← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Thirteen

Jam Dua Pagi

POV: Clara

Aku tidak pernah menyukai pekerjaan yang belum selesai.

Masalahnya, sejak Al datang, daftar pekerjaan yang belum selesai terasa semakin panjang.

Pukul dua belas malam, aku masih berada di ruang kerja. Laporan transaksi cabang timur sudah diperbaiki, tetapi sumber kebocoran belum ditemukan. Setiap kali aku merasa sudah mendekati jawabannya, muncul pola baru yang membuat semuanya kembali kacau.

Aku memijat pelipis sambil menatap layar.

Rumah sudah sunyi. Mama dan Damar mungkin sudah tidur. Eve biasanya masih menonton sesuatu di kamar, sementara Agnes mungkin mengerjakan proyeknya sampai lupa waktu.

Aku sendiri tidak tahu kapan terakhir kali tidur sebelum tengah malam.

Pukul dua lewat tujuh belas, terdengar suara langkah dari lorong.

Aku membuka pintu ruang kerja dan menemukan Al berjalan menuju dapur dengan rambut berantakan serta laptop di bawah lengannya.

“Kamu belum tidur?” tanyaku.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Belum mengantuk.”

“Itu bukan alasan.”

“Buatku cukup.”

Aku ingin mengabaikannya, tetapi dia berhenti di depan dapur.

“Kamu juga belum tidur.”

“Aku kerja.”

“Berarti kita sama.”

“Kita nggak sama.”

“Aku tahu.”

Al membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan makanan.

“Kamu bisa masak?” tanyaku.

“Bisa.”

“Sejak kapan?”

“Sejak lapar.”

Aku bersandar di kusen pintu. “Kamu punya jawaban buat semuanya, ya?”

“Nggak.”

“Apa yang nggak bisa kamu jawab?”

Al menyalakan kompor. “Pertanyaan yang nggak jelas.”

“Contohnya?”

“Kenapa kamu masih kerja.”

Aku terdiam.

Al memotong sayuran tanpa melihat ke arahku. Gerakannya tenang, seolah memasak di dapur besar pada pukul dua pagi adalah hal yang biasa.

“Aku belum selesai,” jawabku.

“Itu bukan jawaban.”

“Kamu baru aja ngomong hal yang sama.”

“Aku tahu.”

Aku duduk di kursi dekat meja dapur. “Kalau aku berhenti sekarang, besok aku harus ngulang semuanya.”

“Kamu bisa ngulang besok.”

“Aku nggak suka pekerjaan tertunda.”

“Pekerjaan nggak bakal lari.”

“Orang-orang di dewan bisa.”

Al memasukkan sayuran ke panci. “Mereka nggak bakal pergi cuma karena kamu tidur.”

“Kamu nggak tahu.”

“Aku tahu manusia lebih suka ngebahas orang yang keliatan lelah.”

Aku menatap punggungnya. “Kamu sering dibahas?”

“Kadang.”

“Karena apa?”

“Karena aku diam.”

“Itu alasan yang aneh.”

“Orang nggak suka sesuatu yang nggak mereka ngerti.”

Kalimat itu terdengar lebih serius daripada biasanya.

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Beberapa menit kemudian, Al meletakkan mangkuk sup di depanku.

“Makan.”

“Aku nggak lapar.”

“Kamu keliatan kayak orang yang bakal jatuh kalau berdiri.”

“Aku baik-baik aja.”

“Makan.”

Aku mengambil sendok dan mencoba sup itu. Rasanya sederhana, tetapi hangat. Ada sedikit rasa jahe yang biasanya tidak kusukai.

Al memperhatikan wajahku. “Nggak suka?”

“Terlalu banyak jahe.”

Dia mengambil mangkuk itu. “Buat yang baru.”

“Nggak perlu.”

“Kamu nggak suka.”

“Aku masih bisa makan.”

“Itu bukan berarti harus.”

Aku menahan tangannya sebelum dia membawa mangkuk itu pergi.

“Udah. Aku makan.”

Al menatap tanganku yang masih memegang pergelangan tangannya.

Aku langsung melepaskan.

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

Kami kembali diam.

Aku makan sup perlahan. Al berdiri di seberang meja sambil melihat layar laptopnya. Cahaya biru dari layar mengenai wajahnya. Dalam kondisi seperti itu, dia terlihat lebih muda daripada usianya.

“Kamu kenapa milih hidup kayak ini?” tanyaku.

“Kayak apa?”

“Sederhana.”

Al menutup laptop. “Aku nggak merasa hidupku sederhana.”

“Kamu tinggal di rumah kecil, makai pakaian yang sama beberapa kali, dan nggak tertarik pada barang mahal.”

“Itu bukan berarti sederhana.”

“Terus?”

“Aku milih barang yang bisa dipakai.”

“Kamu mampu beli yang lebih mahal.”

“Mampu bukan berarti perlu.”

Aku menatapnya. “Kamu kedengeran kayak Mama.”

“Helena lebih suka barang bagus.”

“Tapi dia nggak suka orang yang pamer.”

“Berarti kami punya satu kesamaan.”

Aku tersenyum kecil.

Al melihatnya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Aku menunduk ke mangkuk. “Kamu sadar nggak, kamu sebenarnya cukup baik?”

“Nggak.”

“Jawabannya bukan begitu.”

“Itu jawabanku.”

“Maksudku, kamu bantu banyak orang. Tapi kamu selalu bertingkah kayak nggak peduli.”

“Aku peduli.”

“Kamu nggak nunjukinnya.”

“Nggak semua hal harus ditunjukin.”

“Kamu benar-benar nyusahin.”

“Kamu masih duduk di sini.”

Aku ingin membalas, tetapi tidak menemukan kalimat yang tepat.

Pukul tiga lewat sedikit, supku habis. Al membawa mangkuk itu ke wastafel.

Aku berdiri hendak kembali ke ruang kerja, tetapi pandanganku sempat berkunang-kunang.

Al langsung memegang siku tanganku.

“Duduk.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Duduk, Clara.”

Nada suaranya berbeda. Tidak datar, tidak bercanda.

Aku kembali duduk.

Al mengambil segelas air dan memberikannya kepadaku. Tangannya masih berada di dekat tanganku beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.

Aku menatapnya. Dia juga menatapku.

Jarak kami tidak jauh. Aku bisa melihat garis lelah di bawah matanya dan aroma sabun yang masih menempel di bajunya.

Untuk sesaat, aku lupa bahwa dia adalah anak dari pria yang dinikahi Mama. Aku lupa bahwa dia datang ke rumah ini sebagai orang asing yang harus kuusir.

Yang kulihat hanya seorang pria yang baru saja membuatkan sup untukku pada pukul tiga pagi.

Al lebih dulu mundur.

“Tidur.”

Aku menarik napas. “Aku masih punya pekerjaan.”

“Besok kamu masih harus marah ke banyak orang.”

Aku tertawa pelan. “Kamu tahu aku bakal marah?”

“Kamu keliatan kayak orang yang nyimpen jadwal buat marah.”

“Mungkin aku emang punya.”

“Jangan lupa tidur di antara jadwal itu.”

Aku kembali ke ruang kerja, tetapi tidak langsung membuka laptop.

Dari balik pintu, aku mendengar langkah Al menjauh menuju kamarnya.

Aku membuka laptop, tetapi tidak langsung mengetik. “Kalau aku gagal, semua orang di perusahaan bakal ikut terkena dampaknya.”

Al berdiri di dekat wastafel. “Perusahaan nggak runtuh cuma karena satu orang tidur.”

“Kamu nggak kenal dewan direksi.”

“Aku kenal tipe orang yang jadiin satu kesalahan sebagai alasan buat nyari kambing hitam.”

Aku menatapnya. “Kalau aku nggak jagain semuanya, siapa yang bakal jagain?”

“Adik-adikmu udah dewasa.”

“Mereka masih butuh aku.”

“Butuh kamu bukan berarti kamu harus hancur buat mereka.”

Kalimat itu membuatku diam cukup lama.

Selama ini, aku mengira menjadi kuat berarti tidak boleh terlihat lelah. Al justru berbicara seolah lelah adalah sesuatu yang wajar, bukan kegagalan.

“Kamu selalu tahu harus ngomong apa?” tanyaku.

“Nggak.”

“Tapi kamu tetap ngomonginnya.”

“Karena kamu perlu dengernya.”

Aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Al tidak menghindari tatapanku, tetapi juga tidak membuatnya terasa seperti tantangan.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku menyelesaikan pekerjaan bukan karena takut gagal.

Aku menyelesaikannya karena ada seseorang yang menungguku berhenti bekerja dan tidur.