Chapter Seventeen
Kencan yang Nggak Disebut Kencan
POV: Helena
Aku menghabiskan dua puluh menit memilih baju untuk acara yang terus kukatakan bukan kencan.
Masalahnya, lemari pakaianku nggak percaya.
Setiap gaun terlihat terlalu niat. Setiap celana terlihat seperti aku mau meeting. Rok hitam membuatku tampak seperti hendak menjebak seseorang, yang sebenarnya bukan kesan keliru, tetapi malam ini aku nggak mau memikirkan taruhan.
Akhirnya aku memilih jeans, atasan rajut warna krem, dan sepatu datar yang terakhir kupakai entah kapan. Rambutku kuikat setengah. Lipstik merah batal kupakai setelah aku teringat bibir siapa yang mungkin akan menyentuhnya.
Pikiran itu membuatku berdiri tiga detik di depan cermin.
“Ini bukan kencan,” kataku kepada pantulan sendiri.
Pantulanku terlihat nggak yakin.
Rania mengirim pesan tepat saat aku hendak keluar.
Malam ini ke mana? Anak-anak mau coba rooftop baru.
Biasanya aku akan menjawab dalam hitungan detik. Foto pakaian, pilihan tempat, siapa yang bawa mobil, siapa yang kemungkinan bertemu mantan. Malam ini jariku malah mengetik kebohongan sederhana.
Ada urusan keluarga. Kalian duluan.
Aku menatap kalimat itu sebelum mengirim. Bukan karena aku malu pergi bersama Erga. Justru karena untuk pertama kalinya, aku nggak mau sesuatu menjadi milik circle kami.
Aku mau malam ini cuma milikku dan miliknya.
Dia menunggu di depan gedung kantor dengan kemeja biru gelap yang lengannya digulung sampai siku. Nggak ada tas laptop. Nggak ada ID card. Kacamata tetap ada, tetapi tanpa semua atribut kantor, dia terlihat lebih santai dan entah kenapa lebih berbahaya.
Tatapannya turun dari wajahku ke sepatu, lalu kembali naik.
“Kenapa?” tanyaku.
“Nggak apa-apa.”
“Mas baru saja memindai aku.”
“Kebiasaan kerja.”
“Biasanya yang dipindai perangkat.”
“Kamu datang terlambat empat menit. Saya sedang mencari kerusakannya.”
Aku menyipit. “Sejak cium aku, Mas jadi berani, ya?”
Dia berdeham dan membuka pintu mobil untukku. Ujung telinganya memerah.
Kemenangan kecil itu membuat langkahku ringan.
Tempat yang kupilih adalah toko buku besar di daerah pusat kota. Bukan restoran mahal atau lounge yang biasa kukunjungi. Aku pernah mendengar dia bilang kepada Damar bahwa buku jaringan lama yang dicarinya cuma tersedia di sana. Aku mengingatnya tanpa sengaja—atau setidaknya begitu alasan yang kuberikan pada diri sendiri.
“Ini tempatnya?” tanyanya setelah kami turun.
“Kecewa?”
“Saya kira kamu akan membawa saya ke tempat yang satu gelas airnya perlu dicicil.”
“Aku bisa, kalau Mas mau.”
“Di sini lebih baik.”
Senyumnya muncul sebentar. Aku langsung merasa pilihan tempat sederhana ini lebih memuaskan daripada mendapat reservasi terbaik di kota.
Kami berpisah di rak pertama. Dia menuju teknologi, aku ke desain dan seni. Lima menit kemudian, aku malah berdiri dua rak darinya sambil pura-pura membaca buku tipografi.
“Kamu mengikuti saya?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.
“Ge-er.”
“Bukumu terbalik.”
Aku melihat sampulnya. Benar.
“Ini cara baru memahami komposisi.”
“Berhasil?”
“Aku paham kalau Mas menyebalkan.”
Dia tertawa pelan.
Kami berjalan lebih dalam. Dia menjelaskan perbedaan dua buku yang sampulnya terlihat sama membosankannya bagiku. Anehnya, aku tetap mendengarkan. Bukan karena isi penjelasannya, melainkan cara matanya hidup saat membicarakan sesuatu yang dia suka. Tangannya bergerak sedikit, suaranya lebih lepas, dan dia sesekali berhenti untuk memastikan aku nggak bosan.
Aku nggak bosan.
Aku bahkan mulai curiga masalahnya bukan pada topik.
Di rak paling ujung, aku melihat buku ilustrasi edisi terbatas di bagian atas. Aku berjinjit, tetapi ujung jariku hanya menyentuh sisi bawahnya.
“Minggir sedikit,” katanya dari belakang.
“Aku bisa.”
“Tentu.”
Dia berdiri sangat dekat. Satu lengannya terulur melewati kepalaku, dadanya menyentuh ringan punggungku. Bukannya minggir, aku justru bersandar sedikit.
Gerakannya berhenti.
“Kamu sengaja?” suaranya rendah di dekat telinga.
“Sengaja apa?”
“Menghalangi.”
“Mas kan tinggi. Cari cara.”
Dia mengambil bukunya dengan mudah, tetapi tidak langsung menjauh. Aku bisa merasakan napasnya di rambut. Lalu bibirnya menyentuh sisi kepalaku—singkat, hangat, dan jauh lebih intim daripada seharusnya.
Jantungku berdetak terlalu keras untuk ukuran ciuman sekecil itu.
Dia memberikan buku kepadaku. “Dapat.”
“Aku sebenarnya bisa ambil sendiri.”
“Tadi bilang cari cara.”
“Mas pilih cara yang curang.”
“Komplainnya diterima.”
“Terus?”
“Nggak akan diperbaiki.”
Aku memeluk buku itu supaya tanganku nggak menarik kerahnya di tengah toko.
Kami makan di kedai kecil dua lantai yang meja-mejanya terlalu rapat. Tidak ada lilin, tidak ada pelayan yang memanggilku dengan nama, dan menu termahalnya masih lebih murah daripada satu koktail kesukaan Nadine.
Erga memilih nasi goreng. Aku memilih pasta yang ternyata terlalu pedas, lalu diam-diam mencuri es tehnya.
“Itu punya saya,” katanya.
“Sekarang punya kita.”
“Saya belum setuju merger.”
“Mas nggak baca syarat dan ketentuan waktu cium aku?”
Dia menatapku di atas gelas. “Ada banyak hal yang sulit dibaca waktu itu.”
Kali ini aku yang kehilangan jawaban.
Dia mendorong es teh ke arahku dengan senyum tipis. Di bawah meja, lutut kami bersentuhan dan tidak ada yang menjauh.
Saat keluar, kami bertemu Keisha.
Bukan Keisha dalam gaun, sepatu tinggi, dan ekspresi perempuan yang siap menilai satu ruangan. Keisha memakai hoodie abu-abu kebesaran, rambut dikuncir seadanya, duduk di bangku trotoar bersama seorang laki-laki yang kukenal sebagai barista kafe favoritnya.
Laki-laki itu sedang menyuapinya kentang goreng.
Kami berempat membeku.
“Urusan keluarga?” tanyaku.
“Lo juga?” balasnya.
Kami saling menatap selama dua detik sebelum Keisha menunjukku. “Gue nggak lihat lo.”
Aku menunjuk balik. “Gue juga nggak lihat lo.”
Barista itu mengangkat tangan kikuk. “Malam, Kak.”
Erga ikut mengangkat tangan. “Malam.”
Keisha menatapnya, lalu aku, lalu tangan kami yang entah sejak kapan saling menggenggam.
Matanya membesar. Aku menarik Erga pergi sebelum interogasi dimulai.
“Teman kamu?” tanyanya setelah kami masuk mobil.
“Tadi cuma orang mirip Keisha.”
“Sangat mirip.”
“Kembarannya.”
“Namanya juga Keisha?”
“Mas banyak tanya.”
Dia tersenyum sambil menyalakan mesin. Aku mengirim satu pesan cepat.
Mulut lo tutup. Mulut gue juga tutup.
Balasan Keisha datang.
Deal. Tapi nanti kita bicara soal GANDENGAN TANGAN ITU.
Aku membalik ponsel di paha.
Perjalanan pulang dipenuhi musik pelan. Di lampu merah ketiga, aku meletakkan tangan di paha Erga.
Awalnya cuma ingin menggodanya. Aku menunggu dia tersedak atau menginjak rem terlalu keras. Tapi dia hanya menunduk sebentar, lalu menutup tanganku dengan telapak tangannya.
Hangat. Lebar. Tenang.
“Hei.”
Cara dia menyebut namaku membuat perutku mengencang.
“Hm?”
“Jangan mulai kalau belum siap saya lanjutkan.”
Suaranya nggak tinggi. Tatapannya tetap ke jalan. Justru ketenangan itu yang membuat seluruh keberanianku menguap.
“Mas mau lanjut apa?” tanyaku, berusaha terdengar santai.
Dia mengusap buku-buku jariku dengan ibu jari. “Kamu sungguh mau saya jawab?”
Lampu berubah hijau.
Aku menarik tanganku dan menaruhnya di pangkuan sendiri.
Dia tertawa kecil.
“Jangan ketawa.”
“Saya nggak ketawa.”
“Bahu Mas bergerak.”
“Jalan rusak.”
“Pembohong.”
“Kamu yang mulai.”
Aku menatap ke luar jendela supaya dia nggak melihat wajahku memanas. Beberapa detik kemudian, tangannya berpindah dari persneling dan terbuka di tengah, telapak menghadap ke atas.
Aku memandangnya.
“Yang ini aman,” katanya.
Aku meletakkan tanganku di sana. Jari-jarinya langsung mengunci jariku.
Dia mengantarku sampai lobi apartemen. Tidak ada usaha naik, tidak ada alasan minta minum. Dia hanya berdiri di depanku, masih menggenggam tangan seolah belum rela melepaskan.
“Jadi,” kataku, “malam ini apa?”
“Toko buku dan makan malam.”
“Maksudku, ini kencan?”
Matanya memandangku lama. “Kamu mau menyebutnya apa?”
Aku ingin berkata kencan. Kata itu sudah di ujung lidah. Namun di balik tatapannya, mendadak muncul bayangan tiga temanku di rooftop, hitungan tiga puluh hari, dan taruhan yang belum pernah kubatalkan.
“Jalan biasa,” jawabku akhirnya.
Sesuatu yang sangat kecil berubah di wajahnya. Hampir nggak terlihat, tetapi cukup membuat dadaku terasa aneh.
“Baik,” katanya.
Aku menarik tangannya sebelum dia sempat mundur, lalu mencium pipinya. “Jalan biasa yang menyenangkan.”
Dia menoleh, membuat bibirku nyaris menyentuh sudut bibirnya.
“Hati-hati,” bisiknya. “Nanti saya salah paham.”
“Mungkin aku mau Mas salah paham.”
Untuk beberapa detik, kami cuma saling menatap. Lalu dia menyentuh daguku dan mencium keningku, lambat sekali, seolah sedang memberi arti pada sesuatu yang barusan kusebut biasa.
Setelah dia pergi, aku masuk lift sambil memeluk buku ilustrasi yang dibelikannya diam-diam.
Ponselku penuh pesan dari circle.
Untuk pertama kalinya, aku nggak membuka satu pun.
Aku cuma menatap angka tanggal di layar.
Hari kedelapan belas.
Dan aku mulai berharap tiga puluh hari punya cara untuk lupa berhitung.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan reading
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur