Chapter Four
Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
POV: Helena
Masalah pertama dalam mendekati lelaki dari divisi IT adalah mereka punya sistem untuk segala sesuatu.
Mau minta bantuan? Buat tiket.
Mau pinjam adaptor? Isi formulir.
Mau bilang terima kasih? Kemungkinan besar juga harus pilih kategori dan tingkat urgensi.
Jadi pada hari pertama taruhan, aku duduk di depan komputer sambil menatap portal bantuan internal seperti sedang mengerjakan ujian masuk perguruan tinggi.
Kategori masalah: Hardware.
Perangkat: Monitor eksternal.
Deskripsi: Layar tidak menampilkan gambar.
Urgensi: Tinggi.
Aku hampir menekan kirim ketika Keisha muncul dari belakang dan membaca isinya.
“Tinggi?” katanya. “Monitor lo mati sebelah. Lo punya dua.”
“Kalau pilih rendah, yang datang bisa minggu depan.”
“Tambahin: kondisi ini mengancam stabilitas emosional karyawan.”
“Pergi.”
Dia malah menarik kursi dan duduk di sampingku. Nadine serta Rania menyusul, masing-masing membawa sarapan. Dalam waktu kurang dari satu menit, mejaku berubah menjadi ruang kendali operasi.
“Kabelnya udah dicabut?” tanya Nadine.
Aku menunjuk kabel DisplayPort yang sengaja kulonggarkan di belakang monitor.
Rania terlihat ngeri. “Lo beneran merusak fasilitas kantor?”
“Cuma dicabut sedikit.”
“Itu awal dari semua kejahatan korporat.”
Keisha mengambil ponselnya. “Kirim. Waktu berjalan.”
Aku menekan tombol submit. Nomor tiket muncul di layar bersama perkiraan respons dua jam.
Dua menit kemudian, statusnya berubah menjadi Assigned — Erga Pratama.
Keisha menepuk bahuku seperti pelatih yang melihat atletnya lolos babak penyisihan. “Dia ambil sendiri.”
“Atau sistemnya otomatis,” kata Rania.
Nadine memeriksa layar dari balik bahuku. “Tiket lain sebelum punya lo belum diambil.”
Aku pura-pura nggak peduli, tetapi tetap menyegarkan halaman sekali lagi. Nama Erga masih ada di sana. Mungkin kebetulan. Mungkin dia memang sedang senggang. Atau mungkin sentuhan singkat kemarin ternyata meninggalkan sedikit rasa penasaran di pihaknya juga.
Aku menyukai kemungkinan terakhir.
Erga datang dua belas menit kemudian.
Aku belum siap. Maksudku, aku sudah memilih lipstik yang tepat, mengganti anting dua kali, dan sengaja mengenakan kemeja yang jatuhnya bagus ketika duduk. Tapi aku mengira masih punya waktu untuk terlihat sibuk secara alami.
Saat dia muncul di pintu divisi Design dengan tas perkakas kecil di tangan, aku sedang berdiri sambil mencoba mengambil croissant dari meja Keisha tanpa izin.
Keisha menampar tanganku tepat ketika Erga melihat.
“Itu sarapan gue,” katanya.
“Peliiiit.”
“Beli sendiri.”
Aku berdeham, merapikan kemeja, lalu kembali ke meja seolah harga diriku nggak baru saja jatuh bersama remah pastry.
“Pagi, Mas Erga.”
“Pagi, Mbak.” Dia melihat nomor meja di ponselnya. “Monitor yang nggak nyala?”
“Yang kanan.”
Erga menaruh tasnya, lalu memeriksa layar dan tombol daya. Tiga temanku pura-pura bekerja dengan buruk. Keisha mengetik tanpa melihat monitor. Nadine membuka dokumen kosong. Rania memakai headset yang kabelnya nggak terpasang.
Aku mengabaikan mereka dan berdiri di samping Erga.
“Tadi pagi masih normal,” kataku.
“Terakhir dipakai kapan?”
“Kemarin sore.”
“Ada yang pindahin meja atau bersih-bersih?”
Aku memasang wajah berpikir. “Kayaknya nggak.”
Erga mengangguk, lalu jongkok di bawah meja.
Aku menahan senyum.
Posisinya membuat bahunya hampir menyentuh lututku. Lengan kemeja hitamnya digulung seperti biasa. Jam tangannya sederhana, talinya sudah sedikit aus. Jari-jarinya mengikuti kabel dari monitor ke docking station tanpa ragu.
Dia menemukan bagian yang longgar dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
“Ketemu?” Aku ikut membungkuk, meski jelas nggak perlu.
“Ketemu.”
“Rusak?”
“Nggak.”
Dia mendorong konektor sampai terdengar bunyi klik. Monitor langsung menyala, menampilkan wallpaper yang tadi sengaja kubiarkan bersih dari file memalukan.
“Kabelnya longgar?” tanyaku.
Erga belum keluar dari bawah meja. “Dicabut.”
“Bedanya?”
“Kalau longgar biasanya masih nempel. Ini bekas tarikannya lurus.”
Aku melirik tiga pengkhianat di seberang. Keisha sudah menunduk sampai hampir masuk ke bawah monitor sendiri.
“Mungkin kesenggol petugas kebersihan,” kataku.
Erga keluar dari bawah meja. Saat berdiri, satu tangannya bertumpu pada permukaan meja di dekat pahaku. Wajah kami berada pada ketinggian yang sama selama sepersekian detik. Cukup dekat untuk melihat garis tipis lelah di bawah matanya dan bayangan rambut yang jatuh di dahinya.
Dia nggak mundur buru-buru.
“Petugas kebersihan narik kabel, terus memasangnya kembali sampai setengah?” tanyanya.
“Bisa jadi.”
“Kreatif.”
Aku menyandarkan pinggul ke sisi meja. “Mas Erga lagi bilang aku bohong?”
Tatapannya turun sesaat ke posisiku, lalu kembali ke mata. “Saya lagi bilang kabelnya dicabut.”
Jawaban aman. Ekspresinya juga tenang. Tapi jaraknya masih terlalu dekat untuk disebut profesional.
Aku menyukainya.
“Kalau masalahnya sudah selesai, tiketnya ditutup?” tanyaku.
“Harusnya.”
“Harusnya?”
“Kalau nggak ada masalah lain.”
“Ada.”
Erga menunggu.
Aku menunjuk layar yang kini menyala sempurna. “Aku merasa bersalah udah bikin Mas datang cuma buat colokin kabel.”
“Nggak perlu merasa bersalah. Memang kerjaan saya.”
“Tiket lain belum diambil. Kenapa tiketku duluan?”
Erga mengangkat alis tipis. Rupanya dia nggak menyangka aku memeriksa antrean.
“Lokasinya paling dekat dari tempat saya tadi.”
“Mas tadi di lantai tujuh.”
“Lift-nya cepat.”
Aku menahan senyum. Dia tetap berusaha memasang wajah lurus, tapi jawaban keduanya lebih buruk daripada kebohonganku soal petugas kebersihan.
“Oke,” kataku. “Aku percaya.”
“Kelihatannya nggak.”
“Mas juga nggak percaya soal kabel. Kita impas.”
Dari belakang terdengar suara benda jatuh. Rania baru saja menjatuhkan pulpen.
Erga menarik napas pendek yang mungkin hampir menjadi tawa. “Itu bukan masalah IT.”
“Tapi bisa diselesaikan.”
“Caranya?”
“Aku traktir kopi.”
“Nggak perlu.”
Penolakan itu datang terlalu cepat. Aku menyipitkan mata.
“Mas selalu nolak orang yang mau bilang terima kasih?”
“Nggak selalu.”
“Berarti cuma aku?”
Ada perubahan kecil di wajahnya. Erga kelihatan seperti baru sadar semua jawaban yang tersedia bisa dipakai untuk menjebaknya.
“Saya harus balik kerja,” katanya akhirnya.
Aku menggeser kursiku sedikit, cukup untuk menutup jalur antara dia dan lorong. “Kopinya lima belas menit.”
Erga menatap kursi itu, lalu menatapku. “Mbak sengaja menghalangi jalan?”
“Aku sedang negosiasi.”
“Kalau saya tetap nolak?”
“Aku bikin tiket baru.”
“Masalah apa?”
Aku menahan senyum. “Belum tahu. Banyak kabel di sini.”
Kali ini dia benar-benar tersenyum. Kecil, singkat, tetapi cukup jelas. Wajahnya langsung berubah ketika senyum itu muncul. Nggak jadi lebih tampan secara ajaib—aku bukan anak SMA yang menganggap senyum bisa mengubah struktur tulang—tapi ada kehangatan yang sebelumnya tersembunyi di balik ekspresi datarnya.
Aku jadi ingin melihatnya lagi.
Erga memasukkan obeng kecil ke tas. “Americano. Nggak pakai gula.”
“Besok?”
“Terserah Mbak.”
“Kalau terserah aku, sekarang.”
Dia melirik jam. “Ada maintenance lima menit lagi.”
“Besok, berarti.”
Aku menggeser kursi dan membiarkannya lewat. Saat Erga berjalan di sampingku, aku menyentuh lengannya sebentar.
“Makasih, Mas.”
Langkahnya berhenti sepersekian detik. “Sama-sama.”
Setelah dia keluar, divisi Design hening.
Lalu tiga ponsel berbunyi hampir bersamaan.
Grup Operasi Mas IT mendadak penuh angka.
Keisha: Keberanian: 9/10. Akting kabel rusak: 3/10.
Nadine: Respons target: 6/10. Ada senyum, menerima kopi.
Rania: Etika: 2/10. Fasilitas kantor jangan disentuh lagi.
Aku memutar kursi menghadap mereka. “Kalian duduk cuma tiga meter dari gue. Kenapa harus lewat grup?”
“Dokumentasi,” jawab Nadine.
Keisha mengangkat kedua ibu jari. “Mas IT ternyata lumayan.”
Aku membuka portal bantuan. Tiketku sudah ditutup dengan catatan:
Penyebab: kabel terlepas secara manual. Solusi: konektor dipasang kembali. Edukasi pengguna telah diberikan.
Aku membaca bagian terakhir dua kali.
“Edukasi pengguna,” gumamku.
Keisha tertawa sampai kursinya berdecit.
Aku mengambil ponsel dan menyimpan nomor tiket itu.
Hari pertama belum sampai jam sepuluh, tapi targetku sudah tahu aku berbohong, menolak kopi, menerima kopi, dan berhasil membuatku penasaran hanya dengan satu senyum.
Tiga puluh hari mungkin akan terasa lebih menyenangkan daripada perkiraanku.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia reading
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur