Chapter Thirty Two

Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya

POV: Erga

Aku masih mencintai Helena.

Itu kesimpulan paling sederhana setelah tiga minggu mencoba hidup tanpanya, dan masalah paling rumit setelah melihatnya duduk di seberang meja tadi siang.

Kalau sudah nggak cinta, semuanya akan mudah. Aku bisa menerima permintaan maaf, mengatakan kami sama-sama belajar, lalu kembali bekerja. Sesekali mungkin teringat ketika melihat kopi tanpa gula atau kemeja biru. Lama-lama hilang.

Namun saat Helena berdiri di depan kafe, seluruh tubuhku langsung mengenalinya lebih cepat daripada pikiran.

Aku tahu rambutnya dipotong sedikit di ujung. Tahu dia memakai lipstik yang lebih pucat dari biasanya. Tahu jemarinya gemetar meski suaranya berusaha tenang. Ketika tali tasnya terpelintir, tanganku bergerak sendiri untuk membetulkan.

Tiga minggu nggak cukup untuk mengajari tubuhku berhenti merawatnya.

Aku masuk apartemen dan meletakkan kunci di meja. Unit sementara ini lebih besar daripada apartemen lama, tetapi masih terasa seperti kamar hotel: furnitur bersih tanpa cerita, kulkas berisi makanan yang kubeli karena perlu, bukan karena seseorang akan datang dan mengkritik daun bawang sebagai sayur.

Di sisi koper ada stiker T-Rex pemberian anak di pesawat.

Aku belum melepasnya.

Pukul sepuluh tepat, ponsel berbunyi.

Hari pertama. Kabel monitor waktu itu nggak rusak. Aku yang cabut sendiri, lalu aku panik karena Mas langsung tahu. Maaf sudah membuang dua belas menit waktu kerja kamu.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu tiga.

Bayangan hari pertama muncul jelas: Helena duduk di kursinya dengan ekspresi terlalu polos, kabel monitor sengaja longgar, dan tiga temannya pura-pura bekerja sambil mengawasi dari jauh. Aku sudah tahu kabel itu dicabut manual. Yang nggak kutahu adalah alasan seorang perempuan seperti dia repot-repot membuat tiket hanya untuk mendekatiku.

Saat itu aku pulang sambil tersenyum seperti orang bodoh.

Sekarang pun aku tertawa.

Suara kecil, cuma satu embusan, tetapi itu tawa pertama yang benar-benar keluar sejak tiba di kota ini.

Jempolku bergerak ke kolom balasan.

Saya tahu.

Kuhapus.

Dua belas menit tiga puluh tujuh detik.

Kuhapus juga.

Dia sudah berjanji nggak menuntut jawaban. Aku sudah memberi izin karena berpikir bisa membaca tanpa terpengaruh.

Aku meletakkan ponsel telungkup.

Lima detik kemudian, kubalik lagi.

Pesan tambahan masuk.

Aku kangen tangan kamu. Ini bukan strategi. Ini keluhan.

Aku menutup wajah dengan satu tangan.

Helena bahkan meminta maaf dengan cara yang bisa membuat dadaku panas. Bayangan tangannya di tanganku, kukunya menyentuh kulit, jarinya yang pernah kucium satu per satu di kereta, muncul tanpa izin.

Aku akhirnya membalas satu emoji.

Tangan terbuka.

Begitu terkirim, aku menyesal. Emoji itu bisa berarti apa saja. Halo. Berhenti. Tos. Mungkin dia akan menganggapnya undangan.

Tiga titik langsung muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Lalu cuma satu jawaban masuk.

Diterima. Nggak akan aku pegang tanpa izin.

Aku menatap kalimat itu sampai layar redup.

Dia mengerti.

Aku membalik telapak tangan sendiri. Masih teringat jelas bagaimana jarinya dulu menyelip di antara jariku tanpa ragu, seolah tempat itu memang dibuat untuknya. Sekarang satu emoji sederhana saja dia perlakukan sebagai batas, bukan celah untuk dimanfaatkan.

Bagian diriku yang marah ingin berkata perubahan itu terlambat. Bagian lain justru takut mulai berharap karena perubahan tersebut terasa sungguhan.

Justru itu membuat pertahananku lebih sulit.

Ponsel berdering. Nama Damar muncul. Aku menerima panggilan video dan wajahnya langsung memenuhi layar dari sudut yang buruk.

“Kenapa kamera kamu menunjukkan lubang hidung?” tanyaku.

“Gue sedang remote server sambil menelepon. Jangan cerewet.”

Di belakangnya terlihat ruang IT Jakarta. Jam dinding menunjukkan sembilan malam waktu sana. Dia masih memakai headset dan mengetik di laptop.

“Ada masalah?”

“Ada. Teman gue bodoh.”

“Server?”

“Bukan. Lo.”

Aku bersandar di sofa. “Kalau cuma itu, saya tutup.”

“Dia datang?”

Aku diam.

“Berarti datang,” kata Damar. “Ngomong apa?”

“Minta maaf.”

“Terus?”

“Saya bilang nggak bisa kembali.”

Damar berhenti mengetik. “Dia minta lo kembali?”

“Nggak.”

“Dia maksa lo pacaran lagi?”

“Kami nggak pernah resmi pacaran.”

“Jangan kabur ke definisi. Dia maksa?”

“Nggak.”

“Terus lo kenapa mukanya kayak habis menendang anak kucing?”

Aku melihat ponsel di meja, pesan terakhir Helena masih terbuka. “Karena saya masih cinta.”

Damar menatap kamera. “Ya, akhirnya otak lo booting.”

“Itu bukan solusi.”

“Memang bukan. Tapi setidaknya diagnosisnya benar.”

Aku menghela napas. “Kalau saya kembali sekarang, saya akan terus bertanya apakah dia mencintai saya atau sedang menebus rasa bersalah.”

“Wajar.”

“Saya nggak mau setiap kali dia baik, saya ingat taruhan. Setiap kali dia mencium, saya bertanya apakah dia sedang membuktikan sesuatu.”

“Juga wajar.”

“Lalu kenapa kamu menelepon buat marah?”

Damar mendekat ke kamera. “Karena lo menghilang dan menyebutnya kebaikan. Lo memutuskan dia akan lebih bebas kalau lo pergi. Lo memutuskan dia nggak perlu menjelaskan. Lo memutuskan diam lebih baik daripada marah. Semuanya lo tentukan sendiri, lalu lo bungkus pakai pita pengorbanan.”

Aku nggak membalas.

Kata-katanya sama dengan sesuatu yang kusadari di kursi 18A. Pergi memang melindungiku dari kemungkinan ditolak, tetapi aku menyebutnya sebagai cara membebaskan Helena.

“Lo berhak nggak menerima dia,” lanjut Damar. “Tapi bilang itu karena lo belum siap. Jangan bilang demi dia. Dia bukan tiket support yang bisa lo tutup sepihak.”

Di layar laptopnya, sebuah jendela terminal berkedip merah.

“Kamu salah ketik,” kataku.

“Nggak.”

“Perintahnya ada spasi yang hilang.”

Damar menoleh, lalu mengumpat. “Ini gara-gara lo bikin gue emosi.”

“Jangan jalankan ulang sebelum cek direktori.”

“Gue tahu kerjaan gue.”

“Barusan terbukti nggak.”

“Gue telepon untuk memperbaiki kehidupan cinta lo, malah diaudit.”

“Tutup telepon dan fokus.”

“Jangan menghilang lagi,” katanya sebelum sambungan putus. “Kalau butuh waktu, bilang butuh waktu.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku membaca percakapan malam ini. Helena nggak meminta jawaban. Nggak mengirim foto untuk menggoda. Nggak menambahkan pertanyaan tentang kapan aku pulang. Dia mengakui satu kebohongan, menyampaikan satu kerinduan, lalu menerima batas dari sebuah emoji yang bahkan nggak jelas.

Perubahan sehari tentu belum bisa menyembuhkan luka. Permintaan maaf yang bagus juga nggak otomatis membangun kembali kepercayaan.

Namun mungkin tiga puluh hari itu bukan ujian untuk Helena saja.

Mungkin aku juga harus belajar berhenti menganggap diam sebagai bentuk cinta paling aman.

Aku mengetik pesan.

Tadi saya nggak jujur sepenuhnya.

Tiga titik langsung muncul, lalu berhenti. Dia menunggu.

Saya masih marah. Saya belum percaya sepenuhnya. Dan saya masih cinta kamu. Itu masalahnya.

Jempolku tertahan di tombol kirim.

Kalimat itu terlalu terbuka. Terlalu mudah dipakai untuk menarikku kembali.

Namun Helena sudah datang jauh-jauh dan memberiku kebenaran yang membuatnya terlihat buruk. Kalau aku ingin pilihan kami jujur, aku juga harus berhenti menyembunyikan bagian yang nggak nyaman.

Aku menekan kirim.

Pesan dibaca hampir seketika.

Satu menit berlalu.

Dua.

Balasan akhirnya masuk.

Terima kasih sudah jujur. Aku nggak akan menjadikan cinta kamu sebagai utang yang harus dibayar dengan kembali.

Pesan kedua menyusul.

Tapi bagian kamu masih cinta akan aku simpan sedikit. Bukan buat menang. Buat bernapas malam ini.

Aku menutup mata.

Ada lega dan sakit dalam napas yang keluar. Untuk pertama kalinya sejak hari ketujuh, aku mengucapkan kebenaran tanpa menggunakannya untuk pergi.

Aku mengetik satu jawaban pendek.

Tidur. Besok kamu pulang.

Balasannya datang cepat.

Mas masih nyuruh-nyuruh.

Iya.

Aku kangen juga sama bagian itu.

Sudut bibirku naik.

Aku masih mencintainya. Itu tetap masalah.

Namun malam ini, untuk pertama kalinya, masalah itu nggak terasa seperti sesuatu yang harus kuselesaikan sendirian.