Chapter Eleven
Hujan, Lembur, dan Satu Payung
POV: Helena
File desain utama rusak pukul delapan lewat tiga menit malam.
Aku tahu waktunya karena tiga detik sebelumnya Keisha baru bilang, “Kalau nggak ada bencana lagi, kita bisa pulang.”
Alam semesta mendengarnya sebagai tantangan.
Layar laptopku membeku, aplikasi desain tertutup sendiri, lalu file yang kami kerjakan seharian menolak dibuka. Autosave terakhir menunjukkan pukul dua siang.
Enam jam kerja menghilang.
Rania menatap layar seperti baru menyaksikan pembunuhan. Nadine diam-diam membuka aplikasi lowongan kerja. Keisha berdiri di belakangku dengan kedua tangan di kepala.
“Coba tutup, buka lagi,” katanya.
Aku menoleh pelan. “Kalau solusi lo setara nasihat nyalain-matiin modem, mending diam.”
“Kadang berhasil.”
“Kadang orang juga selamat jatuh dari lantai dua. Mau coba?”
Nadine mengangkat ponsel. “Hubungi IT sebelum kalian saling bunuh.”
Aku membuka chat Erga. Pesan terakhir darinya adalah foto obat lambung yang sudah diminum sebagai bukti bahwa dia mengikuti instruksiku.
Aku: Mas masih di kantor?
Balasannya datang kurang dari satu menit.
Mas Erga IT: Masih. Kenapa?
Aku mengirim foto pesan error.
Mas Erga IT: Jangan tutup apa pun. Saya naik.
Erga datang membawa laptop dan satu drive eksternal. Rambutnya sedikit berantakan, lengan kemejanya digulung nggak rata, tetapi kehadirannya membuat tiga orang di belakangku mengembuskan napas lega bersamaan.
“Selamat datang, penyelamat masa depan divisi Design,” kata Keisha.
“Belum tentu selamat,” jawabnya.
“Jangan jujur dulu. Kami rapuh.”
Erga duduk di kursiku. Aku berdiri di sampingnya, terlalu dekat untuk alasan teknis. Dia membaca pesan error, membuka folder sementara, lalu mengetik beberapa perintah yang kelihatan seperti mantra terlarang.
“Bisa kembali?” tanyaku.
“Kemungkinan.”
“Berapa persen?”
“Jangan bikin saya kerja sambil ujian matematika.”
Aku menutup mulut. Lima menit kemudian, file cadangan ditemukan dalam folder recovery. Versinya tertinggal dua puluh menit, bukan enam jam.
Keisha memeluk Nadine. Rania mengucapkan alhamdulillah. Aku refleks menaruh kedua tangan di bahu Erga dan menunduk dekat telinganya.
“Aku sayang Mas.”
Ruangan hening.
Erga berhenti mengetik. Keisha membuat suara kecil yang langsung disamarkan menjadi batuk.
Aku tersenyum, sama sekali nggak berniat menarik ucapan. “File-nya selamat.”
“Iya,” kata Erga, suaranya sedikit serak. “Saya dengar.”
“Yang mana?”
Dia memilih kembali ke layar. “Soal file.”
Kami masih harus menyelesaikan revisi terakhir. Keisha, Nadine, dan Rania pulang bergantian setelah pekerjaan mereka selesai. Erga tetap tinggal untuk memastikan file tersinkron dengan benar, meski aku sudah bilang dia boleh pergi.
Menjelang jam sepuluh, hanya kami yang tersisa di studio Design. Aku bekerja sambil memakai satu sisi headset. Erga duduk di meja sebelah, mengecek proses unggah dan sesekali mengingatkanku menyimpan file.
Sekitar setengah sembilan, perutku berbunyi cukup keras untuk terdengar dari meja sebelah. Erga pergi ke vending machine dan kembali membawa dua bungkus roti serta susu kotak.
“Makan,” katanya sambil meletakkan satu di depanku.
“Mas mulai suka nyuruh aku makan.”
“Karena kamu mulai lupa kalau sedang kerja.”
Aku mengambil susu yang baru dia buka. “Ini juga buat aku?”
“Itu punya saya.”
“Sekarang punya aku.”
Erga menatapku minum lewat sedotannya, lalu memilih mengambil susu milikku sebagai ganti. Kami makan sambil berbagi layar dan minuman seperti kebiasaan itu sudah dilakukan berkali-kali.
Momen kecil tersebut terasa terlalu nyaman untuk sesuatu yang baru berlangsung sebelas hari.
“Sudah save?” tanyanya untuk keempat kali.
“Sudah, Ayah.”
“Backup?”
“Sudah, Ibu.”
“Kalau hilang lagi jangan nangis.”
Aku melepas headset. “Aku tadi nggak nangis.”
“Mata kamu berkaca-kaca.”
“Itu kemarahan.”
“Baik.”
“Mas jangan senyum.”
“Saya nggak senyum.”
Dia jelas tersenyum.
Kami akhirnya menutup laptop pukul sepuluh lewat dua puluh. Saat lift turun ke lobi, suara hujan sudah terdengar menghantam kaca gedung. Dari pintu utama, jalanan di luar terlihat seperti tertutup tirai air.
Aku membuka aplikasi kendaraan. Harga naik hampir tiga kali lipat dan nggak ada pengemudi yang menerima.
“Aku tunggu reda,” kataku.
Erga melihat jam. “Ramalan cuaca bilang sampai tengah malam.”
“Aku tidur di sofa lobi berarti.”
Dia membuka tas dan mengeluarkan payung lipat kecil. “Saya antar sampai tempat yang lebih gampang dapat mobil.”
Payung itu cukup untuk satu orang yang kurus atau dua orang yang nggak keberatan kehilangan ruang pribadi.
Kami memilih pilihan kedua.
Begitu keluar, angin mendorong hujan dari samping. Erga memegang payung dengan satu tangan, sementara tangan lain menarik lenganku agar lebih dekat. Aku melingkarkan tangan ke pinggangnya tanpa minta izin.
Tubuhnya menegang.
“Kalau jauh, aku kebasahan,” kataku.
“Iya.”
“Mas keberatan?”
“Nggak.”
Jawabannya terlalu cepat untuk disebut santai.
Kami berjalan pelan di trotoar. Bahu kanan Erga tetap terkena hujan karena dia memiringkan payung ke arahku. Kemejanya mulai gelap di bagian lengan.
“Payungnya ke tengah,” kataku.
“Sudah.”
“Mas basah.”
“Nggak apa-apa.”
Aku merapat lagi, lalu menyelipkan tanganku ke saku jaket tipis yang dia pakai. Erga menoleh.
“Tanganku dingin,” jelasku.
Dia nggak menjawab. Beberapa langkah kemudian, tangannya yang bebas masuk ke saku yang sama dan menutup tanganku di dalamnya.
Jari kami saling bertaut dalam ruang sempit, tersembunyi dari siapa pun yang melihat.
“Lebih hangat?” tanyanya.
“Lumayan.”
Aku bisa meminta dia melepaskan. Aku justru menggenggam lebih erat.
Kami mendapatkan mobil setelah berjalan dua blok. Erga ikut masuk untuk mengantarku karena hujan makin deras dan apartemenku searah sebagian dengan tempat tinggalnya.
Di kursi belakang, aku bersandar ke bahunya. Awalnya sengaja. Lima menit kemudian, kelelahan mengambil alih dan mataku benar-benar tertutup.
Sebelum tertidur penuh, aku merasakan Erga membenarkan posisi kepalaku supaya nggak membentur jendela. Dia melepas jaket tipisnya dan menutupkannya di pahaku. Tangannya kemudian kembali ke sisi tubuh, menjaga jarak meski aku tahu dia bisa dengan mudah merangkul.
Aku membuka mata sedikit. “Mas selalu sesopan ini?”
“Kamu belum tidur?”
“Jawab dulu.”
“Saya sedang berusaha.”
“Kalau berhenti berusaha?”
Tatapan Erga turun kepadaku. Lampu jalan bergerak di wajahnya lewat jendela mobil.
“Tidur,” katanya.
Aku tersenyum dan memejamkan mata lagi, lebih sadar daripada sebelumnya pada bahu tempat kepalaku bersandar.
Aku terbangun ketika mobil berhenti. Erga menyentuh punggung tanganku dengan ibu jari.
“Sudah sampai.”
Aku mengangkat kepala. Ada bekas lipatan kemejanya di pipiku.
“Mas ikut naik?” tanyaku sebelum sempat berpikir.
Tatapan Erga berpindah ke pintu apartemen, lalu kembali kepadaku. Hujan, jam malam, dan ruang sepi di atas sana membuat pertanyaan itu terdengar lebih berat daripada yang kumaksud.
Dia turun dan mengantarku sampai lobi. Di depan lift, Erga menyentuh daguku, mengangkat wajahku agar menatapnya.
“Kalau suatu hari kamu minta saya masuk,” katanya pelan, “pastikan karena memang mau saya di sana. Bukan karena hujan, bukan karena sudah malam, dan bukan karena nggak enak menyuruh pulang.”
Sentuhannya lembut, tapi tatapannya sama sekali nggak ringan.
“Kalau sekarang aku bilang mau?”
Jari Erga masih di bawah daguku. “Saya akan tanya sekali lagi waktu kamu nggak setengah tidur.”
Pintu lift terbuka. Aku masuk tanpa berhasil menemukan godaan yang cukup aman untuk dilemparkan kembali.
Sebelum pintu menutup, Erga berkata, “Kabari kalau sudah masuk.”
Di apartemen, tiga puluh dua pesan menunggu di grup Operasi Mas IT.
Aku cuma mengirim foto sepatu Erga yang basah di depan lobi.
Keisha: INI APA?
Nadine: Bukti hujan.
Rania: Dia nganterin lo???
Aku nggak menjawab. Sebaliknya, aku membuka chat pribadi Erga.
Aku: Sudah masuk. Mas hati-hati.
Mas Erga IT: Iya. Ganti baju, jangan tidur dalam keadaan basah.
Aku menatap pesan itu sambil menyentuh dagu tempat jarinya tadi berada.
Erga baru saja menolak naik tanpa membuatku merasa ditolak.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada kalau dia langsung menerima ajakanku.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung reading
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur