Chapter Twenty Two
Tiket Sekali Jalan
POV: Erga
Surel konfirmasi itu datang pukul delapan lewat tujuh belas.
Aku sudah berada di kantor sejak tujuh pagi, mencoba memperbaiki konfigurasi yang kemarin membuat layanan internal mati. Damar masih membeli sarapan. Ruangan sunyi, AC belum terlalu dingin, dan untuk beberapa menit aku bisa berpura-pura hari ini cuma hari kerja biasa.
Lalu notifikasi muncul di sudut monitor.
Relocation Schedule Confirmation — Singapore Office.
Aku nggak langsung membukanya.
Aku menatap subjek itu sampai huruf-hurufnya kehilangan bentuk. Setelah Sabtu malam dan Minggu pagi bersama Helena, kata relocation terasa seperti sesuatu yang ditujukan kepada orang lain.
Orang lain nggak bangun dengan tubuh hangat dalam pelukannya. Orang lain nggak mendapat telur gosong dan ancaman soal alarm ayam. Orang lain nggak mendengar seorang perempuan berkata dia bisa sering bangun di sana, lalu terlalu takut menjawab karena tahu dirinya sedang menyiapkan kepergian.
Aku akhirnya mengeklik surel.
Posisi harus diisi segera. Dokumen selesai diproses. Tiket penerbangan sudah dipesankan untuk pukul 01.20, dini hari setelah hari kedua puluh sembilan.
Sekali jalan.
Perusahaan menyediakan tempat tinggal sementara selama satu bulan. Tim di sana menunggu. Serah terima harus dimulai minggu ini dan pengumuman internal baru akan dikirim setelah keberangkatanku, sesuai permintaan kerahasiaan yang kubuat sendiri.
Semua sudah rapi.
Sama seperti meja kerjaku sebelum Helena mulai meninggalkan cangkir, karet rambut, catatan, dan alasan untuk menoleh ke pintu setiap beberapa menit.
Aku menutup surel ketika langkah kaki terdengar.
Damar masuk membawa dua bungkus nasi uduk. Dia meletakkan satu di mejaku, lalu melihat wajahku.
“Lo sudah baca?”
Aku menoleh. “Baca apa?”
“Jangan pura-pura. Manajer manggil gue kemarin buat nanya pembagian tanggung jawab kalau lo pindah.”
“Dia belum seharusnya bilang.”
“Dia nggak bilang. Gue menyimpulkan dari kalimat, ‘Kalau misalnya ada personel senior yang mendapat kesempatan di luar negeri.’ Subtil banget.”
Aku membuka bungkus nasi tanpa lapar. “Jangan bilang siapa-siapa.”
Damar menarik kursi dan duduk. Untuk sekali ini wajahnya nggak bercanda. “Lo yakin?”
“Sudah saya terima.”
“Gue nggak tanya administrasinya.”
Aku tahu maksudnya. Aku memilih memisahkan telur dari nasi, sekadar memberi tangan sesuatu untuk dilakukan.
“Kalau tinggal, apa yang berubah?” tanyaku.
“Banyak.”
“Taruhannya tetap ada.”
“Perasaannya mungkin nggak.”
“Mungkin.” Aku tertawa pendek tanpa lucu. “Saya nggak bisa memindahkan hidup berdasarkan mungkin.”
Damar bersandar. “Tapi lo bisa pindah negara berdasarkan takut?”
Pertanyaan itu tepat sasaran. Aku membenci dia karena cukup mengenalku untuk menanyakannya.
“Saya sudah menginginkan posisi ini sebelum semua dimulai.”
“Dan sekarang?”
Aku melihat laci tempat struk dan bungkus gula kusimpan. “Sekarang saya tetap menerimanya.”
Damar diam beberapa saat, lalu mengangkat sendok plastik. “Baik. Pertanyaan penting berikutnya: di Singapura ada divisi Design secantik masalah lo?”
Aku menatapnya.
“Gue berusaha meringankan suasana.”
“Gagal.”
“Konsisten, berarti.”
Dia mulai makan. Sebelum membuka suapan kedua, dia menunjuk layar dengan sendok. “Kalau mau pergi, jangan bikin dia tahu dari surel massal.”
“Dia akan tahu pada waktunya.”
“Kalimat penjahat.”
“Makan nasi kamu.”
Helena datang menjelang siang, membawa dua kopi dan senyum yang membuat keputusan tadi terasa seperti pengkhianatan.
Dia meletakkan gelas tanpa gula di depanku. “Untuk pahlawan yang kena marah gara-gara orang lain.”
“Bukan pahlawan.”
“Terserah. Aku tetap kagum.”
“Jangan.”
Kata itu keluar lebih keras daripada niatku. Senyumnya goyah.
Aku langsung menyesal. “Maksud saya, saya memang ikut salah.”
“Tetap saja.” Dia menyentuh punggung tanganku. “Mas nggak harus selalu mengecilkan semua hal baik yang Mas lakukan.”
Aku membalik telapak dan menggenggam jarinya. Kalau ada manusia yang paling nggak berhak mengatakan itu kepadaku, mungkin dia. Kalau ada manusia yang paling ingin kudengar mengatakannya, tetap dia.
“Makan siang?” tanyanya.
“Saya ada serah terima.”
“Serah terima apa?”
“Sistem baru.”
Bohong pertama keluar terlalu mudah.
Yang kedua menyusul saat dia bertanya kenapa akhir-akhir ini aku sering menutup layar ketika dia datang.
“Dokumen rahasia.”
Secara teknis benar. Tetap saja rasanya kotor.
Sore hari aku melewati pantry dan mendengar suara Circle Cewek Metro. Helena berdiri membelakangiku, dikelilingi Keisha, Nadine, dan Rania. Mereka bicara pelan, tetapi satu kalimat terdengar jelas.
“Tinggal seminggu,” kata Keisha. “Lo nggak bisa terus begini.”
Langkahku berhenti.
Rania menjawab sesuatu yang nggak tertangkap. Helena menunduk, kedua tangan memegang gelas.
“Gue tahu,” katanya.
Telepon di sakuku bergetar. Manajer memintaku naik ke lantai atas untuk menandatangani dokumen.
Aku pergi sebelum mendengar lanjutannya.
Di lift, angka lantai bergerak lambat. Kalimat tinggal seminggu berulang di kepala, pas sekali dengan hitungan yang sudah kuketahui.
Mungkin mereka membicarakan taruhan. Mungkin bukan. Aku nggak membutuhkan potongan percakapan itu untuk mengambil keputusan. Aku sudah menerima mutasi sebelum mendengarnya. Aku sudah memilih lari karena aku tahu diriku sendiri: aku nggak akan sanggup berdiri di depan Helena dan menanyakan apakah semua sentuhan itu nyata.
Kalau dia bilang tidak, aku hancur.
Kalau dia bilang iya, aku mungkin percaya lalu tetap bertanya-tanya kapan rasa itu berubah lagi.
Ketakutanku bukan lahir dari satu kalimat yang kudengar setengah. Ketakutanku sudah hidup sejak hari ketujuh, dan selama enam belas hari aku cuma memberinya lebih banyak alasan untuk menyakitiku.
Di lantai atas, dokumen relokasi menunggu.
Aku menandatangani setiap halaman.
Malamnya, Helena mengirim pesan saat aku baru masuk apartemen.
Aku kangen.
Aku tersenyum meski belum melepas sepatu.
Tadi sore ketemu.
Balasannya cepat.
Kangen nggak pakai jadwal.
Pesan kedua muncul.
Aku mau tidur di tempat Mas lagi.
Aku duduk di sofa. Selimut yang dipakainya masih terlipat di ujung. Kaus hitamku belum masuk cucian karena masih menyimpan sedikit aroma parfumnya.
Aku mengetik sebelum sempat berpikir.
Jangan bikin aku makin susah pergi.
Kutatap kalimat itu cukup lama sampai tanda bahwa dia sedang mengetik muncul di layar, meskipun pesanku belum dikirim.
Aku menghapusnya.
Lain kali jangan bikin perbatasan bantal.
Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi.
Wah. Mas ternyata ketagihan melanggar wilayah.
Bantalnya yang jatuh.
Tangan Mas juga jatuh ke pinggang aku?
Aku memejamkan mata sambil tertawa kecil.
Kecelakaan teknis.
Ponselku berdering. Helena menelepon.
“Pembohong,” katanya begitu kuangkat.
“Soal apa?”
“Kecelakaan teknis. Mas peluk aku erat banget.”
Aku bersandar dan menatap langit-langit. “Kamu keberatan?”
Suara di seberang menjadi lebih lembut. “Kalau keberatan, aku nggak akan minta menginap lagi.”
Dadaku terasa terlalu penuh.
“Kapan?” tanyaku.
“Mas maunya kapan?”
Aku menghitung sisa hari tanpa melihat kalender. Tujuh hari sampai keberangkatan. Enam malam yang mungkin masih bisa kupunya kalau aku cukup egois.
“Besok saya ke tempatmu,” kataku.
“Serius?”
“Hm.”
“Mau bawa baju ganti?”
Aku terdiam.
Helena tertawa. “Bercanda, Mas. Kenapa jadi gugup?”
“Saya nggak gugup.”
“Suara Mas berubah.”
“Sinyalnya.”
“Apartemen Mas pakai Wi-Fi.”
“Tidur sana.”
“Temani.”
Kami membiarkan sambungan tetap terbuka seperti pada hari-hari awal. Dia bercerita soal revisi, soal Rania yang ketahuan bersembunyi di balik tanaman, soal telur gosong yang menurutnya tetap enak. Lama-lama suaranya makin pelan.
“Mas?” panggilnya.
“Ya?”
“Jangan tutup dulu.”
“Nggak.”
Beberapa menit kemudian, napasnya berubah teratur. Aku tetap mendengarkan dalam gelap.
Di meja kopi ada tiket elektronik yang baru kuunduh. Jakarta ke Singapura. Sekali jalan. Nama lengkapku tercetak jelas di atas tanggal keberangkatan.
Aku menyentuh tombol pengeras suara, meletakkan ponsel di samping bantal, lalu berbaring.
“Maaf,” bisikku kepada seseorang yang sudah tertidur.
Aku nggak tahu apakah permintaan maaf itu untuk kebohongan malam ini, kepergian nanti, atau karena aku memilih mencintainya sampai detik terakhir meski tahu kami dimulai dari sesuatu yang palsu.
Yang kutahu, untuk pertama kalinya dalam hidup, kesempatan terbesar dalam karierku terasa seperti hukuman.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan reading
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur