Chapter Twenty Seven

Sejak Sebelum Hari Pertama

POV: Erga

Apartemenku sudah nggak terdengar seperti rumah.

Kotak-kotak terakhir diambil kurir siang tadi. Rak buku kosong. Tanaman lidah mertua dititipkan kepada tetangga. Pemanggang roti dengan tombol tutup botol masuk kardus bertuliskan dapur, sementara cangkir retak kubawa di tas tangan karena takut pecah lagi.

Koper kecil berdiri dekat pintu.

Isinya cukup untuk penerbangan dini hari, tetapi saat menatapnya, aku tetap merasa sedang membawa terlalu banyak: dua puluh sembilan hari, satu strip foto, satu kaus yang pernah dipakai Helena, dan perasaan yang nggak akan lolos pemeriksaan bagasi mana pun.

Damar membantu menyelesaikan handover sampai sore. Setelah memeriksa daftar untuk ketiga kali, dia menutup laptopku.

“Kalau lo buka lagi, gue lempar dari balkon.”

“Masih ada dua akses yang belum—”

“Sudah gue pegang.”

“Dokumentasinya?”

“Lengkap.”

“Backup?”

“Ada.” Dia menunjuk koper. “Sekarang urus bencana pribadi lo.”

Aku menatap jam. Lima lewat dua puluh.

“Pesawat jam satu dua puluh,” kata Damar. “Lo harus berangkat ke bandara paling lambat sebelas. Jangan pura-pura lupa.”

“Saya tahu.”

“Dan dia?”

“Nggak tahu.”

Damar mengumpat pelan. “Gue masih menganggap ini ide buruk.”

“Sudah dicatat.”

“Gue serius.”

“Saya juga.”

Dia berdiri di depan pintu, tampak ingin mengatakan sesuatu, lalu cuma menepuk bahuku. “Kalau berubah pikiran, tiket bisa hangus. Hidup nggak.”

Setelah dia pergi, aku berdiri di tengah ruang kosong dan mendengarkan gema kalimat itu.

Pukul enam, aku menjemput Helena.

Dia keluar dari lobi memakai gaun hitam sederhana dan anting kecil. Satpam yang membukakan pintu sampai lupa menarik tangannya kembali, membuat daun pintu hampir menabrak tamu lain. Helena nggak menyadarinya. Dia hanya berjalan ke arahku dengan senyum yang membuat semua niat pergi terasa konyol.

“Mas pakai kemeja biru,” katanya.

“Kamu pernah minta.”

“Mas ingat?”

Aku ingat terlalu banyak.

“Masuk,” kataku sambil membuka pintu mobil.

Ketika aku mengangkat tas dari kursi depan, dia melihat koper kecil di belakang.

“Mas bawa koper?”

“Perangkat kantor.”

“Sebanyak itu?”

“Ada beberapa.”

Helena mengetuk sisi koper. “Mas IT memang kalau kencan bawa server?”

“Buat jaga-jaga kalau restorannya kehilangan jaringan.”

“Romantis banget. Aku kalah sama router.”

Aku tersenyum, lalu menutup bagasi sebelum kebohongan itu terlihat lebih jelas.

Makan malam terakhir kami berlangsung di restoran kecil yang pernah kusebut ingin kukunjungi. Bukan tempat mewah. Meja kayunya penuh goresan, lampunya kuning, dan musiknya terlalu pelan untuk menutupi suara sendok.

Helena bicara banyak. Tentang presentasi minggu depan, tentang klien yang masih mengejar warna “mahal”, tentang Keisha yang akhirnya membuang spreadsheet taruhan—meskipun dia berhenti tepat sebelum menyebut kata terakhir.

Aku membiarkan suaranya memenuhi kepala.

“Mas lihat aku lagi,” katanya.

“Kamu duduk di depan saya.”

“Bukan begitu. Tatapan Mas aneh.”

“Aneh bagaimana?”

Dia menyipit, berusaha mencari kata. “Kayak sedang pamit.”

Jantungku berhenti satu detik.

Aku mengangkat gelas. “Kamu terlalu banyak nonton drama.”

“Aku serius.”

“Saya juga sedang serius makan.”

Helena menendang sepatuku di bawah meja. “Nyebelin.”

Aku menahan kakinya menggunakan sepatu, membuatnya nggak bisa menarik diri. “Makan.”

“Lepasin.”

“Nggak.”

Dia mencoba menendang lagi, lalu tertawa saat gagal. Suara itu langsung menempel di tempat yang sama dengan semua hal yang sedang kuhafal.

Seusai makan, Helena nggak memintaku mengantar pulang. Dia menggenggam tanganku dan berkata, “Ke tempat aku.”

Aku tahu seharusnya menolak. Aku harus sampai bandara beberapa jam lagi. Aku perlu mengambil koper, memeriksa dokumen, dan menghindari membuat perpisahan ini lebih sulit.

Namun selama dua puluh sembilan hari aku sudah memilih menjadi egois. Nggak ada alasan berpura-pura baik pada malam terakhir.

Kami masuk apartemennya pukul sembilan lewat. Begitu pintu tertutup, Helena mengambil amplop dari tas.

“Mas, aku mau jelasin sesuatu.”

Aku menatap amplop itu. Ada ujung kotak kecil di dalamnya. Mungkin inilah pengakuan yang dia janjikan untuk hari ketiga puluh. Mungkin dia memutuskan lebih cepat. Mungkin kalau aku mendengar sekarang, aku akan kehilangan kemampuan untuk pergi.

“Jangan malam ini,” kataku.

Dia mengerutkan alis. “Tapi ini penting.”

“Saya tahu.”

“Mas bahkan belum tahu isinya.”

Aku tahu cukup banyak.

Aku mengambil amplop dari tangannya dan meletakkannya di meja tanpa membuka. “Satu malam saja. Nggak ada penjelasan, nggak ada alasan, nggak ada hitungan.”

Wajahnya berubah. “Mas benar-benar kenapa?”

Tanganku menyentuh pipinya. Kulitnya hangat. “Saya cuma mau melihat kamu.”

“Mas bisa melihat aku sambil dengar.”

“Helena.”

Dia diam ketika mendengar cara kusebut namanya.

Aku sudah memikirkan kalimat yang pantas selama berminggu-minggu. Tidak ada yang cukup. Pada akhirnya, kebenaran keluar sesederhana saat perasaan itu datang.

“Saya suka kamu sejak sebelum hari pertama.”

Matanya melebar.

“Apa?”

“Sebelum tiket monitor palsu. Sebelum kopi. Sebelum kamu datang ke meja saya malam itu.” Aku mengusap tulang pipinya dengan ibu jari. “Saya sudah suka.”

Dengan kalimat itu, aku memberinya kemenangan yang sudah nggak dia inginkan.

Aku melihat bahagia muncul di wajahnya, murni dan tanpa pertahanan. Dia tertawa kecil seperti nggak percaya, lalu memegang pergelangan tanganku.

“Kenapa baru bilang?”

Karena pada hari ketujuh aku tahu aku adalah target.

Karena aku memilih dua puluh tiga hari palsu daripada hidup tanpa kamu.

Karena besok pagi saya sudah berada di negara lain.

“Saya pengecut,” jawabku.

“Mas memang bodoh.”

“Saya tahu.”

“Dua puluh sembilan hari bikin aku kerja keras.”

“Maaf.”

Helena menarik kerah kemejaku. “Jangan minta maaf dulu.”

Dia menciumku.

Aku membalas dengan semua hal yang nggak sanggup kuucapkan.

Tanganku menarik pinggangnya sampai tubuh kami rapat. Ciumannya dalam, hangat, dan penuh keyakinan bahwa malam ini adalah awal. Bagiku, setiap sentuhan terasa seperti akhir.

Aku mencium bibirnya berkali-kali, terlalu takut berhenti karena begitu berhenti, waktu akan bergerak lagi. Helena memegang wajahku dengan kedua tangan, membalas sama kuatnya. Napas kami berantakan. Punggungnya menyentuh dinding dekat pintu, tetapi tanganku menahan belakang kepalanya agar nggak terbentur.

Air mata pertama jatuh tanpa izin.

Helena berhenti. Ibu jarinya menyapu pipiku.

“Mas nangis?”

“Nggak.”

Dia menunjukkan ujung jarinya yang basah. “Ini apa?”

“Bocor.”

“Mas bukan AC.”

Aku tertawa kecil, tetapi air mata berikutnya tetap turun. Helena tersenyum lembut dan mengusapnya, sama sekali nggak mengerti.

“Terharu banget akhirnya jujur?” godanya.

Aku mengangguk karena kebohongan itu lebih mudah daripada jawaban sebenarnya.

Dia mencium sudut mataku. Lalu pipi. Lalu bibir lagi.

Ciuman berikutnya lebih lambat, tetapi justru lebih menyakitkan. Aku menghafal rasa bibirnya, cara jemarinya masuk ke rambutku, cara dia menarik napas ketika ciuman menjadi lebih dalam. Tanganku tetap di pinggang dan punggungnya. Batas itu adalah satu-satunya hal yang masih bisa kujaga.

Kami berpindah ke sofa tanpa benar-benar melepaskan. Helena duduk di pangkuanku, kedua lengannya melingkar di leher. Dia menciumku sampai aku lupa jam, tiket, dan semua keputusan yang menunggu di luar pintu.

“Tetap di sini malam ini,” katanya di antara napas.

“Saya di sini.”

“Sampai pagi.”

Aku menutup mata ketika bibirnya menyentuh rahangku. Kalau sampai pagi, pesawatku berangkat tanpa aku. Untuk sesaat, itu terdengar seperti masa depan terbaik.

Ciuman kami kembali memanas. Helena menarik tubuhku mendekat, seolah masih ada jarak yang bisa dihapus. Tangannya bergerak ke kancing kemeja, tetapi kutahan lembut.

“Jangan,” bisikku.

Dia langsung berhenti. “Aku bikin nggak nyaman?”

“Bukan.”

“Aku terlalu jauh?”

“Nggak.” Aku menempelkan kening kami. “Kalau kamu terus memeluk saya seperti ini, saya mungkin benar-benar nggak sanggup pergi.”

Helena tersenyum, mengira kata pergi berarti pulang ke apartemen.

“Bagus,” katanya. “Jangan pergi.”

Dadaku retak sepenuhnya.

Aku memeluknya erat. Bukan dengan panas yang tadi memenuhi tubuh, melainkan dengan keputusasaan seseorang yang tahu pelukannya punya waktu habis.

“Kita tidur,” kataku.

“Tidur sungguhan?”

“Pakaian lengkap.”

“Mas merusak reputasi aku.”

“Reputasimu akan selamat.”

“Siapa bilang aku mau selamat?”

Aku mencium ujung hidungnya. “Saya yang mau.”

Kami berbaring di ranjang masih dengan pakaian lengkap. Helena mengganti gaunnya dengan kaus tidur di kamar mandi, sementara aku melepas sepatu dan dasi. Ketika kembali, dia langsung masuk ke pelukanku seolah tempat itu memang miliknya.

Kami bertukar ciuman kecil dalam gelap. Bibir, kening, pipi. Nggak ada yang terburu-buru. Helena bercerita tentang gantungan kunci yang dia beli, tetapi nggak mau menunjukkan sebelum besok. Aku berkata aku akan menunggu meski tahu aku nggak akan ada.

“Mas bahagia?” tanyanya.

Aku mengusap punggungnya. “Sangat.”

“Aku juga.”

Itu kalimat terakhirnya sebelum tertidur.

Pukul sepuluh lewat lima puluh, alarm getar di jam tanganku berbunyi.

Aku mematikannya. Helena masih tidur di dada, satu tangan menggenggam kemejaku. Sama seperti pagi sebelumnya.

Aku hampir membatalkan semuanya.

Ponsel sudah ada di tangan. Aplikasi maskapai terbuka. Satu tombol untuk mengubah tiket, satu telepon kepada manajer untuk mengatakan aku nggak jadi berangkat.

Lalu Helena bergerak dalam tidur dan memegang tanganku.

Aku menatap jari-jari kami yang saling mengunci.

Kalau tinggal, aku akan menerima apa pun yang dia beri. Permintaan maaf, rasa bersalah, cinta setengah, bahkan permainan berikutnya. Aku akan menyebut semuanya cukup hanya supaya nggak kehilangan dia.

Aku nggak percaya diriku bisa membedakan cinta dari rasa takutnya menyakitiku.

Jadi aku memilih pergi sebelum memintanya menyelamatkanku.

Pelan-pelan, kulepaskan tangannya. Aku mengambil gantungan kunci puzzle putih dari meja dekat pintu—dia rupanya sudah memasangnya pada kunci apartemen—lalu mengeluarkan potongan hitam dari amplop tanpa membaca suratnya.

Aku menyatukan kedua potongan itu sekali.

Klik.

Setelah itu, potongan milikku kutaruh di meja samping ranjang.

Helena mengerut saat kasur bergerak. Aku kembali membungkuk dan mencium keningnya lama sekali.

“Terima kasih,” bisikku.

Dia nggak bangun.

Aku mengambil koper dari mobil, memesan kendaraan ke bandara, lalu berdiri satu menit di depan pintunya.

Di balik pintu itu ada perempuan yang kucintai sejak sebelum hari pertama.

Di dalam saku ada tiket sekali jalan.

Aku pergi sebelum keberanian untuk tinggal menemukan jalannya pulang.