Chapter Twenty Nine
Kursi 18A
POV: Erga
Kursi 18A berada tepat di samping jendela.
Aku memilihnya dua minggu lalu karena ingin melihat kota mengecil dari udara. Kupikir menyaksikan Jakarta menjauh akan membantu otak menerima keputusan yang sudah dibuat tubuh.
Ternyata pada pukul satu dini hari, landasan pacu cuma rangkaian lampu kabur di balik kaca.
Aku duduk dengan sabuk terpasang dan ponsel masih menyala di tangan. Foto Helena memenuhi layar. Foto dari photobooth—dia sedang menciumku, sementara mataku terbuka lebar karena kaget.
Di dompet ada versi cetaknya. Di galeri ada tiga puluh dua foto lain. Di rekaman suara ada tawanya. Aku membawa terlalu banyak bukti untuk seseorang yang berniat melupakan.
Pesan terakhir darinya dikirim pukul sepuluh malam, saat dia masih terjaga di pelukanku.
Mas besok jangan sarapan. Aku bawain.
Aku nggak membalas. Pada saat pesan itu masuk, bibirku sedang berada di keningnya dan seluruh hidupku hampir berubah arah.
Seorang anak laki-laki duduk di kursi 18B. Usianya mungkin tujuh tahun, memakai jaket hijau dengan gambar dinosaurus dan membawa ransel berbentuk kepala T-Rex. Ibunya duduk di sisi lorong.
Anak itu memperhatikan ponselku tanpa malu.
“Pacarnya, Om?” tanyanya.
Aku mengunci layar. “Bukan.”
“Tapi cium.”
Ibunya langsung menoleh. “Rafi, jangan lihat ponsel orang.”
“Kelihatan, Ma.”
“Maaf, Mas,” kata ibunya.
Aku menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Rafi masih menatapku. “Kalau bukan pacar, kenapa cium?”
Aku nggak punya jawaban yang bisa dipahami anak tujuh tahun. Aku bahkan nggak punya jawaban yang bisa kupahami sendiri.
“Tidur,” kata ibunya sambil menarik tudung jaketnya.
Pesawat mulai bergerak. Aku mengaktifkan mode pesawat sebelum keberanian bodoh membuatku menelepon Helena. Surel perpisahan sudah dijadwalkan terkirim pukul sembilan. Damar punya kalender. Semua jalan pulang sudah kututup dengan rapi.
Tetap saja, ketika roda meninggalkan tanah, tanganku mencengkeram sandaran kursi.
Bukan karena takut terbang.
Karena tubuhku memahami satu hal yang terus ditolak pikiran: setiap meter ketinggian membawaku menjauh darinya.
Lampu kota mengecil. Gedung berubah menjadi kotak cahaya. Jalan yang mungkin kulewati bersama Helena beberapa jam lalu melebur jadi garis tipis.
Aku menyentuh bibir sendiri.
Rasa ciumannya tentu sudah hilang. Yang tertinggal cuma ingatan: cara dia menarik kerah kemejaku, air mata yang dihapusnya, dan suaranya saat berkata jangan pergi.
Dia mengira aku cuma akan pulang.
Aku membiarkannya percaya.
Air mata pertama turun ketika pesawat menembus awan.
Aku memalingkan wajah ke jendela. Kabin gelap, sebagian penumpang sudah memejamkan mata. Seharusnya nggak ada yang melihat.
Sebuah tangan kecil menyodorkan tisu ke samping lenganku.
Tisunya bergambar dinosaurus biru.
Aku menoleh. Rafi memandangku dengan sangat serius.
“Om takut pesawat?” bisiknya.
“Sedikit.”
“Aku juga dulu takut.”
“Terus sekarang?”
“Masih, tapi Mama bilang napas.” Dia menarik napas besar sampai dadanya mengembang, lalu membuangnya dengan suara keras. “Begitu.”
Ibunya sudah tertidur. Aku menerima tisu itu.
“Terima kasih.”
“Coba napas.”
Aku menurut karena menolak terasa lebih sulit. Menarik napas empat hitungan, membuangnya perlahan.
“Lagi,” perintahnya.
Aku melakukannya lagi.
“Sudah nggak takut?”
“Masih.”
Rafi berpikir, lalu mengeluarkan stiker T-Rex dari sakunya. “Ini berani.”
Dia menempelkannya ke punggung tanganku.
Aku tertawa kecil di tengah tangis. “Kalau pakai ini langsung berani?”
“Iya. T-Rex nggak takut pesawat.”
“Tangannya pendek. Nggak bisa pasang sabuk sendiri.”
Rafi menatapku dengan kecewa. “Om jangan menghina dinosaurus.”
“Maaf.”
Dia kembali bersandar setelah memastikan stiker itu nggak kulepas.
Aku menatap T-Rex kecil di tangan dan mengingat malam tadi.
Pukul sepuluh lewat lima puluh, aplikasi maskapai sudah terbuka. Jari tinggal menyentuh tombol ubah penerbangan. Aku bahkan sempat menyusun pesan kepada manajer.
Maaf, saya membutuhkan satu hari tambahan sebelum relokasi.
Aku hampir mengirimnya.
Lalu Helena bergerak dalam tidur, menggenggam tanganku, dan tersenyum tanpa bangun.
Perasaan yang datang bukan cuma cinta. Ada keinginan putus asa untuk menerima apa pun. Kalau pagi nanti dia mengaku semua ciuman itu masih bagian taruhan, aku akan mencari alasan untuk memaafkan. Kalau dia bilang mulai menyukaiku karena rasa kasihan, aku akan menyebutnya cukup. Kalau dia meminta tinggal hanya karena rasa bersalah, aku akan tetap tinggal.
Aku begitu mencintainya sampai nggak bisa mempercayai diriku sendiri di dekatnya.
Pergi terasa seperti satu-satunya cara agar Helena bisa memilih tanpa melihat luka yang harus dia perbaiki.
Aku tahu pilihan itu juga pengecut. Aku menulis surel karena nggak sanggup melihat wajahnya saat tahu aku sudah mendengar taruhan. Aku menyebut semuanya keputusan sendiri supaya dia nggak mengejar.
Kebaikan yang kupikir kuberikan mungkin cuma bentuk lain dari mengambil keputusan untuknya.
Namun saat pesawat berada di atas awan, semua kemungkinan untuk memperbaiki terasa terlalu jauh.
Aku menangis diam-diam sampai tisu dinosaurus itu basah dan kusimpan di saku.
Penerbangan mendarat sebelum subuh. Rafi bangun ketika roda menyentuh landasan, lalu menoleh memeriksa tanganku.
“Stikernya masih ada.”
“Masih.”
“Berarti Om berani.”
Aku tersenyum. “Mungkin.”
“Nanti bilang pacarnya.”
“Bilang apa?”
“Kalau Om takut.”
Anak tujuh tahun itu memahami sesuatu yang gagal kulakukan selama dua puluh tiga hari.
“Nanti,” jawabku.
Kami berpisah di lorong kedatangan. Matahari belum terbit saat kendaraan kantor membawaku ke apartemen sementara. Aku masuk ke unit asing dengan satu koper, satu tas laptop, dan jam biologis yang berantakan.
Pukul sembilan waktu Jakarta, surel terjadwal terkirim.
Aku duduk di tepi ranjang, memandangi status sent.
Lima menit kemudian, pesan pertama masuk.
Kamu di mana?
Lalu kedua.
Kenapa nggak bilang?
Ketiga datang satu menit setelahnya.
Kamu sudah tahu sejak hari ketujuh?
Aku membaca semuanya dari notifikasi tanpa membuka percakapan.
Telepon masuk. Nama Helena memenuhi layar.
Aku membiarkannya berdering sampai berhenti.
Telepon kedua.
Ketiga.
Pesan lain muncul.
Aku sudah membatalkan taruhannya.
Aku mau bilang hari ini.
Aku cinta sama kamu. Bukan karena taruhan.
Tanganku gemetar hebat. Untuk beberapa detik, aku benar-benar percaya satu tiket pulang bisa menyelesaikan semuanya.
Aku membuka aplikasi maskapai.
Ada penerbangan sore.
Lalu pesan terakhir masuk.
Tolong jawab sekali saja. Marah juga nggak apa-apa.
Aku menutup aplikasi.
Bukan karena nggak percaya. Justru karena aku langsung percaya dan itu membuktikan ketakutanku. Dia mengatakan cinta, dan seluruh diriku siap berlari pulang tanpa menanyakan apa pun.
Aku mengetik banyak jawaban.
Saya juga cinta kamu.
Hapus.
Maaf.
Hapus.
Kasih saya waktu.
Hapus.
Aku membuka percakapan kami sampai jauh ke atas. Ada foto kopi pertama yang dia kirim, keluhan tentang desain, rekaman suara saat dia mengantuk, dan puluhan pesan kecil yang dulu terasa seperti hadiah harian.
Mas sudah makan?
Jangan lembur terus.
Aku lihat kemeja biru dan jadi ingat seseorang yang sok dingin.
Kalau semuanya hanya permainan, kenapa dia masih menulis setelah taruhan dibatalkan? Kenapa dia menelepon berkali-kali sekarang, ketika nggak ada hadiah untuk dimenangkan?
Jawabannya jelas. Aku hanya terlalu takut menerimanya.
Jariku menyentuh tombol panggilan, tetapi berhenti sebelum menekan. Aku membayangkan suaranya pecah di seberang. Membayangkan diriku langsung meminta maaf, lalu membeli tiket pulang tanpa memberi kami waktu memahami apa yang terjadi.
Aku ingin kembali karena cinta. Namun aku juga ingin kembali karena kesepian, panik, dan ketakutan bahwa dia akan berhenti mengejar. Aku belum bisa memisahkan semuanya.
Untuk sekali ini, aku nggak mau menjadikan perasaan besar sebagai alasan mengambil keputusan terburu-buru untuk kami berdua.
Masalahnya, diam juga sebuah keputusan. Dan mungkin yang paling menyakitkan.
Pada akhirnya, aku nggak mengirim apa-apa.
Aku mematikan ponsel, melepaskan stiker T-Rex dari tangan, lalu menempelkannya di sisi koper.
Di kota baru yang seharusnya menjadi awal, aku duduk sendirian sambil menyentuh bibir yang masih mengingat ciuman terakhir.
Aku sudah pergi agar Helena nggak perlu memilih karena rasa bersalah.
Namun untuk pertama kalinya, aku mulai takut kepergianku bukan membebaskannya.
Mungkin aku cuma melukainya dengan cara yang terlihat lebih baik.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A reading
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur