Chapter Thirty Five
Hari Pertama
POV: Helena
Sebulan setelah pertemuan di Singapura, aku datang ke kantor tanpa menunggu jawaban.
Pesan ketiga puluh sudah dikirim tiga hari lalu. Erga membacanya, lalu diam. Aku menepati janji dan nggak mengirim apa pun lagi.
Ternyata menghormati pilihan seseorang nggak membuat penantian jadi mudah. Setiap notifikasi masih membuat jantungku melonjak. Setiap americano di meja orang lain masih membuatku menoleh. Namun aku nggak lagi menafsirkan keheningannya sebagai tantangan yang harus dikalahkan.
Pagi itu aku membawa latte sendiri.
Pukul delapan kurang lima, lift terbuka di lantai kantor. Aku melangkah keluar sambil membaca surel dan hampir menabrak Rania yang berdiri kaku di lorong.
“Kenapa?” tanyaku.
Dia menatap ke arah meja Design, lalu kembali kepadaku. “Nggak apa-apa.”
“Lo kelihatan kayak baru lihat hantu.”
“Hantunya ganteng.”
Aku belum sempat bertanya ketika Nadine muncul dari balik partisi dan menarik Rania pergi.
“Pagi!” katanya terlalu keras. “Kita sibuk. Sangat sibuk.”
“Kalian bahkan belum menyalakan komputer.”
“Sibuk secara mental.”
Keisha berdiri di dekat mejaku dengan kedua tangan di pinggang. Tatapannya mengarah ke sesuatu di belakangku.
“Jangan pingsan,” katanya.
Aku berbalik.
Erga berdiri di depan meja IT.
Kemeja biru. Kacamata yang sama. Rambut sedikit lebih panjang. Satu tas laptop di bahu dan dua gelas kopi di tangan.
Seluruh ruangan hilang dari pendengaranku.
Aku nggak tahu berapa lama cuma berdiri. Mungkin tiga detik. Mungkin seluruh tiga puluh hari yang baru kulewati.
Erga berjalan mendekat. Orang-orang di divisi Design mendadak sangat tertarik pada monitor yang bahkan belum menyala. Seorang staf menekan tombol keyboard kosong. Keisha memegang mouse terbalik.
Dia berhenti satu langkah di depanku dan mengulurkan latte.
“Kamu sudah bawa,” katanya sambil melihat gelas di tanganku.
“Iya.”
“Saya terlambat.”
Aku menatap kopi pemberiannya. “Sedikit.”
Kalimat itu bukan tentang minuman.
Erga mengangguk, menerima maksudnya. “Maaf.”
Tanganku mulai gemetar. Aku meletakkan latte yang kubeli sendiri di meja supaya nggak tumpah, lalu menerima miliknya.
“Kamu datang untuk evaluasi?” tanyaku.
“Iya.”
Rasa hangat di dada langsung jatuh. Tentu saja. Dia bekerja di perusahaan yang sama. Kepulangannya nggak harus berhubungan denganku.
“Berapa lama?”
“Tiga hari.”
“Oh.”
Aku membenci betapa kecil suara itu terdengar.
Erga melihat sekeliling. Puluhan orang sedang berpura-pura nggak mendengar. “Bisa bicara?”
“Sekarang?”
“Kalau kamu mau.”
Pertanyaan itu—kalau kamu mau—membuatku sadar kami benar-benar sedang berdiri di tempat yang berbeda dari sebelumnya.
Aku mengangguk. “Tangga darurat.”
Saat pintu tangga tertutup, suara kantor menghilang. Tempat itu sama seperti hari ketika aku memeluknya dan bercanda meminta dia tinggal. Dulu aku nggak tahu harga pertanyaan tersebut. Sekarang tubuhku mengingat semuanya.
Erga berdiri dua anak tangga di bawahku supaya tinggi kami lebih sejajar. Nggak menyentuh. Nggak langsung bicara.
Aku memegang gelas kopi dengan kedua tangan. “Kamu nggak membalas pesan terakhir.”
“Saya tahu.”
“Aku juga bilang nggak perlu membalas.”
“Saya tahu.”
“Mas datang cuma buat mengulang hal yang sudah aku tahu?”
Sudut bibirnya naik tipis. “Kamu masih memanggil saya Mas.”
“Kebiasaan.”
“Saya kangen.”
Dua kata itu hampir merobohkan seluruh kendali yang kubangun.
Aku menarik napas. “Kangen belum tentu berarti mau kembali.”
“Benar.”
“Dan cinta juga belum tentu cukup.”
“Benar.”
“Kamu menyebalkan.”
“Masih.”
Aku menatapnya tajam, tetapi Erga akhirnya tersenyum. Senyum kecil yang selama tiga puluh hari kuceritakan dalam pesan. Melihatnya langsung membuat mataku panas.
“Tiga puluh hari nggak cukup untuk mengembalikan kepercayaan,” katanya.
Aku menunduk ke gelas. “Aku tahu.”
“Mungkin tiga bulan juga belum.”
“Aku tahu.”
“Kalau kita mulai lagi, saya mungkin masih bertanya-tanya. Mungkin ada hari ketika saya curiga pada hal kecil dan membuat semuanya sulit.”
“Aku nggak akan menyuruh kamu cepat sembuh.”
“Saya juga nggak akan menghilang ketika takut.”
Aku mengangkat wajah.
Erga menarik napas, terlihat lebih gugup daripada saat pertama kali menciumku.
“Saya ikut salah,” katanya. “Saya tahu soal permainan itu dan memilih diam. Saya menikmati kedekatan kita, menyembunyikan luka, lalu pergi tanpa memberi kamu kesempatan menjelaskan. Saya bilang itu untuk membebaskan kamu, padahal saya juga takut ditolak.”
Air mata memenuhi mataku.
“Kamu berhak marah,” kataku.
“Saya memang marah.”
“Masih?”
“Sedikit.”
“Berapa persen?”
“Manusia bukan proyek dengan persentase.”
Aku tertawa sambil menangis. “Kamu baca semuanya.”
“Semua.”
Dia memasukkan tangan ke saku dan mengeluarkan karet rambut hitam. Barang kecil yang tertinggal entah sejak kapan, yang dulu disimpan di lacinya bersama struk dan bungkus gula.
“Ini punya kamu.”
Aku mengulurkan telapak. Erga meletakkannya di sana, tetapi jemarinya nggak langsung menjauh.
“Kenapa dikembalikan?” tanyaku.
“Karena saya ingin berhenti menyimpan barang-barangmu diam-diam.”
“Kalau mau simpan, bilang.”
“Boleh?”
Aku menggenggam karet rambut itu. “Boleh.”
“Baik.” Dia mengambilnya kembali dan memasukkan ke saku.
Aku menatapnya nggak percaya. “Mas minta izin cuma buat tetap mengambil?”
“Sekarang resmi.”
Tawa yang keluar terasa ringan untuk pertama kali dalam waktu lama.
Erga maju satu langkah. Masih ada jarak, tetapi cukup dekat untuk membuatku mencium aroma yang kurindukan.
“Kita nggak bisa kembali ke sebelum taruhan,” katanya.
“Aku tahu.”
“Tapi kita bisa mulai dari hari pertama. Nggak ada target, nggak ada tenggat, nggak ada janji besar yang harus langsung dipenuhi.”
Dadaku sesak oleh harapan. “Hari ke berapa sekarang?”
Dia menatap mataku. “Hari pertama.”
Kalimat itu membayar semua angka yang pernah menyakiti kami.
Aku ingin langsung mencium. Tubuhku hampir bergerak mengikuti kebiasaan lama, tetapi aku berhenti.
“Kalau aku cium kamu sekarang,” tanyaku, “kamu mau?”
Erga nggak menjawab dengan kata.
Tangannya meraih pinggangku dan menarikku mendekat.
Bibir kami bertemu.
Ciumannya singkat karena kami masih di tangga kantor, tetapi penuh kelegaan. Nggak ada rasa putus asa seperti malam perpisahan. Nggak ada ketakutan siapa yang akan pergi setelahnya. Hanya bibir hangat yang saling mengenali dan dua orang yang akhirnya datang dengan kebenaran lengkap.
Aku memegang sisi kemejanya. Ketika dia hendak menjauh, aku mencuri satu ciuman kecil lagi.
“Itu nggak minta izin,” katanya.
“Komplain?”
“Nggak.”
“Berarti boleh.”
“Logikamu masih berbahaya.”
“Aku sedang belajar.”
Kening kami menempel. Erga mengusap bawah mataku dengan ibu jari.
“Penugasan saya belum selesai,” katanya. “Masih beberapa bulan.”
“Aku tahu.”
“Kita akan jarak jauh.”
“Singapura bukan planet lain.”
“Kamu tersesat di MRT.”
“Sekarang aku punya peta lingkaran merah.”
“Dan tiket mahal.”
“Aku mampu.”
Dia tertawa. “Tentu.”
“Jadi kita kencan lagi?”
“Kalau kamu mau.”
“Aku mau.”
Kali ini keputusan itu nggak perlu dibungkus taruhan atau diuji selama tiga puluh hari.
Ketika kami kembali ke ruangan, semua orang mendadak melihat layar. Keisha menjatuhkan mouse yang dari tadi dipegang terbalik. Nadine menutup aplikasi kalkulator yang kosong. Rania pura-pura menerima telepon meskipun layarnya mati.
Damar muncul dari pintu IT sambil membawa papan kardus.
Tulisan spidol hitam di atasnya berbunyi: SYSTEM RESTORED.
“Apa itu?” tanya Erga.
“Dokumentasi teknis.”
“Buang.”
“Nggak bisa. Sudah disetujui manajemen.”
Keisha mulai bertepuk tangan. Satu ruangan ikut, terlalu keras dan terlalu antusias. Aku menutup wajah sementara Erga memandang Damar dengan ancaman yang sama sekali nggak mempan.
Di tengah keributan itu, tangannya mencari tanganku.
Jari kami saling mengunci di sisi meja, terlihat semua orang, tanpa permainan dan tanpa rahasia.
Hari pertama kami nggak dimulai dengan tiket IT palsu.
Dimulai dengan dua kopi, satu pertanyaan jujur, dan jawaban yang akhirnya dipilih bersama.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama reading
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur