Chapter Ten
Hari Kesepuluh
POV: Erga
Kalender itu seharusnya kusimpan di laci.
Aku baru sadar setelah Damar berdiri di samping meja sambil membaca tiga puluh kotak kecil di pinggir halaman.
Sepuluh di antaranya sudah dicoret.
“Countdown apa?” tanyanya.
Aku menutup kalender. “Nggak ada.”
“Kalau nggak ada, kenapa dicoret tiap hari?”
“Deployment.”
“Deployment apa tiga puluh hari?”
“Yang lama.”
Damar menatapku, lalu kalender, lalu jaket kosong di sandaran kursi. “Ada hubungannya sama jaket lo yang diculik divisi Design?”
“Nggak.”
“Ada hubungannya sama kenapa kemarin lo pelukan di ruang server?”
“Dia hampir jatuh.”
“Selama dua puluh detik?”
“Perpindahan daya bikin waktu terasa lambat.”
Damar mengangguk seperti sedang mendengarkan pasien berhalusinasi. “Gue akan doakan.”
Begitu dia pergi, aku membuka kalender lagi dan menatap kotak kesepuluh.
Dua puluh hari tersisa.
Sejak tahu soal taruhan, setiap hal baik datang bersama hitungan. Helena mengirim pesan pagi, aku menghitung berapa pagi lagi. Dia menelepon malam, aku bertanya berapa panggilan yang mungkin tersisa. Kemarin dia memakai jaketku pergi, dan sebagian diriku yang bodoh langsung membayangkan benda itu berada di apartemennya lebih lama daripada permainan mereka.
Aku tahu seharusnya menjaga jarak.
Sebaliknya, aku mulai membalas lebih berani.
Kalau waktuku memang terbatas, aku nggak mau menghabiskannya hanya dengan mengangguk serta menjawab satu kata.
Menjelang siang, Helena datang membawa jaket yang dilipat rapi. Dia meletakkannya di atas meja, lalu menaruh americano di samping keyboard.
“Biaya sewa,” katanya.
“Jaket saya dibayar pakai kopi saya sendiri?”
“Aku juga bawa bonus.”
Dia mengeluarkan satu strip obat lambung dari tas dan meletakkannya di atas jaket.
Aku mengernyit. “Buat apa?”
“Kemarin Mas makan sambal, terus pegang perut dua kali.”
Aku bahkan nggak ingat melakukannya. “Kamu memperhatikan?”
“Aku desainer. Kerjaanku memperhatikan detail.”
Jawabannya bisa menjelaskan apa pun. Bisa juga nggak berarti apa-apa. Tapi dia ingat aku nggak minum kopi manis. Dia ingat lagu yang kusukai. Sekarang dia tahu lambungku bermasalah hanya dari dua gerakan kecil.
Perhatian seperti itu terasa terlalu spesifik untuk sebuah permainan.
Aku teringat makan siang kemarin. Helena memang menertawakan caraku menghindari cabai, tetapi dia juga diam-diam menukar piring ketika pesananku ternyata lebih pedas. Waktu itu kukira dia cuma ingin mengambil ayam yang lebih besar. Sekarang aku sadar dia memilih makanan yang paling sedikit sausnya.
Hal-hal kecil seperti itu berbahaya. Kebohongan besar mudah ditolak. Perhatian kecil menyelinap lewat celah yang nggak sempat dijaga.
“Makasih,” kataku.
Helena menarik kursi Damar dan duduk di sebelahku. “Cuma makasih?”
“Obatnya belum diminum.”
“Mas maunya bayar pakai apa?”
Aku menatapnya. Blus biru muda, anting kecil, rambut yang hari itu dibiarkan jatuh di bahu. Dia memakai lipstik warna lembut, tetapi mataku tetap tertarik ke bibirnya dengan cara yang nggak lembut sama sekali.
“Jangan tanya kalau belum siap dengar jawabannya,” kataku.
Helena berhenti tersenyum selama satu detik.
Lalu dia mencondongkan tubuh. “Aku siap.”
Jarak kami menyempit. Aroma jaketku sudah bercampur dengan parfumnya, tertinggal samar ketika dia bergerak. Aku bisa saja mengatakan sesuatu yang membuat permainan mereka lebih cepat selesai. Tiga kata sederhana. Helena akan menang, aku akan kalah, dan semua ini mungkin berakhir sebelum aku sempat menginginkan lebih banyak.
Aku mengambil obat lambung dari meja.
“Air putih,” kataku.
Helena menatapku nggak percaya, lalu tertawa. “Mas nyebelin.”
“Katanya siap.”
“Bukan buat disuruh ambil air.”
Dia tetap berdiri dan mengambil satu botol dari pantry. Ketika kembali, Damar sudah ada di mejanya sambil memperhatikan kami seperti penonton pertandingan tenis.
“Apa?” tanyaku.
“Nggak ada.” Dia menunjuk jaket. “Sudah kembali? Berarti masa sewanya habis.”
Helena menyerahkan botol air kepadaku. “Kalau aku pinjam lagi, Mas keberatan?”
“Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Berapa lama.”
“Kalau nggak aku balikin?”
“Saya cari.”
Helena tersenyum puas. Damar membuat suara pelan seperti orang baru melihat gol dari jarak jauh.
Setelah minum obat, aku membantu Helena memeriksa hasil implementasi aset kemarin. Dia mendekatkan kursi sampai bahu kami bersentuhan. Awalnya dia menunjuk layar sambil menjelaskan revisi warna. Beberapa menit kemudian, kepalanya bersandar ringan di bahuku.
Tubuhku langsung kaku.
“Berat?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.
“Nggak.”
“Nggak nyaman?”
Aku melihat pantulan kami di layar gelap monitor kedua. Helena bersandar seolah itu hal paling wajar di dunia. Aku terlihat seperti orang yang lupa cara bernapas.
“Nyaman,” jawabku jujur.
Dia diam, tetap di sana.
Aku membiarkannya sampai proses unggah selesai. Lima menit yang seharusnya singkat terasa terlalu cepat. Ketika progress bar mencapai seratus persen, Helena nggak langsung bergerak.
“Sudah selesai,” kataku.
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Mas bilang nyaman.”
Aku nggak punya jawaban yang aman.
Damar menyelamatkan sekaligus merusak semuanya dengan berjalan lewat sambil membawa spidol. Dia mengambil kalenderku, menulis sesuatu di bagian atas, lalu mengembalikannya sebelum aku sempat mencegah.
MASA AKTIF PAKET HELENA
Helena mengangkat kepala untuk membaca. Jantungku berhenti sesaat.
“Paket apa?” tanyanya.
Aku merebut kalender. “Dia kurang kerjaan.”
Damar sudah lari ke meja seberang. “Biar gampang tracking!”
Helena tertawa. “Hari kesepuluh berarti?”
Aku menatap kotak-kotak yang sudah dicoret. Dia mengira itu mungkin candaan Damar. Dia nggak tahu setiap garis kubuat setelah mengingat kapan semua ini akan selesai.
“Iya,” jawabku. “Hari kesepuluh.”
“Mas ngitung sejak kapan kita kenal?”
“Cuma kebetulan.”
“Aku kira Mas nggak sentimental.”
“Memang nggak.”
“Terus kenapa ada kalender?”
Aku mencari jawaban sambil menutup halaman. “Biar tahu sudah berapa lama kamu ganggu kerjaan saya.”
Helena tersenyum lebar. “Sepuluh hari dan Mas masih biarin.”
“Belum berhasil mengusir.”
“Atau nggak mau.”
Aku memasukkan kalender ke laci sebelum wajahku menjawab lebih jujur daripada mulut.
Untuk pertama kalinya, aku berbohong langsung kepadanya.
Helena kembali bersandar ke bahuku. “Aneh, tapi lucu.”
Aku menutup kalender dan memasukkannya ke laci.
Sore itu, setelah Helena kembali ke lantainya, surel dari Regional Head masuk.
Subject: Second Follow-up — Infrastructure Lead, Singapore Office
Tawaran itu datang pertama kali dua minggu lalu. Posisi lebih tinggi, gaji lebih baik, dan kesempatan yang dulu kupikir terlalu besar untuk diambil. Aku belum menjawab karena pindah ke negara lain terasa seperti keputusan yang nggak perlu kubuat sekarang.
Hari ini, untuk pertama kalinya, aku membaca seluruh detailnya sampai selesai.
Tanggal mulai kerja mereka fleksibel. Proses mutasi bisa dipercepat kalau aku bersedia.
Aku melirik laci tempat kalender disimpan.
Pergi setelah hari ketiga puluh mungkin cara paling bersih untuk mengakhiri sesuatu yang sejak awal memang bukan milikku.
Kursor berhenti di tombol Reply.
Aku belum menekannya.
Ponselku bergetar. Foto makan malam Helena muncul—salad mahal dengan porsi yang terlihat seperti hukuman.
Helena: Mas udah makan?
Aku mengambil foto bungkus roti di samping keyboard.
Aku: Sudah.
Telepon masuk kurang dari lima detik kemudian.
“Itu bukan makan malam,” katanya tanpa salam.
“Ada karbohidrat.”
“Ada penyesalan juga kelihatannya.”
“Saya masih kerja.”
“Aku pesenin makanan.”
“Nggak perlu.”
“Mas selalu bilang nggak perlu, tapi tetap diterima.”
Empat puluh menit kemudian, satu porsi nasi hangat tiba di meja. Pesan di aplikasinya cuma satu kalimat: Minum obatnya setelah makan.
Aku meletakkan ponsel di samping surel tawaran Singapura. Di satu layar ada jalan keluar. Di layar lain ada perempuan yang seharusnya sedang berpura-pura, tetapi tahu kapan lambungku sakit dan apakah aku sudah makan.
Aku menutup surel tanpa membalas.
Belum hari ini.
Karena di samping keyboard masih ada obat lambung dari Helena, dan untuk beberapa jam lagi aku ingin percaya perhatian itu mungkin nyata.
- 1 Empat Dewi dan Satu Taruhan
- 2 Target Bernama Erga Pratama
- 3 Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan
- 4 Tiket IT Paling Nggak Penting Sedunia
- 5 Kopi Tanpa Gula, Senyum Tanpa Izin
- 6 Keajaiban Kecil yang Nggak Berani Dipercaya
- 7 Dua Puluh Tiga Hari Lagi
- 8 Mas IT Mulai Membalas
- 9 Dingin di Ruang Server
- 10 Hari Kesepuluh reading
- 11 Hujan, Lembur, dan Satu Payung
- 12 Laptop Rusak dan Apartemen yang Terlalu Sepi
- 13 Batas yang Makin Tipis
- 14 Lelaki yang Nggak Cemburu dengan Benar
- 15 Jangan Sentuh Aku Kayak Gitu
- 16 Hal yang Seharusnya Nggak Kurasakan
- 17 Kencan yang Nggak Disebut Kencan
- 18 Duduk di Sini
- 19 Sebelas Hari yang Tersisa
- 20 Sabtu di Apartemen Erga
- 21 Bangun di Pelukan Orang yang Salah Target
- 22 Tiket Sekali Jalan
- 23 Taruhannya Selesai, Perasaannya Nggak
- 24 Jangan Pulang Dulu
- 25 Empat Hari buat Menghafal Seseorang
- 26 Kalau Besok Aku Minta Kamu Tinggal
- 27 Sejak Sebelum Hari Pertama
- 28 Meja Kosong pada Hari Ketiga Puluh
- 29 Kursi 18A
- 30 Perempuan yang Menang dan Kehilangan Semuanya
- 31 Aku Datang Bukan buat Menang
- 32 Aku Masih Cinta, Itu Masalahnya
- 33 Tiga Puluh Pesan Tanpa Tuntutan
- 34 Hari yang Nggak Dicoret
- 35 Hari Pertama
- 36 Nggak Ada Lagi Hitung Mundur