Chapter Thirty Six

Nggak Ada Lagi Hitung Mundur

POV: Helena

Satu tahun kemudian, aku kembali ke lounge tempat semuanya dimulai.

Sofa beludru yang sama masih ada di sudut. Lampunya tetap terlalu redup untuk membaca menu, musiknya masih memaksa orang bicara dekat, dan satu gelas koktail tetap seharga makan siang seminggu bagi manusia yang punya keputusan finansial sehat.

Circle Cewek Metro mengambil meja lama kami.

Bedanya, kali ini ada Erga di antara kami.

Dia duduk di sisi sofa memakai kemeja hitam, satu lengan di sandaran belakangku, terlihat seperti orang yang masih mempertanyakan kenapa bersedia ikut. Sejak penugasan Singapura selesai dua bulan lalu, dia mendapat posisi regional yang berbasis di Jakarta. Kami masih bekerja di perusahaan yang sama, tetap beda divisi, dan sekarang berbagi apartemen yang kulkasnya nggak lagi cuma berisi telur, sambal, dan daun bawang yang mengaku sayur.

“Gue merasa lingkaran sejarah sudah lengkap,” kata Keisha sambil mengangkat gelas. “Kita harus merayakan.”

“Kita memang sedang merayakan,” jawab Nadine. “Dia pulang permanen.”

“Bukan itu.” Keisha mencondongkan tubuh dengan senyum berbahaya. “Gue punya ide taruhan baru.”

Tangan Erga di belakang bahuku berhenti bergerak.

Rania langsung melempar tisu ke wajah Keisha. “Lo nggak belajar?”

“Dengar dulu! Bukan soal bikin orang jatuh cinta.”

“Nggak ada taruhan yang melibatkan perasaan orang,” kataku.

Keisha mengangkat kedua tangan. “Gue mau taruhan siapa yang nikah duluan.”

“Tetap melibatkan perasaan.”

“Kalau siapa yang beli rumah duluan?”

“Melibatkan cicilan.”

“Siapa yang resign duluan?”

“Melibatkan HR.”

Nadine menyeruput minuman. “Taruhan saja Keisha bisa diam berapa menit.”

“Gue ikut,” kata Erga.

Keisha menatapnya dikhianati. “Mas, gue membela hubungan kalian dari awal.”

“Kamu membuat spreadsheet.”

“Dokumentasi cinta.”

“Dokumentasi kriminal,” sahut Rania.

Aku tertawa, lalu berdiri dan duduk menyamping di pangkuan Erga. Ketiga temanku mengeluh bersamaan.

“Kita sedang makan,” kata Nadine.

“Kursinya kurang,” jawabku.

“Ada dua kursi kosong.”

“Kurang nyaman.”

Erga melingkarkan tangan di pinggangku tanpa protes. Setelah setahun, gerakan itu sudah menjadi rumah: otomatis, hangat, dan tetap membuatku sadar ketika ibu jarinya mengusap sisi tubuhku pelan.

“Berat?” tanyaku.

“Lumayan.”

Aku langsung hendak berdiri, tetapi lengannya mengencang.

“Mas masih pakai lelucon yang sama.”

“Kamu masih bereaksi.”

“Aku bisa pindah ke kursi.”

“Coba.”

Aku tetap duduk sambil pura-pura kesal.

Setahun nggak menghapus semua luka dengan ajaib. Ada hari ketika Erga mendadak diam setelah melihat nama grup chat lama di ponselku. Ada malam ketika aku terlalu takut dia akan pergi lagi dan bertanya apakah kopernya sudah dibongkar. Ada pertengkaran tentang balasan pesan, jam kerja, dan kebiasaannya menyelesaikan masalah sendirian.

Namun sekarang kami bicara.

Aku nggak menunggu waktu yang terlihat sempurna. Dia nggak menghilang sambil menganggap diam sebagai perlindungan. Kepercayaan kami tumbuh bukan dari satu ciuman besar, melainkan dari ratusan pilihan kecil yang diulang ketika nggak ada siapa pun melihat.

“Mas,” panggilku.

“Hm?”

“Masih suka aku?”

Keisha memukul meja. “Pertanyaan jebakan.”

Erga menatap wajahku, sama sekali nggak terganggu penonton. “Aku suka kamu.”

“Terus?”

“Tapi kali ini bukan karena disuruh.”

Aku memegang kerah kemejanya. “Dulu juga nggak ada yang nyuruh Mas suka.”

“Benar.”

“Berarti kalimatnya nggak akurat.”

“Mau saya revisi?”

“Mau.”

Dia menarikku sedikit lebih dekat. “Aku cinta kamu. Dengan sadar, tanpa tenggat, dan meskipun kamu masih sering mencuri telur saya.”

“Telur kita.”

“Saya yang masak.”

“Aku yang menghabiskan. Kerja sama.”

Erga menggeleng sambil tersenyum. Aku mencium bibirnya singkat sebelum dia sempat membalas.

Satu meja langsung ribut.

“Aturan tempat umum!” protes Rania.

“Kalian menyuruh gue datang berpasangan,” kataku.

Keisha mengangkat gelas. “Selamat, lo menang.”

Kalimat itu membuatku berhenti.

Dulu aku mungkin akan tersenyum dan menerima. Sekarang aku melihat laki-laki yang memeluk pinggangku, tiga perempuan yang sudah ikut menanggung penyesalan, dan tempat yang menjadi saksi satu lelucon buruk mengubah banyak hidup.

“Gue nggak mau menang lagi,” kataku.

Erga menatapku beberapa detik, lalu mengangkat gelas airnya.

“Selamat, kamu menang,” katanya pelan.

Aku mengerutkan alis.

“Kita berdua,” lanjutnya. “Karena akhirnya berhenti bermain.”

Mata Rania langsung berkaca-kaca.

Nadine memberikan tisu sebelum air mata pertama jatuh. “Jangan mulai. Maskara gue juga mahal.”

Keisha berdeham. “Baik. Taruhannya dibatalkan.”

“Belum dimulai,” kataku.

“Pertumbuhan karakter,” katanya sambil mengangkat dagu.

Kami pulang lebih dulu setelah Keisha mulai menyusun taruhan tentang siapa yang paling cepat menghabiskan makanan penutup. Di lift, Erga menyandarkan punggung ke dinding dan menarik tanganku.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

“Soal kalimat tadi?”

Dia mengangguk.

“Sekarang sudah nggak sakit.” Aku menyentuh cincin puzzle kecil yang kami jadikan liontin di rantai berbeda. “Cuma mengingatkan.”

“Kalau suatu hari sakit lagi, bilang.”

“Iya.”

Pintu lift terbuka. Kami berjalan ke mobil sambil bergandengan tangan tanpa perlu menghitung siapa yang mulai.

Di apartemen, aku menemukan kotak kecil di meja ruang tengah.

“Apa ini?”

“Hadiah.”

“Ulang tahun aku masih dua bulan.”

“Bukan ulang tahun.”

Aku membuka kotaknya. Di dalamnya ada sebuah kartu akses baru dengan label tulisan tangan: Penghuni Resmi yang Suka Mencuri Jaket.

Aku mengangkat kartu itu. “Aku sudah tinggal di sini dua bulan.”

“Kamu masih pakai kartu tamu.”

“Karena Mas lupa mengurus.”

“Sekarang sudah.”

Kartu akses sederhana itu membuat dadaku lebih hangat daripada perhiasan mahal. Bukan karena benda itu berarti kami nggak akan pernah berpisah, tetapi karena sekarang kami memilih rumah yang sama tanpa satu pun harus kehilangan jalan keluar.

“Aku kira ini hadiah taruhan yang nggak pernah aku dapat,” godaku.

“Kamu masih memikirkan tas itu?”

“Tasnya edisi terbatas.”

“Mau?”

“Nggak.” Aku berdiri di depannya dan mengaitkan jari ke sabuknya. “Katanya Mas punya hadiah lain.”

Tatapan Erga turun ke tanganku. “Saya pernah bilang?”

“Barusan di kepala aku.”

“Itu bukan bukti.”

“Aku bisa buat tiket.”

“Jangan salah gunakan sistem kantor.”

“Terlambat.”

Aku menunjukkan ponsel. Siang tadi aku benar-benar membuat tiket internal dengan kategori Other.

Pacar saya terlalu sibuk dan butuh diperbaiki.

Statusnya sudah berubah menjadi assigned atas nama Erga.

Dia menatap layar, lalu aku. “Kamu membuat tiket sungguhan?”

“SLA-nya malam ini.”

“Masalahnya apa?”

Aku melingkarkan tangan di lehernya. “Kurang perhatian.”

“Solusi yang diminta?”

“Mas ahli IT. Cari sendiri.”

Erga memegang pinggangku dan menarik sampai tubuh kami rapat. “Saya perlu melakukan pengecekan langsung.”

“Silakan.”

Dia menciumku.

Ciuman pertama pelan, seolah masih menguji masalah. Ciuman kedua jauh lebih dalam.

Tanganku masuk ke rambutnya. Erga mengangkatku sedikit dan duduk di sofa, menarikku ke pangkuan. Bibirnya kembali menemukan bibirku sebelum aku sempat mengambil napas penuh.

Panasnya sama seperti malam sebelum dia pergi, tetapi nggak ada rasa putus asa. Nggak ada koper di mobil, tiket di saku, atau alarm diam-diam menuju bandara. Tangannya tetap di pinggang dan punggung, kuat tanpa melewati batas yang sudah menjadi milik kami bersama.

Aku menarik bibir bawahnya pelan. Napasnya pecah seperti dulu.

“Masih gugup?” bisikku.

“Kamu masih banyak bicara.”

Dia mencium rahangku, lalu sisi leher. Aku menahan bahunya dan membiarkan kepala bersandar ke sofa. Ketika bibirnya kembali ke mulutku, aku lupa hadiah, tas, tiket IT, dan kalimat berikutnya yang sudah kusiapkan.

Ciuman itu panjang, dalam, dan aman.

Saat kami akhirnya berhenti, napas masih berantakan. Aku meringkuk di dadanya, sementara tangannya mengusap rambutku.

“Tiketnya selesai?” tanyaku.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Perlu monitoring semalaman.”

Aku tertawa dan mencubit pinggangnya. Dia mencium puncak kepalaku.

Aku tertidur di dadanya di sofa, persis seperti malam terakhir setahun lalu.

Bedanya, ketika membuka mata beberapa jam kemudian, Erga masih ada.

Dia tertidur dengan kepala bersandar, satu tangan tetap melingkar di pinggangku. Nggak ada gantungan kunci yang ditinggalkan. Nggak ada sisi ranjang dingin. Nggak ada surel terjadwal.

Aku menutup mata lagi dan kembali tidur tanpa takut.

Pagi harinya, aku memakai kaus hitamnya. Erga salah mengambil kaus putih kebesaranku yang kubeli sebagai baju rumah, lalu tetap memakainya karena terlalu malas berganti.

“Kausnya pendek,” kataku sambil membalik telur.

“Punya siapa?”

“Aku.”

“Kenapa ada di lemari saya?”

“Lemari kita.”

“Saya merasa pola pencurian ini terstruktur.”

Ponsel di meja berbunyi. Video call dari grup Circle Metro.

Aku menerima tanpa berpikir.

Tiga wajah muncul bersamaan.

“Pagi!” seru Rania. “Kita mau brunch—”

Keisha menyipit melihat layar. “Itu kaus siapa?”

Nadine justru memandang leher Erga. Ada bekas merah samar dari ciumanku semalam.

Mereka bertiga diam.

Erga menyentuh leher, menyadari apa yang mereka lihat.

Keisha langsung menekan tutup sambungan.

Panggilan berakhir.

Tiga detik kemudian, pesan masuk.

Kami brunch sendiri. Jangan jelaskan apa pun.

Aku tertawa sampai hampir menjatuhkan spatula. Erga mengambil alih kompor sebelum sarapan kembali terbakar.

Di dinding dapur tergantung kalender biasa. Nggak ada tiga puluh kotak. Nggak ada garis hitam atau kata pergi. Isinya jadwal rapat, tenggat proyek, daftar belanja, dan catatan bahwa aku harus mengembalikan jaketnya—yang tentu saja nggak pernah kulakukan.

Pada tanggal hari ini, ada tulisan tangan Erga.

Hari pertama, setiap hari.

Aku memeluk pinggangnya dari belakang dan mencium bahunya.

“Mas,” panggilku.

“Hm?”

“Besok hari pertama lagi?”

Dia mematikan kompor, berbalik, lalu menyentuh dahiku dengan dahinya.

“Setiap hari.”

Kali ini aku setuju.