Chapter Thirteen

Batas yang Makin Tipis

POV: Erga

Aku pulang dari apartemen Helena membawa satu kesimpulan.

Aku harus berhenti datang terlalu dekat.

Kesimpulan itu terdengar masuk akal selama perjalanan pulang. Mulai terdengar lemah ketika dia mengirim pesan memastikan aku sudah sampai. Hilang sama sekali saat dia mengirim foto dirinya memakai kacamata, duduk di depan laptop yang baru kuperbaiki, dengan tulisan:

Helena: Pasien selamat. Dokternya boleh bangga.

Aku menyimpan fotonya sebelum membalas.

Lalu menghapusnya dari galeri.

Lalu membuka folder sampah dan memulihkannya lagi.

Nggak ada bagian dari proses itu yang menunjukkan kemampuan mengambil keputusan sehat.

Malam di apartemennya terus berulang di kepala. Posisi Helena di antara kedua kakiku. Rambutnya menyentuh lutut. Wajahnya saat menoleh dan menunggu sesuatu yang sangat jelas.

Kalau aku maju beberapa sentimeter, aku bisa menciumnya.

Dia akan membiarkan.

Mungkin malah itulah target berikutnya.

Pemikiran itu seharusnya membuatku marah. Yang muncul justru keinginan bodoh untuk kembali dan memberikan apa yang dia tunggu.

Besok paginya aku datang lebih awal, menyimpan kalender ke laci, lalu berjanji menjaga interaksi seperlunya. Janji itu bertahan sampai pukul sembilan lewat dua belas menit.

Sebelum Helena datang, Damar sudah lebih dulu menyerang.

“Gimana laptopnya?” tanyanya.

“Aman.”

“Pemiliknya?”

“Kenapa pemiliknya?”

“Aman juga setelah lo tinggal berdua di apartemen sampai hampir tengah malam?”

Aku menatap layar. “Lo dapat info dari mana?”

Ponselnya menyala di meja. Pesan dari Rania terlihat pada notifikasi: Dia pulang jam berapa? Temen lo nggak aneh-aneh, kan?

Aku menunjuk layar. “Jaringan intelijen?”

Damar buru-buru membalik ponsel. “Kerja sama lintas divisi.”

“Bilang teman kamu saya pulang baik-baik.”

“Cuma itu?”

Aku nggak menjawab.

Damar mengamati wajahku. “Lo suka banget sama dia, ya?”

Pertanyaan itu kehilangan nada bercanda. Aku membuka laci, melihat tiga belas kotak pada kalender, lalu menutupnya kembali.

“Nggak relevan.”

“Itu bukan jawaban.” Damar menghela napas. “Kalau lo terus ngerasa semua hal tentang diri lo nggak relevan, jangan kaget kalau orang lain ikut mikir begitu.”

Aku menatapnya, tetapi dia sudah memasang headset.

Kalimat itu tertinggal tepat ketika Helena muncul di depan meja.

Helena berdiri di depan meja memakai kemeja krem, rok hitam, dan ekspresi yang jauh lebih dingin daripada biasanya.

“Bisa bicara?” tanyanya.

Damar melihat kami bergantian. “Gue bisa pergi kalau ini soal laptop.”

“Bukan,” jawab Helena.

“Gue juga bisa pergi kalau bukan soal laptop.”

Aku berdiri sebelum dia mempermalukan dirinya lebih jauh. Helena berjalan menuju lorong kecil dekat ruang penyimpanan. Aku mengikutinya.

Begitu jauh dari meja orang lain, dia berbalik.

“Mas sengaja, ya?”

“Sengaja apa?”

“Bikin aku bingung.”

Aku memasukkan tangan ke saku supaya nggak melakukan sesuatu yang lebih buruk. “Saya nggak ngerti.”

“Di ruang server Mas pegang aku. Kemarin Mas datang ke apartemen, duduk dua jam, terus—” Dia berhenti, mungkin mencari kalimat yang nggak terlalu telanjang. “Terus Mas berhenti lagi.”

“Saya memperbaiki laptop.”

“Mas tahu aku bukan ngomongin laptop.”

Tentu aku tahu.

Helena maju satu langkah. “Mas selalu berhenti setiap suasananya mulai…”

“Mulai apa?”

“Jangan bikin aku yang ngomong semuanya.”

“Saya pikir kamu suka ngomong terus terang.”

Dia menyipitkan mata. “Oke. Mas mau cium aku semalam?”

Pertanyaan itu menghantam tanpa memberi ruang berlindung.

Aku bisa berbohong. Setelah semua yang kusembunyikan, satu kebohongan lagi seharusnya mudah.

“Mau,” jawabku.

Napas Helena tertahan. Kemarahannya goyah, digantikan sesuatu yang lebih lembut.

“Terus kenapa nggak?”

Karena aku tahu ini permainan. Karena aku sudah mencintaimu sebelum kamu memilihku sebagai target. Karena kalau aku mulai, aku mungkin nggak sanggup menganggapnya pura-pura.

“Karena saya nggak mau jadi sesuatu yang kamu sesali setelah bosan,” kataku.

Wajahnya berubah.

“Mas pikir aku segampang itu bosan?”

Aku teringat ruang meeting dan suara Keisha: Masih ada dua puluh tiga hari.

“Saya nggak tahu.”

“Tapi Mas sudah mutusin jawabannya sendiri.”

“Saya cuma menjaga batas.”

“Batas siapa? Mas atau aku?”

Aku nggak menjawab.

Helena tertawa pendek tanpa humor. “Aku nggak butuh Mas mutusin apa yang nanti aku sesali.”

“Dan saya nggak mau mengambil sesuatu cuma karena kamu lagi pengin main.”

Kalimat itu keluar lebih tajam daripada niatku.

Tatapannya membeku. Untuk sesaat aku takut sudah membongkar semuanya. Tapi Helena hanya terlihat tersinggung, bukan ketahuan.

“Main?” ulangnya.

Aku seharusnya berhenti. “Kamu suka bikin orang bereaksi. Saya ngerti. Tapi saya nggak mau jadi hiburan sampai kamu menemukan hal lain.”

Helena mundur setengah langkah. Aku langsung menyesal, tetapi rasa sakit tujuh hari lalu masih hidup dan mencari jalan keluar.

“Kalau itu yang Mas pikirin tentang aku,” katanya, “kenapa masih biarin aku dekat?”

Karena dua puluh tiga hari bersamamu terasa lebih berharga daripada harga diriku sendiri.

“Saya juga nggak tahu,” jawabku.

Helena berbalik hendak pergi.

Sesuatu jatuh dari tangannya dan berdenting di lantai. Sekrup kecil dari laptopnya menggelinding sampai dekat sepatuku. Aku mengenalinya—sekrup yang sempat kukira hilang semalam.

Helena membungkuk lebih dulu, tetapi aku ikut meraih. Jari kami bertemu di lantai.

“Aku mau balikin,” katanya.

“Simpan aja. Cadangan.”

“Mas selalu ninggalin barang di tempat perempuan?”

“Kamu satu-satunya.”

Kalimat itu membuat kami sama-sama diam. Helena masih memegang ujung sekrup, aku memegang sisi lainnya. Benda sekecil itu mendadak menjadi alasan untuk nggak melepaskan.

Dia akhirnya berdiri dan menaruhnya di telapak tanganku. “Aku nggak suka dianggap sama seperti perempuan lain yang mungkin pernah bikin Mas kecewa.”

“Nggak ada perempuan lain.”

“Terus kenapa Mas selalu siap ditinggal?”

Pertanyaannya terlalu tepat. Aku nggak punya jawaban yang bisa diberikan tanpa membongkar taruhan atau seluruh hidupku sebelum dia.

Aku hampir membiarkannya. Itu akan jadi akhir yang lebih sehat. Dia bisa kembali pada teman-temannya, menganggap targetnya gagal, lalu permainan selesai sebelum semakin merusak kami.

Tanganku bergerak lebih dulu, menangkap ujung lanyard-nya.

Helena berhenti. Dia menoleh pada tanganku, lalu wajahku.

“Maaf,” kataku. “Saya ngomong terlalu jauh.”

Dia nggak menjawab. Sebaliknya, Helena mengambil lanyard-ku dan menariknya pelan sampai aku harus menunduk. Wajah kami tinggal beberapa sentimeter.

“Jangan terlalu yakin aku gampang bosan,” bisiknya.

Aroma parfumnya memenuhi napasku. Matanya turun ke bibirku, sengaja, tanpa malu. Aku bisa merasakan tarikan di belakang leher dari tali kartu identitas yang masih dia pegang.

“Buktikan,” kataku.

Mata Helena kembali ke mataku. Ada tantangan di sana, tetapi juga luka kecil yang kubuat sendiri.

Dia menarik lanyard sekali lagi. Bibir kami nyaris bersentuhan.

Pintu lorong terbuka.

Damar masuk membawa kardus kabel. Dia melihat tangan Helena pada lanyard-ku, jarak wajah kami, lalu langsung berjalan mundur.

“Maaf. Mata gue belum update software.”

Pintu menutup lagi.

Helena menahan tawa, dan ketegangan di antara kami pecah sedikit.

“Teman Mas mengganggu,” katanya.

“Setiap hari.”

Dia melepaskan lanyard-ku, tetapi jarinya sempat merapikan kerah yang tertarik. “Aku belum selesai.”

“Dengan percakapan ini?”

“Dengan membuktikan.”

Helena berjalan pergi, meninggalkan aku di lorong dengan jantung yang terlalu cepat.

Aku membuka telapak tangan. Sekrup kecil itu masih ada. Alih-alih memasukkannya ke kotak perkakas, aku menyimpannya di laci yang sama dengan kalender.

Ketika kembali ke meja, Damar menatap lurus ke monitor.

“Gue nggak lihat apa-apa,” katanya.

“Bagus.”

“Tapi kalau lo butuh lanyard baru, inventaris ada.”

Aku menendang kaki kursinya.

Sepanjang hari, aku mencoba fokus pada pekerjaan. Namun setiap kali kartu identitas menyentuh dada, aku mengingat tangan Helena yang menarikku mendekat.

Batas itu masih ada.

Masalahnya, aku nggak lagi yakin sedang berusaha menjaganya atau menunggu Helena menghancurkannya.