Chapter Eight
Mas IT Mulai Membalas
POV: Helena
Hari kedelapan dimulai dengan spreadsheet.
Bukan spreadsheet pekerjaan. Yang itu masih bisa kuterima.
Keisha membuat dokumen berjudul PROGRESS TARGET lengkap dengan kolom tanggal, jenis interaksi, respons verbal, respons fisik, dan peluang keberhasilan dalam persen. Warnanya merah muda. Ada grafik garis yang baru punya tiga titik tetapi sudah diberi judul Kenaikan Ketertarikan Mas IT.
Aku menatap layar laptopnya dengan jijik. “Lo sakit.”
“Gue terstruktur.”
“Lo bikin kolom respons fisik.”
“Data penting.”
Rania membaca baris terakhir. “Sentuhan pergelangan tangan dua detik. Siapa yang ngukur?”
Keisha menunjukku. “Dia cerita.”
“Gue bilang sebentar, bukan dua detik.”
“Gue estimasi.”
Nadine menyesap kopi sambil memeriksa grafik. “Datanya bias.”
Keisha terlihat tersinggung. “Bagian mana?”
“Penelitinya sudah horny.”
Aku hampir menyemburkan kopi. Rania menutup mulut supaya nggak tertawa terlalu keras, sementara Keisha justru mengangguk serius.
“Variabel itu bisa kita masukkan.”
“Hapus dokumennya,” kataku.
“Nggak.”
Ponselku bergetar sebelum aku sempat merebut laptopnya.
Mas Erga IT: Jadi makan siang?
Aku membaca pesan itu dua kali.
Biasanya aku yang memulai percakapan. Erga membalas, kadang cepat, kadang setelah setengah jam, tetapi dia hampir nggak pernah menghubungi lebih dulu. Hari ini bahkan belum jam sebelas.
Keisha menjulurkan leher. “Siapa?”
Aku mematikan layar. “Notifikasi bank.”
“Notifikasi bank lo bikin senyum?”
“Saldo gue sehat.”
Nadine mengulurkan tangan. “Masukkan ke spreadsheet.”
Aku membawa ponsel ke toilet hanya untuk membalas tanpa tiga kepala mengawasi.
Aku: Jadi. Mas kangen?
Tiga titik muncul hampir langsung.
Mas Erga IT: Takut kamu lupa.
Aku: Aku nggak gampang lupa sama janji kencan.
Mas Erga IT: Ini kencan?
Aku tersenyum pada cermin.
Aku: Kalau Mas mau.
Dia nggak menjawab selama dua menit. Lalu lokasi restoran dekat kantor muncul di layar.
Mas Erga IT: Jam dua belas.
Nggak ada jawaban atas pertanyaanku. Tapi Erga yang memilih tempat dan waktu sudah cukup membuat pagi itu terasa seperti kemenangan kecil.
Restoran yang dia pilih bukan tempat yang biasa dikunjungi timku. Meja kayunya sederhana, menunya ditulis dengan spidol, dan pendingin udaranya kalah melawan cuaca. Tapi makanannya enak dan sudut belakangnya cukup sepi.
Erga sudah datang ketika aku masuk. Dia berdiri untuk menarikkan kursi, gerakan yang sama sekali nggak cocok dengan citra mas-mas IT yang menurut Damar nggak sadar kalau diajak kencan.
Di atas meja sudah ada segelas air dingin dengan irisan lemon.
“Mas pesenin?” tanyaku.
“Kemarin kamu bilang nggak suka minuman terlalu manis kalau makan.”
Aku berhenti sebelum duduk. Aku bahkan nggak ingat kapan mengatakan itu. Mungkin di telepon dua malam lalu, terselip di antara keluhan soal tetangga dan cerita kucing parkiran.
“Mas ingat?”
“Kebetulan.”
“Semua yang Mas lakukan kebetulan.”
“Lebih aman begitu.”
Aku duduk sambil menatap air lemon itu. Taruhannya mengharuskanku membuat Erga menyukaiku, tetapi perhatian kecil tersebut memberi sensasi aneh seolah akulah yang sedang dipelajari.
“Mas sering ke sini?” tanyaku.
“Kalau kantin penuh.”
“Berarti aku dapat akses tempat rahasia?”
“Tempatnya ada di Google Maps.”
Aku duduk sambil tertawa. “Mas bisa romantis sedikit nggak?”
“Bisa. Perlu tiket.”
Aku menatapnya beberapa detik. “Mas Erga mulai berbahaya.”
“Kenapa?”
“Sudah bisa membalas.”
Erga menurunkan pandangan ke menu. Ada bayangan senyum di bibirnya, tetapi juga sesuatu yang nggak bisa kubaca. Matanya terlihat lebih lelah daripada kemarin.
“Kurang tidur?” tanyaku.
“Sedikit.”
“Telepon sama aku bikin capek?”
“Nggak.” Jawabannya cepat. “Justru sebaliknya.”
Kalimat itu cukup untuk membuatku lupa menanyakan kenapa ekspresinya terasa berbeda.
Kami memesan. Selama menunggu, aku menyilangkan kaki dan membiarkan ujung sepatuku menyentuh sepatunya di bawah meja. Erga melihat ke bawah, lalu kembali menatapku.
Dia nggak menarik kaki.
Aku menggeser sedikit lagi hingga sisi sepatu kami benar-benar menempel.
“Mbak nyaman?” tanyanya.
“Banget.”
“Bagus.”
“Mas?”
“Sedang berusaha.”
Aku tertawa kecil. “Aku bikin Mas gugup?”
“Iya.”
Kejujurannya membuatku berhenti bermain selama satu detik.
Erga menyandarkan punggung ke kursi. Kakinya tetap di tempat, menahan sentuhanku. “Tapi kayaknya itu memang tujuan kamu.”
Ada sesuatu dalam cara dia mengucapkan tujuan. Bukan tuduhan, bukan juga godaan biasa. Seolah dia tahu ada jawaban yang belum kuberikan.
Jantungku berdetak sekali lebih keras.
“Kalau iya?” tanyaku.
“Berarti berhasil.”
Aku menopang siku di meja. “Mas nggak kepengin tahu tujuan akhirnya?”
Erga menatapku cukup lama hingga aku menyesali pertanyaan itu.
“Kepengin,” jawabnya. “Tapi kayaknya belum waktunya kamu kasih tahu.”
Jari-jariku berhenti memainkan sedotan. Untuk sesaat, aku takut Erga benar-benar mengetahui taruhan itu. Tapi ekspresinya nggak berubah. Dia hanya terlihat lelah, mungkin karena kurang tidur seperti katanya.
“Kalau aku bilang tujuannya cuma mau dekat?”
“Saya akan tanya kenapa.”
“Kenapa harus ada alasan?”
“Biasanya ada.”
Aku tersenyum untuk menutupi rasa nggak nyaman. “Mungkin Mas menarik.”
“Mungkin?”
“Jangan rakus. Aku baru bilang kemungkinan.”
Erga mengangguk pelan. “Baik. Saya tunggu sampai datanya cukup.”
Kalimat itu mengingatkanku pada chat kami beberapa hari lalu. Bedanya, sekarang ada sesuatu yang nyaris pahit di balik senyumnya.
Dia mengambil gelas minum dan menyesapnya dengan tenang, meninggalkanku tanpa kemenangan yang terasa utuh. Aku datang untuk membuat Erga kehilangan keseimbangan. Entah sejak kapan dia belajar membuatku melakukan hal yang sama.
Makanan datang. Obrolan kami kembali ringan. Erga bercerita soal Damar yang pernah mematikan satu lantai karena salah menarik kabel. Aku menceritakan Keisha yang mengirim file final dengan nama FINALBENERANFIXYANGINI_7.
Di tengah makan, saus menempel di sudut bibirku. Erga menatapnya beberapa detik, lalu mendorong tisu ke arahku.
“Kiri,” katanya.
Aku mengusap sisi kanan.
“Kiri kamu.”
Aku sengaja salah lagi. “Yang mana?”
Erga menghela napas, mengambil tisu lain, lalu mengangkat tangan. Dia berhenti sebelum menyentuh wajahku.
“Boleh?”
Pertanyaan itu sederhana. Tetap saja rasanya lebih intim daripada kalau dia langsung melakukannya.
Aku mengangguk.
Erga membersihkan sudut bibirku dengan satu gerakan singkat. Jemarinya nggak menyentuh kulit, cuma tisu. Tapi matanya tetap pada bibirku sesaat lebih lama daripada yang diperlukan.
“Sudah,” katanya.
“Makasih.”
Dia menunduk lagi pada makanannya. Ujung telinganya merah.
Saat kembali ke kantor, lobi sedang ramai karena beberapa tim baru selesai town hall. Aku nyaris terpisah dari Erga ketika rombongan orang masuk dari pintu utama. Tangannya menyentuh punggung bawahku, ringan tetapi tegas, mengarahkan tubuhku melewati kerumunan.
Sentuhan itu hanya bertahan beberapa langkah.
Begitu sampai depan lift, tangannya lepas.
Tubuhku masih mengingat hangatnya.
“Aku bisa jalan sendiri,” kataku, lebih sebagai godaan daripada protes.
“Saya tahu.” Sapaan formalnya kembali, mungkin karena banyak orang. “Tapi tadi ramai.”
“Kalau aku bilang aku suka?”
Erga menatap angka lift yang turun. “Saya akan cari tempat yang lebih ramai.”
“Biar bisa pegang aku lebih lama?”
Dia menoleh. “Biar ada alasan.”
Pintu lift memantulkan wajahku sendiri yang mendadak kehilangan jawaban. Erga berdiri di samping dengan ekspresi tenang, tetapi ibu jarinya bergerak sekali di sisi telunjuk—kebiasaan kecil yang mulai kukenali muncul saat dia gugup.
Pintu terbuka sebelum aku bisa membalas.
Di lantai sembilan, ketiga temanku sudah menunggu seperti petugas bea cukai.
“Laporan,” kata Keisha.
Aku melewati mereka. “Makanannya enak.”
“Bukan itu.”
“Tempatnya agak panas.”
“Sentuhan fisik?”
Aku berhenti, menatap Keisha, lalu Nadine yang sudah membuka spreadsheet.
“Kalian benar-benar nggak punya kerjaan?”
Nadine mengetik sesuatu. “Subjek defensif. Kemungkinan ada perkembangan.”
Rania mengikutiku ke meja. “Dia kelihatan suka sama lo?”
Aku teringat tatapan Erga ketika mengatakan tujuan. Ada kesedihan tipis yang seharusnya kutanyakan, tetapi tertutup oleh semua hal lain yang ingin kupercaya.
“Belum tahu,” jawabku sambil duduk. “Tapi dia mulai membalas.”
Dan, untuk pertama kalinya, aku nggak yakin siapa yang sedang mengejar siapa.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas reading
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur