Chapter Twenty
Sabtu di Apartemen Erga
POV: Helena
Aku datang untuk mengembalikan jaket Erga sambil memakai jaket Erga.
Menurutku itu bukan kontradiksi. Menurut penjaga apartemennya, mungkin iya, karena dia menatap namaku di buku tamu, lalu jaket kebesaran di tubuhku, lalu kembali menatap namaku.
“Lantai sembilan, Bu,” katanya dengan senyum yang terlalu tahu.
“Mbak saja, Pak.”
“Baik, Bu.”
Aku menyerah.
Pintu unit 9C terbuka sebelum aku sempat mengetuk kedua kali. Erga berdiri memakai kaus hitam polos dan celana rumah abu-abu. Tanpa kemeja, tanpa jam tangan, tanpa kartu identitas kantor, dia terlihat lebih muda sekaligus jauh lebih mengganggu konsentrasiku.
Tatapannya turun ke jaket yang masih kupakai.
“Katanya mau mengembalikan.”
Aku mengangkat kantong belanjaan. “Aku bawa makan siang.”
“Itu bukan jaket.”
“Mas harus belajar menghargai niat baik.”
“Niat baiknya bisa dilepas dulu.”
“Nanti.”
Dia menggeleng, tetapi sudut bibirnya naik saat mempersilahkanku masuk.
Apartemennya kecil. Satu kamar, ruang tengah yang menyatu dengan dapur, balkon sempit, dan rak buku yang isinya lebih banyak kabel daripada buku. Semuanya rapi, tetapi nggak terasa dingin. Ada tanaman lidah mertua dekat jendela. Ada cangkir dengan gagang retak yang direkatkan lagi. Meja kopi punya satu kaki berbeda warna, jelas hasil perbaikan sendiri.
Aku berjalan pelan, melihat benda-benda yang selama ini nggak pernah kubayangkan mengelilinginya saat dia pulang.
“Mas memperbaiki semuanya?” tanyaku sambil mengangkat pemanggang roti yang tombolnya diganti tutup botol.
“Kalau masih bisa dipakai.”
“Kenapa nggak beli baru?”
“Karena masih bisa dipakai.”
“Jawaban Mas muter.”
“Pertanyaanmu juga.”
Aku meletakkan pemanggang itu. “Kalau orang rusak, Mas perbaiki juga?”
Erga yang sedang menaruh belanjaan berhenti sebentar. “Orang bukan barang.”
“Maksudku kalau hatinya rusak.”
Dia menatapku dari balik pintu kulkas. “Kalau dia mau ditemani memperbaikinya.”
Jawaban sederhana itu menyentuh tempat yang nggak siap kusentuh pagi ini. Aku mengalihkan perhatian ke isi kulkasnya.
“Mas hidup cuma dengan telur, air dingin, dan sambal?”
“Ada sayur.”
“Daun bawang bukan sayur.”
“Warnanya hijau.”
“Logika anak kos.”
“Kamu datang membawa pasta instan.”
Aku mengeluarkan bahan-bahan dari kantong. “Aku juga bawa daging, jamur, bawang, dan harapan.”
“Dari semuanya, harapan yang paling meragukan.”
“Mas mau masak sendiri?”
“Nggak.”
Kami mulai dengan pembagian tugas yang tampak masuk akal: dia memotong daging, aku memotong bawang. Dua menit kemudian, dia sudah selesai setengah pekerjaannya sementara potongan bawangku punya tujuh ukuran berbeda.
Mataku mulai berair.
“Kenapa bentuknya begitu?” tanyanya.
“Konsepnya organik.”
“Yang satu masih utuh.”
“Itu focal point.”
Air mata jatuh ke pipi. Aku meletakkan pisau dan memeluk pinggangnya dari belakang, menyembunyikan wajah di antara bahunya.
Erga langsung diam. “Kenapa?”
“Bawangnya jahat.”
“Cuci muka.”
“Aku nggak bisa lihat.”
“Tadi bisa menemukan pinggang saya.”
“Itu insting.”
Dia tertawa, lalu membalik tubuh di dalam pelukanku. Dengan dua tangan di bahuku, dia membawaku ke wastafel, membasuh jemarinya, lalu menyeka bawah mataku menggunakan tisu basah.
“Buka mata pelan-pelan.”
“Perih.”
“Makanya jangan digosok.”
Aku membuka satu mata. Wajahnya dekat sekali. Alisnya sedikit mengerut karena serius mengurus tragedi bawang. Aku mendadak ingin menciumnya hanya karena dia terlihat seperti itu.
“Mas.”
“Hm?”
“Aku masih nangis.”
“Sudah berhenti.”
“Butuh pengalihan.”
“Air dingin cukup.”
“Nggak romantis.”
“Bawang juga nggak romantis.”
Aku naik duduk ke atas meja dapur, menarik bagian depan kausnya sampai dia berdiri di antara kedua kakiku.
“Sekarang?” tanyaku.
Tatapannya berubah. “Sekarang apa?”
“Masih nggak romantis?”
Telapak tangannya bertumpu di meja, masing-masing di samping pahaku. Dia nggak menyentuhku, tetapi posisi itu sudah cukup membuat napasku pendek.
“Kamu datang untuk masak,” katanya.
“Aku bisa melakukan dua hal.”
“Memotong bawang saja gagal.”
Aku memukul bahunya. Dia menangkap pergelangan tanganku, membawanya ke bibir, lalu mencium bagian dalamnya.
“Jahat,” gumamku.
“Jujur.”
“Aku pulang.”
“Jaketnya tinggal.”
“Aku bawa.”
“Berarti jangan pulang.”
Aku menatapnya. Kalimat itu terdengar seperti gurauan, tetapi matanya nggak ikut bermain.
Jantungku berdetak lebih pelan, lebih berat.
“Cium aku,” kataku.
Erga mengangkat satu tangan ke rahangku. “Karena bawang?”
“Karena aku mau.”
Dia menciumku pelan, seolah kami punya seluruh Sabtu untuk melakukan itu. Aku melingkarkan kedua tangan di lehernya dan membalas lebih dalam. Kakinya bergeser mendekat; tangannya turun ke pinggangku, menahanku aman di tepi meja.
Nggak ada pintu kantor yang mungkin terbuka. Nggak ada rekan kerja, petugas keamanan, atau bunyi notifikasi render. Hanya suara kulkas, napas kami, dan detak jam dinding yang perlahan nggak kudengar lagi.
Aku menarik bibir bawahnya pelan. Napas Erga pecah, satu-satunya tanda bahwa ketenangannya mulai runtuh.
Aku menyukai suara itu terlalu banyak.
Dia menciumku lagi, lebih erat. Satu tangan menyentuh belakang kepalaku, sementara tangan lain tetap di pinggang. Ketika tubuhku merapat, dia mengembuskan napas berat lalu berhenti sesaat.
“Kamu nyaman?”
Aku mengangguk.
“Jawab.”
“Iya.” Aku menyentuh ujung hidungnya dengan hidungku. “Aku nyaman.”
Baru setelah itu bibirnya kembali menyentuh bibirku.
Wangi sesuatu yang gosong datang beberapa menit kemudian.
Aku yang pertama menarik diri. “Mas.”
“Hm?”
“Itu aroma cinta atau daging terbakar?”
Erga menoleh ke kompor.
Asap tipis naik dari wajan.
Dia mematikan api sementara aku melompat turun dan membuka jendela. Alarm asap berbunyi satu kali, lalu dua kali, lalu menjerit seolah kami sedang membakar gedung.
“Tekan tombolnya!” katanya.
“Yang mana?”
“Tombol merah.”
“Semua alarm punya tombol merah!”
“Yang di atas pintu.”
Aku mengambil sapu dan mencoba menjangkaunya. Erga membuka pintu balkon sambil mengibaskan serbet ke arah alarm. Seorang tetangga membuka pintu unit seberang.
“Aman?” tanyanya.
“Aman, Bu,” jawab Erga. “Cuma masak.”
Ibu itu melihatku memegang sapu, jaket kebesaran, dan bibir Erga yang jelas memerah.
“Oh,” katanya panjang. “Masak.”
Pintunya menutup lagi.
Aku tertawa sampai harus berpegangan pada meja.
“Reputasi Mas di gedung ini selesai.”
“Kamu datang baru empat puluh menit.”
“Efisien.”
Makan siang resmi gagal. Dagingnya pahit, sausnya mengental menjadi sesuatu yang bisa dipakai menambal dinding, dan bawang organikku tetap mentah.
Akhirnya kami memasak mi instan dengan telur.
“Ini lebih cocok dengan isi kulkas Mas,” kataku.
“Dan kemampuan memasakmu.”
“Aku tamu.”
“Tamu yang membakar makanannya sendiri.”
Kami makan di lantai ruang tengah karena meja kopi terlalu kecil. Rasanya terlalu asin, tapi aku menghabiskannya. Erga memberikan telur miliknya setelah aku mencuri setengah tanpa izin.
Setelah piring dicuci, kami menyalakan film yang nggak benar-benar ditonton. Aku duduk menyamping di pangkuannya, kepala bersandar di bahu. Jaketnya masih membungkus tubuhku meskipun ruangan nggak dingin.
“Berat?” tanyaku.
“Lumayan.”
Aku hendak bangun, tetapi lengannya langsung menahan pinggangku.
“Mas bilang berat.”
“Saya nggak bilang turun.”
“Minta maaf.”
“Nggak.”
Aku mencubit lengannya. Erga menangkap tanganku, mengecup buku-buku jari, lalu menaruhnya di dada. Di bawah telapak tanganku, jantungnya berdetak tenang.
Dia mencium pelipisku, pipi, lalu sudut bibir. Aku menoleh untuk menangkap ciumannya. Film terus berjalan, cahaya dari televisi bergerak di wajahnya.
Ciuman itu perlahan menjadi dalam. Tanganku masuk ke rambutnya. Bibirnya turun ke rahang, kemudian ke leherku.
Mataku menutup.
Lalu ponsel di meja menyala.
Notifikasi grup Circle Metro muncul di layar.
HARI 21. Tinggal 9 hari, Queen. Dia udah bilang suka belum?
Tubuhku menegang.
Erga langsung berhenti.
Dia nggak mungkin sempat membaca pesan dari jarak itu. Namun tangannya melepaskan pinggangku sedikit, memberiku ruang seolah mengira aku sudah nggak nyaman.
“Kenapa?” tanyanya.
“Nggak apa-apa.”
“Saya terlalu jauh?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Katakan sekarang.
Dua kata itu berteriak di kepalaku. Katakan soal taruhan. Katakan bahwa awalnya aku mendekat karena iseng. Katakan bahwa setiap ciuman setelahnya sudah terasa nyata. Katakan sebelum dia memberiku lebih banyak hal yang nggak pantas kuterima.
Tapi kalau aku berkata sekarang, Sabtu ini akan berakhir. Apartemen kecil yang mulai terasa hangat ini akan kembali menjadi tempat orang lain. Tatapannya mungkin berubah dan aku belum siap melihatnya.
Aku mematikan layar ponsel.
“Cuma capek,” bohongku.
Erga menatapku beberapa detik. Nggak mendesak. Nggak bertanya lagi.
Dia hanya menarik selimut tipis dari ujung sofa, menyelimutkannya ke kakiku, lalu memelukku tanpa melanjutkan ciuman.
“Tidur saja,” katanya.
Aku bersandar di dadanya. Tangannya mengusap rambutku pelan. Di bawah telinga, detak jantungnya tetap stabil, seolah aku bukan ancaman terbesar yang sedang dia peluk.
Rasa bersalah seharusnya membuatku menjauh.
Sebaliknya, aku mencengkeram kausnya dan mendekat, terlalu takut kehilangan sesuatu yang belum berani kuakui sebagai milikku.
Di layar televisi, film berakhir tanpa kami sadari.
Di layar ponsel yang sudah gelap, hari kedua puluh satu tetap menunggu.
Sembilan hari lagi.
Untuk pertama kalinya, aku nggak takut kalah taruhan.
Aku takut menang—lalu kehilangan dia karena caraku memulai semuanya.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga reading
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur