Chapter Thirty Four

Hari yang Nggak Dicoret

POV: Erga

Pesan ketiga puluh masuk pukul sebelas malam waktu Singapura.

Aku membacanya di meja kerja apartemen, masih memakai kemeja kantor. Laptop terbuka pada laporan evaluasi proyek. Kopi sudah dingin. Kota di balik jendela penuh cahaya, tetapi ruangan terasa sunyi seperti malam pertama aku tiba.

Aku cinta kamu. Tapi kali ini aku nggak akan minta jawaban. Pilihannya punya kamu.

Aku membaca kalimat terakhir itu sampai layar ponsel meredup.

Helena menepati janjinya.

Selama tiga puluh hari, dia nggak pernah mengirim lebih dari satu pesan kalau aku diam. Nggak pernah meminta Keisha, Nadine, atau Rania membujukku. Nggak pernah membuat unggahan publik tentang penyesalan supaya orang lain ikut menekan. Dia bahkan nggak bertanya kapan aku pulang.

Dia cuma datang setiap malam dengan satu kebenaran, lalu pergi sebelum kebenaran itu berubah menjadi tuntutan.

Aku membuka percakapan dari pesan pertama.

Kabel monitor yang sengaja dicabut.

Alasan dia menyukai senyumku.

Permintaan maaf karena aku mendengar taruhan sendirian.

Foto kopi pahit.

Kaus hitamku di tubuhnya.

Sisi ranjang yang kosong.

Aku berhenti di pesan hari ketujuh belas.

Sisi tempat tidur kamu masih kosong. Ini informasi, bukan undangan. Tapi kalau kamu membayangkannya, aku nggak bertanggung jawab.

Jempolku mengetik jawaban yang sudah tersimpan di kepala selama hampir dua minggu.

Jangan kasih tempat itu ke orang lain dulu.

Aku menatapnya, lalu menyimpan sebagai draf tanpa mengirim.

Bukan karena nggak ingin. Justru karena keinginan itu terlalu mudah mengalahkan semua pertimbangan lain.

Aku melanjutkan membaca.

Di hari kedua puluh satu, dia mengaku takut aku menemukan perempuan yang lebih jujur. Dulu Helena mungkin akan menyembunyikan ketakutan itu di balik godaan atau menjadikannya alasan untuk menarik perhatianku. Sekarang dia cuma mengatakan hal yang buruk tentang dirinya tanpa memintaku menenangkan.

Di hari kedua puluh lima, dia berkata tetap bangga pernah dicintai meski kami nggak kembali.

Aku membuka galeri percakapan. Tiga puluh hari itu meninggalkan foto-foto biasa: meja kerja penuh sketsa, secangkir kopi yang salah dipesan, langit dari balkon apartemennya, kaus hitamku yang sekarang terlihat lebih pantas menjadi miliknya. Nggak ada satu pun foto wajah menangis. Nggak ada caption yang sengaja membuatku merasa bersalah.

Pada hari kedua belas, dia cuma mengirim foto makan siang bersama staf magang yang dulu hampir dimarahinya. Pesannya mengatakan dia sedang belajar bertanya sebelum menghakimi. Pada hari kedelapan belas, dia mengaku menolak ajakan makan seorang laki-laki tanpa menyimpan perhatian itu sebagai cadangan. Pada hari kedua puluh tiga, dia mengirim foto sepatu baru dan menulis bahwa berubah menjadi orang lebih baik nggak berarti harus berhenti belanja barang mahal.

Aku tertawa saat membacanya kembali.

Itu perempuan yang kukenal: percaya diri, berlebihan, kadang menyebalkan, tetapi sekarang nggak lagi menganggap hati orang lain sebagai cermin untuk memastikan dirinya menarik.

Dia nggak berubah menjadi seseorang yang lebih mudah kucintai.

Dia berubah menjadi seseorang yang belajar mencintai dengan lebih bertanggung jawab.

Di hari kedua puluh sembilan, foto kalender muncul.

Dua puluh sembilan kotak hitam. Satu kotak kosong.

Aku memperbesar gambar dan melihat dua potongan puzzle menyatu di sampingnya. Gantungan kunci norak yang cuma kulihat beberapa detik pada malam terakhir. Dia masih menyimpan bagianku.

Tenggorokanku mengencang.

Selama ini aku menunggu bukti bahwa cintanya bukan rasa bersalah. Aku mencari jawaban di setiap pesan, setiap jeda, setiap pilihan kata. Namun perubahan terbesar justru ada pada hal-hal yang nggak dia lakukan.

Dia nggak mengejar sampai aku kehabisan ruang.

Nggak memakai tubuh atau ciuman sebagai jalan pintas.

Nggak mengubah hidupnya menjadi pertunjukan penderitaan.

Nggak berhenti menjadi dirinya sendiri hanya agar terlihat lebih cocok denganku.

Dia memberi pilihan yang seharusnya kumiliki sejak awal.

Dan aku mulai menyadari bahwa aku juga pernah mengambil pilihan darinya.

Pada hari ketujuh, aku tahu permainan itu. Aku bisa menghadapi Helena. Bisa mengatakan aku mendengar semuanya dan memintanya berhenti. Sebaliknya, aku memilih ikut bermain karena beberapa minggu palsu terasa lebih baik daripada kembali nggak terlihat.

Aku menikmati setiap sentuhan sambil diam-diam menyimpan luka. Membiarkan dia percaya aku nggak tahu, lalu menghukumnya dengan kepergian yang nggak pernah kubicarakan.

Aku menyebut itu cara melindunginya dari rasa bersalah.

Sebagian memang begitu.

Sebagian lain adalah ketakutanku sendiri.

Kalau aku bertanya dan dia bilang semuanya palsu, aku takut hancur. Kalau dia bilang sudah berubah menjadi cinta, aku takut nggak sanggup percaya. Jadi aku pergi sebelum dia bisa memberi jawaban, lalu berpura-pura keputusan sepihak itu adalah pengorbanan.

Kami berdua sama-sama pengecut dengan cara berbeda.

Helena menunda kebenaran supaya aku nggak pergi.

Aku menyembunyikan luka lalu pergi supaya nggak perlu mendengar kebenaran.

Ponsel berdering saat aku masih menatap kotak ketiga puluh yang kosong. Damar menelepon video dengan latar ruang server.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak bisa menelepon teman sendiri?”

“Bisa. Tapi kamu biasanya punya masalah.”

“Masalah gue sekarang biaya konsultasi.”

“Konsultasi apa?”

“Terapi hubungan jarak jauh yang nggak pernah gue daftarkan.” Wajahnya memenuhi layar. “Tiga puluh hari gue harus dengar laporan dua sisi. Dia nggak lewat gue buat membujuk, tapi tiap makan siang mukanya bikin satu lantai depresi. Lo tiap malam bertanya hal teknis yang sebenarnya bisa dicari sendiri cuma supaya ada alasan menelepon Jakarta.”

“Saya memang butuh data.”

“Kemarin lo tanya suhu ruang server.”

“Itu penting.”

“Termometernya terhubung ke dashboard lo.”

Aku diam.

Damar menyandarkan ponsel. “Pesan terakhir sudah masuk?”

“Sudah.”

“Lo jawab?”

“Belum.”

“Mau jawab?”

Aku melihat kalimat di draf. Jangan kasih tempat itu ke orang lain dulu.

“Mau.”

“Terus?”

“Saya dapat jadwal evaluasi proyek di Jakarta.”

Damar berhenti bicara. “Kapan?”

“Senin.”

Senyumnya muncul perlahan. “Nah.”

“Jangan beri tahu siapa pun.”

“Biaya tutup mulut mahal.”

“Apa?”

“Oleh-oleh.”

“Kamu serius?”

“Sangat. Gue mau cokelat yang kotaknya bagus, bukan gantungan kunci Merlion beli di bandara.”

“Saya belum bilang akan menemui dia.”

“Lo menelepon gue dengan muka orang yang baru selesai instal ulang hati. Pasti ketemu.”

“Kalimatmu mengerikan.”

“Efektif.”

Dia mendekat ke kamera. “Dan kalau kali ini lo kabur lagi, oleh-olehnya dua.”

Sambungan berakhir sebelum sempat kujawab.

Aku membuka surel evaluasi. Perusahaan menanggung tiket pulang-pergi, tetapi kursi penerbangan yang mereka pilih berangkat Minggu malam dan tiba terlalu larut.

Aku menggantinya dengan penerbangan Minggu pagi menggunakan biaya sendiri.

Saat memilih kursi, sistem menawarkan 18A.

Aku menatap nomor itu, teringat tisu dinosaurus dan seorang anak kecil yang menyuruhku mengakui ketakutan.

Kali ini kupilih 18C, sisi lorong. Aku nggak ingin melihat Jakarta dari jauh. Aku ingin keluar dari pesawat secepat mungkin.

Setelah tiket terbit, aku membuka aplikasi kafe dekat kantor. Americano tanpa gula masuk pesanan otomatis. Jempolku berhenti di jumlah satu.

Aku menambah latte.

Dua kopi.

Rutinitas kecil yang dulu dimulai dari kebohongan. Mungkin sekarang bisa dibawa sebagai sesuatu yang jujur.

Ponselku masih menampilkan pesan ketiga puluh. Nggak ada pesan tambahan. Helena benar-benar berhenti seperti janjinya.

Aku membuka draf sekali lagi.

Jangan kasih tempat itu ke orang lain dulu.

Aku nggak mengirim.

Bukan untuk menghukumnya dengan diam. Kali ini aku ingin mengatakan keinginanku sambil berdiri di depannya, memberi dia kesempatan menolak, bertanya, atau meminta waktu—semua hal yang dulu nggak pernah kuberikan.

Aku mematikan laptop, mengambil kalender digital, lalu menandai penerbangan pulang.

Nggak ada kotak yang kucoret.

Nggak ada hitung mundur.

Hanya satu keputusan yang akhirnya kuambil tanpa berpura-pura itu demi orang lain.

Aku ingin kembali melihatnya.