Chapter Sixteen
Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
POV: Erga
Aku nggak tidur.
Bukan karena kopi, pekerjaan, atau server kantor yang biasanya memilih rusak saat semua orang waras sudah pulang. Penyebabnya jauh lebih sederhana dan jauh lebih berbahaya: satu ciuman di ruang istirahat yang gelap.
Setiap kali memejamkan mata, aku mengingat cara Helena menarik kerah kemejaku. Napasnya yang sempat tertahan. Bibirnya yang awalnya ragu, lalu membalas seolah dia juga sudah terlalu lama menunggu.
Aku mengingat semuanya dengan ketelitian orang IT yang seharusnya dipakai buat membaca log error.
Jam dua lewat sebelas, aku menyerah. Duduk di tepi ranjang, membuka laptop, lalu menatap surel dari kantor cabang Singapura yang belum juga kubalas.
Mereka memberiku waktu sampai besok sore.
Kalimatnya singkat: posisi tersedia, relokasi penuh, keputusan final dibutuhkan dalam tiga hari. Kesempatan yang sudah lama kuinginkan sebelum seorang perempuan dari divisi Design mulai duduk di mejaku, mencuri kopi, dan membuat tiga puluh hari terdengar seperti hukuman paling indah yang pernah kuterima.
Kursor berkedip di kotak balasan.
Aku menutup laptop.
Paginya, Damar memandangku selama lima detik penuh sebelum meletakkan sebuah lip balm di samping keyboardku.
“Apa ini?” tanyaku.
“Investasi produktivitas.”
“Ambil lagi.”
“Bibir pecah-pecah menurunkan performa.” Dia mendorong benda kecil itu dengan satu jari. “Apalagi kalau divisi lain mulai memakai fasilitas perusahaan.”
Aku menatapnya.
Dia mengangkat kedua tangan. “Gue nggak tahu apa-apa. Rania cuma lewat pantry sambil senyum kayak orang baru menang tender.”
“Kamu terlalu banyak bicara.”
“Dan lo terlalu sering menyentuh bibir sejak datang.”
Tanganku langsung turun dari wajah.
Damar tertawa sampai kursinya berdecit. Aku memasukkan lip balm itu ke lacinya tanpa komentar, lalu mencoba bekerja.
Mencoba adalah kata yang optimistis.
Setiap ada bunyi sepatu mendekat, kepalaku terangkat. Setiap pintu terbuka, jantungku melakukan hal memalukan. Helena baru muncul menjelang makan siang, membawa tablet di dada dan rambut yang dibiarkan tergerai.
Dia berhenti di ambang pintu IT.
Mata kami bertemu.
Semua suara di ruangan terasa mundur beberapa meter.
Dia tidak tersenyum lebar seperti biasanya. Hanya mengangkat dagu sedikit, lalu berkata, “Mas, aku butuh bantuan.”
Damar berbisik tanpa mengecilkan suara, “Kami juga butuh bantuan, Tuhan.”
Aku bangkit sebelum sempat melempar sesuatu kepadanya.
Helena berjalan lebih dulu menuju lorong belakang. Bukan ke meja Design, melainkan ke ruang arsip lama yang sekarang dipakai menyimpan monitor cadangan dan kardus kabel. Begitu aku masuk, dia menutup pintu.
“Apa yang rusak?” tanyaku.
“Nggak ada.”
“Lalu?”
Dia menatap kancing kedua kemejaku cukup lama. “Aku cuma nggak mau ngobrol di depan teman-teman kamu.”
“Tentang kemarin?”
Jarinya merapikan tali tablet yang sebenarnya sudah rapi. “Mas nyesel?”
Pertanyaan itu seharusnya mudah. Tidak ada bagian dari diriku yang menyesali ciuman itu. Yang kutakuti adalah alasan di baliknya. Apakah itu bagian dari permainan? Apakah Helena sedang mempercepat taruhan? Atau—dan kemungkinan ini yang paling berbahaya—apakah ada sesuatu yang nyata di matanya semalam?
Kalau kutanya dan jawabannya salah, aku akan patah dua kali. Sekarang, dan pada hari ketiga puluh.
“Nggak,” jawabku.
Dia mengembuskan napas pelan. “Oh.”
“Kamu?”
“Aku yang nanya duluan.”
“Itu bukan jawaban.”
Helena maju satu langkah. Wangi parfumnya langsung memenuhi ruang sempit di antara kami. “Mas selalu harus dapat jawaban, ya?”
“Kalau pertanyaannya penting.”
“Seberapa penting?”
Aku bisa saja mundur. Seharusnya aku mundur. Ada kamera di lorong, ada orang di balik pintu, ada surel relokasi yang menunggu, dan ada sebelas hari lebih sedikit menuju akhir dari semua ini.
Tapi semalam aku sudah belajar bahwa mengetahui batas waktu tidak membuatku lebih kuat. Itu cuma membuat setiap detik terasa terlalu berharga untuk dilewatkan.
Aku mengambil tablet dari tangannya dan meletakkannya di atas kardus. Lalu kutarik pinggangnya mendekat.
Mata Helena melebar.
“Sepenting ini,” kataku.
Aku menciumnya lebih dulu.
Tidak ada sakit kepala yang perlu ditenangkan, tidak ada gelap yang bisa dipakai bersembunyi. Lampu ruang arsip terlalu putih. Tangan kiriku jelas berada di pinggangnya, tangan kananku menyentuh rahangnya, dan Helena jelas-jelas membalas.
Bibirnya lembut, tetapi ciumannya nggak malu-malu. Dia mencengkeram bagian depan kemejaku, menarikku sampai punggungnya menyentuh lemari besi. Bunyi kecil dari benturan itu membuatku sadar aku mulai kehilangan kendali.
Aku memperlambat ciuman, lalu berhenti saat napasnya berubah pendek.
Dahi kami menempel. Ibu jariku masih di bawah telinganya.
“Masih mau?” tanyaku.
Dia membuka mata. Ada sesuatu yang panas sekaligus rapuh di sana.
“Kamu berhenti cuma buat nanya itu?”
Kata kamu dari mulutnya membuat pertahananku retak.
“Aku perlu tahu.”
Itu pertama kalinya kata itu keluar utuh saat kami berdua. Bukan selip lidah, bukan emosi sesaat di depan orang lain. Helena menyadarinya. Aku melihat dari cara pandangannya turun ke bibirku, lalu kembali ke mata.
“Aku masih mau,” bisiknya.
Kali ini dia yang menciumku.
Tangannya melingkar di leherku. Aku menahan pinggangnya lebih erat, cukup untuk merasakan tubuhnya merapat tanpa membiarkan tanganku pergi ke mana-mana. Ciuman itu lebih dalam daripada semalam, lebih jujur daripada apa pun yang sanggup kami ucapkan.
Dan justru karena itu, rasa takutku tumbuh.
Aku menyukainya terlalu banyak.
Aku menyukai cara dia tersenyum kecil di sela napas. Cara ujung hidungnya menyentuh pipiku. Cara dia tidak tampak seperti perempuan yang sedang menjalankan strategi, melainkan seseorang yang juga sedang hanyut.
Hal seperti itu seharusnya membuatku bahagia.
Yang kurasakan malah ingin percaya.
Itulah yang paling berbahaya.
Terdengar suara kardus jatuh dari luar. Helena tersentak dan hampir menginjak sepatuku.
“Kalau itu Damar, aku pecat dia,” katanya pelan.
“Kamu bukan atasannya.”
“Aku bisa bikin poster pengumuman pemecatan.”
“Itu bukan prosedur resmi.”
“Kalau desainnya bagus, orang bakal percaya.”
Aku tertawa. Dia memandangku seperti baru menemukan sesuatu, lalu menyentuh sudut bibirku dengan jari.
“Nah,” katanya.
“Apa?”
“Mas senyum kayak gini ternyata bikin bahaya.”
“Bahaya buat siapa?”
“Untuk sementara, aku.”
Jawaban itu membuat dadaku sesak dengan cara yang menyenangkan sekaligus kejam.
Pintu diketuk dua kali.
“Pak,” suara Damar terdengar dari luar, “kalau inventarisnya sudah selesai dicium—dicek, maksud gue—ada tiket prioritas.”
Helena menutup mulut menahan tawa. Aku membuka pintu cukup lebar untuk menatap Damar, yang berdiri sambil membawa kardus kosong dan wajah tanpa dosa.
“Tadi salah ucap,” katanya.
“Saya dengar.”
“Lip balm-nya jangan lupa.”
Aku menutup pintu lagi di depan wajahnya.
Helena tertawa tanpa suara sampai bahunya berguncang. Aku ingin menyimpan pemandangan itu. Sayangnya, pikiranku memang sudah menyimpan terlalu banyak hal tentang dia.
“Aku harus balik,” katanya setelah berhasil tenang.
“Hm.”
Dia mengambil tabletnya, tetapi sebelum membuka pintu, dia menoleh. “Nanti makan siang?”
“Berdua?”
“Mas keberatan?”
“Aku cuma memastikan.”
Senyumnya muncul lagi, pelan dan cantik. “Berdua.”
Saat dia keluar, ruangan itu terasa mendadak terlalu kosong.
Aku menunggu satu menit sebelum kembali ke meja. Damar tidak berkomentar. Dia hanya membuka laci, mengambil lip balm tadi, lalu meletakkannya lagi di samping keyboardku.
“Sekarang ini aset kritis,” katanya.
Aku tidak mengembalikannya.
Menjelang sore, surel dari Singapura masuk lagi. Pengingat terakhir. Di bawah meja, kakiku berhenti bergerak. Di layar lain, pesan Helena muncul.
Besok pulang jangan langsung kabur. Aku mau ajak Mas ke suatu tempat.
Aku membacanya tiga kali.
Lalu membuka surel relokasi dan mulai mengetik.
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Saya membutuhkan waktu tiga hari untuk menyelesaikan beberapa hal sebelum memberikan keputusan final.
Jariku tertahan di tombol kirim.
Tiga hari bukan waktu yang akan mengubah kenyataan. Tiga hari juga tidak akan membuatku mendadak berani menanyakan apakah semua ini masih taruhan.
Tapi tiga hari memberiku satu makan siang, satu tempat rahasia yang ingin dia tunjukkan, dan mungkin satu kesempatan lagi untuk mendengar dia memanggilku tanpa jarak.
Aku menekan kirim.
Di kalender kecil samping monitor, hari keenam belas kucoret dengan pena hitam.
Empat belas hari lagi.
Untuk pertama kalinya, angka itu tidak hanya terdengar seperti hitungan menuju luka.
Angka itu terdengar seperti godaan untuk tinggal.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan reading
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur