Chapter Thirty One
Aku Datang Bukan buat Menang
POV: Helena
Tiga minggu setelah Erga pergi, aku berdiri di stasiun MRT Singapura dan tersesat dengan penuh percaya diri.
Aku sudah mempelajari peta sejak Jakarta. Sudah menyimpan tangkapan layar rute, nama stasiun, pintu keluar, bahkan foto gedung di dekat kafe tempat kami akan bertemu. Namun setelah dua kali berganti jalur, aku malah berada di peron yang membawa kereta kembali ke bandara.
Seorang petugas bertanya apakah aku perlu bantuan.
“Nggak, saya tahu arahnya,” jawabku.
Lima menit kemudian, aku berdiri di tempat yang sama.
Petugas itu melewatiku lagi. Kali ini dia nggak bertanya. Dia cuma tersenyum penuh pengertian.
Aku mengeluarkan ponsel dan menatap percakapan dengan Erga.
Tiga hari lalu, aku mengirim satu pesan setelah hampir tiga minggu diam.
Aku ingin meminta satu percakapan. Tempat dan waktunya kamu yang tentukan. Kalau kamu bilang tidak, aku nggak akan datang.
Jawabannya baru masuk enam jam kemudian.
Sabtu. Jam dua. Kafe di dekat kantor.
Nggak ada sapaan. Nggak ada emotikon. Namun itu lebih banyak daripada yang kuterima sejak dia pergi.
Aku sudah berjanji nggak akan memaksanya menolongku, tetapi kalau terus begini aku mungkin tiba setelah kafe tutup.
Jadi aku mengetik:
Aku sedikit tersesat.
Balasan datang kurang dari satu menit.
Kirim lokasi.
Aku mengirim pin.
Tiga titik muncul, lalu hilang, muncul lagi, dan akhirnya sebuah gambar masuk. Peta jalur MRT yang sudah diberi lingkaran merah tebal, tanda panah, serta tulisan JANGAN NAIK YANG KE BANDARA.
Aku menatap huruf kapital itu dan hampir menangis karena rindu.
Aku tahu, balasku.
Kalau tahu, kenapa berdiri di peronnya?
Aku menoleh ke kamera keamanan, mendadak curiga dia bisa melihatku dari mana saja.
Kamu pasang CCTV pribadi?
Nama peronnya terlihat di foto lokasi.
Mas IT tetap Mas IT, bahkan saat sedang marah.
Aku tiba di kafe dua belas menit sebelum jam dua. Erga sudah duduk di pojok dekat jendela.
Tiga minggu membuatnya terlihat sekaligus sama dan berbeda. Kacamata yang sama. Kemeja gelap dengan lengan digulung. Rambut sedikit lebih panjang di depan. Namun bahunya tampak lebih kaku, dan nggak ada senyum ketika mata kami bertemu.
Langkahku melambat.
Selama penerbangan, aku membayangkan ingin memeluknya. Di depan pintu kafe, tubuhku bahkan sempat bergerak mengikuti kebiasaan lama. Namun ini bukan lagi tubuh yang boleh kusentuh tanpa izin.
Aku berhenti di depan meja. “Hai.”
“Hai.”
“Sudah lama?”
“Baru.”
Aku duduk di seberang, bukan di sampingnya. Ada dua gelas air dan satu americano di meja. Nggak ada pesanan untukku.
Jarak kecil itu terasa lebih nyata daripada jarak Jakarta–Singapura.
Pelayan datang. Aku memesan latte tanpa benar-benar membaca menu. Setelah dia pergi, kami sama-sama diam.
“Kamu sehat?” tanyaku.
“Iya.”
“Kerjanya?”
“Baik.”
“Apartemennya?”
“Cukup.”
Jawaban pendek yang dulu membuatku penasaran sekarang terdengar seperti pintu tertutup.
Aku meletakkan kedua tangan di atas meja supaya dia bisa melihat aku nggak membawa amplop, hadiah, atau potongan puzzle.
“Aku datang bukan buat meminta kamu pulang.”
Tatapannya akhirnya benar-benar bertemu denganku.
“Lalu?”
“Aku mau mengatakan semuanya sekali, dari awal sampai akhir. Setelah itu, kamu nggak perlu menjawab.”
Erga bersandar sedikit. Wajahnya tenang, tetapi rahangnya mengeras.
“Saya dengar.”
Aku menarik napas.
Nggak ada versi permintaan maaf yang bisa membuat apa yang kulakukan terdengar lebih baik. Jadi untuk pertama kalinya, aku berhenti mencoba membuatnya indah.
“Taruhan itu ide kami berempat,” kataku. “Tapi aku menerima karena menurutku lucu. Aku pikir bisa memilih laki-laki yang kelihatan sulit, membuat dia suka, lalu menang. Aku memilih kamu karena kamu jarang bicara, nggak populer, dan kelihatan seperti orang yang nggak akan mudah terpengaruh aku.”
Erga menatap gelasnya. Tangannya nggak bergerak.
“Aku sengaja mencabut kabel monitor. Sengaja datang membawa kopi. Sengaja menyentuh kaki kamu di bawah meja. Di awal, semua memang strategi.”
Mengakuinya di depan wajah yang pernah percaya kepadaku jauh lebih menyakitkan daripada menulisnya.
“Kapan berubah?” tanyanya.
“Aku nggak tahu tepatnya.”
Dia tertawa pendek, pahit. “Nyaman.”
“Aku tahu jawaban itu terdengar pengecut.” Aku memaksa diri tetap menatapnya. “Mungkin waktu kamu menolak masuk apartemenku karena aku belum yakin. Mungkin waktu migrain dan kamu melepas sepatu aku. Mungkin bahkan lebih awal. Yang aku tahu, saat kita ciuman pertama, aku sudah nggak memikirkan taruhan.”
“Tapi kamu tetap nggak bilang.”
“Iya.”
“Kamu punya lima belas hari setelah itu.”
“Iya.”
“Bahkan setelah membatalkannya?”
“Aku tetap menunda.”
Aku nggak membela diri dengan alasan ingin hari ketiga puluh yang bersih. Sekarang aku tahu, niat baik yang salah tempat tetap bisa melukai.
“Aku takut kalau jujur, kamu akan pergi,” lanjutku. “Jadi aku memilih beberapa hari tambahan tanpa memberi kamu pilihan. Aku menyebutnya menunggu waktu yang tepat, padahal sebenarnya aku cuma ingin melindungi diriku sendiri.”
Pelayan meletakkan latte. Tak satu pun dari kami menyentuh minuman.
“Saya juga memilih beberapa hari tambahan,” kata Erga pelan. “Bedanya, saya tahu semuanya palsu.”
“Nggak semuanya.”
Tatapannya langsung terangkat.
Aku menahan keinginan untuk meraih tangannya. “Bagian awalnya palsu. Perasaan aku sekarang nggak. Aku cinta sama kamu.”
Wajahnya nggak berubah, tetapi jemari di sekitar gelas menegang.
“Aku nggak bilang itu supaya kamu kembali,” lanjutku. “Aku juga nggak mau penyesalanku jadi pekerjaan kamu. Kamu nggak harus menyembuhkan rasa bersalah aku. Kamu boleh marah, nggak percaya, atau memutuskan nggak mau melihat aku lagi.”
“Kalau saya memilih itu?”
Pertanyaan tersebut menghantam lebih keras daripada yang kubayangkan.
Aku menelan air mata. “Aku akan menerima.”
“Bisa?”
“Nggak langsung. Mungkin aku akan menangis di bagian pakaian pria lagi dan membuat pegawai toko trauma.”
Sudut bibirnya bergerak nyaris nggak terlihat.
Itu hampir menjadi senyum. Hampir.
“Tapi aku akan menerima,” kataku. “Karena kali ini pilihannya harus punya kamu.”
Erga diam cukup lama. Orang-orang di meja lain datang dan pergi. Latte-ku mulai kehilangan uap.
“Saya nggak bisa kembali,” katanya akhirnya.
Meski sudah menyiapkan diri, kalimat itu tetap mematahkan sesuatu.
Aku menggenggam tangan sendiri di bawah meja. “Karena pekerjaan?”
“Bukan.”
“Karena nggak cinta lagi?”
Dia menatapku. Ada rasa sakit di sana, begitu jelas sampai aku menyesal bertanya.
“Saya nggak bisa kembali sekarang,” ulangnya.
Aku ingin mendesak. Ingin bertanya apa arti sekarang, berapa lama, dan apa yang harus kulakukan untuk mengubahnya. Namun semua itu akan mengubah permintaan maaf menjadi transaksi lagi.
Jadi aku mengangguk.
“Baik.”
Suara itu keluar kecil, tetapi utuh.
Aku mengambil tas. Pertemuan ini selesai. Kalau duduk lebih lama, aku mungkin akan melanggar semua hal yang baru saja kuucapkan.
Tali tas tersangkut di pengait kursi. Aku menariknya dan hampir menumpahkan latte.
Erga refleks berdiri. Tangannya merapikan tali yang terpelintir di bahuku, persis seperti dulu ketika dia membetulkan lanyard atau rambutku.
Sentuhannya cuma satu detik.
Dia segera menarik tangan seolah kulitku panas.
Kami saling menatap.
Tubuhnya masih mengingat cara merawatku, bahkan ketika pikirannya memilih jarak.
“Saya antar ke stasiun,” katanya.
“Aku bisa sendiri.”
“Tadi tersesat.”
“Sedikit.”
“Kamu hampir kembali ke bandara.”
“Pada akhirnya memang harus ke bandara.”
Dia menghela napas, suara paling dekat dengan Erga yang kukenal. “Saya antar sampai pintu stasiun.”
Kami berjalan berdampingan tanpa menyentuh. Di depan tangga masuk, aku berhenti.
“Aku boleh minta satu hal?”
Wajahnya kembali waspada. “Apa?”
“Tiga puluh hari.”
“Untuk?”
“Satu pesan jujur setiap malam. Nggak ada strategi, nggak ada pertanyaan yang memaksa kamu balas, nggak ada rayuan supaya kamu pulang.” Aku mengembuskan napas. “Kamu boleh berhentiin kapan saja. Kamu nggak wajib jawab satu pun.”
“Kenapa tiga puluh?”
“Karena aku ingin menggunakan angka yang sama untuk sesuatu yang jujur.”
Erga memandang pintu stasiun, lalu aku. Kereta terdengar lewat jauh di bawah tanah.
“Kalau saya bilang berhenti?”
“Aku berhenti.”
“Benar-benar berhenti?”
“Iya.”
Dia menimbang jawabannya lama sekali.
“Baik,” katanya.
Dadaku menghangat, tetapi aku menahan senyum terlalu lebar. Ini bukan kemenangan. Hanya izin kecil yang bisa ditarik kapan saja.
“Terima kasih.”
Aku berbalik menuju tangga.
“Hei.”
Aku menoleh.
Dia menunjuk ponselku. “Ikuti lingkaran merah. Jangan improvisasi.”
Aku hampir tertawa sambil menangis. “Siap, Mas IT.”
Dia nggak tersenyum, tetapi tatapannya melunak sedikit.
Malam itu, setelah kembali ke hotel, aku mengirim pesan pertama tepat pukul sepuluh.
Hari pertama. Kabel monitor waktu itu nggak rusak. Aku yang cabut sendiri, lalu aku panik karena Mas langsung tahu. Maaf sudah membuang dua belas menit waktu kerja kamu.
Tiga menit kemudian, pesan itu dibaca.
Nggak ada balasan.
Aku meletakkan ponsel, mematikan lampu, dan membiarkan keheningan menjadi jawabannya untuk malam ini.
Untuk pertama kalinya, aku mengejar tanpa berusaha mendahului pilihannya.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang reading
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur