Chapter Twenty Three
Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
POV: Helena
Aku membatalkan taruhan pada hari kedua puluh empat.
Bukan lewat grup chat. Bukan sambil makan siang atau di sela gosip. Aku memesan ruang meeting kecil setelah jam kerja, menutup tirai kacanya, lalu meletakkan amplop tebal dan tas hadiah yang belum pernah kupakai di tengah meja.
Keisha datang terakhir sambil membawa laptop.
“Kenapa formal banget?” tanyanya. “Lo mau presentasi progres?”
“Nggak.”
Nadine duduk di sebelah Rania. “Mau ngaku sudah menang?”
“Gue mau berhenti.”
Ruangan langsung sunyi.
Keisha yang baru membuka laptop berhenti. “Berhenti apanya?”
“Taruhannya.” Aku mendorong amplop ke tengah. “Ini uang patungan kalian. Tasnya juga gue balikin.”
“Tapi belum hari ketiga puluh,” kata Nadine.
“Gue tahu.”
“Terus dia belum bilang suka, kan?”
“Belum.”
Keisha menarik kursi. “Jadi lo menyerah?”
Aku menatap tiga perempuan yang sudah mengenalku bertahun-tahun. Mereka pernah melihatku marah, mabuk, patah hati, dan tertawa sampai menangis. Namun mengatakan kalimat berikutnya tetap terasa lebih menakutkan daripada semua itu.
“Gue cinta sama Erga.”
Rania langsung menutup mulut.
Nadine berkedip dua kali. Keisha menatapku seolah baru saja mendengar meja bicara.
“Lo apa?” tanyanya.
“Jangan bikin gue ulang.”
“Gue perlu memastikan pendengaran gue sehat.”
“Gue cinta sama dia.”
Kali ini suaraku nggak goyah.
Semua hal yang kurasakan sejak bangun di pelukannya seperti berkumpul di dada. Hangat, menyesakkan, dan begitu nyata sampai aku malu pernah menganggap mendekatinya sebagai hiburan.
Rania yang pertama bergerak. Dia mengelilingi meja dan memelukku erat.
“Akhirnya,” bisiknya, lalu mulai menangis.
“Kenapa lo yang nangis?” tanyaku.
“Gue takut.”
Aku melepas pelukannya sedikit. “Takut apa?”
“Takut dia terluka. Dari awal gue sudah bilang taruhan ini jahat, tapi gue tetap ikut ketawa, tetap bikin grup, tetap nanya progres.” Dia mengusap pipi. “Dia kelihatan benar-benar sayang sama lo.”
Rasa bersalah yang beberapa hari ini mengendap kembali naik.
“Gue akan jelasin semuanya.”
“Kapan?” tanya Nadine.
“Hari ketiga puluh.”
Nadine langsung menggeleng. “Kenapa nunggu?”
“Karena gue mau taruhan ini benar-benar lewat dulu. Gue nggak mau satu pun perkataan gue masih berada di dalam tiga puluh hari itu.”
“Itu cuma angka.”
“Buat gue bukan.” Aku menggenggam amplop di meja. “Gue memulai semuanya dengan batas waktu. Gue mau kasih dia satu hari yang bersih. Hari ketika gue datang bukan buat menang, bukan karena tantangan, dan nggak ada siapa pun yang menghitung.”
Keisha menyandarkan punggung. “Kedengarannya romantis.”
“Memang.”
“Dan bodoh,” lanjutnya.
Aku menatap tajam.
“Lo mau jujur, ya jujur sekarang,” katanya. “Menunda kebenaran supaya pengakuannya kelihatan cantik itu tetap menunda.”
“Gue butuh waktu.”
“Atau lo butuh panggung yang sempurna?”
Kalimatnya menampar tepat. Aku selalu ingin semuanya terlihat tepat—presentasi, pakaian, hubungan, bahkan permintaan maaf. Hari ketiga puluh terasa seperti garis bersih yang bisa memisahkan kebohongan dari perasaanku sekarang.
Aku tahu kebenaran nggak bekerja serapi desain.
Tetapi aku tetap takut.
“Enam hari,” kataku. “Kasih gue enam hari.”
Nadine menghela napas. “Dia berhak tahu lebih cepat.”
“Gue tahu.”
“Kalau tahu, kenapa—”
“Karena gue pengecut, oke?” Suaraku pecah. “Karena begitu gue bilang, dia mungkin nggak akan menyentuh gue lagi. Dia mungkin melihat semua yang terjadi sebagai bagian permainan. Gue cuma… gue butuh beberapa hari buat berani kehilangan dia.”
Rania menggenggam tanganku.
Nggak ada yang langsung menjawab. Bahkan Keisha kehilangan ekspresi defensifnya.
“Gue kira ini bakal lucu,” katanya akhirnya. “Mas IT pendiam dibuat jatuh cinta sama cewek yang nggak mungkin dia dekati. Gue nggak pernah mikir dia mungkin sudah punya perasaan sendiri.”
“Kita semua nggak mikir,” ujar Nadine.
“Makanya selesai sekarang.” Aku mendorong tas hadiah lebih jauh. “Nggak ada pemenang. Nggak ada yang kalah. Hapus grupnya, spreadsheet-nya, semua.”
Keisha menatap laptop, lalu mengangguk tegas. “Baik. Kita lakukan upacara penghancuran.”
“Upacara apa?”
“Biar dramatis.”
Dia menghubungkan laptop ke layar meeting, membuka spreadsheet bernama Operasi Mas IT, lalu memilih semua sel. Di pojok kanan atas ada tabel hari, strategi, dan skor yang kini membuatku mual.
“Dengan ini,” kata Keisha, berdiri seperti pembawa acara, “seluruh data kebodohan kita resmi dimusnahkan.”
Dia menekan tombol hapus.
Printer di sudut ruangan mendadak menyala.
Satu lembar keluar.
Lalu lembar kedua.
Lalu ketiga.
Kami menatapnya.
“Kenapa malah nge-print?” teriak Nadine.
Keisha panik menekan tombol. “Gue salah shortcut!”
Printer terus bekerja, mencetak spreadsheet itu lengkap dalam warna.
Rania berlari mencabut kertas, tetapi mesin malah berbunyi nyaring dan menampilkan pesan paper jam.
Aku menutup wajah. “Bahkan printer menolak membiarkan kita melupakan dosa.”
Butuh sepuluh menit untuk menghentikannya. Hasil cetak kami robek kecil-kecil dan masukkan ke mesin penghancur dokumen. Keisha menghapus file asli, cadangan awan, grup chat, dan akhirnya foto tas hadiah dari ponselnya.
“Selesai,” katanya.
Rania memelukku lagi. Nadine ikut dari samping. Keisha bertahan lima detik sebelum akhirnya masuk ke pelukan kelompok sambil menggerutu bahwa maskaranya mahal.
“Kalau dia marah,” kata Rania, “kita semua akan minta maaf.”
“Dia nggak wajib maafin kita,” jawabku.
Mengatakannya keras-keras membuat kenyataan terasa lebih tajam.
Saat keluar gedung, Erga sudah menunggu di depan lift basement. Kemejanya digulung sampai siku, tas laptop menggantung di satu bahu. Begitu melihatku, ekspresinya melunak.
Aku baru terpisah darinya sejak pagi. Tetap saja, setelah satu jam membicarakan kemungkinan kehilangan, rasanya seperti sudah berminggu-minggu.
Aku masuk ke lift bersamanya. Pintu menutup. Kami sendirian.
“Meeting apa?” tanyanya.
“Urusan penting.”
“Berhasil?”
“Sebagian.”
Dia mengangguk, nggak mendesak.
Aku membenci kebaikannya yang selalu memberiku ruang. Ruang yang terus kupakai untuk menunda kebenaran.
Ketika lift bergerak, aku menarik dasinya dan menciumnya.
Erga sempat terkejut. Satu tangannya menahan dinding di samping kepalaku, tangan lain mendarat di pinggang. Ciumannya membalas pelan, lalu lebih dalam setelah aku mendekat.
Semua rasa takutku tumpah ke sana. Aku mencium seolah bisa membuktikan bahwa perasaanku bukan strategi. Seolah bibirku dapat mengatakan hal yang mulutku masih terlalu pengecut untuk ucapkan.
Lift berbunyi di satu lantai, tetapi pintunya nggak terbuka karena masih melewati zona parkir. Kami berhenti untuk mengambil napas.
“Kenapa?” tanyanya dengan dahi menempel di dahiku.
“Kangen.”
“Kita baru ketemu pagi.”
“Kangen nggak pakai jadwal.”
Dia tersenyum kecil, kalimat dari pesan semalam kembali kepadaku. “Saya pernah dengar.”
“Bagus. Berarti ingatan Mas masih sehat.”
“Kamu habis menangis?”
Tangannya menyentuh bawah mataku. Aku lupa concealer mungkin sudah luntur saat berpelukan dengan Rania.
“Sedikit.”
“Kenapa?”
Ini kesempatan.
Katakan sekarang.
Aku membuka mulut, tetapi bayangan wajahnya berubah setelah tahu membuat semua keberanianku hilang.
“Circle lagi emosional,” jawabku.
Kebohongan itu tidak sepenuhnya salah. Justru itu yang membuatnya terasa lebih buruk.
Erga memperhatikanku beberapa detik. “Ada sesuatu yang mau kamu bilang?”
Jantungku memukul tulang rusuk.
“Ada.”
Tangannya di pinggangku menegang sedikit. “Apa?”
Aku menyentuh pipinya. “Tapi bukan sekarang.”
Sesuatu melintas di matanya. Bukan kecewa, lebih mirip penerimaan yang terlalu tenang.
“Kapan?”
“Hari ketiga puluh.”
Dia terdiam.
Lift sampai di basement. Pintu terbuka, tetapi kami nggak langsung bergerak.
“Enam hari lagi,” katanya.
“Mas menghitung?”
“Sekarang saya ikut menghitung.”
Aku mengira itu rayuan. Aku tersenyum, lalu mencium sudut bibirnya sekali.
“Jangan penasaran.”
“Sudah terlambat.”
Kami berjalan keluar sambil bergandengan tangan. Aku merasa ringan karena taruhan sudah berakhir, sekaligus lebih berat karena kebenaran masih kubawa sendiri.
Di dalam tas, tak ada lagi uang atau hadiah.
Namun enam hari tetap berdetak seperti bom yang sengaja kusimpan sampai waktunya terlihat sempurna.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak reading
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur