Chapter Twenty Eight
Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
POV: Helena
Aku bangun sambil tersenyum.
Sisi ranjang di sebelahku kosong, tetapi masih ada sedikit cekungan di bantal. Kemeja biru Erga nggak tergantung di kursi. Sepatunya juga sudah hilang. Kupikir dia pulang lebih pagi untuk mandi dan mengambil baju kerja.
Di meja samping ranjang ada potongan puzzle hitam.
Aku mengambilnya, lalu meraih gantungan kunci milikku. Ketika dua potongan itu kusatukan, magnetnya berbunyi klik.
Hatiku terasa penuh.
“Dasar pencuri,” gumamku, meskipun dialah yang meninggalkan bagiannya.
Aku menemukan amplop pengakuanku masih tertutup di meja ruang tengah. Erga benar-benar nggak membacanya. Entah kenapa itu membuatku semakin bahagia. Dia ingin mendengar langsung, bukan dari surat.
Hari ini hari ketiga puluh.
Nggak ada lagi taruhan. Nggak ada lagi alasan untuk menunggu. Aku akan menceritakan semuanya—bagian buruk, bagian memalukan, dan bagian ketika aku jatuh cinta sampai lupa kenapa awalnya mendekat.
Aku mandi sambil menyusun kalimat. Memilih pakaian sambil mengulang permintaan maaf. Di depan cermin, aku berlatih mengucapkan satu hal tanpa menangis.
“Aku cinta sama kamu.”
Pantulanku terlihat takut, tapi kali ini nggak lari.
Aku membeli dua kopi dalam perjalanan. Americano tanpa gula untuk Erga, latte untukku. Di tas ada amplop dan kotak gantungan kunci yang sudah kosong sebelah. Di dalam dada ada keyakinan bahwa malam tadi kami akhirnya berdiri di tempat yang sama.
Aku sampai kantor pukul delapan lewat dua puluh.
Ruangan IT sudah menyala. Damar duduk di mejanya, punggung membungkuk menghadap monitor. Dua staf junior bicara pelan di pojok.
Meja Erga kosong.
Bukan kosong karena pemiliknya belum datang.
Monitor kedua nggak ada. Buku jaringan hilang. Laci terbuka tanpa alat tulis. Label nama di sisi meja sudah dicabut, menyisakan bekas perekat tipis. Bahkan kalender kecil yang selalu menghadap dinding nggak berada di tempatnya.
Aku berhenti di pintu.
Salah satu gelas kopi mengembun di tanganku.
“Barang-barangnya ke mana?” tanyaku.
Damar nggak langsung menoleh.
“Mas Damar.”
Dia akhirnya berdiri. Matanya merah seperti belum tidur.
“Duduk dulu,” katanya.
“Barang Mas Erga ke mana?”
“Duduk, Mbak.”
“Kenapa semua orang menyuruh aku duduk?” Aku meletakkan kopi terlalu keras di meja kosong. Tutupnya lepas dan sedikit cairan tumpah. “Dia meeting?”
Damar menarik napas. “Dia sudah berangkat.”
“Ke mana?”
Nggak ada jawaban yang langsung keluar. Hanya suara AC dan tetes kopi dari tepi meja ke lantai.
“Mas Damar, dia ke mana?”
“Singapura.”
Aku tertawa kecil karena jawaban itu nggak masuk akal. “Dinas?”
“Mutasi.”
“Berapa lama?”
Damar memandangku dengan rasa kasihan yang langsung membuat seluruh tubuhku dingin.
“Nggak ada tanggal kembali.”
Ruangan terasa miring.
Aku berpegangan pada sisi meja kosong. “Nggak mungkin. Semalam dia di tempat aku.”
“Penerbangannya jam satu lewat.”
Koper kecil.
Perangkat kantor.
Tatapan saat makan malam. Air mata ketika menciumku. Kalimat tentang nggak sanggup pergi. Semua potongan yang kemarin kutolak lihat mendadak menyatu dengan kejam.
“Dia sudah rencanakan?”
“Dari beberapa hari lalu.”
“Dan Mas tahu?”
Damar mengangguk kecil.
“Semua orang tahu selain aku?”
“Nggak semua. Manajer dan saya.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Dia minta dirahasiakan.”
Aku menatap meja itu. Kopi hitam terus menetes ke lantai, membentuk genangan kecil di dekat kakiku.
“Kenapa dia pergi?”
Damar menutup mata sebentar. “Mbak sebaiknya baca surelnya sendiri.”
“Surel apa?”
Seolah menunggu disebut, ponselku berbunyi.
Pukul sembilan tepat.
Notifikasi surel muncul di layar. Pengirimnya Erga. Subjeknya cuma dua kata.
Hari Ketiga Puluh.
Tanganku mulai gemetar.
Aku membuka pesan itu.
Saya nggak tahu cara mengatakan ini tanpa membuat kamu merasa bersalah, jadi saya memilih menulis setelah saya cukup jauh untuk nggak meminta kamu menghentikan saya.
Saya tahu tentang taruhan sejak hari ketujuh. Saya mendengar semuanya di luar ruang meeting: syaratnya, batas waktunya, dan bagaimana saya dipilih karena dianggap paling sulit mendekati kamu.
Napas berhenti di tenggorokanku.
Huruf-huruf di layar mulai kabur. Aku mengusap mata dan memaksa membaca.
Saya seharusnya menjauh hari itu. Saya seharusnya marah. Tapi ketika kamu mengajak makan siang keesokan harinya, saya tetap datang. Itu bukan karena saya ingin membantu kamu menang. Saya cuma terlalu mencintai kesempatan untuk berada dekat kamu, bahkan kalau kesempatan itu punya tanggal kedaluwarsa.
Aku jatuh duduk di kursinya.
Hari ketujuh.
Dia tahu saat aku menyentuh sepatunya di bawah meja. Tahu ketika memakaikan jaket. Tahu ketika datang ke apartemenku. Tahu pada setiap ciuman, setiap tidur dalam satu ranjang, setiap kali aku menunda pengakuan demi hari yang kuanggap lebih bersih.
Dia tahu sejak hampir awal.
Terima kasih untuk dua puluh tiga hari setelahnya. Terima kasih untuk kopi tanpa gula, buku yang kamu pegang terbalik, telur gosong, perbatasan bantal yang gagal, dan semua hal yang mungkin nggak pernah kamu anggap penting.
Saya nggak tahu kapan permainanmu berhenti dan kapan sesuatu yang nyata dimulai. Saya takut bertanya karena saya tahu saya akan percaya jawaban apa pun yang membuat kamu tetap tinggal.
Jadi kali ini saya yang pergi.
Kamu nggak perlu mengejar. Kamu juga nggak perlu merasa berutang cinta kepada saya. Semua keputusan setelah hari ketujuh adalah keputusan saya sendiri.
Air mata jatuh ke layar.
Ada satu baris terakhir.
Selamat. Kamu menang.
Suara pecah keluar dari tenggorokanku. Bukan tangis yang cantik atau diam. Aku membungkuk di kursi kosong, memegang ponsel dengan kedua tangan, dan menangis sampai dada terasa seperti robek dari dalam.
Dia mengira sedang membebaskanku dari rasa bersalah.
Itulah bagian yang paling menghancurkan.
Dia bahkan pergi dengan baik. Nggak menuduh. Nggak menghukum. Nggak memberi kesempatan buatku membela diri. Dia mengambil seluruh luka dan menyebutnya pilihannya sendiri supaya aku nggak perlu membawanya.
Namun kalimat terakhirnya membuat semuanya jauh lebih sakit.
Aku nggak menang.
Aku kehilangan satu-satunya hal yang sekarang ingin kupertahankan.
Damar berjongkok di dekat kursi, tetapi nggak menyentuhku. “Dia hampir nggak jadi berangkat.”
Aku mengangkat wajah. “Apa?”
“Semalam dia kirim pesan, tanya apakah saya bisa menggantikan presentasi awal di sana kalau dia terlambat satu hari.” Damar menelan ludah. “Setengah jam kemudian dia bilang lupakan.”
Semalam, ketika aku tertidur di dadanya.
“Kenapa dia nggak bangunin aku?”
Damar menatap lantai. “Karena kalau Mbak minta dia tinggal, dia pasti tinggal.”
Kalimatku di tangga darurat kembali.
Kalau besok aku minta kamu tinggal, kamu bakal tinggal?
Jangan minta sesuatu kalau kamu belum tahu harganya.
Aku tahu harganya sekarang.
Terlambat.
Damar berdiri dan mengambil sesuatu dari lacinya. Kalender meja kecil dengan tiga puluh kotak digambar manual. Dia meletakkannya di depanku.
Dua puluh sembilan kotak sudah dicoret tinta hitam.
Kotak ketiga puluh kosong.
Di bawahnya ada satu kata kecil.
Pergi.
Aku menyentuh kotak terakhir dengan ujung jari. Dia nggak menunggu hari ketiga puluh. Dia pergi di sela malam, seolah bahkan satu pagi lagi terlalu berbahaya untuk hatinya.
Ponselku berbunyi lagi.
Untuk satu detik bodoh, aku berharap itu balasan darinya.
Yang muncul justru notifikasi otomatis dari grup Operasi Mas IT yang lupa dihapus Rania dari perangkat lamanya.
HARI 30! WAKTU HABIS! 🏆🏆🏆
Emoji piala memenuhi layar.
Aku menatapnya, lalu tertawa di tengah tangis. Satu suara pendek yang terdengar rusak.
Damar mengambil ponsel dari tanganku dan mematikan notifikasi.
“Saya pukul pembuat bot-nya nanti,” katanya pelan.
Aku menggeleng. “Jangan. Memang benar.”
“Nggak ada yang benar dari ini.”
“Aku menang.” Suaraku hampir nggak terdengar. “Dia bilang suka sejak sebelum hari pertama. Aku menang taruhan yang sudah nggak aku mau.”
Damar diam.
Aku meraih kopi tanpa gula yang tadi kubawa. Masih hangat, meski sebagian sudah tumpah. Gelas itu kutaruh di tempat biasa, di sisi kanan meja yang sekarang nggak punya pemilik.
“Dia akan kembali?” tanyaku.
Damar nggak menjawab.
Aku sudah tahu.
Di dalam tas, surat pengakuanku masih tertutup. Potongan puzzle putih tergantung pada kunci apartemen. Pasangannya ada di saku bajuku, ditinggalkan oleh seseorang yang nggak ingin membawa apa pun yang bisa membuatnya berbalik.
Aku membuka kalender, mengambil pena dari meja Damar, lalu mencoba mencoret kotak ketiga puluh.
Tanganku berhenti di atas kertas.
Aku nggak sanggup.
Kotak itu tetap kosong.
Seperti kursinya.
Seperti pagi setelah dia pergi.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh reading
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur