Chapter Nine

Dingin di Ruang Server

POV: Helena

Aku punya tiga pilihan pakaian pagi itu.

Blazer abu-abu yang terlihat profesional. Dress hitam yang terlalu jelas niatnya. Atau blus putih tipis dengan rok gelap yang kelihatan biasa sampai aku berdiri di bawah cahaya yang tepat.

Aku memilih pilihan ketiga.

Bukan karena tahu akan masuk ruang server. Kalau tahu, aku mungkin datang memakai jaket gunung.

“Aset splash screen buat sistem internal sudah final?” tanya atasanku setelah rapat pagi.

“Sudah.”

“Tolong antar ke IT. Mereka mau test langsung di environment staging.”

Keisha yang duduk di sebelahku menunduk untuk menyembunyikan senyum. Nadine mengirim pesan sebelum rapat selesai.

Nadine: Alam mendukung penelitian.

Aku membalas dengan emoji jari tengah di bawah meja.

File sebenarnya bisa dikirim lewat drive internal. Aku tetap turun ke lantai tujuh membawa laptop, lalu meminta Erga mendampingiku saat pengecekan. Dia memandang tiket implementasi di layar, memandangku, kemudian mengambil kartu akses.

“Bisa dilakukan dari meja,” katanya.

“Aku mau lihat langsung.”

“Ruang server nggak menarik.”

“Tergantung siapa yang nemenin.”

Damar yang sedang minum langsung membelakangi kami. Bahunya bergerak karena menahan tawa.

Dia kemudian menyodorkan sepasang earplug dan rompi reflektif kepadaku. “Alat keselamatan.”

Aku menerima keduanya. “Ruang server butuh rompi?”

“Nggak. Tapi kalau Mbak pakai ini, dia mungkin bisa fokus kerja.”

Erga merebut rompi itu dari tanganku dan melemparkannya kembali ke wajah Damar. “Jangan didengar.”

“Saya cuma peduli keselamatan tim.”

“Mulai peduli tiket yang numpuk.”

Damar memberi hormat, masih dengan rompi menutupi setengah kepalanya.

Erga mengambil jaket dari sandaran kursi. “Ayo.”

Ruang server berada di bagian paling belakang lantai tujuh, melewati dua pintu akses. Begitu pintu kedua terbuka, udara dingin menerpa sampai bulu kudukku berdiri.

“Kalian nyimpen penguin di sini?” tanyaku.

“Server suka dingin.”

“Server manja.”

“Server nggak pakai baju setipis itu.”

Aku menoleh cepat. Erga sudah berjalan di depan, wajahnya tetap lurus. Kalau bukan karena telinganya sedikit merah, aku mungkin mengira kalimat tadi murni observasi teknis.

Deretan rak hitam memenuhi ruangan. Lampu indikator berkedip dalam warna hijau dan biru, sementara suara kipas membentuk dengung konstan yang terasa di dada. Aku mengikuti Erga ke terminal dekat dinding.

Lima menit pertama masih aman. Menit keenam, ujung jariku mulai dingin. Menit kesepuluh, aku berhenti pura-pura baik-baik saja.

“Mas,” panggilku.

Erga menoleh. “Kenapa?”

“Aku nggak bisa ngerasain hidung.”

Dia melihat tanganku yang kuselipkan di bawah lengan. Tanpa komentar, Erga melepas jaketnya dan berdiri di belakangku.

“Tangan.”

“Apa?”

“Masukkan.”

Aku menahan senyum dan memasukkan kedua tangan ke lengan jaket. Erga menariknya ke bahuku dari belakang. Jaket itu kebesaran, ujung lengannya menutupi sebagian jari. Dia berputar ke depan, merapatkan kedua sisi jaket, lalu menaikkan ritsleting sampai hampir menyentuh daguku.

Gerakannya tenang, seperti sedang menangani sesuatu yang perlu dijaga.

Jarak kami tinggal beberapa sentimeter.

“Hangat?” tanyanya.

Aku menghirup pelan. Ada aroma deterjen, sedikit kopi, dan sesuatu yang cuma bisa kusebut sebagai aroma Erga.

“Jaketnya bau Mas.”

Tangannya masih memegang ujung ritsleting. “Keluhan?”

Suara Erga lebih rendah dari biasanya. Mungkin karena dengung mesin. Mungkin juga karena dia sengaja mendekat agar aku bisa mendengar.

Aku mengangkat wajah. “Belum tahu. Aku harus pakai lebih lama.”

Tatapannya turun ke bibirku sepersekian detik.

“Dipakai aja,” katanya, lalu mundur.

Aku membutuhkan beberapa detik untuk mengingat kenapa kami datang.

Kami melanjutkan pengujian. Erga membuka halaman staging, aku memeriksa warna dan resolusi aset. Kami berdebat kecil karena di monitornya warna biru terlihat terlalu pucat.

“Itu monitor teknis,” kata Erga. “Bukan buat desain.”

“Warna jelek tetap jelek di monitor apa pun.”

“Secara teknis—”

“Jangan pakai kata teknis buat membela biru murahan.”

Erga menatapku, lalu tersenyum. “Baik, Bu Designer.”

“Nah. Gitu lebih gampang.”

Dia menggeleng sambil mengunggah file pengganti.

Kabel USB yang kami butuhkan ternyata terpasang di belakang terminal. Aku hendak meraih sendiri, tetapi Erga berdiri tepat di belakangku dan mengulurkan tangan melewati bahuku. Tubuhnya nggak benar-benar menyentuh, hanya panasnya terasa menembus jaket yang kupakai.

“Geser sedikit,” katanya dekat telingaku.

Aku justru diam. “Kalau nggak?”

Tangannya berhenti di sisi monitor. “Saya tunggu.”

“Sabar banget.”

“Sedang belajar.”

Aku memiringkan kepala. Wajahnya begitu dekat sampai ujung rambutku menyentuh dagunya. Erga menarik napas, lalu memilih bergerak ke samping daripada mengambil kesempatan yang sengaja kubuka.

Entah kenapa, cara dia menjaga jarak membuatku lebih ingin mempersempitnya.

Aku akhirnya bergeser. Erga mengambil kabel, tetapi ujung jarinya menyentuh sisi pinggangku saat lewat. Sentuhan nggak sengaja itu tinggal di kulit jauh lebih lama daripada seharusnya.

Saat proses hampir selesai, lampu utama padam.

Semuanya terjadi cepat. Ruangan menjadi gelap, hanya menyisakan kedipan lampu perangkat. Dengung kipas tetap hidup, tapi perubahan cahaya membuatku kehilangan orientasi.

Aku refleks meraih benda terdekat.

Telapak tanganku mendarat di dada Erga.

Tubuhku melangkah mundur dan menabrak kaki meja. Tangan Erga langsung melingkar di pinggangku, menahan sebelum aku jatuh.

“Tenang,” katanya dekat sekali. “Cuma perpindahan daya.”

“Aku tenang.”

“Tangan kamu gemetar.”

“Dingin.”

“Iya.”

Nada suaranya jelas nggak percaya.

Dalam cahaya indikator yang redup, aku bisa melihat garis wajahnya. Tanganku masih menempel di dada. Di balik kemeja, detak jantungnya terasa cepat—nggak jauh berbeda dari punyaku.

“Jantung Mas juga dingin?” bisikku.

Erga mengembuskan napas kecil. “Bukan.”

Lampu menyala kembali.

Kami sama-sama berkedip. Tangannya masih di pinggangku. Tanganku masih di dadanya.

Nggak ada yang langsung bergerak.

Tatapan Erga turun ke bibirku lagi. Kali ini aku yakin. Jarinya di pinggangku menegang sedikit, lalu perlahan melonggar seolah dia sedang memaksa dirinya sendiri untuk berhenti.

“Sudah terang,” katanya.

“Aku tahu.”

Tetapi aku belum melepaskan tanganku.

Ponsel Erga berbunyi keras dari saku, menghancurkan momen itu. Dia mengambilnya dengan gerakan sedikit terlalu cepat.

Pesan dari Damar muncul di layar yang bisa kubaca dari dekat.

Damar: Server aman. Harga diri gue enggak. Tolong ingat ada kamera maintenance.

Aku tertawa sampai harus bersandar ke meja. Erga menatap sudut plafon, menemukan kamera, lalu memejamkan mata seperti sedang memikirkan cara membunuh sahabat tanpa meninggalkan bukti digital.

“Dia lihat?” tanyaku.

“Harusnya dia memantau perpindahan daya.”

“Kelihatannya dia memantau hal lain.”

Erga mengetik balasan cepat. “Saya akan hapus aksesnya.”

“Jangan. Aku butuh saksi kalau Mas menyangkal.”

“Menyangkal apa?”

Aku mendekat dan merapikan kerah kemejanya yang kusut karena tadi kugenggam. “Kalau tangan Mas tadi ada di pinggang aku.”

“Karena refleks.”

“Refleks Mas bagus.”

“Itu bagian dari pekerjaan.”

“Pegang pinggang orang bagian pekerjaan IT?”

Erga menatapku datar. “Menjaga pengguna supaya nggak menabrak perangkat.”

“Aku pengguna sekarang?”

“Pengguna yang merepotkan.”

Aku menahan tawa. “Tapi tetap dijaga.”

Tatapan Erga kembali gelap. “Kamu hampir jatuh.”

“Aku belum bilang keberatan.”

Dia diam.

Aku berbalik sebelum keberanianku sendiri berbalik menyerang. Pengujian selesai beberapa menit kemudian, tapi aku tetap memakai jaket Erga sampai kembali ke divisi Design.

“Jaketnya?” tanya Erga di depan lift.

Aku memeluk bagian depannya. “Katanya dipakai aja.”

“Maksud saya selama di ruang server.”

“Instruksinya kurang spesifik.”

Pintu lift terbuka. Aku masuk sambil tersenyum.

“Besok aku balikin.”

Erga menahan pintu dengan satu tangan. “Kalau saya kedinginan?”

“Cari aku.”

Pintu menutup perlahan di antara kami. Hal terakhir yang kulihat adalah Erga berdiri tanpa jaket, menggeleng kecil, tetapi tersenyum.

Di dalam lift, aku menarik kerah jaketnya sampai menutupi hidung.

Aromanya masih ada.

Dan untuk pertama kalinya, benda yang kubawa pulang dari permainan itu terasa seperti sesuatu yang nggak ingin kubagi dengan ketiga temanku.