Chapter Twenty Five

Empat Hari buat Menghafal Seseorang

POV: Erga

Aku bangun lebih dulu di ranjang Helena.

Dia tidur menghadapku, satu tangan mencengkeram bagian depan kaus yang kupakai semalam. Rambutnya menutupi sebagian wajah. Ada garis tipis bekas bantal di pipi, sama seperti saat dia bangun di apartemenku.

Empat hari.

Hari ini tanggal dua puluh enam. Pesawatku berangkat dini hari setelah hari kedua puluh sembilan. Secara teknis masih ada waktu, tetapi setiap jam sudah terasa seperti sesuatu yang dipinjam dan harus dikembalikan.

Aku memindahkan rambut dari wajahnya. Dia mengerutkan hidung, lalu mendekat tanpa membuka mata.

“Jam berapa?” gumamnya.

“Setengah enam.”

“Mas bohong.”

“Kenapa?”

“Jam setengah enam nggak seharusnya punya suara.”

Aku hampir tertawa. “Tidur lagi.”

“Mas mau ke mana?”

Tangannya mencengkeram kausku lebih kuat.

“Beli sarapan.”

“Nanti.”

“Saya harus pulang ambil baju kantor.”

Dia membuka satu mata. “Mas sengaja nggak bawa baju ganti.”

“Seseorang bilang itu bercanda.”

“Aku berubah pikiran.”

Aku menatap wajah mengantuknya dan mendadak ingin mengubah seluruh keputusan hidupku. Tinggal. Mengaku bahwa aku tahu. Meminta dia memilihku setelah permainan selesai.

Namun ketakutan selalu datang lebih cepat daripada keberanian.

Aku mencium keningnya. “Mandi. Saya ajak sarapan.”

“Di mana?”

“Rahasia.”

Dia membuka kedua mata. “Mas punya rahasia dari aku?”

Lebih banyak daripada yang seharusnya.

“Sekarang punya,” jawabku.

Aku sudah menyusun daftar kecil semalam saat dia tertidur. Bukan tempat mahal. Bukan pengalaman besar. Hanya hal-hal biasa yang ingin kusimpan sebagai bukti bahwa selama beberapa hari, kami pernah menjalani hidup seolah punya waktu panjang.

Sarapan pertama adalah bubur ayam kaki lima di bawah jembatan penyeberangan.

Helena datang memakai blazer kantor di atas kaus putih, rambut masih sedikit basah. Ketika turun dari mobil, dua orang di meja sebelah otomatis menoleh. Penjual bubur bahkan lupa menaruh kerupuk di mangkuk pelanggan lain.

“Mas yakin tempatnya ini?” tanyanya sambil melihat bangku plastik.

“Takut?”

“Aku cuma khawatir bangkunya jatuh cinta terus patah.”

“Kepercayaan dirimu sehat.”

Dia duduk dan langsung meminta tambahan cakwe. Lima menit kemudian, dia mencuri ati ampela dari mangkukku lalu mengaku itu pajak kencan.

“Ini kencan?” tanyaku.

“Kalau Mas mau.”

“Kalau saya nggak mau?”

“Tetap kencan. Mas cuma nggak diajak rapat keputusan.”

Aku menyimpan cara dia meniup bubur terlalu keras sampai kuahnya mengenai ujung hidung. Cara dia protes saat kuhapus dengan tisu. Cara dia akhirnya makan kerupuk terakhir setelah berjanji membaginya.

Di kantor, aku mengosongkan meja sedikit demi sedikit.

Dokumen pribadi masuk tas. Buku jaringan kuberikan kepada junior. Mug lama dicuci dan dibungkus. Kalender tiga puluh hari kusimpan paling bawah agar nggak terlihat.

Damar berdiri di samping meja sambil memegang satu kabel HDMI.

“Gue merasa sedang menyaksikan perceraian.”

“Saya cuma merapikan.”

“Lo nggak pernah rapi sampai melepas label nama dari laci.”

Aku memasukkan obeng kecil ke kotak. “Terlalu banyak barang.”

“Termasuk bungkus gula penjajahan?”

“Itu ikut.”

Damar menghela napas. “Bahkan sampah dapat visa.”

Aku menatapnya.

“Gue membantu dengan humor,” katanya.

“Kamu membuat saya ingin membatalkan surat rekomendasimu.”

“Nah, itu baru atasan yang akan gue rindukan.”

Saat jam makan siang, aku mengirim pesan kepada Helena.

Selesai kerja, jangan buat janji.

Dia membalas dengan foto dirinya mengangkat alis.

Mas menculik aku?

Iya.

Boleh. Asal penculiknya pakai kemeja biru yang kemarin.

Aku melihat kemeja biru yang kebetulan kugantung di belakang pintu. Damar ikut melihat layar pesan dari bahuku.

“Dress code penculikan?”

Aku mendorong wajahnya menjauh.

Sore itu kami naik MRT tanpa tujuan. Kami turun di stasiun yang belum pernah Helena kunjungi, berjalan mengikuti arus orang, lalu masuk ke pusat perbelanjaan kecil hanya karena dia melihat papan toko buku.

“Kita ke toko buku lagi?” tanyanya.

“Kamu keberatan?”

“Nggak. Tapi aku mulai curiga Mas cuma punya satu ide kencan.”

“Tadi pagi bubur.”

“Dua ide.”

Di toko buku, dia memilih novel dengan sampul yang menurutnya jelek tetapi judulnya bagus. Aku membeli buku catatan polos yang nggak kubutuhkan.

“Buat apa?” tanyanya.

“Catatan.”

“Catatan apa?”

Aku hampir menjawab hal-hal yang akan saya rindukan. Sebagai gantinya, aku berkata, “Password.”

Helena merebut buku itu. “Jangan tulis password di buku.”

“Kenapa?”

“Mas orang IT atau korban penipuan?”

Dia mengembalikannya sambil mengomel selama dua lorong. Aku mendengarkan setiap kata dan berharap ingatan manusia bisa dicadangkan seperti data.

Di lantai atas ada photobooth berwarna merah muda. Helena langsung menarik tanganku masuk.

“Kita foto.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Tempatnya sempit.”

“Mas pernah cium aku di ruang arsip yang lebih sempit.”

Sepasang anak kuliah di belakang kami menoleh. Aku menutup mata.

“Kamu sengaja bicara keras?”

“Iya.”

Akhirnya kami duduk berdempetan di bangku kecil. Layar menghitung mundur dari lima. Pada foto pertama, aku baru sempat melihat kamera ketika Helena memegang wajahku dan mencium bibirku.

Lampu kilat menyala.

Foto kedua menangkap ekspresi kagetku dan tawanya yang pecah. Foto ketiga kami mencoba serius, tetapi dia memasang dua jari di belakang kepalaku. Foto keempat akhirnya normal: kepalanya di bahuku, tanganku menggenggam tangannya di pangkuan.

Hasilnya tercetak dua salinan.

Helena tertawa sampai bersandar ke dinding saat melihat foto pertama. “Wajah Mas!”

“Kamu curang.”

“Itu foto terbaik.”

“Saya terlihat seperti kena serangan.”

“Serangan cinta.”

“Tolong jangan ucapkan itu di tempat umum.”

Dia memegang satu strip, lalu memberikan satu kepadaku. Aku langsung memasukkannya ke dompet.

“Cepat banget disimpan.”

“Biar nggak kamu ambil.”

“Aku bisa minta lagi.”

“Nggak boleh.”

Yang sebenarnya: aku takut kalau menatapnya terlalu lama, wajahku akan membongkar semuanya.

Kami naik MRT lagi tanpa tujuan jelas. Helena duduk di sampingku, bahunya menempel pada lengan. Gerbong nggak terlalu ramai. Di seberang, kaca jendela memantulkan kami seperti pasangan biasa yang sedang pulang.

Dia bercerita tentang klien yang meminta warna “lebih mahal” tanpa bisa menjelaskan maksudnya. Aku menyalakan perekam suara di ponsel dalam saku, bukan untuk percakapan rahasia—hanya untuk menyimpan tawanya ketika aku menyarankan warna emas dengan label harga.

“Mas dari tadi lihat aku terus,” katanya tiba-tiba.

Aku mematikan rekaman. “Nggak.”

“Iya. Di warung, toko buku, sekarang.”

“Kamu terlalu percaya diri.”

“Mas bahkan nggak lihat stasiun kita.”

Pintu menutup. Nama stasiun yang seharusnya menjadi tempat kami turun lewat begitu saja.

Helena menunjuk layar rute dengan wajah menang. “Tuh.”

Aku tertawa pelan. “Kita turun berikutnya.”

“Jawab dulu. Kenapa lihat aku begitu?”

Aku menatap wajahnya. Lampu gerbong bergerak di matanya. Ada senyum tipis menunggu rayuan, tanpa tahu jawabanku sepenuhnya jujur.

“Lagi nyimpen,” kataku.

Senyumnya melebar. “Nyimpen di mana?”

Aku menyentuh pelipis sendiri. “Di sini.”

“Kenapa? Aku mau pergi?”

Dadaku terasa ditusuk pelan.

“Nggak,” jawabku. “Cuma ingin ingat.”

Dia bersandar lebih dekat. “Mas bisa lihat aku besok.”

Aku menggenggam tangannya. “Iya.”

Tiga kali lagi, pikirku.

Dalam perjalanan kembali, Helena tertidur di bahuku. Tangannya masih berada di tanganku. Aku mengangkatnya pelan dan mencium ujung jari telunjuknya.

Lalu jari tengah.

Jari manis.

Kelingking.

Terakhir ibu jari, yang bergerak kecil saat bibirku menyentuhnya.

Dia ternyata belum tidur sepenuhnya. Matanya membuka sedikit.

“Mas sedang apa?”

“Mengganggu.”

“Lanjut.”

Aku mencium telapak tangannya, lalu menahannya di pipiku. Helena tersenyum mengantuk dan kembali memejamkan mata.

Di pantulan kaca, aku menghafal kami sekali lagi.

Malam itu, setelah mengantarnya pulang, aku kembali ke apartemen dan memasukkan pakaian ke koper. Kaus hitam yang pernah dipakainya kulipat paling atas. Di saku depan koper kusimpan struk toko buku, bungkus gula, catatan bekal, dan satu strip foto.

Aku memutar rekaman pendek dari MRT.

Suara tawanya memenuhi apartemen yang sebentar lagi kosong.

Empat hari untuk menghafal seseorang ternyata terlalu singkat.

Seumur hidup pun mungkin nggak akan cukup untuk belajar melupakannya.