Chapter Five
Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
POV: Helena
Aku melakukan kesalahan pada kopi pertama.
Bukan kesalahan besar. Cuma caramel macchiato dengan tambahan whipped cream, saus karamel, dan gula dalam jumlah yang mungkin bisa membangunkan orang mati.
Masalahnya, Erga memesan americano tanpa gula.
Aku baru ingat setelah kurir internal meletakkan gelas itu di mejanya dan mengirim foto bukti penerimaan. Lima menit kemudian, ponselku berbunyi.
Mas Erga IT: Ini buat saya?
Aku menatap foto gelas yang sengaja kutulisi Untuk Mas IT yang galak. Jangan lupa senyum. dengan spidol hitam.
Aku: Iya. Kopi terima kasih.
Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi.
Mas Erga IT: Saya pesan americano.
Aku: Aku improvisasi.
Mas Erga IT: Ini lebih mirip dessert.
Aku: Dicoba dulu.
Dia nggak membalas.
Sepuluh menit kemudian, Damar muncul di divisi Design sambil membawa gelas itu. Whipped cream-nya masih utuh.
“Paket retur,” katanya.
Seluruh timku menoleh.
Aku menyilangkan tangan. “Dia nyuruh Mas balikin?”
“Enggak. Gue yang ambil sebelum dia kasih ke anak magang.”
“Kenapa mau dikasih ke orang?”
“Karena dia bilang ini terlalu manis. Gue bilang jangan buang rezeki, apalagi rezekinya punya tulisan tangan.” Damar membaca tulisan di gelas. “Mas IT yang galak. Lucu juga.”
Keisha bangkit dari kursinya. “Mas Damar mau?”
“Mau.”
“Bayar.”
“Saya cuma kurir.”
“Kurir juga punya gaji.”
Damar memandangku meminta pertolongan. Aku mengibaskan tangan. “Ambil aja.”
Dia pergi dengan wajah bahagia. Keisha langsung memutar kursiku menghadap dirinya.
“Ini kegagalan pertama.”
“Bukan gagal. Salah pesanan.”
Nadine melihat jam. “Kalau lo turun sekarang, kedai kopi masih sepi.”
Rania menyodorkan tas tanganku tanpa diminta. “Americano. Jangan pakai gula. Jangan pakai nama aneh di gelas.”
Aku berdiri. “Kalian menyebalkan.”
“Tapi efektif,” kata mereka hampir bersamaan.
Aku membeli americano yang benar, lalu memutuskan mengantarnya sendiri. Bukan karena aku takut kopi kedua juga diculik Damar. Aku hanya nggak mau Erga mengira aku bahkan nggak mendengarkan pesanannya.
Ketika sampai di lantai tujuh, kursi Erga kosong.
Damar yang sedang menikmati caramel macchiato menunjuk ruang kecil dekat jendela. “Lagi meeting sendiri.”
“Meeting sendiri?”
“Kalau dia ngomong sama server, katanya troubleshooting. Kalau gue ngomong sendiri, katanya butuh cuti.”
Aku mengetuk pintu ruang kecil itu. Erga duduk menghadap laptop dengan headset sebelah telinga terbuka. Dia mengangkat wajah, melihatku, lalu melihat gelas di tanganku.
“Versi revisi?” tanyanya.
“Aku menerima feedback dengan baik.”
“Cepat juga.”
Aku masuk dan meletakkan americano di samping laptopnya. “Tanpa gula. Tanpa whipped cream. Tanpa penghinaan terhadap kopi.”
Erga membaca tulisan di gelas. Kali ini aku cuma menulis namanya—bukan namaku—dan gambar wajah tersenyum kecil.
Sudut bibirnya bergerak.
“Aku lihat,” kataku.
“Lihat apa?”
“Mas hampir senyum.”
“Belum.”
“Aku tunggu.”
Erga melepas headset sepenuhnya. “Mbak nggak kerja?”
“Sedang istirahat.”
“Istirahatnya di ruang IT?”
Aku menarik kursi di sebelahnya dan duduk. “Ada larangan?”
“Nggak ada.”
“Berarti aman.”
Ruangan itu terlalu kecil untuk dua orang yang nggak punya urusan jelas. Lutut kami hampir bersentuhan di bawah meja. Aku menyilangkan kaki, sengaja membiarkan ujung sepatuku menyentuh sisi sepatunya.
Erga melihat ke bawah sebentar, tetapi nggak menggeser kaki.
Kemajuan.
Dia menyeruput kopi. “Ini benar.”
“Pujian paling romantis yang pernah aku terima.”
Erga hampir tersedak. Aku menahan tawa sambil menyodorkan tisu.
“Aku bercanda.”
“Saya tahu.”
“Wajah Mas nggak kelihatan tahu.”
“Wajah saya memang begitu.”
“Selalu?”
“Hampir.”
Aku menopang dagu dengan tangan. “Aku jadi penasaran apa yang bisa bikin berubah.”
Dia menatapku di atas bibir gelas. “Kenapa penasaran?”
Pertanyaan sederhana, tapi cara dia mengatakannya membuatku sadar Erga nggak sepenuhnya pasif. Dia membiarkanku mendekat, iya, tetapi dia juga sedang mengamati. Mengukur. Mencari alasan.
Aku bisa memberi jawaban aman. Karena taruhan. Karena tas. Karena bosan.
Sebaliknya, aku tersenyum dan berkata, “Karena aku suka lihat Mas senyum.”
Erga menurunkan gelas. Ada jeda cukup lama hingga suara pendingin udara terdengar terlalu keras.
“Jangan dipuji kalau nggak siap lihat lebih sering,” katanya.
Sekarang giliranku yang diam.
Dia mengucapkannya dengan wajah tenang, seolah nggak baru saja melempar kalimat yang bisa kubawa pulang dan kupikirkan sebelum tidur.
“Itu ancaman?” tanyaku.
“Peringatan.”
“Bedanya?”
“Kalau ancaman, harus ada niat buruk.”
“Mas punya niat apa?”
Erga mengalihkan pandangan ke laptop. “Minum kopi.”
Aku tertawa. Keras, tanpa sempat menahannya.
Pintu terbuka dan Damar memasukkan kepala. “Ganggu nggak?”
“Iya,” jawabku.
“Oke.” Dia hendak pergi, lalu masuk lagi. “Sebenarnya gue mau kasih tahu, anak-anak pindah makan siang ke bawah. Ruangan ini kosong sampai satu jam ke depan.”
Erga memejamkan mata sebentar. “Keluar.”
Damar tersenyum lebar kepadaku. “Kalau butuh apa-apa, bikin tiket.”
Pintu menutup sebelum tempat tisu yang dilempar Erga mengenainya.
Aku menatap tempat tisu yang jatuh, lalu Erga. “Mas ternyata bisa malu.”
“Saya sedang mempertimbangkan mutasi tim.”
“Jangan. Nanti aku susah cari Mas.”
Kalimat itu keluar ringan, bagian dari permainan. Tapi Erga kembali menatapku dan sesuatu pada ekspresinya membuat dadaku terasa disentuh pelan dari dalam.
“Mbak memang akan sering cari saya?” tanyanya.
“Kalau Mas nggak keberatan.”
“Saya nggak bilang keberatan.”
Kami kembali diam. Ujung sepatuku masih menyentuh sepatunya. Dia belum menjauh.
Aku mencari topik lain sebelum suasana menjadi terlalu serius. Kami bicara soal pekerjaan, soal kenapa dia memilih bidang IT, dan soal kebiasaannya memperbaiki barang daripada membeli baru. Erga menjawab pendek-pendek pada awalnya, lalu perlahan lebih panjang.
Dia suka membongkar radio sejak kecil. Pernah membuat listrik rumah mati karena memasang kabel sendiri. Nggak suka tempat terlalu ramai. Lebih suka film daripada serial karena malas menunggu episode berikutnya.
“Musik?” tanyaku.
“Macam-macam.”
“Jawaban orang yang takut playlist-nya dihakimi.”
“Jawaban orang yang pernah diputusin teman karena bilang nggak suka band favoritnya.”
“Perempuan?”
“Damar.”
Aku tertawa lagi.
Erga membuka playlist di laptop dan memilih satu lagu. Karena speaker ruangan rusak, dia melepas salah satu sisi headset lalu menyerahkannya kepadaku. Kabelnya pendek, memaksaku menggeser kursi sampai bahu kami bersentuhan.
“Kalau lagunya jelek, persahabatan kita selesai,” kataku.
“Kita sudah berteman?”
“Mas keberatan?”
Erga menatap layar, tetapi senyum kecilnya muncul lagi. “Dengerin dulu lagunya.”
Kami berbagi headset selama tiga menit tanpa bicara. Aneh, diam bersama Erga nggak terasa canggung. Justru aku yang mendadak sadar pada hangat bahunya dan jarak mulutnya dari telingaku.
Tanpa sadar, waktu istirahatku habis dua puluh menit lalu. Aku baru menyadarinya ketika pesan Nadine masuk menanyakan apakah aku pindah divisi.
Aku berdiri. Saat mengambil gelas minumanku sendiri, sedikit busa dari tutupnya menempel di ujung jari. Erga mengambil tisu, memegang pergelangan tanganku sebentar, lalu membersihkannya dengan gerakan hati-hati.
Sentuhannya cuma beberapa detik.
Tetapi dia melakukannya tanpa panik dan tanpa menjadikannya kesempatan buat menyentuh lebih lama.
“Lengket,” katanya.
Aku melihat jariku, lalu wajahnya. “Makasih.”
Erga melepaskan tanganku. “Sama-sama.”
Aku berjalan keluar dengan langkah yang sengaja kubuat biasa. Begitu pintu lift menutup, ponselku kembali ramai.
Keisha: LAPORAN HARI KEDUA.
Rania: Jangan caps lock, dia bukan tentara.
Nadine: Berapa lama di bawah?
Aku mengetik bahwa Erga menerima kopi dan kami mengobrol. Aku nggak menulis soal kakinya yang nggak menjauh, kalimat tentang senyum, atau cara tangannya memegang pergelanganku.
Entah kenapa, detail-detail itu terasa terlalu pribadi untuk dijadikan skor.
Aku menyimpan ponsel dan melihat pantulanku di pintu lift.
Aku masih tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya, aku nggak yakin senyum itu muncul karena taruhannya berjalan sesuai rencana.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin reading
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur