Chapter Thirty

Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya

POV: Helena

Aku nggak datang ke kantor selama dua hari.

Hari pertama, aku bilang migrain. Hari kedua, aku nggak memberi alasan. Ponsel dibiarkan menyala hanya karena aku terus berharap satu nama muncul di layar.

Erga nggak membalas satu pun pesan.

Aku mencoba semua bentuk kalimat.

Panjang.

Pendek.

Marah.

Memohon.

Aku sudah membatalkan taruhannya.

Aku benar-benar cinta sama kamu.

Kenapa kamu nggak memberi aku kesempatan menjelaskan?

Aku tahu aku nggak berhak minta, tapi tolong jawab.

Setiap pesan punya dua centang, lalu tetap sunyi.

Pada malam kedua, aku berhenti mengirim. Bukan karena sudah menyerah. Aku akhirnya memahami bahwa selama ini aku selalu memaksakan waktu yang nyaman untukku. Aku menentukan kapan mendekat, kapan menggoda, kapan membatalkan taruhan, dan kapan akan mengaku.

Sekarang dia menentukan jarak.

Menyakitkan, tetapi aku harus menghormatinya.

Hari ketiga puluh tiga, aku kembali ke kantor.

Keisha, Nadine, dan Rania berdiri ketika melihatku. Nggak ada satu pun yang langsung memeluk. Mungkin wajahku cukup menjelaskan bahwa sentuhan mendadak akan membuatku runtuh.

“Lo sudah makan?” tanya Rania hati-hati.

“Sudah.”

“Bohong,” kata Nadine.

“Setengah roti.”

“Itu bukan makan.”

“Dua gigitan besar.”

Keisha mengambil tas dari bahuku dan menaruhnya di kursi. “Kita bicara di ruang meeting.”

Kami masuk ke ruangan yang sama tempat taruhan dibatalkan. Printer terkutuk di sudut sudah diberi kertas baru. Melihatnya saja membuat perutku mual.

Rania menangis lebih dulu.

“Maaf,” katanya. “Gue benar-benar minta maaf.”

Nadine menunduk. “Gue juga. Harusnya dari awal gue nggak ikut.”

Keisha duduk paling jauh, kedua tangan saling menggenggam di atas meja. “Ide awalnya dari gue.”

“Gue yang menerima,” jawabku.

“Tapi gue yang pilih syaratnya. Cowok introvert, susah didekati, bikin dia nembak dalam tiga puluh hari. Gue bikin manusia jadi tantangan.”

“Dan gue bilang iya.” Suaraku terdengar lebih tenang daripada yang kurasakan. “Gue yang lihat dia di ruangan itu dan memutuskan dia target paling menarik. Gue yang bikin tiket palsu. Gue yang terus datang meskipun mulai sadar perasaan gue berubah.”

Rania mengusap air mata. “Kita semua salah.”

“Iya.”

Nggak ada gunanya memilih siapa paling bersalah. Semua jalan menuju meja kosong itu dibangun bersama, tetapi aku yang berjalan paling jauh di atasnya.

Keisha membuka laptop. “Grupnya sudah gue hapus dari ponsel, tapi bot otomatisnya masih aktif di akun lama. Gue matikan sekarang.”

Dia masuk ke dashboard kecil yang dulu dibuat hanya untuk lelucon. Di layar ada catatan tiga puluh hari, skor, dan satu ikon piala besar di akhir.

“Hapus permanen,” kataku.

Keisha menggerakkan kursor ke tombol merah.

Printer di sudut mendadak menyala.

Kami berempat menoleh bersamaan.

Satu lembar kosong keluar.

Kemudian mesin berhenti.

Nadine menatap kertas itu. “Dia mengejek kita.”

Untuk pertama kali sejak dua hari, aku tertawa. Hanya sebentar, lalu air mata langsung ikut turun.

“Bahkan printernya tahu semuanya sudah kosong,” kataku.

Keisha menekan hapus. Kali ini nggak ada salinan baru. Grup, spreadsheet, bot, dan semua catatan tentang Operasi Mas IT hilang.

Namun menghapus data jauh lebih mudah daripada menghapus apa yang sudah kami lakukan.

“Kita susul dia,” kata Rania tiba-tiba. “Kita beli tiket, datang ke kantornya, jelasin semuanya. Gue ikut. Kita semua minta maaf.”

“Nggak.”

“Tapi dia perlu tahu taruhannya sudah selesai.”

“Dia sudah tahu dari pesan aku.”

“Mungkin dia belum percaya.”

“Kalau aku datang mendadak, berdiri di depan kantornya, lalu memaksa dia mendengar karena aku sudah terbang jauh, apa bedanya dengan sebelumnya?”

Rania terdiam.

Aku memegang potongan puzzle hitam di saku rok. “Dia pergi karena dari awal nggak pernah diberi pilihan yang jujur. Aku nggak akan mengambil pilihannya lagi dengan kejutan romantis besar.”

Keisha menatapku. “Jadi lo akan diam saja?”

“Nggak.”

Aku sudah memikirkan ini sepanjang malam. Mengejar bukan selalu berarti berdiri di bandara sambil menangis atau datang membawa bunga. Kadang mengejar berarti memperbaiki diri cukup lama, meminta maaf tanpa menuntut jawaban, lalu menunggu orang yang terluka memutuskan apakah dia ingin membuka pintu.

“Gue akan kirim satu surat,” lanjutku. “Semua kebenaran. Nggak ada pembelaan. Setelah itu, gue kasih dia waktu.”

“Berapa lama?” tanya Nadine.

“Selama yang dia butuh.”

Mengatakannya membuat dadaku sakit. Tetapi cinta yang cuma sabar selama sesuai jadwalku bukan cinta. Itu bentuk lain dari kontrol.

Kami keluar dari ruang meeting hampir satu jam kemudian. Saat melewati divisi IT, kakiku berhenti sendiri.

Meja itu sekarang dipakai menumpuk dua monitor cadangan. Nggak ada kopi tanpa gula. Nggak ada kalender. Kursinya sudah digeser ke meja junior.

Damar melihatku dari seberang ruangan. Dia membuka laci dan mengeluarkan sebuah mug hitam.

“Ini ketinggalan,” katanya.

Aku menerimanya dengan kedua tangan.

Mug itu pernah kupakai minum kopi Erga tanpa izin. Di salah satu sisinya ada bekas lipstik merah samar. Sudah lama, mungkin dari minggu pertama. Bekas itu nggak pernah dibersihkan sepenuhnya.

“Dia sengaja ninggalin?” tanyaku.

“Nggak tahu. Semua barang lain dibawa.” Damar menatap bekas lipstik itu. “Tapi mug ini ada di belakang laci, dibungkus tisu.”

Seolah pernah hendak dibawa, lalu berubah pikiran.

Aku mengusap noda merah dengan ibu jari. “Mas Damar marah sama aku?”

“Iya.”

Jawaban jujur itu terasa pantas.

“Tapi dia juga bikin saya marah,” lanjutnya. “Kalian berdua sama-sama ahli mengambil keputusan besar tanpa memberi orang lain kesempatan bicara.”

Aku menunduk.

“Kalau mau memperbaiki,” katanya, “jangan datang dengan jawaban yang sudah Mbak tentukan buat dia.”

“Aku tahu.”

“Bagus.” Damar kembali duduk. “Dan tolong bawa mug itu. Setiap lihat noda lipstik, anak-anak IT kehilangan konsentrasi.”

Seorang junior menyahut dari belakang monitor, “Saya kira itu logo baru.”

Damar melempar gulungan tisu ke arahnya.

Sabtu, Circle memaksaku keluar apartemen. Katanya aku perlu udara, makanan, dan pakaian baru. Keisha memilih pusat perbelanjaan terbesar seolah kesedihan bisa dikalahkan oleh diskon.

Aku mengikuti mereka tanpa tenaga. Nadine membawa tiga gaun ke ruang ganti. Rania membeli es krim. Keisha melarang siapa pun menyebut nama laki-laki selama dua jam.

Aturan itu bertahan sebelas menit.

Kami melewati bagian pakaian pria dan aku melihat kemeja biru tergantung di manekin. Warnanya hampir sama dengan yang dipakai Erga pada malam terakhir.

Langkahku berhenti.

Aku menyentuh ujung lengannya.

“Mas, ini cocok,” kataku refleks.

Nggak ada jawaban.

Manekin itu tentu saja diam.

Tangisku pecah di tengah toko.

Rania buru-buru memeluk dari kiri, Nadine dari kanan. Keisha berdiri di depan mencoba menutupi pandangan pengunjung lain menggunakan tubuhnya.

“Kita keluar,” katanya.

Seorang pramuniaga mendekat dengan panik. “Kak, ukurannya habis?”

Aku menangis lebih keras.

Keisha menjawab, “Bukan salah kemejanya, Mbak.”

“Mau warna lain?”

“Pacarnya pindah negara,” jelas Rania di sela tangisnya sendiri.

Pramuniaga itu mengangguk sangat serius. “Oh. Kalau begitu memang bukan ukuran.”

Kami akhirnya duduk di kedai kopi dengan empat gelas minuman dan satu kantong berisi kemeja biru yang diam-diam dibeli Nadine. Katanya bukan buat siapa-siapa, cuma supaya aku berhenti menatap manekin.

Malamnya, aku pulang membawa mug hitam ke kamar.

Aku membuka percakapan lama dan memutar pesan suara Erga.

Pesan pertama cuma tujuh detik.

“Jangan lupa makan. Obat lambungnya setelah itu.”

Pesan kedua:

“Hujan. Tunggu di lobi, saya jemput.”

Pesan ketiga dikirim setelah lembur:

“Kalau sudah sampai, kabari. Jangan tidur di mobil.”

Dulu semua terdengar biasa. Sekarang aku mendengar cinta tersembunyi di setiap kata pendek. Dia nggak pernah pandai membuat kalimat besar. Perasaannya hidup di kopi yang tepat, jaket yang dipakaikan, payung yang dimiringkan ke arahku, dan suara datar yang memastikan aku sudah makan.

Aku memutar pesan terakhir berulang kali sampai hafal setiap jeda napasnya.

Lalu aku mengambil kertas baru.

Aku menulis tanpa mencoba membuatnya cantik.

Aku nggak akan meminta kamu pulang.

Tanganku gemetar, tetapi kulanjutkan.

Aku cuma ingin mengembalikan pilihan yang seharusnya kamu punya sejak awal.

Di samping kertas, dua potongan puzzle sudah kusatukan.

Aku adalah perempuan yang menang pada hari ketiga puluh dan kehilangan semuanya sebelum sempat merayakan.

Untuk pertama kalinya, aku nggak sedang menyusun cara agar seorang laki-laki memilihku.

Aku sedang belajar mencintainya tanpa mencuri haknya untuk berkata tidak.