Chapter Thirty Three

Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan

POV: Helena

Aku pulang ke Jakarta dengan satu penolakan, satu pengakuan cinta, dan izin mengirim tiga puluh pesan.

Kalau ini terjadi sebulan lalu, aku mungkin menyebutnya progres lima puluh persen lalu membuat strategi supaya sisanya selesai lebih cepat.

Sekarang aku belajar bahwa manusia bukan proyek dengan persentase.

Erga masih mencintaiku. Erga juga belum percaya kepadaku. Dua hal itu bisa hidup bersamaan tanpa salah satunya harus segera dimenangkan.

Jadi aku mengirim satu pesan setiap malam. Nggak pernah dua kalau dia nggak membalas. Nggak menelepon mendadak. Nggak memakai Damar atau circle sebagai perantara. Aku hanya membuka satu bagian diriku pada pukul sepuluh, lalu membiarkan dia memilih apakah mau melihat.

Hari pertama.

Pengakuan soal kabel monitor dibaca tiga menit setelah terkirim. Nggak ada balasan sampai aku mengeluhkan rindu pada tangannya.

Dia mengirim emoji telapak tangan.

Aku hampir menelepon Keisha untuk menganalisis artinya, tetapi menahan diri. Sebagai gantinya, aku menjawab bahwa tangan itu nggak akan kupegang tanpa izin.

Malam itu dia akhirnya jujur: masih marah, belum percaya, dan masih cinta.

Aku tidur sambil memeluk bantal, bukan karena menganggapnya janji pulang. Cuma karena setelah berminggu-minggu gelap, satu kalimat jujur cukup untuk membantuku bernapas.

Hari keempat.

Aku suka senyum kamu karena senyum itu terasa langka, bukan karena bentuknya. Setiap berhasil bikin kamu senyum, aku merasa dipercaya masuk ke tempat yang nggak semua orang boleh lihat. Dulu aku menganggapnya kemenangan kecil. Sekarang aku sadar seharusnya itu bukan sesuatu yang dihitung.

Pesan dibaca pukul sepuluh lewat tujuh belas.

Lima menit kemudian, sebuah foto masuk. Bukan wajahnya—hanya cangkir kopi di meja kantor dan sudut laptop.

Hari ini saya senyum waktu Damar salah kirim laporan ke grup direksi.

Aku tertawa keras sampai Rania yang sedang menelepon bertanya apa yang terjadi.

“Dia membalas,” kataku.

“Apa? Bilang kangen?”

“Damar mempermalukan diri.”

Rania terdiam. “Romantisnya spesifik sekali.”

Aku menyimpan foto itu tanpa meminta foto wajah.

Hari ketujuh.

Pesan ini kutulis dan hapus enam kali.

Aku minta maaf karena kamu harus tahu soal taruhan sendirian. Kamu berdiri di balik pintu, mendengar orang-orang tertawa tentang perasaan kamu, lalu tetap datang makan siang besoknya. Aku nggak akan bilang seharusnya kamu langsung pergi, karena itu berarti aku masih menentukan respons yang benar untuk kamu. Aku cuma menyesal kamu nggak punya siapa pun saat itu.

Erga membacanya satu jam kemudian.

Nggak ada balasan.

Aku menangis sebentar, lalu tidur tanpa mengirim tambahan. Diamnya mungkin berarti luka itu terlalu dekat. Dia berhak berhenti di sana.

Paginya, saat aku hendak presentasi, ponsel berbunyi.

Saya waktu itu makan mi instan dua bungkus. Jadi nggak sepenuhnya sendirian.

Aku tertawa sambil menangis di toilet kantor. Nadine yang menunggu di luar menyerahkan tisu dari bawah pintu dan bertanya apakah cinta jarak jauh memang selalu melibatkan karbohidrat.

Hari kesepuluh.

Aku mengirim foto americano tanpa gula di meja kerja.

Sekarang aku bisa pesan dengan benar tanpa tanya tiga kali. Rasanya tetap mengerikan.

Balasan datang cepat.

Jangan diminum kalau nggak suka.

Aku sedang belajar memahami penderitaan kamu.

Saya minum karena suka.

Lebih mengkhawatirkan lagi.

Dia mengirim emoji mata berputar.

Flirting kami kembali dalam bentuk paling kecil. Nggak ada panggilan sayang, nggak ada foto bibir, nggak ada janji. Hanya ruang sempit yang perlahan terasa aman untuk bercanda lagi.

Di luar pesan-pesan itu, aku tetap hidup.

Aku datang ke kantor tepat waktu, memimpin presentasi, dan menerima dua proyek baru. Aku tetap makan di restoran mahal bersama circle. Tetap membeli sepatu yang menurut Nadine harganya nggak masuk akal. Aku nggak mengubah diriku menjadi perempuan sederhana demi terlihat pantas dicintai laki-laki yang hidupnya lebih tenang.

Yang kuubah adalah cara memperlakukan orang.

Ketika staf magang melakukan kesalahan layout, aku nggak menjadikannya bahan tertawaan grup. Aku memanggilnya, menjelaskan, lalu bertanya apakah tenggat yang kuberikan masuk akal. Saat seorang account executive mengaku suka dan mengajakku makan, aku menolak tanpa menyimpan perhatiannya sebagai cadangan ego.

Perubahan terasa kecil. Nggak dramatis. Justru itu yang membuatnya nyata.

Hari ketiga belas.

Aku berfoto memakai kaus hitam Erga yang masih tersisa di apartemen. Foto cuma memperlihatkan dari bahu sampai paha, cukup untuk menunjukkan kaus kebesaran dan mug hitam di tangan.

Circle berkumpul di sofa saat aku memilih foto.

“Yang ini jujur,” kata Rania.

“Yang ini kelihatan sedih,” bantah Keisha. “Pakai yang kakinya lebih bagus.”

Nadine memperbesar layar. “Tujuan kita minta maaf atau bikin dia langsung cari tiket?”

“Nggak boleh thirst trap,” kataku.

Keisha menunjuk foto ketiga. “Ini bukan thirst trap. Ini dokumentasi kemanusiaan dengan pencahayaan bagus.”

“Belahan pahanya kelihatan,” kata Rania.

“Manusia punya paha.”

Setelah perdebatan dua puluh menit, aku memilih foto pertama yang paling sederhana.

Aku masih tidur pakai kaus kamu. Aku bisa kembalikan kalau kamu mau.

Balasan baru muncul besok pagi.

Simpan.

Satu kata. Cukup untuk membuat tiga temanku menjerit dan aku mengusir mereka dari apartemen.

Hari ketujuh belas.

Keberanian kecil mulai kembali.

Sisi tempat tidur kamu masih kosong. Ini informasi, bukan undangan. Tapi kalau kamu membayangkannya, aku nggak bertanggung jawab.

Pesan dibaca segera.

Lima belas menit nggak ada balasan. Aku sudah siap tidur ketika ponsel berbunyi.

Kalau bukan undangan, kenapa informasinya perlu dikirim?

Aku menggigit bibir menahan senyum.

Transparansi data.

Datanya bias.

Penelitinya memang punya kepentingan.

Dia nggak membalas lagi, tetapi dua menit kemudian memberi reaksi api pada pesanku.

Aku menaruh ponsel di dada dan menatap langit-langit. Nggak mengirim foto lanjutan. Nggak menguji seberapa jauh aku bisa menariknya. Kepercayaan yang sedang tumbuh bukan tempat bermain tarik-ulur.

Hari kedua puluh satu.

Hari itu berat. Aku melihat unggahan kantor cabang Singapura. Erga berdiri dalam foto tim di sebelah seorang perempuan berkacamata yang terlihat akrab dengannya.

Versi lamaku akan mencari nama perempuan itu, memeriksa media sosial, lalu mengirim pesan menggoda untuk mengingatkan siapa yang lebih menarik.

Aku memang mencari namanya.

Aku belum berubah menjadi orang suci.

Namun setelah tahu dia seorang project manager yang sudah menikah dan punya dua anak, aku merasa bodoh. Malamnya aku memilih mengakui bagian yang lebih buruk.

Aku takut kamu akan menemukan perempuan yang lebih jujur. Aku tahu rasa takut itu bukan alasan untuk menuntut apa pun. Aku cuma nggak mau berpura-pura tenang.

Balasannya datang setengah jam kemudian.

Kejujuran bukan sifat yang selesai sekali dipilih. Saya juga masih belajar.

Aku membaca itu berkali-kali.

Dia nggak menenangkan dengan mengatakan nggak ada perempuan lain. Dia memberiku sesuatu yang lebih penting: pengakuan bahwa kami sama-sama belum selesai bertumbuh.

Hari kedua puluh lima.

Kalau setelah tiga puluh hari ini kita tetap nggak kembali, aku tetap bangga pernah dicintai kamu. Bukan karena cintamu membuktikan aku pantas. Karena cara kamu mencintai mengajari aku bahwa perhatian bukan hadiah yang boleh dipakai buat hiburan.

Pesan itu mendapat reaksi hati biru.

Nggak ada kata. Aku nggak meminta.

Hari kedua puluh sembilan.

Aku membawa kalender meja ke apartemen. Kotak pertama sampai dua puluh sembilan masih dicoret tinta hitam. Kotak ketiga puluh tetap kosong.

Aku memotretnya di samping dua potongan puzzle yang sudah menyatu.

Aku belum mencoret kotak terakhir. Dulu aku pikir itu karena kamu pergi sebelum waktunya selesai. Sekarang aku tahu hubungan kita memang nggak seharusnya berakhir atau dimulai berdasarkan kotak.

Pesan dibaca pukul satu dini hari waktu Singapura.

Nggak ada reaksi.

Aku tidur dengan dada gelisah, tetapi nggak menambah kata apa pun.

Hari ketiga puluh datang tanpa bunyi alarm khusus, bot otomatis, atau emoji piala.

Aku bekerja seperti biasa. Makan siang dengan circle. Menolak ajakan mereka menyusun kalimat terakhir karena pesan ini harus sepenuhnya milikku.

Pukul sembilan lima puluh delapan, aku duduk di tepi ranjang memakai kaus hitamnya. Sisi sebelah tetap kosong.

Aku mengetik perlahan.

Hari ketiga puluh.

Aku cinta kamu. Perasaan itu nyata, tapi tidak memberiku hak atas jawaban, tubuh, waktu, atau masa depan kamu.

Aku menyesal pernah membuat perasaanmu jadi permainan. Aku juga bersyukur pernah mengenal semua bagianmu yang kamu izinkan untuk kulihat.

Setelah pesan ini, aku nggak akan mengirim lagi kecuali kamu yang membuka percakapan. Bukan karena berhenti cinta. Karena aku sudah berjanji menghormati pilihanmu.

Jari-jariku gemetar saat menulis kalimat terakhir.

Aku cinta kamu. Tapi kali ini aku nggak akan minta jawaban. Pilihannya punya kamu.

Aku mengirim tepat pukul sepuluh.

Pesan itu terkirim.

Satu centang.

Dua.

Lima menit kemudian, tanda dibaca muncul.

Nggak ada balasan.

Aku meletakkan ponsel di meja, mematikan lampu, lalu berbaring di sisi ranjangku sendiri.

Rasa sakit tetap ada. Harapan juga. Namun untuk pertama kalinya, aku nggak melakukan apa pun kepada keduanya.

Aku membiarkan Erga memiliki keheningan tanpa menyebutnya penolakan, dan memiliki cinta tanpa menyebutnya janji.

Tiga puluh pesan selesai.

Nggak ada pemenang.

Hanya satu pilihan yang akhirnya benar-benar kuberikan.