Chapter Twelve
Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
POV: Helena
Laptop pribadiku benar-benar rusak sehari setelah aku memalsukan kerusakan monitor kantor.
Karma bekerja cepat dan punya selera humor buruk.
Layarnya menyala, menampilkan logo, lalu mati lagi. Aku mencoba mengisi daya, menekan tombol selama sepuluh detik, bahkan mengikuti video tutorial yang menyuruh melepas semua perangkat. Hasilnya tetap sama.
Aku memotret layar hitam dan mengirimkannya kepada Erga.
Aku: Jangan marah. Kali ini asli.
Mas Erga IT: Apa yang dilakukan sebelum mati?
Aku: Nonton film.
Mas Erga IT: Ada minuman dekat laptop?
Aku melihat gelas wine kosong di meja.
Aku: Definisi dekat itu relatif.
Telepon masuk.
“Tumpah?” tanyanya begitu kuangkat.
“Sedikit.”
“Seberapa sedikit?”
“Kalau aku jawab jujur, Mas tetap mau bantu?”
Erga menghela napas. “Alamat.”
Aku sudah pernah memberinya alamat apartemen saat dia mengantar semalam, tetapi aku tetap mengirim ulang. Begitu pesan terkirim, kepanikan yang sama sekali berbeda muncul.
Erga akan masuk ke apartemenku.
Aku melihat sekeliling. Selimut tergeletak di sofa. Dua gelas belum dicuci. Ada bra hitam tersangkut di sandaran kursi makan karena tadi pagi aku mengganti pakaian sambil berjalan.
Aku bergerak lebih cepat daripada saat alarm kebakaran kantor berbunyi.
Empat puluh menit kemudian, apartemen sudah rapi dan aku berdiri di depan lemari. Aku memilih celana pendek rumah yang masih sopan dan kaus longgar warna putih. Lalu menggantinya dengan atasan rajut lembut yang jatuh dari satu bahu. Lalu kembali memakai kaus karena atasan kedua terlihat seperti aku terlalu berusaha.
Rania melakukan video call tepat saat aku memeriksa rambut.
“Lo mau ke mana?” tanyanya.
“Nggak ke mana-mana.”
“Kenapa pakai lip tint kalau nggak ke mana-mana?”
Bel berbunyi.
Mata Rania membesar. “Siapa?”
“Teknisi.”
“Teknisi mana datang malam-malam?”
Aku memutus panggilan.
Erga berdiri di depan pintu membawa tas laptop dan kantong minimarket. Kemejanya diganti kaus hitam polos dengan jaket tipis. Tanpa kartu identitas kantor dan pakaian formal, dia terlihat lebih muda sekaligus lebih berbahaya.
“Mas bawa apa?” tanyaku sambil mempersilakan masuk.
“Obeng, alat cek, sama air mineral.”
“Air mineral buat laptop?”
“Buat pemiliknya supaya nggak minum wine dekat elektronik lagi.”
Aku menutup pintu. “Galak.”
“Laptop-nya mana?”
Erga duduk di sofa dan membuka casing belakang laptop. Aku duduk di sebelahnya pada awalnya, tetapi layar serta alat-alatnya mengambil sebagian besar tempat. Akhirnya aku pindah ke karpet, tepat di antara kedua kakinya, menyandarkan punggung ke sisi sofa.
Tangannya berhenti memegang obeng.
“Kenapa duduk di situ?”
“Biar bisa lihat.”
“Dari samping juga bisa.”
“Leherku sakit.”
Itu bohong. Posisi ini cuma membuatku bisa merasakan lututnya di kedua sisi bahuku dan panas tubuhnya di belakang kepala.
Aku menoleh sedikit. “Ganggu konsentrasi?”
“Sangat.”
“Aku pindah?”
Erga kembali membuka sekrup. “Terserah.”
Dia nggak menyuruhku pindah.
Erga melihat sekeliling apartemen sambil menunggu proses diagnostik. Tatapannya berhenti pada rak panjang berisi buku desain, parfum, dan beberapa foto bersama tiga sahabatku.
“Nggak ada foto keluarga?” tanyanya.
“Ada di ponsel.”
Dia nggak bertanya lagi, dan aku bersyukur. Apartemen ini dibelikan orang tuaku, tapi mereka jarang datang. Kami saling menyayangi dengan cara yang rapi: transfer uang, pesan ulang tahun, dan makan malam yang dijadwalkan sekretaris. Nggak ada pertengkaran besar. Cuma jarak yang terlalu lama dibiarkan.
“Mas dekat sama keluarga?”
“Lumayan. Ibu telepon tiap Minggu buat memastikan saya belum mati kelaparan.”
“Mirip Rania.”
“Bedanya ibu saya nggak mengancam kirim security.”
Aku tertawa. “Apartemen ini kadang terlalu sepi.”
Kalimat itu keluar tanpa rencana. Erga nggak memberi nasihat atau menyuruhku lebih sering mengundang teman. Dia cuma menggeser kaki sampai sisi lututnya menyentuh bahuku.
“Sekarang nggak,” katanya.
Dadaku terasa hangat dengan cara yang nggak berhubungan dengan posisi duduk.
Aku tersenyum dan tetap di tempat. Selama beberapa menit, hanya bunyi logam kecil dan pendingin ruangan yang terdengar. Apartemenku biasanya terasa nyaman saat sendirian, tetapi dengan Erga di sofa, ruang itu mendadak menunjukkan seberapa lama aku hidup tanpa berbagi tempat dengan siapa pun.
“Mas sering datang ke rumah perempuan malam-malam?” tanyaku.
“Nggak.”
“Aku yang pertama?”
“Untuk memperbaiki laptop kena wine, iya.”
“Jawabannya terlalu spesifik.”
“Pertanyaannya menjebak.”
Aku menyandarkan kepala ke bagian dalam lututnya. Erga menarik napas, tetapi tangannya tetap stabil.
“Mas bisa bilang kalau nggak nyaman.”
“Kamu juga.”
“Aku nyaman.”
“Saya tahu.”
Nada suaranya membuat panas naik ke wajahku.
Erga berhasil membersihkan sisa cairan dan menyalakan laptop lewat mode recovery. Proses pengecekan membutuhkan waktu, jadi aku membuat teh. Ketika kembali, aku membawa dua cangkir dan sepiring biskuit.
Aku kembali duduk di karpet. Erga mengambil satu bantal sofa dan meletakkannya di belakang punggungku tanpa diminta.
“Biar nggak sakit.”
“Perhatian banget.”
“Kalau besok sakit punggung, saya yang dituduh.”
“Memangnya aku sering nuduh Mas?”
“Monitor, kopi, laptop.”
“Yang kopi salah Mas karena pesanannya membosankan.”
“Americano bukan kepribadian.”
“Buat Mas, sedikit.”
“Aku nggak selalu ceroboh,” kataku.
“Monitor dicabut. Kopi salah. Laptop kena wine.”
“Itu statistik yang nggak adil.”
“Datanya konsisten.”
Aku memukul lututnya pelan. Erga tertawa kecil.
Ponselku bergetar beberapa kali di meja. Rania. Aku membalik ponsel tanpa membaca.
“Nggak diangkat?” tanya Erga.
“Nanti.”
“Mungkin penting.”
“Kalau penting, dia telepon lagi.”
Tepat setelah kukatakan, telepon kembali masuk. Aku menolak. Pesan menyusul.
Rania: Kalau dalam 10 menit lo nggak balas, gue kirim security.
Aku mengetik cepat bahwa aku masih hidup. Rania membalas dengan meminta foto bukti. Aku mengirim foto kakiku dan ujung sepatu Erga di karpet.
Rania: ITU BUKAN BUKTI LO AMAN.
Aku: Justru bukti aku sangat aman.
Aku meletakkan ponsel sebelum pertanyaan lain datang.
Pengecekan selesai. Erga membungkuk untuk menunjukkan file yang berhasil diselamatkan. Aku menoleh pada saat yang sama.
Wajah kami berhenti terlalu dekat.
Aku bisa melihat pantulan diriku di kacamatanya. Napasnya menyentuh pipi. Salah satu tangannya bertumpu di sofa dekat bahuku, sementara tangan lain masih memegang touchpad.
Nggak ada suara selain dengung pendingin udara.
Aku nggak bergerak. Erga juga nggak.
Matanya turun ke bibirku.
Akhirnya.
Aku memiringkan wajah sedikit, memberi ruang yang hampir nggak bisa disalahartikan.
Erga mengangkat tangan. Ujung jarinya menyentuh rambut di pipiku, menyelipkannya perlahan ke belakang telinga. Sentuhannya membuat seluruh tubuhku menunggu.
Lalu dia mundur dan kembali melihat laptop.
“File kamu aman,” katanya.
Aku menatap sisi wajahnya. “Cuma file-nya?”
Rahang Erga menegang. “Maksudnya?”
“Nggak ada.”
Aku berdiri terlalu cepat dan membawa cangkir ke dapur. Kesal. Bukan pada Erga sepenuhnya—lebih pada diriku sendiri karena benar-benar berharap dia menciumku.
Bukankah itu tujuan taruhan? Membuat dia menginginkanku?
Tapi rasa kecewa di dadaku nggak terasa seperti strategi yang gagal. Rasanya pribadi.
Erga selesai merakit laptop dan bersiap pulang. Di depan pintu, dia menyerahkan perangkat itu kepadaku.
“Besok jangan dinyalakan dulu sampai saya cek sekali lagi.”
“Kalau rusak lagi?”
“Hubungi saya.”
“Kalau yang rusak bukan laptop?”
Dia menatapku lama. “Tetap hubungi saya.”
Jawaban itu hampir melunakkan kekesalanku.
Setelah pintu tertutup, apartemen terasa dua kali lebih sepi daripada sebelumnya. Aku berjalan kembali ke sofa, menemukan satu sekrup kecil tertinggal, lalu menggenggamnya seperti benda bodoh itu punya arti.
Ponsel berdering. Rania.
Begitu kuangkat, dia berteriak, “LO MASIH HIDUP?”
Aku menjauhkan ponsel dari telinga. “Sayangnya.”
“Kenapa dua jam nggak balas?”
Aku menatap pintu yang baru dilewati Erga.
“Lagi nunggu sesuatu yang ternyata nggak terjadi.”
Rania diam sebentar. “Dia nggak berhasil benerin laptop?”
Aku menjatuhkan diri ke sofa.
“Laptopnya baik-baik aja,” gumamku.
Masalahnya, aku mulai curiga yang rusak justru rencana awalnya.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi reading
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur