Chapter Nineteen

Sebelas Hari yang Tersisa

POV: Erga

Hari kedua puluh kucoret sebelum Helena datang.

Seharusnya itu membuat hitungannya terasa lebih ringan. Tinggal sepuluh hari setelah hari ini. Tinggal sedikit lagi sampai taruhan mereka selesai, sampai aku nggak perlu pura-pura nggak tahu, sampai aku bisa menerima jawaban relokasi dan pergi tanpa harus melihat tatapan siapa pun.

Sebaliknya, angka dua puluh di kalender terlihat seperti ancaman.

Aku membalik kalender itu menghadap dinding.

Damar, yang sedang memasang kabel di meja sebelah, menyaksikan semuanya.

“Kalendernya salah apa?”

“Silau.”

“Kalender kertas bisa silau?”

“Kalau kamu terus bertanya, bisa terbakar.”

Dia melirik laci mejaku yang terbuka. Di dalamnya ada struk toko buku, karet rambut hitam, dan bungkus gula dari kedai tempat kami makan. Tiga benda nggak berguna yang seharusnya sudah masuk tempat sampah.

Damar menunjuk satu per satu. “Baik. Untuk laporan inventaris: satu struk telah diduduki, satu ikat rambut telah dikuasai, satu bungkus gula telah dijajah oleh kerajaan Helena.”

Aku menutup laci.

“Itu barang tertinggal.”

“Tertinggal tiga hari dan lo rawat seperti artefak.”

“Kerjakan kabelmu.”

“Saya cuma mengamati proses kolonisasi, Pak.”

“Damar.”

“Siap.”

Dia diam selama delapan detik.

“Jaket lo juga masih di dia, kan?”

Aku menoleh pelan.

Damar langsung mengangkat kabel sebagai perlindungan. “Kerja. Gue sedang kerja.”

Jaket itu memang belum kembali. Helena meminjamnya lagi semalam karena AC ruang Design terlalu dingin, lalu pulang sambil masih memakainya. Pagi ini dia mengirim foto dari dalam mobil, kerah jaketku menutupi setengah dagunya.

Kayaknya ini resmi jadi punya aku.

Aku belum membalas. Bukan karena keberatan, tapi karena terlalu lama menatap foto itu.

Ada hal-hal yang mulai terasa seperti kebiasaan, padahal baru terjadi beberapa hari. Kopi tanpa gula di mejanya. Pesan setelah pulang. Tangannya mencari tanganku di mobil. Cara dia duduk terlalu dekat seolah jarak adalah kesalahan teknis yang perlu diperbaiki.

Aku membiarkan semuanya.

Itu bagian paling bodoh.

Aku tahu akhir ceritanya, tetapi tetap mengumpulkan potongan-potongan kecil seolah benda itu akan menolongku saat semua selesai.

Menjelang makan siang, pintu ruangan terbuka. Helena masuk memakai jaket hitamku di atas blus putih dan rok kerja. Lengannya terlalu panjang sampai hanya ujung jari yang terlihat.

Seluruh kepala di ruangan otomatis terangkat.

Damar bersiul pelan. “Aset perusahaan kembali.”

“Bukan punya perusahaan,” katanya sambil mendekati mejaku.

“Benar,” sahut Damar. “Aset pribadi. Sedang dalam sengketa kepemilikan.”

Helena bersandar di sisi mejaku. “Nggak ada sengketa. Sudah pindah tangan.”

Aku memandang jaket itu, lalu wajahnya. “Bukannya mau dikembalikan?”

“Aku berubah pikiran.”

“Pencurian tetap pencurian meskipun pelakunya cantik.”

“Oh, jadi menurut Mas aku cantik?”

“Fokusmu menarik.”

“Jawabannya juga menarik.”

Damar mendorong kursinya menjauh sambil membawa laptop. “Gue kerja di ruang server. Suhu di sini mendadak nggak sesuai standar.”

Begitu dia pergi, Helena mendekat satu langkah. “Kalau Mas mau ambil, ambil sendiri.”

Aku memegang bagian bawah jaket dan menariknya pelan. Dia kehilangan keseimbangan, lalu jatuh duduk di pangkuanku.

Matanya membesar. Tangannya refleks berpegangan pada bahuku.

“Mas!”

“Katanya ambil sendiri.”

“Di kantor?”

“Kamu yang datang menantang di kantor.”

Wajahnya memerah, tetapi dia nggak langsung bangkit. Malah menggeser posisi sedikit lebih nyaman, satu lengan masih melingkar di bahuku.

“Kalau begini, aku makin nggak mau balikin.”

“Kalau kamu terus mencuri barang saya, saya minta pengganti.”

“Apa?”

Jawaban pertamaku hampir keluar tanpa izin.

Kamu.

Aku menelannya tepat waktu.

“Makan malam,” kataku.

Helena menyipit, seolah tahu ada kata lain yang tadi bersembunyi. “Cuma makan malam?”

“Untuk satu jaket, cukup.”

“Kalau aku mencuri yang lain?”

“Tergantung barangnya.”

Tangannya turun, merapikan kerah kemejaku. “Misalnya?”

“Kamu sedang mencoba mencuri apa?”

Dia tersenyum, tetapi ada keraguan tipis di matanya. “Belum tahu.”

Aku tahu.

Masalahnya, benda itu sudah berada di tangannya bahkan sebelum permainan mereka dimulai.

Pintu terbuka mendadak. Seorang staf magang masuk membawa formulir, melihat posisi kami, lalu mundur lagi tanpa bicara.

Helena buru-buru berdiri.

Dari lorong terdengar suara anak itu, “Maaf, salah ruangan.”

“Ini ruang IT!” teriak Damar entah dari mana.

“Makanya saya merasa salah, Mas!”

Helena menutup wajah. Aku menahan tawa sambil memutar kursi kembali ke meja.

“Reputasi aku rusak,” katanya.

“Saya kira reputasimu cukup kuat.”

“Reputasi Mas yang rusak.”

“Sudah sejak kamu mulai datang.”

Dia menurunkan tangan dan menatapku. “Nyesel?”

Pertanyaan itu muncul lagi.

Aku ingin memberi jawaban yang ringan. Menggodanya, membuat dia tersenyum, membiarkan siang bergerak seperti biasa. Tetapi melihatnya memakai jaketku, berdiri begitu dekat, mendadak aku nggak sanggup berbohong sepenuhnya.

“Nggak,” jawabku. “Itu masalahnya.”

Senyumnya memudar sedikit. “Kenapa jadi masalah?”

Aku menarik ujung lengan jaket yang menutupi jarinya. “Karena saya mulai terbiasa.”

Dia diam.

Aku juga.

Di ujung ruangan, printer menyala sendiri lalu mengeluarkan satu lembar tes yang nggak diminta. Suara mekanis itu cukup untuk mengembalikan kami ke kantor.

Helena meraih tanganku sebentar. “Besok Sabtu.”

“Saya tahu.”

“Aku balikin jaketnya besok.”

“Di mana?”

“Apartemen Mas.”

Jantungku berhenti satu detik.

“Kamu tahu alamat saya?”

“Belum. Makanya kasih.”

“Kamu bisa bawa Senin.”

“Aku nggak mau.”

“Kenapa harus besok?”

“Karena kalau Senin, aku bisa berubah pikiran lagi.” Dia mengangkat lengannya yang tenggelam di balik jaket. “Dan Mas kelihatannya butuh ini buat bertahan hidup.”

“Saya punya jaket lain.”

“Kalau begitu aku datang buat makan siang.”

“Kamu mengundang diri sendiri?”

“Iya.”

“Kalau saya nggak ada?”

“Mas ada.”

Keyakinannya membuatku tertawa kecil. “Jam dua belas.”

“Jam sebelas.”

“Kenapa ditawar lebih pagi?”

“Aku mau lihat Mas panik beres-beres.”

“Apartemen saya rapi.”

“Berarti jam sepuluh.”

“Helena.”

“Oke, sebelas.”

Dia pergi setelah mengirim alamatku ke ponselnya sendiri. Jaket itu tetap dibawa. Aroma parfumnya tertinggal di kursi dan membuat ruangan terasa lebih sepi daripada sebelumnya.

Saat jam makan siang, aku membuka kotak bekal dan menemukan catatan kecil terselip di bawah tutupnya. Tulisan Helena miring, dibuat terburu-buru.

Jangan makan sambil kerja. Aku mengawasi.

Aku menoleh ke kaca pembatas. Dari meja Design di seberang lorong, dia mengangkat dua jari ke arah matanya, lalu menunjukku.

Aku menurut.

Sore hari, surel Singapura masih menunggu keputusan final. Batas waktu mereka malam ini. Formulir persetujuan sudah terbuka, tinggal satu tanda tangan digital.

Aku membayangkan Sabtu besok. Helena di dapur kecilku, mungkin mengkritik isi kulkas, mungkin duduk di sofa yang jarang dipakai siapa pun. Bayangan itu berkembang tanpa izin: sikat gigi kedua, sepatu di dekat pintu, rambut panjang tertinggal di bantal, suara keluhannya memenuhi ruang yang selama ini terlalu sunyi.

Aku membayangkan pulang dan menemukan seseorang menungguku.

Bukan selama sepuluh hari.

Lebih lama.

Pikiran itu begitu alami sampai rasa sakitnya datang terlambat.

Aku menutup mata.

Helena nggak pernah menjanjikan setelah hari ketiga puluh. Dia bahkan nggak tahu aku tahu bahwa ada akhir yang sudah mereka tentukan sejak awal.

Ponselku berbunyi.

Besok aku bawa bahan masak. Jangan pesan makanan.

Pesan kedua menyusul.

Dan jangan kangen jaketnya. Aku lebih cocok pakai ini.

Ada foto lain. Kali ini dia tersenyum, dagu bertumpu pada telapak tangan, jaketku masih memeluk bahunya.

Aku menyimpan foto itu.

Lalu membuka kalender dan membaliknya kembali.

Hari kedua puluh. Sebelas hari jika hari ini ikut dihitung, sepuluh kali bangun pagi setelah malam nanti.

Aku mengambil pena, menulis satu kata kecil di bawah angka tiga puluh.

Pergi.

Setelah itu, aku membalas surel Singapura.

Saya menerima penawaran tersebut. Mohon proses relokasi dilakukan secara rahasia sampai pengumuman resmi dari manajemen.

Aku menekan kirim sebelum bisa berubah pikiran.

Di layar ponsel, foto Helena masih terbuka.

Aku menyentuh senyumnya dengan ibu jari, lalu membenci diriku sendiri karena berharap sepuluh hari bisa berlangsung selamanya.