Chapter Twenty One
Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
POV: Helena
Hujan turun tepat ketika aku bilang mau pulang.
Bukan hujan romantis yang cukup tipis untuk dipakai berlari sambil tertawa. Ini hujan Jakarta yang memukul kaca balkon sampai gedung di seberang hilang, disertai angin dan petir yang membuat lampu apartemen berkedip dua kali.
Erga berdiri di dekat jendela, memeriksa jalan dari lantai sembilan. “Tunggu reda.”
“Kalau nggak reda?”
“Saya antar.”
“Jalanan banjir.”
“Pesankan mobil.”
“Nggak ada yang menerima.” Aku menunjukkan layar ponsel yang sudah ditolak empat pengemudi. “Semesta menyuruh aku tinggal.”
Dia menoleh. “Semesta punya kepentingan apa?”
“Mungkin semesta suka kita.”
“Semesta juga membakar makan siang kita tadi.”
“Itu karena semesta iri.”
Erga menghela napas, tetapi senyumnya keluar. Senyum kecil yang sekarang sudah bisa kubaca: dia sedang berusaha terlihat keberatan padahal sebenarnya nggak.
Kami menunggu sampai jam sembilan. Hujannya malah makin deras. Ponselku menerima peringatan genangan di dua jalan menuju apartemenku, disusul pesan Rania agar aku nggak memaksa pulang.
Lima detik kemudian, pesan lain masuk.
Kalau nginep, kabarin. Gue perlu tahu buat urusan keselamatan, bukan kepo.
Lalu Keisha.
BOHONG. DIA KEPO. GUE JUGA.
Aku membalik ponsel.
“Aku nginep,” putusku.
Erga yang sedang minum langsung tersedak.
“Mas kenapa?”
“Kamu menyampaikannya seperti sedang mengambil alih perusahaan.”
“Kalau aku pakai nada minta izin, Mas bakal bilang nggak.”
“Saya belum jawab.”
“Aku tidur di sofa.”
Dia melihat sofa dua dudukan tempat kami tadi menonton film. Bahkan kakiku nggak bisa lurus di sana.
“Kamu tidur di kamar,” katanya.
“Terus Mas?”
“Sofa.”
“Mas lebih tinggi.”
“Saya pemilik rumah.”
“Makanya harus menjaga fasilitas.”
Perdebatan berlangsung tujuh menit dan berakhir dengan solusi yang kuklaim sangat dewasa: kami tidur di ranjang yang sama, dipisahkan tiga bantal panjang. Erga menatap susunan bantal buatanku seperti teknisi melihat instalasi listrik ilegal.
“Ini apa?”
“Perbatasan.”
“Tiga bantal?”
“Aku belum tahu tingkat ancaman di wilayah ini.”
“Kamu yang duduk di pangkuan saya tadi.”
“Itu terjadi di negara netral.”
Dia menutup wajah dengan tangan. “Kamu serius?”
“Sangat.”
Aku meminjam kaus hitam dan celana olahraga miliknya. Kausnya jatuh sampai pertengahan paha dan lengannya hampir menutupi siku. Saat keluar dari kamar mandi, Erga sedang mengganti sarung bantal. Tangannya berhenti.
“Kenapa lihat begitu?” tanyaku.
“Itu kaus saya.”
“Aku tahu. Aku ambil dari lemari Mas.”
“Saya juga tahu dari mana asalnya.”
“Cocok?”
Tatapannya turun satu detik, lalu buru-buru kembali ke wajahku. “Terlalu cocok.”
Pujian pendek itu membuatku lebih gugup daripada rayuan panjang yang pernah kudengar.
Kami naik ke ranjang dari sisi berbeda. Lampu dimatikan. Hujan terus berisik, sementara tiga bantal membentuk tembok konyol di tengah.
“Mas sudah tidur?” tanyaku setelah dua menit.
“Belum.”
“Aku juga.”
“Saya tahu.”
“Dari mana?”
“Kamu baru bicara.”
Aku menendang bantal pembatas. “Mas kalau romantis sedikit bisa mati?”
“Belum ada datanya.”
“Besok kita tes.”
“Tidur.”
Sepuluh menit kemudian, tanganku menemukan tangannya di celah antara bantal. Entah siapa yang mulai, jari kami saling mengunci dalam gelap.
“Ini melanggar perbatasan,” katanya.
“Cuma kerja sama bilateral.”
Ibu jarinya mengusap punggung tanganku. “Baik.”
Aku tertidur sambil tersenyum.
Ketika membuka mata lagi, hujan sudah menjadi suara halus. Cahaya pagi masuk lewat sela tirai. Hangat yang kurasakan ternyata bukan selimut.
Aku berada dalam pelukan Erga.
Punggungku menempel di dadanya. Satu lengannya melingkari pinggang, telapak tangannya terbuka di atas perutku. Wajahnya dekat tengkukku, napasnya teratur dan hangat. Tiga bantal perbatasan sudah jatuh ke lantai seperti negara yang kalah perang.
Aku nggak bergerak.
Seharusnya aku malu. Seharusnya aku menggeser tangannya atau pura-pura baru bangun. Sebaliknya, aku memperhatikan detail kecil: berat lengannya, suara napasnya, kaki kami yang saling bersentuhan di bawah selimut.
Begini rupanya bangun tanpa merasa sendirian.
Erga bergerak. Pelukannya mengencang sepersekian detik sebelum tubuhnya mendadak kaku.
“Pagi,” kataku.
Dia melepaskan tangan begitu cepat sampai hampir jatuh dari ranjang. “Maaf.”
Aku berbalik menghadapnya. Rambutnya berantakan, kacamatanya belum dipakai, dan ekspresinya benar-benar panik.
“Kenapa minta maaf?”
“Bantalnya jatuh.”
“Bantal yang jatuh, tangan Mas yang jalan-jalan.”
Wajahnya memerah. “Saya nggak sadar.”
Aku mengambil lengannya dan mengembalikannya ke pinggangku. “Sekarang sadar?”
Tatapannya berhenti di wajahku. “Sadar.”
“Masih mau lepas?”
Dia nggak menjawab. Hanya menarikku mendekat, pelan sekali, lalu mencium keningku.
Jantungku melakukan sesuatu yang memalukan.
Kami tetap begitu sampai alarm ponselnya berbunyi dari meja. Alarm itu memakai nada suara ayam berkokok.
Aku mengangkat kepala. “Serius?”
Erga meraih ponsel sambil menggerutu. “Pilihan Damar.”
“Mas nggak ganti?”
“Selalu lupa.”
“Ayamnya cocok. Sama-sama merusak suasana.”
Sarapan adalah roti panggang dan telur karena aku dilarang mendekati bawang. Aku berdiri di depan kompor memakai kausnya, rambut diikat asal dengan karet yang kutemukan di pergelangan sendiri.
Erga datang dari belakang. Kedua tangannya bertumpu di meja, mengurungku tanpa benar-benar menahan. Bibirnya menyentuh tengkukku singkat.
Spatula di tanganku berhenti.
“Mas.”
“Hm?”
“Kalau mengganggu koki, sarapannya bisa terbakar lagi.”
“Ini cuma telur.”
“Kemarin cuma daging.”
Dia mencium tengkukku sekali lagi. “Kamu selalu kelihatan seperti ini saat bangun?”
“Seperti apa?”
“Memakai baju saya dan menguasai dapur.”
Aku berbalik di dalam lingkaran tangannya. “Kalau kamu suka, aku bisa sering bangun di sini.”
Kalimat itu awalnya godaan. Namun setelah keluar, aku menyadari betapa serius aku menginginkannya.
Erga terdiam terlalu lama.
Ada rasa sakit kecil melintas di wajahnya, cepat sekali sampai aku hampir mengira cuma bayangan.
“Telurnya,” katanya akhirnya.
Aku menoleh. Pinggir telur sudah menghitam.
“Ini salah Mas.”
“Tentu.”
Senin pagi, Circle Cewek Metro langsung menangkapku sebelum aku mencapai meja.
Rania memegang daguku dan memiringkan wajahku ke kanan. Nadine memeriksa rambutku. Keisha berdiri dengan tangan terlipat seperti kepala penyidik.
“Bekas apa di pipi lo?” tanya Keisha.
Aku menyentuh pipi. Ada garis samar bekas lipatan sarung bantal.
“Bantal.”
Mereka bertiga saling pandang.
“Lokasi bantal?” tanya Nadine.
“Tempat tidur.”
“Pemilik tempat tidur?” Rania menyambung.
“Manusia.”
Keisha menunjuk kursi. “Duduk. Lo sedang diperiksa atas dugaan menginap di tempat target.”
“Dia bukan target.” Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Tiga wajah di depanku langsung berubah.
Aku berdiri lebih tegak. “Nanti kita bicara.”
Sebelum mereka sempat menahan, keributan kecil terdengar dari divisi IT. Seorang staf junior berdiri pucat di depan manajernya. Dari potongan percakapan, aku tahu ada konfigurasi sistem yang salah dan membuat layanan internal mati hampir satu jam.
“Saya yang menyetujui perubahan itu,” kata Erga tenang. “Pengecekan akhir tanggung jawab saya.”
Junior di sampingnya menoleh kaget. “Tapi, Mas—”
“Kita bahas perbaikannya setelah ini.”
Manajernya memberi teguran panjang. Erga menerima semuanya tanpa membela diri. Baru setelah ruangan sepi, aku melihat dia membawa junior itu ke ruang meeting kecil.
Aku berdiri di balik pintu yang terbuka sedikit.
“Kenapa Mas bilang itu kesalahan Mas?” tanya si junior, suaranya bergetar.
“Karena saya memang kurang mengecek.”
“Saya yang melewati prosedur.”
“Dan kamu akan memperbaikinya. Tapi masa percobaanmu selesai minggu depan. Satu kesalahan nggak perlu menghapus semua kerja bagusmu.”
“Mas bisa kena evaluasi.”
“Saya sudah permanen. Kamu belum.”
Dia nggak tahu aku mendengar. Dia juga nggak melakukannya supaya terlihat baik. Sama seperti semua hal kecil yang membuatku jatuh: dia selalu menjaga orang lain saat mengira nggak ada yang melihat.
Rasa di dadaku akhirnya punya nama yang nggak bisa lagi kutawar.
Aku mencintainya.
Bukan karena dia sulit didekati. Bukan karena aku hampir menang. Bukan karena ciumannya membuat lututku lemah.
Aku mencintai laki-laki yang merekatkan gagang cangkir retak, memberi telurnya kepadaku, dan rela menerima teguran agar seorang anak baru tetap punya kesempatan.
Erga keluar dari ruang meeting dan terkejut melihatku.
“Sudah berapa lama di situ?”
“Cukup lama.”
“Menguping itu nggak sopan.”
Aku meraih tangannya dan menggenggamnya di lorong terbuka. Beberapa orang melirik. Untuk pertama kalinya, aku nggak peduli.
“Nanti makan siang sama aku,” kataku.
“Itu perintah?”
“Iya.”
“Kalau saya menolak?”
Aku mendekat dan berbisik, “Aku akan cerita ke Damar soal alarm ayam.”
Erga menatapku datar. “Ancaman serius.”
“Jadi?”
Jarinya membalas genggamanku. “Saya ikut.”
Di belakang tanaman hias, terdengar bunyi sesuatu jatuh.
Rania muncul perlahan bersama seorang petugas kebersihan yang memegang kemoceng.
“Mbak ini dari tadi jongkok,” kata petugas itu. “Saya kira cari anting.”
Rania tersenyum kaku. “Memang. Anting.”
“Antingnya masih dipakai dua-duanya,” kataku.
Dia langsung lari.
Aku tertawa sambil tetap menggenggam tangan Erga.
Pagi tadi aku membayangkan bangun di sisinya lebih dari sekali. Sekarang, melihat tangannya di tanganku di tengah kantor, bayangan itu nggak lagi terasa seperti godaan.
Itu terasa seperti masa depan yang ingin kupilih.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target reading
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur