Chapter Twenty Four

Jangan Pulang Dulu

POV: Helena

Pada hari kedua puluh lima, aku mulai merasa waktu bergerak terlalu cepat.

Aku belum tahu kenapa perasaan itu muncul. Taruhan sudah kubatalkan. Pengakuan sudah kurencanakan. Hari ketiga puluh tinggal lima hari lagi dan setelah itu, seharusnya, aku bisa memulai semuanya dengan benar.

Namun sejak pagi Erga terlihat berbeda.

Dia masih membawakan kopi. Masih menyentuh punggung bawahku saat kami melewati pintu. Masih membalas pesan dengan kalimat pendek yang sengaja dibuat menyebalkan. Tapi setiap kali mengira aku nggak melihat, tatapannya menetap terlalu lama—seolah dia sedang mencoba mengingat wajahku.

Malamnya kami makan di warung kecil dekat apartemenku. Erga memilih tempat itu, padahal biasanya aku yang menentukan.

“Kenapa di sini?” tanyaku.

“Nasi gorengnya enak.”

“Mas pernah datang?”

“Belum.”

“Terus tahu dari mana?”

“Damar.”

“Damar juga bilang lip balm adalah investasi produktivitas.”

“Sesekali dia benar.”

Aku mencicipi nasi gorengnya. Memang enak. Erga memperhatikan reaksiku, lalu tersenyum seolah baru berhasil menyelesaikan sesuatu.

“Mas aneh,” kataku.

“Baru sadar?”

“Hari ini lebih aneh.”

“Mungkin kamu lebih memperhatikan.”

“Aku selalu memperhatikan.”

Dia berhenti mengaduk makanan. Tatapannya naik ke wajahku, dalam dan sedikit sedih.

“Saya tahu,” katanya.

Setelah makan, dia mengantarku sampai pintu apartemen. Biasanya dia akan menunggu aku masuk, lalu pergi. Malam ini aku berdiri di ambang dan nggak rela membiarkan pola itu terjadi.

“Mas masuk dulu.”

“Sudah malam.”

“Makanya masuk.”

“Logikanya?”

Aku menarik ujung dasinya. “Aku mau Mas masuk.”

Erga menatap tanganku, lalu wajahku. “Kamu yakin?”

“Mas akan terus nanya itu setiap kali aku mengajak masuk?”

“Kalau perlu.”

“Iya, aku yakin.”

Dia akhirnya melangkah melewati pintu.

Aku menyalakan lampu ruang tengah. Apartemenku lebih besar daripada miliknya, tetapi malam ini terasa lebih sepi. Erga meletakkan tas laptop di kursi, melepas sepatu, lalu berdiri seolah menunggu instruksi.

“Mau minum?” tanyaku.

“Air putih.”

“Mas membosankan.”

“Kamu sudah tahu sebelum mengundang.”

Saat aku mengambil air, tiga pesan masuk berurutan.

Rania: Sudah jujur?

Nadine: JANGAN TUNGGU HARI 30.

Keisha: Kalau lo kabur, gue datang bawa printer terkutuk itu.

Aku mengunci layar dan meletakkan ponsel telungkup.

“Teman-temanmu?” tanya Erga.

“Gangguan rutin.”

Dia menerima gelas, tetapi belum sempat minum ketika aku berdiri di depannya.

“Mas.”

“Hm?”

“Cium aku.”

Tatapannya langsung berubah. “Kamu belum duduk sejak masuk.”

“Aku nggak capek.”

“Kamu kelihatan gelisah.”

“Aku akan lebih tenang kalau Mas berhenti menganalisis.”

Aku mengambil gelas dari tangannya dan menaruhnya di meja. Lalu aku duduk di pangkuannya, kedua lutut di sisi pahanya.

Napas Erga tertahan.

Tangannya refleks memegang pinggangku, tetapi tetap diam di sana.

“Sekarang?” tanyaku.

“Sekarang kamu makin kelihatan gelisah.”

“Mas mau aku turun?”

“Nggak.”

Jawaban cepat itu membuatku tersenyum.

Aku membuka kancing teratas kemejanya. Hanya satu. Jari-jariku menyentuh kulit hangat di pangkal leher, merasakan denyut yang lebih cepat daripada wajah tenangnya.

“Mas gugup,” bisikku.

“Kamu duduk di pangkuan saya sambil membuka kancing. Reaksi apa yang kamu harapkan?”

“Yang ini.”

Aku mencium bibirnya.

Erga membalas seketika. Satu tangannya naik ke belakang leherku, menahan tanpa memaksa, sementara tangan lain merapatkan pinggangku. Ciuman itu terasa berbeda dari sebelumnya. Lebih lapar, tetapi juga lebih sedih—seolah dia mencium sesuatu yang sebentar lagi hilang.

Aku nggak memahami kesedihan itu. Aku hanya tahu rasa takut tanpa nama di dadaku mendesak supaya aku mendekat.

Tanganku masuk ke rambutnya. Erga memiringkan kepala, memperdalam ciuman sampai napasku tercecer. Ketika aku bergerak di pangkuannya, pegangannya mengencang.

“Pelan,” bisiknya di bibirku.

“Kenapa?”

Dia memejamkan mata sebentar. “Karena saya juga punya batas.”

“Aku nggak minta Mas berhenti.”

“Saya tahu.”

Aku mencium rahangnya, lalu kembali ke bibir. Jarak dan kendali yang biasanya dia jaga mulai runtuh sedikit demi sedikit. Dia menarikku lebih dekat, menciumku dalam dan lama sampai jemariku gemetar di bahunya.

Ponselku berbunyi lagi.

Lalu sekali lagi.

Dan lagi.

Erga berhenti dengan dahi menempel di dahiku. “Boleh saya matikan?”

“Ponselnya atau teman-temanku?”

“Untuk pilihan kedua, saya perlu konsultasi hukum.”

Aku tertawa tanpa napas. “Matikan ponselnya.”

Dia mengambil ponsel dari meja, menunjukkan layar sebelum menyentuh apa pun. “Mode pesawat?”

“Iya.”

Pesan terakhir dari Keisha sempat terbaca: GUE HITUNG SAMPAI SEPULUH.

Erga menaikkan alis. “Kamu sedang diancam?”

“Dia memang begitu kalau khawatir.”

“Perlu saya bantu?”

“Mas sudah membantu.” Aku mengambil ponsel yang kini diam dan meletakkannya jauh di meja. “Sangat.”

Aku kembali ke pangkuannya. Kali ini dia yang menarikku lebih dulu.

Ciumannya turun ke sudut bibir, rahang, lalu leher. Aku memegang bahunya dan menutup mata. Bibirnya berhenti setiap kali napasku berubah, menunggu tubuhku memberi jawaban sebelum melanjutkan. Nggak ada yang tergesa. Nggak ada tangan yang melampaui pinggang dan punggungku.

Justru kendali itu membuat kedekatan kami terasa lebih telanjang.

Aku menyentuh kancing kedua kemejanya, tetapi nggak membukanya. Jemariku cuma berhenti di sana, merasakan dadanya naik turun. Erga memegang pergelangan tanganku, bukan untuk menjauhkan, lalu menempelkan telapak tanganku tepat di atas jantungnya.

Detaknya keras.

“Mas masih mau bilang nggak gugup?” tanyaku.

“Saya nggak pernah bilang begitu malam ini.”

“Berarti akhirnya jujur.”

“Kamu membuatnya sulit disembunyikan.”

Aku menunduk, mencium bagian kulit yang terlihat di balik kancing terbuka. Erga menarik napas tajam. Tangannya berpindah ke rambutku, mengusap sekali sebelum mengangkat wajahku kembali.

“Lihat saya,” katanya.

Aku menurut.

Dia menciumku sambil tetap menatap selama satu detik pertama. Kedekatan itu membuat dadaku terasa terbuka. Bukan karena tubuh kami, melainkan karena nggak ada tempat untuk menyembunyikan rasa takut di wajah masing-masing.

Aku menyentuh keningnya. “Mas kenapa kelihatan sedih?”

“Saya sedang senang.”

“Dua-duanya bisa terjadi bersamaan.”

Dia tersenyum kecil. “Kamu mulai terlalu mengenal saya.”

“Memangnya nggak boleh?”

“Boleh.” Jawabannya hampir berupa bisikan. “Itu yang bikin susah.”

“Jangan pulang dulu,” bisikku.

Erga mengangkat wajah. “Saya belum mau pulang.”

“Bukan cuma sekarang.”

Tangannya berhenti mengusap punggungku.

Aku nggak tahu kenapa kalimat itu keluar. Mungkin karena tatapannya sepanjang hari. Mungkin karena tubuhku merasakan sesuatu yang belum dijelaskan pikiran.

“Maksudmu?” tanyanya.

“Nggak tahu.” Aku menyentuh pipinya. “Rasanya Mas seperti mau pergi.”

Ada satu detik ketika dia terlihat hampir mengatakan sesuatu.

“Saya di sini,” jawabnya akhirnya.

“Itu bukan jawaban.”

“Untuk malam ini, iya.”

Aku membenci batas yang dia pasang pada kalimat itu.

Aku menciumnya lagi, lebih keras, seolah bisa menahan sesuatu tetap tinggal dengan bibir. Erga membalas, tetapi beberapa saat kemudian dia memperlambat ciuman dan memegang kedua sisi wajahku.

“Kita berhenti di sini.”

Dadaku naik turun. “Aku nyaman.”

“Saya tahu.”

“Aku mau.”

“Saya juga.” Pengakuan itu terdengar serak. “Itu masalahnya.”

“Kenapa jadi masalah?”

Erga menatapku lama. Ibu jarinya menyapu bibir bawahku.

“Kalau kita melangkah lebih jauh, saya nggak mau itu terjadi di tengah sesuatu yang belum kita bicarakan.”

Aku mengira dia sedang membicarakan status kami. Tentang bagaimana kami belum pernah menyebut hubungan ini pacaran, belum pernah benar-benar mengucapkan perasaan.

Rasa hormat dan rasa bersalah datang bersamaan.

Dia bahkan menahan diri karena menunggu kejelasan, sementara aku tahu ada kebohongan yang jauh lebih besar di antara kami.

“Hari ketiga puluh,” kataku. “Kita bicarakan semuanya.”

Wajahnya berubah lembut, tapi matanya tetap menyimpan kesedihan. “Baik.”

Aku turun dari pangkuannya. Bukan karena marah. Kakiku memang sudah terlalu lemas untuk mempertahankan gengsi.

Erga merapikan kancing kemejanya, lalu berdiri. “Saya tidur di sofa.”

“Nggak.”

“Kita baru saja sepakat berhenti.”

“Tidur itu tidur.”

“Terakhir kita tidur, perbatasan gagal.”

“Kali ini nggak pakai perbatasan.”

Dia mengusap wajah. “Kamu sengaja membuat semuanya sulit.”

“Mas tetap tinggal.”

“Iya.”

“Berarti Mas suka yang sulit.”

“Saya suka kamu. Sayangnya itu berkaitan.”

Aku membeku.

Erga juga.

Itu bukan pengakuan cinta yang jadi syarat taruhan. Bukan kata cinta, bukan pernyataan formal. Tetapi kata suka keluar begitu alami sampai jantungku menghantam keras.

“Mas barusan bilang suka aku.”

Dia mengambil gelas air dan minum seolah nggak terjadi apa-apa. “Kamu salah dengar.”

“Pendengaran aku sehat.”

“Sudah malam.”

“Mas suka aku.”

“Sikat gigi ada yang baru di lemari.”

“Mas—”

Dia berjalan ke kamar mandi dengan telinga merah. Aku tertawa, tetapi nggak ada rasa menang sedikit pun. Kalau ini terjadi dua minggu lalu, aku mungkin akan memotret jam, mencatat kalimat, dan mengirimkannya ke grup.

Malam ini aku cuma ingin menyimpan kata itu sendirian.

Kami tidur berhadapan di ranjangku. Nggak ada tiga bantal. Erga menarikku ke dadanya begitu lampu padam, dan aku melingkarkan kaki pada kakinya tanpa malu.

“Mas?”

“Hm?”

“Setelah hari ketiga puluh, aku punya sesuatu yang ingin dikatakan.”

Napasnya berhenti sebentar di atas rambutku.

“Aku juga,” jawabnya.

Aku tersenyum dalam gelap. Kukira kami sedang menuju awal yang sama.

Aku nggak tahu kalimatnya akan menjadi perpisahan.