Chapter Eighteen
Duduk di Sini
POV: Helena
Hari kesembilan belas seharusnya berakhir jam enam sore.
Namun revisi klien datang jam lima lewat lima puluh tiga dengan subjek surel yang sangat sopan dan isi yang layak dianggap tindak kriminal.
Sedikit penyesuaian untuk presentasi besok.
Sedikit, ternyata, berarti mengganti separuh layout, tiga ilustrasi, seluruh transisi, dan warna utama yang sudah mereka setujui dua kali.
Jam delapan malam, lantai Design tinggal menyisakan aku, dua kotak ayam goreng kosong, dan komputer yang merender seolah sedang mempertimbangkan tujuan hidup.
Aku mengirim foto layar ke Erga.
Kalau benda ini mati, aku ikut mati.
Balasannya datang satu menit kemudian.
Jangan sentuh apa pun.
Aku desainer, bukan bom.
Itu belum terbukti.
Lima belas menit kemudian dia muncul membawa ransel dan dua gelas kopi. Kemeja putihnya sudah nggak serapi pagi, lengan digulung, rambut bagian depan sedikit jatuh. Aku mendadak lupa komputerku sedang bermasalah.
“Mas pulang dulu tadi?” tanyaku.
“Belum. Ada maintenance.”
“Jadi Mas datang karena kebetulan?”
Dia meletakkan kopi di sampingku. “Kalau itu bikin kamu nggak besar kepala.”
Aku mengambil gelasnya. Ada tulisan tanpa gula di tutup, persis pesananku.
“Tapi ingat pesananku.”
“Data lama tersimpan di sistem.”
“Pembohong.”
“Geser.”
Aku membiarkannya duduk di kursiku. Dia mulai membuka task manager, membaca angka-angka yang bagiku mirip hasil pemeriksaan pasien kritis. Aku berdiri di samping, minum kopi, lalu bosan setelah dua menit.
“Mas.”
“Hm?”
“Lama?”
“Kalau kamu tanya tiap sepuluh detik, iya.”
Aku mengitari meja dan duduk di atasnya, tepat di depan monitor.
Erga berhenti mengetik. “Kamu menutupi layar.”
“Aku tahu.”
“Turun.”
“Nggak mau.”
Dia menatapku melewati bingkai kacamata. “Saya perlu lihat monitornya.”
“Lihat dari samping.”
“Kamu sengaja mengganggu?”
Aku mengayunkan satu kaki pelan. “Mungkin.”
Dia mendorong kursi ke belakang dan berdiri. Kupikir dia akan memindahkanku. Sebaliknya, dia maju sampai lututnya menyentuh meja di antara kedua kakiku.
Napas tertahan di tenggorokanku.
“Kalau duduk di sini,” katanya pelan, “jangan protes kalau saya juga bekerja dari sini.”
Aku membuka lutut sedikit, memberi ruang baginya berdiri lebih dekat.
“Siapa yang protes?”
Tatapannya turun ke gerakanku, lalu kembali ke wajah. Ada peringatan di sana. Ada pertanyaan juga.
Kemarin di mobil aku mundur saat dia membalik godaanku. Malam ini aku nggak mau.
Tanganku meraih ujung dasinya yang sudah longgar. “Mas belum jawab satu hal.”
“Apa?”
“Kalau waktu itu aku nggak menarik tangan, Mas mau lanjut apa?”
“Kamu yakin mau tahu?”
“Aku lagi tanya.”
“Dan saya sedang memastikan.”
Aku menarik dasinya sampai wajah kami tinggal sejengkal. “Aku yakin.”
Erga melepas kacamatanya dan meletakkannya di meja tanpa memutus tatapan. Gerakan kecil itu saja membuat udara terasa berubah.
“Saya akan mencium kamu,” katanya.
“Cuma itu?”
“Sampai kamu berhenti sengaja membuat saya kehilangan pikiran.”
“Kalau aku nggak berhenti?”
Telapak tangannya mendarat di pinggangku. “Kita cari tahu.”
Dia menciumku.
Nggak pelan seperti di ruang istirahat. Nggak ragu seperti di ruang arsip. Bibirnya menemukan bibirku dengan keyakinan yang membuat jemariku langsung mencengkeram kerah kemejanya.
Aku menariknya lebih dekat. Kakiku mengait di belakang pahanya, bukan untuk menahan, hanya karena tubuhku seperti punya keputusan sendiri. Tangannya mengencang di pinggangku, tetap di sana, kuat dan hangat.
Ciumannya dalam, tetapi nggak terburu-buru. Seolah dia punya waktu untuk mengenali setiap cara aku membalas, setiap napas yang lolos, setiap gerakan kecil yang membuatku mendekat lagi.
Aku menyentuh rambut di tengkuknya. Dia mengembuskan napas di bibirku, lalu menciumku sekali lagi sampai aku lupa suara AC, deadline, dan alasan awal kami berada di sana.
Ketika bibirnya berpindah ke rahangku, kepalaku otomatis miring.
“Mas…”
Dia berhenti tepat di bawah telinga. “Hm?”
“Jangan berhenti.”
Bibirnya turun ke sisi leherku. Bukan gigitan, bukan sesuatu yang kasar. Hanya ciuman lambat yang membuat seluruh kulitku meremang. Tanganku menariknya sampai dadanya menempel padaku.
Aku bisa merasakan dia menahan diri.
Justru itu yang membuatku semakin ingin merusak ketenangannya.
“Mas selalu setenang ini?” bisikku.
“Nggak.”
“Nggak kelihatan.”
Dia mengangkat wajah. Tatapannya lebih gelap tanpa kacamata. “Karena kalau saya nggak tenang, kita nggak akan menyelesaikan pekerjaanmu.”
“Mungkin aku nggak peduli.”
“Besok pagi kamu akan peduli.”
Aku menariknya untuk mencium lagi. Tepat ketika bibir kami bertemu, komputer berbunyi nyaring.
Ting! Render completed successfully.
Kami sama-sama membeku.
Suara robot dari aplikasi melanjutkan, “Congratulations.”
Aku menutup wajah di bahunya. Erga tertawa, napasnya hangat di rambutku.
“Bahkan komputer kasih selamat,” kataku.
“Atas render.”
“Dia nggak perlu tahu.”
“Komputermu tahu terlalu banyak.”
Aku masih tertawa saat dia mengangkat daguku. Tawa itu berhenti ketika ibu jarinya mengusap bibir bawahku.
“Masih mau?” tanyanya.
Kali ini aku nggak gugup. Nggak mundur. Nggak berpura-pura nggak mengerti.
“Aku masih mau.”
Erga menatapku beberapa detik, seakan memastikan jawaban itu nggak berubah. Lalu dia menciumku lagi, lebih lembut tetapi justru terasa lebih telanjang. Nggak ada permainan siapa yang menang. Nggak ada tantangan. Hanya dua orang di kantor kosong yang untuk beberapa menit berhenti berbohong kepada tubuh mereka sendiri.
Tangannya bergeser sedikit di punggungku, berhenti saat aku menegang karena sensasi yang datang terlalu cepat. Dia langsung menjauh beberapa sentimeter.
“Sakit?”
“Nggak.”
“Nggak nyaman?”
Aku menggeleng. “Cuma… baru.”
Dia menunggu.
Aku menyentuh pipinya. “Aku bilang masih mau.”
Baru setelah itu dia mendekat lagi.
Keningnya menyentuh keningku lebih dulu. Jeda kecil itu terasa ganjil di tengah panas yang memenuhi tubuh, tetapi aku menyukainya. Erga selalu memberiku satu detik untuk berubah pikiran, dan anehnya justru itu yang membuatku berani menariknya lebih dekat.
“Kenapa lihat aku begitu?” tanyaku.
“Sedang mengingat.”
“Mengingat apa?”
“Kamu saat nggak punya jawaban.”
Aku mencubit sisi pinggangnya. “Aku selalu punya jawaban.”
“Barusan nggak.”
“Barusan aku sibuk.”
“Dengan?”
Aku menyentuh bibirnya memakai ibu jari. “Mas tahu.”
Dia menangkap jariku dengan bibir, mengecupnya singkat, lalu menaruh telapak tanganku di dadanya. Detak jantung di balik kemeja itu cepat. Jauh dari tenang.
Penemuan kecil itu membuatku tersenyum.
“Ternyata Mas gugup.”
“Saya manusia.”
“Aku kira server.”
“Server nggak akan bertahan menghadapi kamu selama ini.”
Kesabarannya membuat sesuatu di dalam dadaku retak. Selama ini aku terbiasa dengan laki-laki yang menganggap keberanianku sebagai izin untuk mengambil kendali. Erga berbeda. Dia bisa membuatku panas hanya dengan satu kalimat, lalu berhenti sepenuhnya hanya karena napasku berubah.
Itu bukan kelemahan.
Itu bentuk kendali yang jauh lebih kuat.
Dan aku mulai jatuh pada cara dia memegangku tanpa pernah membuatku merasa dimiliki.
Suara pintu lift terbuka memecah ruangan.
Langkah sepatu terdengar dari lorong.
“Satpam,” bisikku.
Erga mengambil kacamata dengan satu tangan, sementara aku buru-buru melompat turun dari meja. Kakiku hampir goyah. Dia menangkap siku dan menahan tawa.
“Jangan senyum,” ancamku.
“Saya nggak senyum.”
“Mas jelas senyum.”
“Render-nya berhasil.”
Aku menyikut lengannya tepat ketika petugas keamanan muncul.
“Masih lembur, Mbak?”
“Iya, Pak. File besar.”
Petugas itu melirik dua gelas kopi, kacamata Erga yang sedikit miring, dan dasinya yang belum kembali rapi.
“File-nya berat, ya?”
“Sangat,” jawab Erga datar.
Aku menggigit bagian dalam pipi supaya nggak tertawa.
Setelah petugas pergi, kami menyelesaikan revisi sungguhan. Aku duduk di kursi, sementara Erga berdiri di belakang memeriksa proses ekspor. Sekitar jam sepuluh, mataku mulai berat.
Aku bersandar. Punggungku menyentuh perutnya.
“Lelah?” tanyanya.
“Sedikit.”
Dia menarik kursi cadangan, duduk di belakangku, lalu melingkarkan kedua tangan dari belakang. Dagunya bertumpu di bahuku. Pelukannya nggak menuntut apa-apa. Cuma hangat, kokoh, dan begitu nyaman sampai kelopak mataku turun sendiri.
“Mas,” panggilku.
“Hm?”
“Kita ini apa?”
Tubuhnya diam sesaat.
Pertanyaan itu keluar sebelum sempat kutahan. Setelah semalam kusebut jalan kami bukan kencan, aku tahu aku nggak punya hak menuntut jawaban. Lebih buruk lagi, aku masih punya kebohongan besar yang belum kukatakan.
“Kamu mau kita jadi apa?” tanyanya balik.
Aku membenci cara dia selalu memberiku ruang untuk memilih. Sebab semakin banyak ruang yang dia berikan, semakin jelas bahwa aku sedang menggunakan ruang itu untuk menyembunyikan sesuatu.
“Aku belum tahu,” jawabku.
Pelukannya tetap ada. Nggak mengendur, nggak mengencang.
“Kalau begitu,” katanya, “nggak perlu dipaksa malam ini.”
Monitor menunjukkan sembilan puluh delapan persen. Aku memegang lengannya di depan perutku dan mengusap punggung tangannya.
“Mas sabar banget.”
“Nggak juga.”
“Buktinya?”
Dia memiringkan kepala dan mencium sisi leherku sekali, tepat di tempat yang tadi membuatku kehilangan napas.
“Saya cuma pintar menyembunyikannya.”
Aku menutup mata.
Komputer berbunyi lagi. Kali ini kami nggak tertawa.
Di layar, pekerjaanku selesai seratus persen.
Di dalam dada, sesuatu justru baru mulai dan sudah terasa terlalu besar untuk dianggap taruhan.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini reading
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur