Chapter Twenty Six
Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
POV: Helena
Gantungan kunci itu jelek.
Dua potongan puzzle dari logam, satu hitam dan satu putih, yang kalau disatukan membentuk hati kecil. Ada tulisan You complete me di belakangnya. Norak, terlalu manis, dan sama sekali nggak sesuai dengan seleraku.
Aku membelinya dua.
“Mbak yakin yang ini?” tanya penjaga toko, mungkin karena sejak tadi aku sudah mengkritik desainnya lima kali.
“Nggak.”
“Mau lihat model lain?”
Aku menyatukan dua potongannya. Klik kecil terdengar ketika magnet di sisi logam bertemu.
“Bungkus ini saja.”
Penjaga toko tersenyum seperti baru menyaksikan seseorang kalah melawan dirinya sendiri.
Hari kedua puluh tujuh dimulai dengan aku menyimpan kotak kecil itu di tas, tepat di samping surat permintaan maaf versi keempat.
Versi pertama terlalu panjang. Versi kedua terdengar seperti presentasi pembelaan. Versi ketiga penuh kata tapi, seolah perasaanku sekarang bisa menghapus cara buruk semuanya dimulai.
Versi keempat cuma punya tiga kalimat.
Aku menjadikan kamu taruhan.
Aku jatuh cinta sungguhan.
Aku minta maaf, tapi kamu nggak wajib memaafkan aku.
Aku membacanya lagi di meja kerja, lalu merobek kertas itu menjadi empat bagian.
Nadine yang duduk di seberang mengangkat alis. “Kenapa dirobek?”
“Kedengarannya seperti template HR.”
“Karena lo menulisnya pakai poin?”
“Biar jelas.”
“Lo mau mengaku cinta atau memberi surat peringatan?”
Aku melempar satu sobekan kertas kepadanya. Dia menangkap sambil tertawa.
Rania datang membawa kopi dan berhenti di samping meja. “Mending ngomong langsung. Bilang taruhannya sudah—”
Keisha muncul dari belakang dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Sudah apa?” tanyaku.
Rania mencoba bicara di balik tangan Keisha.
“Sudah nggak usah dibahas pagi-pagi,” jawab Keisha cepat. “Aura kantor masih suci.”
“Kalian aneh.”
“Kita semua aneh,” kata Nadine. “Fokus kerja.”
Mereka bertiga sekarang memperlakukanku seperti bom yang bisa meledak kalau mendengar kata tertentu. Lucu, mengingat aku yang seharusnya panik.
Erga datang setengah jam kemudian. Kemeja abu-abunya rapi, tas laptop di bahu, dan senyum kecil langsung muncul ketika mata kami bertemu.
Namun ada sesuatu yang salah.
Tatapannya menetap terlalu lama.
Sama seperti kemarin. Seolah dia sedang mengambil foto dengan mata, menyimpan setiap detail sebelum beralih ke hal lain.
Aku menghampirinya sambil membawa kopi. “Mas belum sarapan?”
“Sudah.”
“Apa?”
“Roti.”
“Itu camilan.”
“Dua lembar.”
“Dua camilan.”
Dia menerima gelas dariku. Ujung jarinya menyentuh jariku, lalu bukannya langsung melepas, dia menggenggam tanganku sebentar.
“Terima kasih,” katanya.
Nada suaranya membuat ucapan biasa itu terdengar seperti sesuatu yang lebih besar.
“Cuma kopi, Mas.”
“Saya tahu.”
Dia tetap menatapku.
“Kenapa?” tanyaku.
“Nggak apa-apa.”
“Mas melihat aku kayak mau pergi jauh.”
Jarinya mengendur. “Kamu terlalu banyak berpikir.”
Aku ingin mempercayainya, tetapi rasa nggak enak itu mengikuti sepanjang hari. Erga jarang berada di meja. Dia berpindah antara ruang manajer, gudang perangkat, dan ruang meeting. Setiap kutanya, jawabannya sama: handover sistem.
Menjelang siang, Damar berjalan melewati meja Design sambil membawa satu kardus berisi barang-barang kecil. Aku mengenali mug hitam Erga di bagian atas.
“Itu mau dibawa ke mana?” tanyaku.
Damar hampir menjatuhkan kardus.
“Pindahan,” katanya.
“Pindahan apa?”
Rania yang kebetulan berdiri di dekatku langsung menyahut, “Mungkin taruhannya sudah dibatal—”
Nadine menarik belakang blusnya sampai kata-katanya terpotong oleh bunyi cegukan.
Damar memandang mereka, lalu aku, kemudian kardus. “Pindahan gudang. Rak IT lagi dibersihkan.”
“Kenapa mug pribadi Mas Erga masuk gudang?”
“Karena…” Damar melihat sekeliling seperti mencari jawaban di plafon. “Mug itu banyak menyimpan data sensitif.”
Aku menyipit.
“Noda kopi,” tambahnya. “Data noda kopi.”
Dia buru-buru pergi.
“Semua orang hari ini kenapa?” tanyaku.
Keisha muncul sambil menyeret Rania. “Kurang tidur.”
“Jam dua nanti dia briefing—” Rania mulai lagi.
Keisha menutup mulutnya untuk kedua kali.
“Gue akan beli plester,” katanya.
Saat sore, aku menemukan Erga di tangga darurat. Dia berdiri dekat jendela kecil, ponsel di telinga, bicara pelan dalam bahasa Inggris tentang akses server dan jadwal aktivasi. Begitu melihatku, dia menutup panggilan.
“Ganggu?” tanyaku.
“Nggak.”
“Katanya handover sistem.”
“Iya.”
“Ke siapa?”
Dia memasukkan ponsel ke saku. “Tim lain.”
Jawaban-jawabannya terlalu pendek. Terlalu rapi.
Aku berdiri satu anak tangga di bawahnya. “Mas menyembunyikan sesuatu?”
“Semua orang punya sesuatu yang belum diceritakan.”
Kalimat itu menyentuh tepat di bagian yang paling ingin kusembunyikan.
“Termasuk aku?” tanyaku.
Tatapannya melembut. “Terutama kamu.”
Aku nggak tahu apakah dia menebak soal pengakuanku atau hanya menggodaku. Untuk menutupi gugup, aku menyelipkan kedua tangan ke balik jaketnya dan melingkarkannya di pinggang. Tubuhnya hangat. Dingin AC dari lorong langsung hilang ketika wajahku menempel di dada.
“Apa ini?” tanyanya.
“Aku kedinginan.”
“Tangga darurat nggak dingin.”
“Mas banyak protes untuk orang yang lagi dipeluk.”
Kedua lengannya akhirnya melingkar di bahuku. “Begini lebih hangat?”
“Sedikit.”
“Mau jaketnya?”
“Nggak. Aku mau sumber panasnya.”
Erga tertawa kecil. Suaranya bergetar di bawah telingaku.
Kami diam cukup lama. Di balik pintu terdengar langkah orang lewat, tetapi nggak ada yang masuk. Aku merasakan dagunya bertumpu di atas kepala.
“Mas,” panggilku.
“Hm?”
“Kalau besok aku minta kamu tinggal, kamu bakal tinggal?”
Tubuhnya membeku.
Pertanyaan itu keluar sebagai candaan, tetapi keheningan setelahnya membuatnya berubah menjadi sesuatu yang serius.
Aku mengangkat wajah. “Kenapa diam?”
Erga menatapku lama, lalu mengusap satu helai rambut dari pipiku.
“Jangan minta sesuatu kalau kamu belum tahu harganya.”
“Harga apa?”
Dia nggak menjawab. Dia hanya menunduk dan mencium keningku.
Lama sekali.
Bibirnya tetap di sana sampai aku bisa merasakan napasnya di kulit. Tangannya di punggungku mengencang, seolah justru dia yang sedang meminta agar aku nggak bergerak.
“Mas bikin aku takut,” bisikku.
“Nggak perlu takut.”
“Terus jawab.”
Dia mencium keningku sekali lagi, lebih singkat. “Saya masih di sini.”
Untuk hari ini.
Entah kenapa, kepalaku melengkapi kalimat itu sendiri.
Pintu tangga darurat terbuka mendadak. Rania masuk, diikuti Keisha yang berusaha menarik tasnya dari belakang.
“Nah, gue bilang juga dia ada di sini!” seru Rania. “Gue cuma mau ngasih tahu kalau taruhan—”
Nadine muncul dan menutup mulutnya menggunakan map.
Erga menatap ketiganya. “Taruhan apa?”
Jantungku berhenti.
Keisha menjawab dengan kecepatan orang yang sudah latihan menghadapi bencana. “Taruhan makan siang. Rania kalah, jadi besok dia traktir.”
Rania menggeleng keras di balik map.
“Benar,” kata Nadine sambil menekan map lebih kuat. “Dia bahagia banget sampai susah bicara.”
Erga memandang mereka beberapa detik. Wajahnya tenang, tetapi ada senyum tipis yang nggak bisa kubaca.
“Selamat,” katanya kepada Rania.
“Dia kalah,” kataku.
“Kalau begitu, turut berduka.”
Setelah dia kembali ke ruang IT, aku menatap tiga sahabatku.
“Kalian hampir membunuh aku.”
Keisha melepas map dari wajah Rania. “Dia yang hampir membunuh lo.”
Rania menarik napas panjang. “Gue capek menyimpan rahasia.”
“Tinggal dua hari.”
“Justru itu!” katanya. “Kenapa harus nunggu?”
Aku meremas kotak puzzle di dalam tas. “Karena gue sudah putuskan.”
Keisha menggeleng, tetapi nggak berdebat lagi. Mereka pergi setelah memastikan aku nggak akan berubah pikiran.
Malamnya, aku menulis surat versi kelima.
Kali ini nggak ada poin. Nggak ada kata tapi. Aku menulis tentang hari pertama, tiket IT palsu, kopi tanpa gula, hujan, migrain, dan bagaimana semua yang awalnya kurancang berubah menjadi hal paling jujur yang pernah kurasakan.
Di bagian akhir, aku menulis:
Kalau setelah tahu semuanya kamu memilih pergi, aku akan menerima. Tapi kalau masih ada sedikit ruang buat aku, kali ini biarkan aku yang mengejar.
Aku melipatnya, memasukkan ke amplop, lalu meletakkan potongan puzzle hitam di dalamnya. Potongan putih kusimpan di gantungan kunci apartemenku.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Erga.
Besok malam makan dengan saya. Jangan terlambat.
Aku tersenyum.
Ini perintah?
Iya.
Kalau aku menolak?
Balasannya datang setelah jeda panjang.
Saya jemput tetap.
Aku menempelkan ponsel ke dada, merasa hangat sekaligus anehnya ingin menangis.
Besok hari kedua puluh sembilan. Setelah itu, tinggal satu hari menuju pengakuanku.
Aku nggak tahu bagi Erga, besok adalah hari terakhir.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal reading
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur