Chapter Fifteen
Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
POV: Helena
Migrain datang tepat setelah presentasi kedua.
Awalnya cuma titik cahaya kecil di sudut pandangan. Lalu suara orang-orang di ruang meeting terdengar terlalu keras, AC terasa menusuk kulit, dan denyutan mulai memukul pelipis kanan seperti seseorang mencoba keluar dari dalam kepala.
Aku masih berhasil menutup laptop dan tersenyum kepada klien. Begitu pintu ruangan tertutup, aku berpegangan pada meja.
Rania langsung mendekat. “Lo pucat.”
“Kurang makan.”
“Lo migrain lagi?”
Aku mengangguk kecil. Gerakan itu saja membuat mual naik.
Keisha mencari obat di tas. Nadine mengambil air. Mereka semua bicara bersamaan sampai aku ingin menyuruh seluruh dunia berhenti bersuara.
“Bawa ke ruang istirahat,” kata seseorang dari belakang.
Aku mengenali suara Erga sebelum menoleh.
Dia baru masuk untuk mengambil perangkat presentasi. Begitu melihatku, ekspresinya berubah. Nggak panik, tapi seluruh perhatiannya langsung mengunci.
“Bisa jalan?” tanyanya.
“Bisa.”
Aku mencoba membuktikan dan hampir menabrak kursi.
Erga meraih pinggangku. “Pelan.”
Tangannya hangat dan mantap. Aku membiarkan sebagian berat tubuh bersandar padanya saat kami berjalan menuju ruang istirahat kecil di ujung lantai. Rania mengikuti membawa obat dan air, tetapi Erga menyuruhnya mematikan lampu lebih dulu.
Ruangan itu punya satu sofa panjang, meja kecil, dan tirai tebal. Setelah lampu padam, hanya ada cahaya tipis dari bawah pintu.
Erga membantuku duduk. Dia berjongkok, melepaskan sepatu hakku satu per satu, lalu mengangkat kakiku ke sofa.
“Sejak kapan?” tanyanya.
“Baru.”
Rania menjawab dari belakang, “Dia pernah sampai muntah waktu campaign tahun lalu.”
Aku membuka satu mata. “Terima kasih sudah membacakan riwayat penyakit gue.”
Erga memandangku dengan ekspresi nggak senang. “Kenapa tadi tetap presentasi?”
“Karena klien nggak mau dengar kepala gue sakit.”
“Mereka bisa tunggu.”
“Dunia nggak berhenti karena migrain.”
“Nggak. Tapi kamu bisa berhenti lima belas menit sebelum tubuhmu yang maksa.”
Aku ingin membalas, tetapi denyutan di kepala membuatku menyerah. Ada sesuatu yang menenangkan dari cara Erga memarahiku tanpa suara tinggi—seolah kesehatanku bukan gangguan, melainkan hal yang memang pantas diprioritaskan.
“Mas nggak perlu…”
“Diam dulu.”
Nada suaranya tegas tanpa kasar. Aneh, tapi aku menurut.
Rania menyerahkan obat. “Gue ambil kompres dingin.”
“Sekalian bilang yang lain jangan masuk,” kata Erga.
Rania mengangguk, memandang kami berdua, lalu keluar dengan ekspresi seperti petugas yang baru mendapat misi penting.
Aku menelan obat dan berbaring miring. Erga duduk di lantai dekat sofa. Dia melepas kacamatanya, mungkin supaya cahaya dari lensa nggak memantul, lalu menarik tirai sampai ruangan semakin gelap.
“Mas balik kerja aja,” kataku.
“Nanti.”
“Aku nggak akan mati.”
“Bagus.”
“Jadi nggak perlu dijaga.”
“Saya nggak bilang sedang menjaga.”
“Terus?”
“Duduk.”
Bahkan saat sakit, dia tetap menyebalkan.
Denyutan di pelipis makin kuat. Aku memejamkan mata dan menekan sisi kepala dengan jari. Erga menangkap pergelangan tanganku, memindahkannya pelan, lalu menggantikan dengan jarinya sendiri.
“Di sini?” tanyanya.
“Sedikit ke atas.”
Dia mengusap pelipisku dengan tekanan lembut dan gerakan memutar. Sentuhannya konsisten, nggak terburu-buru. Sakitnya nggak langsung hilang, tetapi tubuhku perlahan berhenti tegang.
“Enak?”
“Jangan sombong.”
“Berarti enak.”
Aku hampir tersenyum. “Lumayan.”
Erga terus mengusap. Sesekali ibu jarinya melewati batas rambut. Tangannya yang lain menahan belakang kepalaku supaya posisinya nyaman.
Nggak ada permainan dalam sentuhan itu. Nggak ada penonton. Nggak ada Keisha yang memberi skor atau Nadine yang mencatat data. Cuma ruang gelap, napas kami, dan Erga yang merawatku seolah itu hal paling alami.
Sesekali suara langkah lewat di luar. Setiap kali gagang pintu bergerak, Rania terdengar berbisik galak menyuruh orang mencari ruang lain. Pada percobaan ketiga, suara Keisha protes karena cuma ingin melihat kondisiku.
“Dia tidur,” kata Rania.
“Gue bawa makanan.”
“Taruh di luar.”
“Lo satpam apa teman?”
“Hari ini dua-duanya.”
Erga menahan tawa. Getarannya terasa pada tangan yang masih menyentuh pelipisku.
“Circle kamu lengkap,” bisiknya.
“Mau tukar sama Damar?”
“Nggak seputus asa itu.”
Rasa bersalah muncul di sela denyutan.
Aku menepisnya. Belum sekarang.
“Mas,” panggilku pelan.
“Hm?”
“Kenapa baik banget sama aku?”
Jarinya berhenti sesaat, lalu bergerak lagi. “Harus ada alasan?”
Aku teringat jawabannya saat makan siang. Biasanya ada alasan.
“Katanya biasanya ada.”
“Sekarang kamu lagi sakit. Jangan debat.”
“Itu bukan jawaban.”
“Tidur.”
Aku membuka mata sedikit. Dalam gelap, wajah Erga cuma terlihat sebagai garis samar. Dia kelihatan lebih dekat tanpa kacamata, lebih terbuka.
Tanganku bergerak ke kerah kemejanya.
“Apa?” tanyanya.
Aku menarik pelan agar dia mendekat. Erga menurut sampai wajahnya berada di atas wajahku. Tangan yang tadi mengusap pelipis kini bertumpu di tepi sofa.
“Sentuhan Mas bikin aku nyaman,” kataku.
“Bagus.”
“Bukan cuma migrainnya.”
Erga diam.
Aku bisa merasakan dia mulai menjauh, pola yang sudah kuhafal. Datang dekat, membuatku lupa napas, lalu kembali membangun jarak seolah nggak terjadi apa-apa.
Aku mengeratkan genggaman pada kerahnya.
“Jangan sentuh aku kayak gitu kalau habis ini Mas mau pura-pura biasa aja.”
“Kamu lagi sakit.”
“Aku migrain, bukan kehilangan kesadaran.”
“Obatnya mungkin—”
“Belum bekerja.”
“Hel—” Erga menghentikan dirinya sebelum menyebut namaku. “Kamu yakin?”
Untuk pertama kalinya dia nyaris memanggilku dengan nama. Suaranya terdengar kasar, seperti batas yang dia jaga mulai retak.
Aku mengangkat kepala dan mencium bibirnya.
Ciuman itu singkat karena Erga langsung membeku. Bibirnya hangat, jauh lebih lembut daripada semua jawaban datarnya. Aku baru sempat merasakan satu tarikan napas sebelum dia mundur beberapa sentimeter.
“Lihat saya,” katanya.
Aku membuka mata penuh.
“Kamu benar-benar mau?”
“Iya.”
“Bukan karena sakit? Bukan karena suasana?”
“Mas mau aku buat tiket?”
Ada jeda, lalu tawa kecil keluar dari napasnya. Ketegangan di wajah Erga pecah.
Aku menarik kerahnya lagi. “Aku mau.”
Kali ini Erga yang menciumku.
Lebih pelan pada awalnya, seolah masih memberi kesempatan untuk berubah pikiran. Tangannya menyentuh sisi wajahku, ibu jari tepat di bawah telinga. Ketika aku membalas dan menariknya lebih dekat, ciumannya menjadi lebih dalam—tetap lembut, tetapi nggak lagi ragu.
Seluruh suara di kepala menghilang.
Nggak ada hitung mundur. Nggak ada taruhan. Nggak ada tas burgundy atau tiga perempuan yang menunggu laporan.
Cuma Erga.
Dia berhenti lebih dulu, napasnya menyentuh bibirku. Kening kami menempel. Tangannya masih menangkup wajahku.
Aku belum pernah dicium seperti itu—bukan karena Erga melakukan sesuatu yang rumit. Justru karena dia terus menahan diri. Setiap gerakan terasa seperti pertanyaan, dan setiap balasanku dia terima sebagai jawaban. Nggak ada buru-buru, nggak ada usaha memenangkan sesuatu.
Ironisnya, aku yang memulai semua ini sebagai permainan.
“Kepalanya?” tanyanya.
Aku membuka mata. “Apa?”
Erga tersenyum kecil. “Migrainnya.”
“Oh.” Aku benar-benar lupa. “Masih ada.”
“Berarti metode saya gagal.”
“Perlu dicoba lagi.”
Dia tertawa pelan, lalu mencium keningku—bukan bibir. “Istirahat.”
“Mas selalu berhenti di bagian menarik.”
“Karena kamu sakit.”
“Besok kalau sudah sehat?”
Tatapan Erga turun ke bibirku lagi. “Kita lihat.”
Dia duduk di lantai dan kembali mengusap pelipis sampai obat akhirnya bekerja. Aku tertidur sebentar dengan jariku masih menggenggam ujung lengan kemejanya.
Saat terbangun, ruangan tetap gelap. Erga bersandar pada sofa, matanya tertutup, tapi tangannya masih dekat kepalaku.
Aku menyentuh bibir sendiri.
Yang kurasakan bukan puas karena selangkah lebih dekat pada kemenangan.
Yang kurasakan adalah takut ciuman itu mungkin berarti lebih banyak bagiku daripada bagi dia.
Kami keluar dari ruang istirahat hampir satu jam kemudian. Di samping pintu, Rania tertidur di kursi dengan tangan terlipat di dada. Di pangkuannya ada kertas bertuliskan besar:
JANGAN MASUK. PASIEN ISTIRAHAT.
Erga berjongkok dan mengetuk lututnya pelan. Rania terbangun, melihatku, lalu melihat Erga.
“Sudah?” tanyanya.
Wajahnya masih setengah tidur, jadi mungkin dia nggak sadar pertanyaannya terdengar sangat salah.
Erga berdeham. “Migrainnya sudah lebih baik.”
Rania mengangguk, lalu matanya jatuh ke kerah kemeja Erga yang sedikit kusut karena kutarik.
Dia langsung terjaga penuh.
“Oh,” katanya.
Aku mengambil kertas dari pangkuannya. “Jangan mulai.”
“Gue belum ngomong apa-apa.”
“Wajah lo teriak.”
Erga mengambil sepatu hakku dan menyerahkannya tanpa berkomentar. Saat aku hendak memakai, dia menahan tanganku.
“Pakai nanti. Jangan dipaksa.”
Dia berjalan pergi setelah memastikan aku bisa berdiri.
Rania menunggu sampai Erga menghilang di tikungan, lalu mencengkeram lenganku.
“KALIAN NGAPAIN?” bisiknya dengan volume yang tetap terlalu keras.
Aku menatap punggung Erga yang sudah nggak terlihat, lalu kembali menyentuh bibir.
“Kayaknya,” kataku pelan, “gue baru bikin masalah.”
Rania menatapku lebih serius. “Lo suka sama dia?”
Pertanyaan itu seharusnya gampang ditertawakan. Aku bisa bilang ini cuma bagian dari strategi. Bisa mengingatkan bahwa masih ada lima belas hari dan tas burgundy menunggu di akhir.
Tapi bibirku masih menyimpan hangat ciuman Erga. Di balik pintu, sofa masih punya bekas tempat dia duduk hampir satu jam hanya untuk mengusap kepalaku.
“Gue nggak tahu,” jawabku.
Itu kebohongan pertama tentang Erga yang kutujukan kepada sahabatku sendiri.
Bukan karena ciumannya terjadi.
Tapi karena selama beberapa jam setelah itu, aku sama sekali nggak ingat kalau semuanya seharusnya cuma permainan.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu reading
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur