Chapter Fourteen

Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar

POV: Helena

Aku memilih dress merah tua untuk makan malam tim.

Bukan karena Erga ikut.

Setidaknya itu yang kukatakan kepada diri sendiri saat mengganti dress hitam yang sudah kupakai, membongkar lemari, lalu menghabiskan dua puluh menit memilih anting.

Acara diadakan di restoran hotel untuk merayakan peluncuran internal project baru. Divisi Design, Marketing, Business, dan IT mendapat meja masing-masing, tetapi konsep buffet membuat semua orang bebas berpindah.

Ketika aku masuk bersama tiga temanku, beberapa percakapan terputus. Seorang staf hotel hampir memberikan nampan minuman kepada Rania karena mengira dia bagian dari penyambutan VIP. Keisha menerima kesalahpahaman itu dengan terlalu alami dan mengambil dua gelas.

“Satu buat gue,” protes Rania.

“Lo nyetir.”

“Ini jus.”

Keisha memeriksa gelas. “Oh.” Dia mengembalikan satu. “Nggak menarik.”

Aku mencari meja IT sebelum sempat menyapa siapa pun.

Erga duduk di ujung, memakai kemeja hitam dengan celana bahan gelap. Rambutnya lebih rapi dari biasanya. Ketika tatapan kami bertemu, dia berhenti mengangkat gelas.

Matanya turun cepat dari wajahku ke dress, lalu kembali lagi.

Aku menunggu.

Erga cuma mengangguk.

Menyebalkan.

“Kalau lo berharap dia pingsan, tempatnya terlalu ramai,” bisik Nadine.

“Gue nggak berharap apa-apa.”

“Makanya lo lihat ke sana tiga kali dalam sepuluh detik.”

Aku mengambil makanan dan sengaja memilih kursi yang masih terlihat dari meja IT. Erga beberapa kali menoleh, tapi setiap kali tertangkap, dia kembali bicara dengan Damar.

Adrian datang sebelum aku sempat menghampiri.

Dia account manager dari divisi Business, terkenal rapi, populer, dan terlalu sadar kamera selalu menyukai wajahnya. Kami pernah makan malam sekali beberapa bulan lalu. Nggak buruk, cuma nggak cukup menarik untuk diulang.

“Kamu kelihatan luar biasa,” katanya.

“Aku tahu.”

Dari sudut mata, kulihat Damar menyikut Erga. Erga menepisnya tanpa mengalihkan pandangan. Baru setelah aku sengaja menyilangkan kaki dan merapikan ujung dress, dia memaksa diri melihat meja sendiri.

Reaksi kecil itu lebih memuaskan daripada sepuluh pujian Adrian.

Adrian tertawa dan duduk di kursi kosong sebelahku tanpa bertanya. “Masih susah diajak makan?”

“Tergantung yang ngajak.”

“Berarti aku harus mencoba lebih keras.”

Aku seharusnya memotong percakapan. Sebaliknya, aku melirik meja IT.

Erga sedang melihat.

Begitu mata kami bertemu, dia mengangkat gelas seolah memberi salam. Nggak ada perubahan wajah. Nggak ada rahang menegang. Nggak ada gestur lelaki yang melihat perempuan incarannya didekati orang lain.

Kesal mulai naik.

Adrian menanyakan minuman yang kuinginkan. Sebelum aku menjawab, Erga kebetulan lewat membawa piring kosong.

“Mas,” panggil Adrian. “Dia biasanya minum apa?”

Pertanyaan itu seharusnya membuat situasi canggung. Erga berhenti dan melihat gelas di depanku.

“Kalau makan berat, sparkling water pakai lemon. Jangan terlalu dingin.”

Adrian mengangguk. “Makasih.”

Erga berjalan pergi.

Aku menatap punggungnya dengan marah.

Adrian mengikuti arah pandanganku. “Kalian dekat?”

“Kenapa?”

“Dia tahu minuman kamu, kamu lihat dia sejak masuk, dan sekarang kamu kelihatan pengin melempar gelas ke kepalanya.”

Aku mengangkat alis. “Mas observatif juga.”

“Pekerjaan gue membaca klien.” Adrian tersenyum. “Kalau memang lagi dekat sama dia, gue mundur. Gue suka kompetisi di pitch, bukan urusan begini.”

Sikap dewasa itu seharusnya membuatku lega. Justru aku makin kesal karena lelaki yang nggak punya hubungan apa-apa denganku bisa membaca situasi lebih cepat daripada Erga.

“Dia hafal minuman kamu,” kata Adrian. “Anak IT sekarang service-nya bagus.”

Aku berdiri. “Permisi.”

Erga baru sampai koridor menuju ballroom ketika aku menangkap lengannya.

“Kita perlu ngomong.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Aku menariknya ke lorong samping yang sepi. Ada pintu darurat di ujung dan satu meja konsol dengan vas bunga. Musik dari ballroom terdengar samar.

“Mas kenapa?” tanyaku.

Erga mengernyit. “Kenapa apa?”

“Tadi.”

“Tadi yang mana?”

“Adrian.”

“Dia tanya minuman kamu.”

“Dan Mas bantu dia.”

“Harusnya saya bohong?”

Aku melipat tangan. “Mas sama sekali nggak keberatan dia deketin aku?”

Erga melihatku lama. “Saya berhak keberatan?”

“Aku tanya perasaan Mas, bukan hak.”

“Bedanya penting.”

“Nggak buat aku.”

Aku berbalik karena percakapan itu terasa seperti menabrak dinding. Baru dua langkah, Erga menangkap pergelangan tanganku. Dia menarik cukup untuk menghentikan, bukan menyakitkan. Punggungku nyaris menyentuh dinding, sementara tangannya tertahan di samping bahuku.

“Saya cemburu,” katanya.

Aku menatapnya.

Erga bernapas pelan, seperti setiap kata harus dipilih supaya nggak lepas terlalu banyak. “Aku cemburu. Tapi kamu bukan barang yang harus aku rebut dari orang lain.”

Kata aku itu meluncur begitu alami sampai seluruh kemarahanku berhenti.

Tangannya masih melingkari pergelangan. Ibu jarinya tepat di atas denyut nadiku, pasti bisa merasakan betapa cepatnya jantungku bekerja.

“Ulangi,” kataku.

“Yang mana?”

“Pakai aku.”

Tatapan Erga berubah. “Jangan cari masalah.”

“Aku memang lagi cari Mas.”

Aku mengangkat tangan yang masih dia pegang, membuat jarak kami semakin kecil. “Kalau cemburu, kenapa diam aja?”

“Karena kamu kelihatan menikmati.”

“Aku lihat reaksi Mas.”

“Nah.” Ada rasa lelah di suaranya. “Berarti memang itu tujuannya.”

Kalimat itu terasa aneh, seperti punya lapisan yang nggak kupahami. Sebelum sempat bertanya, suara langkah mendekat dari ballroom.

Erga hendak melepaskan tangan.

“Jangan,” kataku.

Dia berhenti.

“Jangan dilepas dulu.”

Tangannya kembali mengerat. Bukan posesif, bukan kasar. Cuma cukup kuat untuk membuatku merasa dipilih.

Kami berdiri diam, bersembunyi di lorong hotel seperti dua remaja yang kabur dari acara sekolah. Matanya beberapa kali turun ke bibirku. Aku menunggu dia bergerak.

Suara bisik-bisik terdengar dari ujung koridor.

“Mereka belum ciuman,” kata Keisha pelan, tapi sama sekali nggak cukup pelan.

“Gue bilang lima menit,” balas Nadine.

“Jangan lewat sini,” ujar Rania kepada seseorang. “Ada… pembersihan lantai.”

Aku menutup mata karena malu. Erga menoleh ke ujung lorong, lalu kembali menatapku.

“Teman kamu,” katanya.

“Aku akan cari yang baru.”

“Damar tersedia.”

“Lebih baik aku hidup sendiri.”

Erga tertawa kecil. Tangan di pergelanganku akhirnya longgar, tetapi sebelum melepaskan, ibu jarinya mengusap kulit sekali.

“Kembali ke dalam,” katanya.

“Mas ikut?”

“Nanti.”

“Takut?”

“Butuh udara.”

Aku berjalan mundur dua langkah. “Aku tunggu lima menit. Kalau nggak datang, aku balik ngobrol sama Adrian.”

Rahang Erga menegang.

Akhirnya, reaksi yang kuinginkan.

Dia mendekat setengah langkah. “Jangan sengaja bikin aku cemburu.”

“Kenapa?”

“Karena saya juga bisa berhenti menjaga jarak.”

Sebelum aku berhasil membalas, Erga berbalik menuju pintu darurat.

Aku kembali ke ballroom dengan pergelangan tangan yang masih hangat. Keisha dan Nadine langsung memasang wajah nggak bersalah. Rania memegang papan tanda lantai basah yang entah dia ambil dari mana.

“Pembersihan lantai?” tanyaku.

“Panik,” jawabnya.

Aku duduk tanpa menjelaskan apa pun. Di seberang ruangan, Adrian mengangkat minuman yang dipesankannya untukku.

Aku menerima gelas itu, tetapi meletakkannya tanpa minum. Lima menit kemudian, Erga kembali ke ballroom. Dia nggak menuju meja IT. Dia berjalan lurus ke arahku.

Adrian melihat kedatangannya dan berdiri. “Kursinya buat lo.”

Erga tampak bingung, tetapi duduk di tempat yang ditinggalkan Adrian. Lututnya menyentuh lututku di bawah meja.

“Dia kenapa?” tanyanya.

“Lebih pintar dari dugaan.”

“Maksudnya?”

Aku mendorong sparkling water ke tengah meja. “Katanya ini buat aku. Mas mau?”

Erga mengambil gelas yang sama dan minum tepat dari sisi bekas bibirku. Entah sengaja atau nggak, matanya tetap pada mataku saat melakukannya.

Keisha yang duduk di seberang menendang kaki Nadine. Keduanya pura-pura melihat menu.

Aku sudah nggak tertarik.

Yang kuinginkan cuma mendengar Erga memakai kata aku sekali lagi—dan mencari tahu seperti apa dia kalau benar-benar berhenti menjaga jarak.