Clara memandangku tajam. “Apa yang harus kami pahami?”
Aku berdiri dan berjalan mendekati jendela. Lebih mudah berbicara sambil melihat keluar daripada menghadapi tiga pasang mata sekaligus.
“Aku nggak bakal milih satu orang secara diam-diam. Aku juga nggak bakal bikin kalian bersaing tanpa aturan.”
“Aturan?” Eve tertawa pendek. “Kamu mau bikin kontrak?”
“Kalau perlu.”
“Tentu aja.”
Aku menoleh. “Eve.”
Dia berhenti tertawa.
“Aku serius,” lanjutku. “Kalau kita ngelakuin ini, nggak boleh ada yang dibohongin. Nggak boleh ada yang dipaksa. Nggak boleh ada yang makai uang, rasa bersalah, atau hubungan keluarga buat nahan orang lain.”
Agnes memeluk bantalnya. “Kalau salah satu dari kami berubah pikiran?”
“Kita berhenti.”
“Kalau kamu berubah pikiran?” tanya Clara.
“Kalian juga boleh bikin aku berhenti.”
Eve memandang Clara dan Agnes. “Kalian benar-benar mau ngelakuin ini?”
Clara tidak langsung menjawab.
Agnes terlihat gugup. “Aku nggak mau kehilangan kalian cuma karena aku suka sama Al.”
“Aku juga,” kata Eve.
Clara mengusap kening. “Aku nggak pernah ngebayangin harus berdiskusi kayak ini.”
“Aku juga nggak,” kataku.
“Tapi kamu keliatan paling siap,” kata Eve.
“Aku cuma bikin batas.”
“Batasmu banyak sekali.”
“Karena situasinya rumit.”
Clara menatapku. “Kamu sadar hubungan kayak ini nggak bakal mudah?”
“Iya.”
“Kamu sadar kami tetap bersaudara?”
“Iya.”
“Kamu sadar kami bakal cemburu?”
“Iya.”
“Kamu sadar mungkin ada hari ketika kami benci kamu?”
“Iya.”
Clara terdiam.
Aku melanjutkan, “Aku nggak nyari hubungan yang mudah. Aku cuma nggak mau kita berbohong ke diri sendiri.”
Eve kembali duduk. “Aku mau nyoba.”
Agnes mengangguk pelan. “Aku juga.”
Clara menutup mata sebentar. “Aku mau nyoba, tapi ada syarat.”
“Apa?”
“Nggak ada perlakuan berbeda karena aku yang paling tua.”
Eve langsung menatapku. “Terus nggak ada perlakuan khusus karena Agnes paling muda.”
Agnes mengerutkan hidung. “Aku nggak minta perlakuan khusus.”
“Kamu sering dapetin perlindungan khusus,” kata Eve.
“Itu karena Al suka bantu.”
“Nah.”
Aku mengangkat tangan. “Kita nggak bakal ngitung siapa yang paling banyak dapet bantuan.”
“Kenapa?” tanya Eve.
“Karena itu bakal bikin capek.”
Mereka bertiga diam, lalu Eve tertawa lebih dulu. Agnes ikut tersenyum. Clara menunduk, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Malam itu, kami menulis beberapa aturan di kertas. Tidak ada hubungan rahasia. Semua orang harus diberi tahu kalau ada masalah. Tidak boleh membawa pertengkaran ke depan Helena dan Damar. Masing-masing tetap boleh memiliki ruang sendiri.
Aturan terakhir datang dari Agnes.
“Kalau salah satu lagi kencan sama Al, yang lain nggak boleh ganggu.”
Aku menambahkan satu batas untuk diriku sendiri: aku tidak boleh menjadikan ketenanganku sebagai alasan untuk menghindari percakapan. Kalau mereka bertanya, aku harus menjawab. Kalau salah satu terluka, aku harus berhenti dan mendengarkan, bukan langsung mencari solusi.
Clara membaca catatan itu. “Kamu juga punya aturan?”
“Aku bagian dari hubungan ini.”
“Bagus,” kata Agnes pelan. “Jangan sampai kami aja yang belajar nyesuain diri.”
Aku mengangguk. Hubungan ini tidak boleh menjadi tiga orang yang menunggu keputusan dariku. Mereka harus tetap punya pilihan, suara, dan kebebasan untuk pergi.
Eve mengangkat tangan. “Kalau darurat?”
“Darurat sungguhan.”
“Kalau aku kangen?”
“Itu bukan darurat.”
Aku melihat mereka bertiga berdebat tentang definisi darurat.
Clara membaca ulang kertas itu, lalu mengambil pena.
“Tambahkan satu,” katanya.
“Apa?” tanya Agnes.
“Nggak ada yang ngebandingin siapa yang paling dicintain.”
Eve memiringkan kepala. “Bukankah itu udah jelas?”
“Nggak ada yang jelas kalau orang lagi cemburu.”
Aku mengambil pena dari tangannya. “Aku tambahkan.”
Aku menulis kalimat itu di bawah aturan lain. Setelah itu, Eve merebut pena.
“Aku mau nambahin bahwa Al nggak boleh makai nada datarnya buat ngehindarin pembicaraan.”
“Nada datarku bukan pelanggaran,” kataku.
“Bisa jadi.”
Agnes mengangguk. “Aku setuju.”
Clara menatapku. “Kamu harus jawab kalau kami nanya.”
“Aku bakal jawab sebisaku.”
“Bukan sebisamu. Sejujurnya.”
Aku menghela napas. “Oke.”
Mereka terlihat puas, seolah baru berhasil memaksa tanda tangan dari seseorang yang paling keras kepala di rumah.
Aturan lain muncul satu per satu. Kami tidak akan mengumumkan hubungan ini kepada orang tua sebelum semua orang merasa siap. Kami tidak akan memakai status, uang, atau koneksi keluarga untuk memengaruhi keputusan satu sama lain. Setiap orang boleh berkencan secara pribadi, tetapi tidak boleh menghilang tanpa kabar. Jika muncul kecemburuan, masalah itu harus dibicarakan sebelum berubah menjadi hukuman diam-diam.
Eve mengangkat tangan. “Aku minta satu pengecualian.”
“Apa?”
“Kalau aku mau nyium Al di ruang keluarga, boleh?”
“Nggak,” kata Clara dan Agnes bersamaan.
Aku menatap Eve. “Kita tinggal bersama orang tua.”
“Aku cuma nanya.”
“Pertanyaanmu bikin aturan ini perlu ditambah,” kata Clara.
Agnes mengambil pena dan menulis: tidak ada kemesraan berlebihan di ruang bersama.
Eve membaca kalimat itu, lalu menatapku. “Kamu setuju?”
“Aku yang paling berkepentingan agar rumah ini nggak berubah jadi medan perang.”
“Kamu bisa aja bilang kamu juga mau tenang.”
“Itu emang tujuan awalnya.”
Clara tersenyum tipis. “Kamu masih mau hidup tenang?”
Aku melihat tiga orang di depanku. Eve berusaha terlihat santai meski jarinya mengetuk lutut. Agnes memegang pena dengan dua tangan. Clara tampak tenang, tetapi aku tahu dia sedang mempertaruhkan lebih banyak daripada yang mau dia tunjukkan.
“Aku masih mau tenang,” jawabku. “Tapi mungkin tenang bukan berarti sendirian.”
Tidak ada yang langsung bercanda setelah itu.
Eve menyentuh bahuku. “Jangan bikin kalimat bagus kalau kamu nggak mau kami nyimpennya.”
“Aku nggak bisa ngontrol apa yang kalian simpan.”
“Itu masalahmu,” katanya.
Aku tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, aturan-aturan itu tidak terasa seperti pembatas. Mereka terasa seperti cara kami memastikan tidak ada yang tersesat di tengah perasaan yang sama-sama baru.
Beberapa minggu lalu, aku hanya ingin pergi dari rumah ini.
Sekarang, aku duduk di ruang keluarga sambil membantu tiga perempuan membuat aturan untuk hubungan yang bahkan tidak pernah kubayangkan.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Mikael.
We have a problem.
Aku membuka pesan itu, lalu menatap tiga perempuan di depanku.
Untuk pertama kalinya, aku merasa ada sesuatu yang lebih penting daripada masalah perasaan kami.
Dan sesuatu itu baru saja mulai menyerang.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan reading
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi