Chapter Seven

Dua Puluh Tiga Hari Lagi

POV: Erga

Pada hari ketujuh, Helena mengirim foto kopi pukul tujuh lewat empat puluh dua menit.

Di tutup gelasnya ada gambar wajah cemberut.

Helena: Barista-nya pelit senyum.

Aku: Mungkin belum dibayar.

Helena: Mas juga pelit senyum. Belum dibayar juga?

Aku: Belum ada invoice.

Helena: Kirim. Nanti aku proses.

Aku membaca balasan itu di lift dan tersenyum seperti orang bodoh. Seorang ibu dari divisi Legal memperhatikan, lalu ikut melihat layar angka lantai seolah ingin memastikan lift kami nggak sedang menuju tempat berbeda.

Hari itu berjalan normal sampai menjelang sore. Ada pengecekan perangkat di dua ruang meeting, satu printer yang menolak mencetak warna selain merah muda, dan keluhan dari Finance karena internet mereka “terasa kurang cepat” meski hasil tes menunjukkan kecepatan normal.

Aku membantu rapat tim Design di ruang Merapi. Helena datang terlambat dua menit, meletakkan satu permen kopi di samping laptopku, lalu duduk tanpa berkata apa-apa. Sepanjang rapat, permen itu terasa lebih mencolok daripada layar presentasi selebar dua meter.

Setelah semua orang keluar, aku membantu membereskan kabel. Damar menelepon soal insiden jaringan di lantai enam, jadi aku pergi terburu-buru dan baru sadar adaptor USB-C tertinggal hampir setengah jam kemudian.

Ruang Merapi seharusnya kosong.

Pintunya belum tertutup rapat. Dari lorong, aku mendengar suara Keisha lebih dulu.

“Hari ke berapa?”

Aku hampir mendorong pintu ketika Helena menjawab.

“Tujuh.”

“Progress?” tanya Nadine.

“Dia udah mulai balas chat lebih panjang. Kemarin kami teleponan sampai aku ketiduran.”

Rania mengeluarkan suara kecil yang terdengar senang sekaligus khawatir. “Itu berarti dia suka sama lo, kan?”

“Belum cukup,” kata Keisha. “Syaratnya harus nembak atau bilang suka. Selama belum ada kalimatnya, tasnya belum jadi milik siapa-siapa.”

Tanganku berhenti di gagang pintu.

Aku nggak langsung memahami. Otak kadang punya cara aneh melindungi diri: ia mendengar semua kata, tetapi menolak menyusunnya menjadi makna.

Tas.

Syarat.

Hari ketujuh.

Nadine berkata, “Masih ada dua puluh tiga hari. Jangan terlalu ngebut. Kalau dia merasa aneh, selesai.”

“Gue tahu.” Suara Helena terdengar santai, sama seperti saat menggodaku soal senyum. “Dia susah dibaca, tapi itu justru serunya.”

“Gue tetap nggak suka,” kata Rania. “Dia kelihatan baik.”

“Kita nggak akan mempermalukan dia,” sahut Keisha. “Ini cuma taruhan di antara kita. Begitu dia bilang suka, permainan selesai.”

Permainan.

Kali ini otakku akhirnya menyusun semuanya.

Aku mundur dari pintu tanpa mengambil adaptor. Sol sepatuku terdengar terlalu keras di lorong. Aku berjalan ke tangga darurat karena lift terasa terlalu terbuka, lalu berhenti di antara lantai delapan dan tujuh.

Udara di sana pengap. Bau semen, logam, dan sedikit asap rokok entah dari lantai mana. Aku duduk di anak tangga, menunduk, lalu tertawa sekali.

Suaranya buruk.

Jadi itu alasannya.

Kopi. Makan siang. Playlist. Sentuhan jarinya. Telepon semalam.

Semua punya tenggat.

Aku menekan kedua telapak tangan ke wajah. Ada rasa mual yang naik perlahan, bukan karena Helena nggak menyukaiku. Aku sudah hidup baik-baik saja sebelum dia mendekat. Yang menyakitkan adalah selama beberapa hari aku benar-benar percaya sesuatu yang mustahil memilih terjadi kepadaku.

Aku percaya senyumnya berbeda saat bersamaku.

Aku percaya dia datang karena ingin melihatku.

Aku bahkan menyimpan gelas kopi kosong seperti anak SMA yang baru pertama kali disapa orang yang disukai.

Pintu tangga terbuka. Damar masuk sambil membawa dua kaleng minuman dari vending machine.

“Nah, ketemu. Lo ngapain di sini?”

“Cari udara.”

Dia melihat sekeliling. “Lo memilih tempat paling bau buat cari udara.”

Aku nggak menjawab.

Damar duduk satu anak tangga di bawahku dan menyerahkan minuman. Candaan di wajahnya hilang setelah melihat ekspresiku.

“Ada apa?”

“Nggak ada.”

“Kalau itu wajah nggak ada apa-apa, gue Brad Pitt.”

“Turut prihatin.”

Dia mendengus kecil. “Berarti masih bisa nyolot. Aman.”

Aku membuka kaleng tanpa minum. Bisa saja kuceritakan semuanya. Damar mungkin akan marah untukku. Dia mungkin naik ke lantai sembilan dan membuat masalah yang lebih besar.

Tapi kata-kata Rania kembali teringat: Ini cuma antara kita.

Entah kenapa, bahkan setelah tahu, aku masih nggak ingin Helena dipermalukan.

“Cuma capek,” kataku.

Damar jelas nggak percaya, tetapi dia cukup baik untuk berhenti bertanya.

Kami kembali ke ruang kerja lewat tangga. Di meja, adaptor yang kucari sudah tergeletak di atas keyboard bersama secarik sticky note.

Punya Mas. Jangan hilang lagi. — H

Tulisan itu biasanya akan membuatku tersenyum. Sekarang rasanya seperti melihat properti panggung setelah pertunjukan selesai—masih terlihat nyata, padahal fungsinya cuma membantu kebohongan terasa meyakinkan.

Helena muncul beberapa menit kemudian. Dia berdiri di sisi meja dengan ekspresi biasa, seolah aku nggak baru mendengar namaku dibicarakan sebagai target permainan.

“Ketemu adaptornya?”

Aku memegang sticky note itu terlalu erat. “Ketemu. Makasih.”

“Mas kenapa?”

“Kenapa apa?”

“Wajahnya beda.”

Aku hampir tertawa. Selama seminggu aku menganggap dia bisa membaca detail-detail kecil tentangku. Ternyata mungkin itu memang bagian dari kemampuan memainkan peran.

“Kurang tidur,” jawabku.

Helena mencondongkan tubuh dan menyentuh bawah mataku dengan ujung jarinya. Gerakannya ringan, spontan, begitu lembut sampai rasa sakitku justru semakin tajam.

“Aku bikin Mas tidur terlalu malam, ya?”

“Nggak.”

“Nanti malam jangan teleponan dulu.”

Aku ingin bilang justru itu satu-satunya hal yang kuinginkan. Sebaliknya, aku cuma mengangguk.

Sebelum pergi, Helena menekan satu permen kopi ke telapak tanganku. “Biar nggak ngantuk.”

Aku menyimpannya di saku dan nggak pernah memakannya.

Malamnya, Helena mengirim pesan seperti biasa.

Helena: Tadi adaptor Mas ketinggalan. Aku simpan.

Aku menatap layar tanpa membalas.

Lima menit kemudian, pesan lain masuk.

Helena: Sibuk?

Lalu satu lagi.

Helena: Besok makan siang sama aku, ya?

Jariku menggantung di atas keyboard.

Ini kesempatan untuk selesai. Aku bisa bilang sudah tahu. Bisa memintanya berhenti. Bisa menyelamatkan sedikit harga diri yang tersisa dan kembali ke hidup sebelum dia datang.

Aku mencoba membayangkan meja kerjaku tanpa gelas bergambar senyum. Makan siang sendirian lagi. Ponsel yang nggak berbunyi menjelang tidur. Nggak ada suara Helena yang memintaku mengulang satu kalimat hanya karena dia ingin mendengarnya langsung.

Seharusnya semua itu mudah. Aku baru mendapatkannya selama tujuh hari.

Ternyata tujuh hari cukup untuk membuat sepi terasa berbeda.

Aku membuka kalender meja yang hampir nggak pernah kupakai. Pada halaman bulan itu, aku menggambar tiga puluh kotak kecil di pinggir kertas. Satu untuk setiap hari permainan.

Aku sempat menulis angka satu sampai tiga puluh di dalamnya, lalu menghapus angka-angka itu karena terlihat terlalu menyedihkan. Kotak kosong saja sudah cukup. Nggak ada nama, nggak ada penjelasan. Cuma aku yang perlu tahu apa artinya.

Aku mencoret tujuh kotak pertama.

Dua puluh tiga hari lagi.

Kalau setelah itu Helena pergi, setidaknya aku akan tahu kapan harus bersiap. Kalau semua perhatian ini cuma akting, aku akan menikmatinya tanpa meminta lebih. Aku nggak akan membuatnya merasa bersalah. Nggak akan merusak satu-satunya kesempatan yang mungkin kupunya untuk berada sedekat ini dengannya.

Keputusan itu menyedihkan. Aku tahu.

Tapi saat menatap pesannya, cinta ternyata nggak membuatku lebih bermartabat. Cinta cuma membuatku serakah terhadap waktu.

Aku mengetik satu jawaban.

Aku: Iya. Besok saya tunggu.

Balasannya datang bersama emoji wajah tersenyum dan hati putih.

Aku menutup mata sebentar, membiarkan rasa sakit serta bahagia datang bersamaan.

Lalu kucoret kotak ketujuh sedikit lebih tebal.