Chapter Two
Target Bernama Erga Pratama
POV: Helena
Keisha membuat grup baru sebelum aku sampai rumah.
Namanya Operasi Mas IT.
Foto grupnya tas burgundy yang jadi hadiah taruhan. Deskripsinya lebih menyebalkan lagi: Tiga puluh hari. Satu pengakuan. Jangan baper sebelum menang.
Aku baru membuka sepatu ketika ponselku bergetar sebelas kali berturut-turut.
Keisha: Besok mulai.
Rania: Bisa nggak nama grupnya jangan kayak operasi penangkapan buronan?
Nadine: Sudah cek LinkedIn. Erga Pratama, IT Infrastructure Engineer, hampir empat tahun di kantor.
Keisha: Status?
Nadine: LinkedIn bukan KUA.
Rania: Gue masih merasa ini ide buruk.
Keisha: Tapi lo nggak keluar grup.
Rania: Gue harus ngawasin kalian.
Aku menjatuhkan tubuh ke sofa dan tertawa sendiri. Baru juga beberapa jam, mereka sudah memperlakukan taruhan itu seperti proyek lintas divisi. Kalau kemampuan koordinasi kami sebagus ini saat kerja, mungkin campaign kemarin selesai tanpa lembur.
Aku: Jangan ada yang ganggu target. Gue yang urus.
Tiga stiker masuk hampir bersamaan. Keisha mengirim gambar perempuan hormat, Nadine mengirim kaca pembesar, sementara Rania mengirim orang berdoa.
Aku memperbesar foto profil Erga di LinkedIn. Foto lama, mungkin diambil saat baru masuk kantor. Rambutnya lebih pendek. Kemeja biru muda. Senyum tipis yang kelihatan seperti muncul karena fotografer memintanya tiga kali.
Informasinya nyaris nggak ada selain riwayat kerja dan daftar sertifikasi dengan nama-nama yang membuatku mengantuk. Akun Instagram-nya terkunci, foto profilnya cuma langit sore, pengikutnya sedikit, dan bio-nya kosong.
Benar-benar nggak membantu.
Biasanya aku bisa menebak cara menghadapi seorang lelaki dalam sepuluh menit. Ada yang suka dipuji. Ada yang harus dibuat cemburu. Ada yang cuma butuh satu balasan Story sebelum mulai menceritakan hidupnya tanpa diminta.
Erga seperti halaman kosong.
Aneh, tapi justru itu yang membuatku susah meletakkan ponsel.
Besok paginya, Circle Cewek Metro sudah berkumpul di meja kerjaku bahkan sebelum komputer menyala. Rania membawa empat kopi. Nadine membawa tablet. Keisha membawa semangat yang seharusnya dilarang muncul sebelum jam sembilan.
“Briefing,” katanya.
“Gue punya kerjaan.”
“Ini kerjaan.”
“Tas gue bukan KPI divisi.”
“Belum.”
Nadine membuka catatannya. “Informasi sementara. Jarang ikut gathering. Makan siang sering sendirian atau sama satu anak IT yang berisik. Nggak pernah kelihatan dekat sama siapa pun. Pulang rata-rata jam setengah tujuh kalau nggak ada masalah server.”
Aku menatapnya. “Lo dapat dari mana?”
“Observasi.”
Keisha menyambar, “Dia nanya office boy.”
“Itu bagian dari observasi.”
Rania meletakkan kopi di depanku. “Statusnya belum jelas. Jangan mulai sebelum kita yakin dia single.”
“Gue nggak akan ganggu pacar orang.”
“Syukurlah masih ada etika yang selamat,” gumamnya.
Kesempatan datang saat jam makan siang. Damar—anak IT yang menurut Nadine berisik—masuk ke pantry sambil membawa mi instan dan kabel LAN entah untuk apa. Keisha langsung menendang tulang keringku di bawah meja.
Aku menendang balik.
Nadine yang mengambil alih.
“Mas Damar,” panggilnya santai. “Teman satu tim kamu yang kemarin benerin proyektor namanya siapa?”
Damar menatap kami berempat, lalu menatap mi instannya seperti sedang mempertimbangkan apakah makan siang layak dipertaruhkan. “Yang tinggi, berkacamata, ekspresinya kayak habis baca tagihan listrik?”
Keisha mengangguk. “Deskripsi yang penuh kasih.”
“Erga. Kenapa?”
“Dia punya pacar?” tanya Nadine langsung.
Damar hampir menjatuhkan garpunya. “Ini survei perusahaan?”
“Bukan.”
“Investigasi pajak?”
“Bukan.”
“Kalian mau jual asuransi?”
Aku menopang dagu. “Mas Damar selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?”
Dia melirikku, lalu matanya membesar sedikit. “Oh.”
Keisha menyipit. “Oh kenapa?”
“Nggak. Nggak kenapa-kenapa.” Dia duduk lebih tegak. “Setahu saya dia single. Sangat single. Single yang kalau Sabtu malam diajak keluar malah nanya ada server mana yang mati.”
Rania menutup wajah dengan tangan. “Kasihan banget.”
“Dia baik-baik aja,” kata Damar. “Cuma nggak sadar kalau orang lagi ngasih kode. Pernah ada cewek ngajak nonton film berdua, dia malah bikin polling di grup kantor biar yang lain bisa ikut.”
Keisha menoleh kepadaku dengan senyum puas. “Cocok.”
“Cocok buat apa?” tanya Damar.
Kami menjawab bersamaan, “Nggak ada.”
Damar membawa mi dan kabelnya pergi tanpa terlihat yakin. Begitu pintu pantry menutup, Rania menunjuk kami satu per satu.
“Gue serius. Jangan sampai dia dipermalukan.”
Aku mengangkat kedua tangan. “Nggak akan.”
Waktu itu aku benar-benar percaya janji tersebut cukup untuk membuat semuanya aman.
Menjelang sore, aku turun ke lantai tujuh, tempat divisi IT menempati sudut paling dingin di gedung. Ruangannya penuh monitor ganda, kardus perangkat, dan suara ketikan yang terdengar seperti hujan kecil.
Beberapa kepala terangkat saat aku masuk. Seorang lelaki yang sedang minum langsung salah menelan. Perempuan di meja dekat pintu menyapa ramah, lalu bertanya siapa yang kucari.
“Mas Erga ada?”
Suara ketikan di ruangan itu nggak berhenti, tapi ritmenya jelas berubah.
Perempuan tadi menunjuk baris meja dekat jendela. Erga sedang memakai headset, fokus pada layar penuh tulisan putih di atas latar hitam. Kemejanya hari itu hitam polos. Lengan bajunya kembali digulung sampai siku.
Aku berjalan mendekat. Damar melihatku lebih dulu dari meja seberang. Mulutnya membentuk huruf O sebelum buru-buru pura-pura sibuk.
Aku berhenti di samping Erga dan mengetuk meja dua kali.
Dia menoleh. Ada jeda singkat saat tatapannya berpindah dari wajahku ke kartu identitas di leherku, lalu kembali lagi. Dia melepas headset.
“Mbak dari Design?”
“Kedengarannya kayak aku datang buat nagih revisi.”
“Biasanya orang Design ke sini karena ada yang rusak.”
“Kalau nggak ada yang rusak, aku nggak boleh datang?”
Erga kelihatan memikirkan jawabannya terlalu serius. “Boleh.”
Cuma satu kata. Nggak ada senyum gugup. Nggak ada pujian. Bahkan matanya kembali ke layar seolah kedatanganku cuma notifikasi yang belum tahu harus diapakan.
Aku menarik kursi kosong di meja sebelah dan duduk. “Aku mau bilang makasih buat proyektor kemarin. Kalau mati di tengah presentasi, mungkin sekarang aku lagi cari lowongan kerja.”
“Nggak akan sampai begitu.”
“Mas yakin banget sama kemampuan presentasiku?”
“Sama proyektornya.”
Dari meja seberang terdengar suara batuk yang sangat mirip orang menahan tawa.
Aku mencondongkan tubuh untuk melihat layar Erga. Isinya sama sekali nggak kupahami. Erga menggeser kursinya sedikit. Bukan menjauh. Dia justru memberi ruang agar aku bisa berdiri di sampingnya tanpa menabrak laci.
Gerakan kecil itu membuat bahuku hampir menyentuh bahunya.
“Ini apa?” tanyaku.
“Log server.”
“Kelihatannya rumit.”
“Kalau dibaca dari jauh, iya.”
Aku mendekat sedikit lagi. “Kalau dari dekat?”
Baru kali itu Erga benar-benar menatapku. Matanya gelap di balik kacamata, tenang, tapi nggak kosong. Ada sesuatu yang lewat cepat di sana sebelum dia kembali menghadap monitor.
“Tetap rumit,” jawabnya.
Aku tersenyum. “Aku kira Mas Erga bakal menawarkan ngajarin.”
“Kalau Mbak mau.”
“Aku mau.”
Dia terdiam. Ujung telinganya berubah merah tipis.
Akhirnya. Satu reaksi.
Ponselku bergetar di dalam tas. Aku nggak perlu melihat untuk tahu tiga orang sedang menunggu laporan.
Aku bangkit dan mengambil kartu namanya yang tergeletak dekat keyboard, pura-pura membacanya meski sudah hafal sejak semalam.
“Erga Pratama,” ucapku. “Nanti kalau ada yang rusak, aku cari Mas, ya?”
Tatapannya turun sebentar ke jariku yang masih menahan ujung kartu itu.
“Bikin tiket dulu.”
Aku tertawa. “Galak juga.”
“Prosedur.”
Aku mengembalikan kartu itu, sengaja membiarkan ujung jariku menyentuh punggung tangannya. Erga diam, tetapi kali ini matanya mengikuti gerakanku sampai aku melepaskan tangan.
“Sampai ketemu lagi, Mas.”
“Iya, Mbak.”
Aku berjalan keluar tanpa menoleh. Begitu pintu ruang IT menutup, aku membuka grup.
Keisha: GIMANA?
Rania: Lo nggak bikin dia takut, kan?
Nadine: Berapa lama interaksi?
Aku mengetik sambil tersenyum.
Aku: Target dikonfirmasi. Sulit, tapi bukan mustahil.
Balasan Keisha datang seketika.
Keisha: Hari nol. Semoga berhasil, Dewi Metro.
Aku memasukkan ponsel ke tas. Tantangan itu baru dimulai, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku nggak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan seorang lelaki.
Dan aku menyukainya.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama reading
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur