← Aku Udah di Jalan

Chapter Nine

Dua Jam Hujan

POV: Kira

Kabar itu datang hari Selasa jam sebelas siang, lewat email, dengan subjek yang begitu datar sampai aku hampir melewatkannya.

Aku diterima.

Program magang bersertifikat di perusahaan manufaktur di Cikarang, enam bulan, mulai semester depan. Dua ratus tiga puluh pendaftar. Delapan diterima.

Aku membacanya di koridor, di antara dua kelas, sambil berdiri.

Lalu aku membacanya lagi.

Lalu aku duduk di kursi tunggu di depan ruang dosen selama mungkin sepuluh menit, memegang hp dengan dua tangan, dan merasakan sesuatu yang jarang sekali aku rasakan sampai aku sempat lupa namanya.

Aku mendaftar diam-diam bulan Februari. Tidak ada yang tahu. Bukan karena rahasia; karena aku tidak suka mengumumkan sesuatu yang belum jadi, dan karena kalau gagal aku tidak perlu menjelaskan kegagalan itu ke siapa pun.

Sekarang sudah jadi.

Dan hal pertama yang aku lakukan — hal pertama, sebelum menelepon ibu, sebelum apa pun — adalah membuka chat Haru dan mengetik.

Aku mengetik tiga kalimat, membacanya, dan menghapusnya.

Bukan karena ragu. Karena kabar seperti ini tidak seharusnya dikirim lewat chat.

Aku ingin melihat wajahnya waktu dia mendengarnya. Aku ingin dia berteriak di tempat umum seperti yang selalu dia lakukan, dan memukul lenganku, dan bilang bahwa dia sudah tahu dari dulu aku bakal bisa meskipun dia sama sekali tidak tahu apa-apa.

Aku menunggu.

Aku menunggu tiga hari, karena dia sibuk hari Rabu, dan hari Kamis ada rapat sampai malam, dan hari Jumat aku shift.

Sabtu, dia mengirim chat.

Haru
ra besok aku ada acara di gedung serbaguna sampe sore
bisa jemput jam 8 nggak? aku males banget naik ojek
aku traktir makan deh

Bisa.

Bagus, pikirku.

Aku akan menjemputnya jam delapan, kami akan makan di warung nasi goreng di Jalan Cendana seperti biasa, dan aku akan mengatakannya di sana, di antara piring yang sudah ditukar, dan dia akan berteriak dan Mas penjualnya akan menoleh.

Aku memikirkan itu sepanjang hari Minggu.

Aku bahkan — dan aku tidak akan pernah menceritakan bagian ini kepada siapa pun — aku bahkan mengecek apakah warung nasi goreng itu buka hari Minggu.

Buka.


Aku sampai di gedung serbaguna jam tujuh lewat empat puluh dua.

Langit sudah gelap sejak sore dan udaranya berat, jenis udara yang membuat semua orang di kampus berjalan lebih cepat tanpa sadar. Aku memarkir motor di dekat pintu samping, di bawah pohon, di tempat yang bisa dilihat dari dalam.

Jam delapan.

Acara belum selesai. Masih ada musik dari dalam.

Jam delapan lewat lima belas, hujan mulai turun.

Bukan gerimis. Hujan yang langsung besar, yang bunyinya menutupi musik dari dalam gedung dalam waktu dua puluh detik, yang membuat orang-orang yang tadinya berdiri di teras jadi mundur masuk.

Aku memindahkan motor ke bawah kanopi di sisi timur, yang sebenarnya kanopi tempat parkir sepeda dan cuma menutupi setengah.

Aku mengetik:

Aku udah di jalan.

Aku berdiri di bawah kanopi itu dengan setengah bahu kanan basah, memandangi layar, menunggu tanda centangnya berubah.

Kalian mungkin bertanya kenapa aku menulis itu.

Aku sudah ada di sana. Motorku ada delapan meter dari pintu samping. Kalau dia keluar dan menoleh ke kanan, dia akan melihat aku.

Aku menulisnya karena itu satu-satunya kalimat yang aku punya untuk mengatakan aku ada.

Aku sudah bertahun-tahun mengatakan aku ada dengan kalimat itu, dan tidak pernah sekali pun mengatakannya dengan kalimat yang sebenarnya, dan malam itu — kalau ada satu malam di mana aku hampir mengatakannya dengan kalimat yang sebenarnya, malam itu malamnya, karena aku punya kabar baik dan orang yang punya kabar baik jadi berani untuk hal-hal lain.

Centangnya tetap satu.


Jam sembilan, musiknya berhenti.

Jam sembilan lewat sepuluh, orang mulai keluar dari pintu utama, berlarian sambil menutupi kepala dengan tas dan map dan tangan.

Aku pindah ke sisi barat supaya bisa melihat pintu utama juga. Kanopi di sisi barat lebih pendek. Sekarang bukan cuma bahu kanan.

Aku mengecek hp. Centangnya satu.

Aku mengirim satu chat lagi: Aku di parkiran timur.

Centang satu.

Aku menelepon. Nada sambung sampai habis, dua kali.

Ini bukan hal aneh. Hp-nya sering di dalam tas, dan kalau acara sedang beres-beres dia tidak akan mendengar apa pun. Sudah puluhan kali terjadi. Setiap kali, dia akan keluar dua puluh menit kemudian sambil berteriak minta maaf sambil mengangkat hp-nya yang sudah lowbat.

Jam setengah sepuluh, lampu di dalam gedung mulai dimatikan satu per satu.

Jam sepuluh, gedung itu gelap.


Aku tidak pulang jam sepuluh.

Aku ingin kalian tahu ini bukan karena aku bodoh. Aku sudah tahu, mungkin sejak jam setengah sepuluh, bahwa dia tidak ada di dalam.

Aku tetap tidak pulang, karena ada satu persen kemungkinan bahwa dia masih di sana, di belakang gedung, membereskan kursi, hp mati, dan kalau aku pulang dan ternyata dia masih di sana, dia akan berdiri sendirian di gedung gelap dalam hujan.

Satu persen itu cukup. Satu persen itu selalu cukup, dan itu yang salah dari aku, dan butuh tiga tahun sebelum aku bisa mengatakannya sekeras ini.

Jam sepuluh lewat empat puluh, hp-ku bergetar.

Bukan dari dia.

Sisil
[foto]

Fotonya diambil dari dalam mobil, lewat kaca depan, agak buram karena hujan. Warung nasi goreng di Jalan Cendana. Di bawah tendanya ada dua orang berdiri berdekatan, satu memegang bungkusan, yang satu tertawa dengan kepala mendongak sedikit, cara dia selalu tertawa kalau tawanya asli.

Rambutnya kering.

Kalau rambutnya kering berarti dia tidak kehujanan. Kalau dia tidak kehujanan berarti dia sudah keluar dari gedung sebelum hujan besar. Kalau dia keluar sebelum hujan besar berarti dia keluar sebelum jam delapan lewat lima belas.

Aku menghitungnya di bawah kanopi, dengan hp yang layarnya kena tetesan, karena kepalaku memang begitu. Kalau ada angka, dia menghitung sendiri.

Dua jam dua puluh lima menit.

Sisil
Kira.
Maaf.
Kamu di mana?

Aku tidak membalas.

Aku memasukkan hp ke saku dalam jaket, memasang helm, dan menyalakan motor.


Aku ingin menulis bahwa aku marah.

Aku sudah mencoba menulis ulang bagian ini beberapa kali di kepalaku, dan setiap kali aku sampai ke bagian ini aku mencari kemarahan itu dan tidak menemukannya.

Yang aku ingat dari perjalanan pulang malam itu cuma hal-hal teknis.

Aku ingat bahwa air masuk ke sepatu di kilometer pertama dan setelah itu tidak terasa lagi.

Aku ingat bahwa di perempatan Kalibaru genangannya setinggi setengah ban dan aku menurunkan gigi.

Aku ingat bahwa di perempatan yang lampu merahnya sembilan puluh detik, aku dapat merah, dan aku berhenti, dan aku menghitung mundur dari sembilan puluh seperti biasa. Delapan puluh sembilan. Delapan puluh delapan. Hujan menghantam helm. Tidak ada mobil lain di arah mana pun. Aku bisa saja jalan; jam sebelas malam, hujan deras, tidak ada siapa-siapa.

Aku berhenti sampai sembilan puluh detik itu habis.

Dan di suatu tempat di antara empat puluh dan tiga puluh, tanpa drama, tanpa satu pun pikiran yang bisa aku tunjuk sebagai penyebabnya, aku berhenti.

Bukan berhenti motornya. Motornya memang sudah berhenti.

Aku cuma... berhenti.

Seperti mesin yang dimatikan dari saklar di ruangan lain.

Lampunya hijau. Aku jalan.


Aku sampai kos jam sebelas lewat sepuluh.

Aku melepas sepatu di depan pintu dan menuangkan airnya ke selokan. Aku mandi air hangat karena tidak mau sakit, karena besok ada kelas jam delapan. Aku menjemur jaket di gantungan di depan kipas.

Hp-ku ada di meja, layar menghadap ke bawah, dan bergetar tiga kali sekitar jam setengah dua belas.

Aku tidak membaliknya.

Bukan sebagai hukuman. Aku ingin ini jelas, karena nanti akan ada orang yang mengira aku sedang menghukum siapa pun.

Aku tidak membaliknya karena aku tidak ingin tahu isinya.

Kalau isinya minta maaf panjang, aku akan memaafkan, karena aku selalu memaafkan, dan besok pagi semuanya kembali seperti semula.

Kalau isinya tidak minta maaf — kalau isinya cuma cerita seru tentang malam ini — aku juga akan menjawab dengan baik, karena aku selalu menjawab dengan baik.

Dua-duanya berakhir di tempat yang sama, dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak punya tenaga untuk berjalan ke tempat yang sama itu lagi.

Aku tidur jam dua belas kurang.


Aku bangun jam setengah tujuh dan pergi kuliah.

Aku tidak membuka hp sampai jam satu siang.

Waktu aku membukanya, ada empat pesan dari Haru, dikirim antara jam setengah dua belas malam dan jam sembilan pagi:

RA
ASTAGA AKU BARU LIAT CHAT KAMU
hp aku mati dari jam 7. aku nggak tau kamu jemput. aku kira kamu bakal chat dulu
kamu nggak nunggu lama kan????

Aku menatap pesan terakhir cukup lama.

kamu nggak nunggu lama kan????

Empat tanda tanya. Dia benar-benar tidak tahu jawabannya. Dia benar-benar berharap jawabannya tidak.

Ada dua versi diriku yang berdiri di koridor itu, dan yang satu sudah menyusun jawabannya sejak semalam: Nggak kok. Aku baru sampe pas kamu udah nggak ada. Santai.

Yang satu lagi tidak menyusun apa-apa.

Aku mengetik:

Nggak apa-apa.

Lalu aku menutup hp dan pergi ke kelas berikutnya.

Aku tidak menceritakan soal magang itu ke dia hari itu.

Aku juga tidak menceritakannya minggu itu, atau minggu berikutnya, dan setelah lewat tiga minggu kabar itu berhenti jadi kabar dan berubah jadi sesuatu yang lain — sesuatu yang aku simpan di saku belakang dan aku pegang sesekali, seperti orang yang menyimpan tiket bus ke kota lain tanpa niat naik.

Dia tidak pernah tahu.

Bukan karena aku merahasiakannya.

Karena tidak ada satu pun hari, dalam tiga bulan berikutnya, di mana dia bertanya apa yang sedang terjadi di hidupku.