Chapter One
Empat Dewi dan Satu Taruhan
POV: Helena
Kalau empat perempuan dari divisi Design masuk lift bareng, biasanya ada tiga hal yang terjadi.
Orang-orang mendadak berdiri lebih tegak. Percakapan yang tadinya ribut turun setengah volume. Terus seseorang—biasanya anak baru—pasti salah pencet lantai karena terlalu sibuk melirik pantulan kami di pintu lift.
Hari itu korbannya seorang intern dari divisi Finance.
Dia harusnya turun di lantai sebelas, tapi ikut kami sampai rooftop. Begitu pintu terbuka dan angin sore menerpa wajahnya, dia menatap angka di atas pintu, menatap kami, lalu kembali menatap angka itu seperti berharap gedungnya yang salah.
“Mas,” kata Rania lembut, “Finance di lantai sebelas.”
“Oh. Iya. Saya tahu.”
Nadine mengangkat sebelah alis. “Terus ngapain ikut naik?”
“Saya… suka pemandangan.”
Keisha mengangguk bijak. “Semangat. Turunnya dua lantai.”
Pintu lift menutup lagi bersama wajah merah si intern. Kami bertahan tepat tiga detik sebelum akhirnya tertawa.
“Kasihan, anjir,” ujar Rania, meski dia yang tertawa paling keras.
“Dia beruntung,” sahut Keisha sambil membenahi blazer putihnya. “Nggak semua orang dapat kesempatan tur gedung gratis ditemani empat perempuan tercantik di kantor.”
“Tiga,” kata Nadine datar. “Lo kelihatan kayak debt collector.”
“Debt collector yang hot.”
Aku membiarkan mereka saling serang sambil berjalan menuju lounge rooftop. Dua orang dari tim Sales yang sedang duduk dekat pintu langsung menggeser kursi agar jalan kami lebih lebar, padahal lorongnya cukup dilalui tiga orang sekaligus. Salah satunya menyapaku terlalu semangat sampai sedotan minumannya menusuk hidung sendiri.
Aku membalas dengan senyum kecil. Bukan karena tertarik. Aku cuma menghargai usaha orang yang rela kehilangan harga diri di depan umum.
Di kantor, orang-orang menyebut kami Circle Cewek Metro. Entah siapa yang mulai. Mungkin karena kami selalu kelihatan terlalu rapi untuk jam sembilan pagi, terlalu sibuk buat makan siang di kantin, dan terlalu sering menghabiskan Jumat malam di tempat yang harga air mineralnya bisa dipakai beli dua porsi nasi padang.
Ada juga yang memanggil kami Empat Dewi. Yang itu jelas bukan kami yang bikin.
Kami cuma nggak pernah membantah.
“Meja biasa, Mbak?” tanya staf lounge begitu melihat kami.
Keisha menunjuk meja pojok dekat dinding kaca. “Sama pesanan biasa. Tambahin satu sparkling water buat anak saleh.”
Rania mendengus. “Gue nyetir.”
“Makanya gue bilang anak saleh, bukan anak miskin.”
“Mulut lo gue lempar dari rooftop.”
Hari itu kami punya alasan buat merayakan. Campaign rebranding yang bikin tim Design tidur rata-rata empat jam selama dua minggu akhirnya diterima direksi tanpa revisi besar. Presentasiku bahkan ditutup dengan tepuk tangan—hal yang jarang terjadi di ruangan berisi orang-orang yang biasanya lebih suka mengangguk sambil mengecek surel.
Begitu minuman datang, Keisha mengangkat gelasnya.
“Buat presentasi paling cantik yang pernah menyelamatkan konsep gue dari kematian.”
Aku menyentuhkan gelasku ke gelasnya. “Konsep lo selamat karena desain gue.”
“Gue tadi bilang apa?”
“Lo bilang presentasinya yang cantik.”
“Gue berusaha nggak bikin kepala lo makin besar.”
Nadine ikut mengangkat gelas. “Udah terlambat sekitar dua puluh tujuh tahun.”
Rania menahan tawa sambil menyeruput sparkling water. Aku menendang kakinya pelan di bawah meja. Dia malah hampir tersedak.
Obrolan berpindah dari pekerjaan ke gosip kantor, lalu ke rencana liburan yang nggak pernah cocok karena jadwal kami berempat. Sampai seorang manajer dari divisi Business datang menghampiri meja, memberi selamat atas presentasi tadi, lalu bertanya apakah aku punya waktu untuk makan malam akhir pekan ini.
Keisha melihat jam tangannya saat laki-laki itu mulai bicara.
Aku menolak dengan halus. Dia menerimanya dengan cukup dewasa, meski senyumnya turun sekitar tiga sentimeter sebelum pergi.
“Empat puluh dua detik,” kata Keisha.
Aku menyandarkan punggung ke kursi. “Apa?”
“Dari kita duduk sampai ada yang ngajak lo kencan. Rekor lama satu menit sebelas detik.”
“Lo ngitungin begituan?” tanya Rania.
“Gue suka statistik.”
Nadine mendengus. “Lo bahkan nggak bisa bikin rumus Excel buat total pengeluaran bulanan.”
“Itu karena gue menghargai kesehatan mental.”
Aku memutar sisa minuman di gelas. “Terus kenapa kalau dia ngajak gue makan?”
“Nggak kenapa-kenapa.” Keisha menopang dagu. “Cuma membosankan.”
“Maksud lo, dia membosankan?”
“Bukan dia. Hidup lo.”
Aku menatapnya.
Rania langsung bergeser sedikit, menjauh dari jalur tembak.
Keisha sama sekali nggak gentar. “Semua cowok yang lo tatap lebih dari lima detik langsung ngerasa punya kesempatan. Lo nggak pernah berusaha. Nggak ada tantangannya.”
“Jadi lo mau gue sengaja bikin hidup susah?”
“Sesekali. Biar punya cerita.”
Nadine, yang dari tadi membaca pesan di ponselnya, akhirnya mengangkat kepala. “Dia ada benarnya.”
“Pengkhianat,” kataku.
“Bukan pengkhianat. Objektif.” Dia meletakkan ponselnya di meja. “Lo selalu milih orang yang udah jelas tertarik. Begitu bosan, lo pergi. Nggak pernah ada fase lo harus bertanya-tanya.”
Aku ingin membantah, tapi daftar lelaki yang pernah mendekatiku lewat di kepala seperti slide presentasi. Nadine menyebalkan karena dia jarang bicara tanpa data, bahkan ketika datanya adalah riwayat percintaanku yang seharusnya bukan urusan dia.
“Oke.” Aku menyilangkan tangan. “Maunya apa?”
Senyum Keisha muncul terlalu cepat. Rupanya dia sudah menunggu pertanyaan itu.
“Taruhan.”
“Nggak,” kata Rania spontan.
“Gue bahkan belum jelasin.”
“Setiap ide yang lo mulai dengan kata taruhan berakhir buruk. Terakhir kali gue pulang bawa lampu neon bentuk pisang.”
“Dan lampunya lucu.”
“Nyokap gue pikir itu simbol sekte.”
Aku tertawa, lalu memberi isyarat agar Keisha melanjutkan.
Dia mencondongkan badan ke tengah meja. “Tiga puluh hari. Lo pilih satu cowok di kantor yang nggak populer, introvert, nerd, atau minimal susah dideketin. Dalam tiga puluh hari, lo harus bikin dia nembak lo atau bilang dia suka.”
Rania membelalakkan mata. “Itu jahat.”
“Makanya ada aturan,” kata Nadine, terlalu tenang untuk seseorang yang lima detik lalu belum tahu taruhan ini. “Target harus single. Bukan bawahan langsung. Nggak boleh dipermalukan di depan orang. Nggak boleh pakai uang atau janji promosi.”
Keisha menjentikkan jari. “Nah. Ini alasan gue berteman sama lo.”
“Gue belum bilang setuju.”
“Tapi lo udah menyusun terms and conditions,” kataku.
Nadine mengangkat bahu. “Gue benci permainan tanpa aturan.”
Aku melirik Rania. “Lo?”
Dia kelihatan nggak nyaman, tetapi rasa ingin tahunya jelas lebih besar daripada keberatannya. “Kalau orangnya beneran sakit hati gimana?”
Pertanyaan itu menggantung sebentar.
Keisha mengaduk es di gelasnya. “Yang harus dia lakukan cuma bilang suka. Setelah itu selesai. Kita nggak akan menyebarkan apa pun. Ini cuma antara kita berempat.”
Seharusnya aku berhenti di sana. Seharusnya aku bilang perasaan orang bukan bahan hiburan, lalu memesan makanan dan mengganti topik.
Tapi saat itu semuanya terdengar ringan. Tiga puluh hari. Sedikit flirting. Satu pengakuan. Nggak ada yang harus benar-benar jatuh cinta.
“Hadiahnya?” tanyaku.
Keisha tersenyum lebar.
Lima menit kemudian, foto sebuah tas desainer warna burgundy terpampang di tengah meja. Tas yang dua minggu lalu hampir kubeli sebelum akal sehat datang terlambat dan mengingatkan bahwa aku sudah punya terlalu banyak tas.
“Kalau gue menang, kalian bertiga patungan,” kataku.
“Kalau lo kalah,” ujar Nadine, “lo yang beliin kami masing-masing satu.”
“Masing-masing?”
“Takut?” Keisha menyeringai.
Aku mengambil gelasku, meneguknya pelan, lalu memandang sekeliling lounge.
Ada beberapa kandidat yang langsung gugur. Terlalu mudah. Terlalu percaya diri. Terlalu sering mengirim emoji api ke Instagram Story-ku. Aku butuh seseorang yang bahkan nggak akan sadar sedang didekati sampai semuanya terlambat.
Mataku berhenti di ujung ruangan.
Seorang lelaki berjongkok di dekat panel proyektor, sedikit terpisah dari keramaian. Kemejanya abu-abu gelap dengan lengan digulung sampai siku. Kartu identitas tergantung miring di dada. Satu tangannya memegang kabel, sementara tangan lain mengetik sesuatu di laptop.
Orang-orang berjalan melewatinya tanpa benar-benar melihat. Seorang staf lounge mengatakan sesuatu, dan lelaki itu mengangkat wajah lalu tersenyum kecil. Bukan senyum untuk cari perhatian. Bukan juga senyum sopan yang dipaksakan. Senyum itu muncul sebentar, hangat, lalu hilang saat dia kembali bekerja.
Aku pernah melihatnya di kantor. Mas-mas IT yang datang ketika layar mati, internet putus, atau seseorang lupa password untuk ketiga kalinya dalam seminggu. Dia jarang ikut makan siang bersama divisi lain. Di acara kantor, dia biasanya berdiri dekat pintu, lalu menghilang sebelum sesi foto.
“Yang itu,” kataku.
Tiga kepala mengikuti arah pandanganku.
Rania mengernyit. “Siapa?”
“Erga Pratama,” jawab Nadine. Tentu saja dia tahu. “IT Infrastructure.”
Keisha memandang lelaki itu cukup lama, lalu kembali kepadaku. “Serius? Dia kayaknya susah banget diajak ngobrol.”
“Katanya mau tantangan.”
Seolah sadar sedang diperhatikan, Erga mengangkat kepala.
Pandangan kami bertemu dari seberang ruangan.
Aku memberinya senyum yang biasanya cukup untuk membuat lelaki datang menghampiri. Erga diam selama dua detik, menatapku seolah sedang memastikan senyum itu memang ditujukan kepadanya.
Lalu dia membalas dengan anggukan kecil dan kembali pada kabel di tangannya.
Nggak datang. Nggak tersenyum gugup. Nggak memeriksa penampilannya.
Menarik.
Aku mengangkat gelas.
“Tiga puluh hari,” kataku.
Keisha menyentuhkan gelasnya ke gelasku, disusul Nadine. Rania paling akhir, masih dengan wajah ragu.
“Kalau dalam tiga puluh hari dia bilang suka sama gue,” lanjutku, “tas itu jadi milik gue.”
Keisha tertawa. “Selamat bermain.”
Di ujung ruangan, Erga menutup laptopnya dan berdiri. Untuk sesaat, matanya kembali ke arah meja kami.
Aku belum tahu kalau malam itu bukan awal permainan yang akan kumenangkan.
Itu awal dari hitung mundur yang bahkan belum kupahami.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan reading
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur