Chapter Six

Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya

POV: Erga

Aku menyimpan gelas kopi pemberian Helena selama dua hari.

Bukan kopinya. Gelas kosongnya.

Aku sudah mencucinya sampai gambar wajah tersenyum yang dia buat dengan spidol mulai pudar. Benda itu tetap ada di sudut meja, di antara tempat pensil dan monitor kedua, seperti bukti bahwa percakapan kami di ruang kecil kemarin bukan hasil kurang tidur.

Damar menemukannya sebelum jam sembilan.

Dia mengangkat gelas itu setinggi mata. “Sampah sekarang punya nilai sentimental?”

Aku merebutnya. “Belum sempat buang.”

“Tempat sampah jaraknya empat langkah.”

“Lagi sibuk.”

“Dua hari?”

Aku memasukkan gelas ke laci. Damar menatapku dengan ekspresi dokter yang baru memastikan pasiennya nggak tertolong.

“Gue paham,” katanya pelan.

“Paham apa?”

“Lo sudah direkrut.”

“Direkrut ke mana?”

Dia melirik ke arah lift, memastikan nggak ada orang dari divisi Design yang lewat. “Sekte kecantikan.”

Aku memejamkan mata. “Kerja, Mar.”

“Langkah pertama dikasih kopi. Langkah kedua disuruh beli skincare. Langkah ketiga lo pakai blazer warna pastel dan ninggalin gue.”

“Kedengarannya hidup gue membaik.”

Damar menekan dada seolah terluka, lalu kembali ke mejanya.

Masalahnya, setelah tiga hari terakhir, teori sekte itu terdengar hampir lebih masuk akal daripada kenyataan bahwa Helena memang ingin dekat denganku.

Dia mulai mengirim pesan tanpa alasan teknis. Kadang foto makan siangnya, kadang tangkapan layar desain yang belum boleh dilihat siapa pun, kadang cuma keluhan karena Keisha mengambil charger lalu menyangkal meski kabelnya masih ada di tas.

Aku membalas seperlunya pada awalnya. Bukan karena nggak ingin bicara. Justru karena terlalu ingin.

Kalau Helena mengirim satu pesan, aku bisa membaca lima kemungkinan makna. Kalau dia membalas dengan emoji, aku mempertanyakan kenapa memilih warna hati tertentu. Aku tahu itu berlebihan. Tetap saja otakku melakukannya tanpa izin.

Pada hari keempat, dia muncul di meja IT menjelang makan siang.

Semua orang melihatnya masuk. Bahkan Reza yang biasanya tetap fokus saat alarm kebakaran berbunyi ikut mengangkat kepala.

Helena berjalan lurus ke mejaku dan meletakkan dua kotak makanan.

“Makan,” katanya.

“Ini perintah?”

“Ajakan yang sangat tegas.”

Aku melirik kotak kedua. “Buat saya?”

“Kalau buat Damar, aku kasih makanan kucing.”

Dari belakang terdengar protes. “Gue dengar!”

Helena menoleh. “Bagus.”

Kami makan di taman kecil belakang gedung. Tempatnya nggak terlalu ramai karena matahari Jakarta sedang kejam-kejamnya. Helena memilih bangku di bawah pohon, lalu melepas sepatu haknya sebentar dan menggerakkan jari kaki dengan lega.

“Jangan lihat,” katanya saat menyadari arah mataku.

Aku memindahkan pandangan ke kotak makan. “Saya lihat semut.”

“Semutnya pakai kuteks merah?”

“Semut zaman sekarang maju.”

Helena tertawa, dan untuk beberapa menit aku lupa mempertanyakan kenapa dia ada di sana.

Kami bicara soal hal-hal kecil. Pekerjaan. Makanan. Film jelek yang ternyata sama-sama pernah kami tonton sampai habis. Dia bercerita sambil memakai tangan, ekspresinya berubah cepat, jauh berbeda dari versi sempurna yang biasanya kulihat dari jauh.

Aku suka versi ini lebih dari seharusnya.

Hari berikutnya dia datang lagi. Kali ini tanpa makanan. Dia cuma duduk di kursi sebelahku selama sepuluh menit, memakai satu sisi headset, lalu pergi setelah meeting reminder-nya berbunyi.

Sebelum pergi, dia menemukan gelas bergambar senyum yang kusimpan di laci karena Damar lupa menutupnya setelah mencari stapler.

Helena mengangkat gelas itu. “Mas nyimpen ini?”

Aku membeku sepersekian detik. “Belum sempat buang.”

“Dua hari belum sempat?”

“Tempat sampah penuh.”

Dia menoleh ke tempat sampah yang baru diganti dan jelas masih kosong. Aku memikirkan kemungkinan melompat lewat jendela, tetapi kami ada di lantai tujuh dan itu terlalu dramatis.

Helena nggak menertawakan. Dia memutar gelas itu pelan, melihat gambar wajah yang sudah pudar, lalu meletakkannya kembali di sudut mejaku—bukan ke laci.

“Jangan dibuang,” katanya.

“Kenapa?”

“Aku gambar itu susah-susah.”

“Cuma lingkaran sama dua titik.”

“Tetap karya seni.”

Dia tersenyum sebelum berdiri. Saat melewati kursiku, jemarinya menyentuh bahuku singkat seperti gerakan alami. Setelah dia pergi, gelas itu tetap di atas meja. Aku nggak memasukkannya lagi ke laci.

Damar muncul lima detik kemudian. “Tahap tiga.”

“Lo nguping?”

“Gue saksi sejarah.”

“Pergi.”

“Sebentar lagi lo beli etalase buat gelasnya.”

Aku mendorong kursinya menjauh dengan kaki.

Malamnya kami bertukar playlist.

Playlist Helena berisi lagu-lagu yang terlalu energik untuk didengar setelah jam sebelas. Playlist-ku dia sebut “musik buat menatap hujan sambil menyesali pilihan hidup”.

Helena: Mas dengerin ini kalau lagi sedih?

Aku: Nggak. Kalau lagi konfigurasi server.

Helena: Server Mas punya masalah emosional?

Aku: Lebih stabil daripada sebagian manusia.

Helena: Mas ngomongin aku?

Aku menatap pertanyaan itu cukup lama sebelum mengetik.

Aku: Saya belum punya data cukup.

Helena: Berarti harus penelitian lebih lama.

Aku tersenyum ke layar. Damar yang sedang mengirim laporan dari meja sebelah langsung menunjuk wajahku.

“Gejala tahap dua,” katanya.

“Apa?”

“Senyum ke ponsel. Besok lo mulai pakai toner.”

Aku melempar tutup botol ke arahnya.

Pada hari keenam, Helena mengirim selfie menjelang tengah malam. Dia memakai filter kacamata bulat besar dengan freckles palsu di pipi. Rambutnya diikat asal, dan ada sheet mask setengah terlepas di dagu.

Helena: Udah kelihatan nerd belum?

Aku mengetik beberapa jawaban, menghapus semuanya, lalu memilih yang paling jujur.

Aku: Masalahnya bukan kacamatanya. Kamu tetap terlalu mencolok.

Pesan terkirim.

Aku baru sadar memakai kamu, bukan Mbak, ketika ponsel langsung berdering.

Nama Helena memenuhi layar.

Aku duduk lebih tegak di tempat tidur sebelum mengangkat. “Halo?”

“Ulangi.”

“Apa?”

“Yang barusan Mas ketik.”

“Kenapa?”

“Aku mau dengar langsung.”

Aku mengusap wajah. “Udah malam.”

“Aku tahu cara kerja jam.”

“Sheet mask-nya lepas.”

“Mas jangan mengalihkan topik.”

Ada senyum di suaranya. Aku bisa membayangkan dia berbaring sambil menunggu, puas karena berhasil membuatku gugup.

“Kamu tetap terlalu mencolok,” ulangku akhirnya.

Helena diam dua detik.

“Nah,” katanya lebih pelan. “Lebih bagus kalau diucapin.”

Aku seharusnya kembali memakai bahasa formal. Seharusnya memberi jarak. Tapi dia terus mengajakku bicara—tentang desain yang belum selesai, tentang tetangga apartemennya yang bernyanyi terlalu keras, tentang kucing liar di parkiran yang dia beri nama Direktur karena selalu duduk dekat mobil paling mahal.

Obrolan kami melewati tengah malam.

Di sela cerita, Helena bertanya apakah aku selalu tinggal sendirian. Aku bilang iya, sudah tiga tahun. Dia mengaku apartemennya sering terasa terlalu besar saat pulang malam, sesuatu yang nggak pernah kubayangkan dari orang yang selalu dikelilingi teman.

“Bukannya teman kamu banyak?” tanyaku.

“Banyak orang bukan berarti nggak sepi.”

Untuk beberapa detik, suara playful-nya hilang. Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi dia sudah mengubah topik dan mengeluh soal tetangga yang menyanyikan lagu patah hati dengan nada salah.

Kalimat itu tetap tinggal. Mungkin karena aku memahami persis bagaimana rasanya berada di antara banyak orang dan tetap nggak merasa benar-benar terlihat.

Jawaban Helena mulai pendek. Suaranya melambat. Beberapa kali dia diam cukup lama sampai kukira sambungan terputus.

“Mas?”

“Iya.”

“Masih ada?”

“Masih.”

“Jangan ditutup dulu.”

“Kenapa?”

Nggak ada jawaban.

Aku memanggilnya sekali. Yang terdengar cuma napas teratur di ujung telepon. Dia tertidur tanpa menutup panggilan.

Aku seharusnya langsung mematikannya. Sebaliknya, aku berbaring sambil memegang ponsel dekat telinga, mendengarkan suara napas seseorang yang sebulan lalu bahkan nggak tahu aku ada.

Keajaiban kecil selalu datang dengan rasa takut. Semakin indah sesuatu terasa, semakin mudah otak mengingatkan bahwa itu bisa hilang.

Aku nggak tahu kenapa Helena memilih mendekat. Mungkin dia penasaran. Mungkin dia sedang bosan. Mungkin satu minggu lagi dia menemukan hal lain yang lebih menarik.

Tapi malam itu, aku membiarkan diriku menikmati kemungkinan paling bodoh.

Mungkin dia mulai menyukaiku juga.

Sebelum menutup telepon, aku berkata pelan meski tahu dia nggak mendengar.

“Selamat tidur.”

Lalu aku menyimpan ponsel di samping bantal dan menatap langit-langit dengan senyum yang nggak bisa kuhentikan.