Chapter Six
Obat buat Orang Lain
POV: Kira
Ada empat apotek di sekitar kampus dan aku tahu jam tutup keempat-empatnya.
Apotek Sehat di depan gerbang utama tutup jam sembilan. Kimia Farma di Jalan Cendana jam sepuluh, kadang setengah sepuluh kalau sepi. Yang di dalam minimarket sebelah kos putri cuma jual yang bebas, tidak ada yang bisa ditanya. Dan Apotek Abadi di Jalan Ronggolawe buka dua puluh empat jam, ada apotekernya yang jaga sampai pagi, namanya Mbak Rin, dan dia mau memberi saran kalau ditanya baik-baik.
Aku hafal itu semua sejak semester empat, waktu Haru tipes.
Waktu itu dia sendirian di kos, dua hari tidak masuk, dan mengirim chat ke grup bahwa dia cuma masuk angin. Aku yang datang karena Gita pulang kampung. Aku yang bolak-balik ke Abadi tiga kali dalam dua hari karena aku tidak tahu obat apa yang benar dan Mbak Rin harus menjelaskan berulang kali kepada anak Teknik Industri yang paniknya tidak kelihatan tapi tangannya gemetar waktu mengeluarkan uang.
Hari ketiga dia sudah bisa duduk. Dia bilang, “Kamu tuh kayak ibu-ibu.”
Aku bilang, “Iya.”
Dia tidak pernah tahu soal tiga kali bolak-balik itu. Aku pergi waktu dia tidur.
Sabtu malam, sekre penuh karena besok ada rapat gabungan dengan pihak kampus dan semua orang mengerjakan bahannya di tempat.
Jam delapan lewat, Haru berdiri dari kursinya di sudut kiri dengan gerakan yang terlalu cepat.
“Ra.”
Aku sudah menutup laptop sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, karena aku sudah melihat wajahnya.
“Tama demam. Dari siang katanya. Dia baru bales sekarang.” Dia sudah menyambar tasnya. “Anak kosnya lagi pada pulang semua. Dia sendirian.”
“Oke.”
“Aku mau ke apotek dulu terus ke sana.”
“Oke.”
“Kamu—“ Dia berhenti. “Kamu lagi ngerjain bahan besok, ya?”
“Udah selesai.”
Itu bohong. Punyaku baru setengah.
“Yakin?”
“Yakin.”
Wildan mengangkat kepalanya dari meja seberang. “Bareng Kira aja, Ru. Malem-malem.”
“Iya nih.”
“Eh tapi—“ Wildan mengerutkan dahi, dengan wajah orang yang sedang menghitung sesuatu yang tidak penting. “Kos Tama kan di Cendana. Kira, kos kamu di utara, kan? Yang belakang perumahan?”
“Iya.”
“Berarti kamu muter jauh banget dong.”
Ruangan tidak berhenti. Bagas masih berdebat dengan Sisil soal warna backdrop. Ada yang menyalakan pemanas air. Kipas berputar.
Haru sudah di pintu, memasang tali tas menyilang di badannya, dan menjawab sambil setengah menoleh:
“Kira mah emang rajin. Ayo, Ra, buruan.”
Aku mengambil kunci motor.
Wildan kembali ke laptopnya.
Dan itu saja. Satu kalimat, dilemparkan ke tengah ruangan oleh orang yang bahkan tidak sedang memperhatikan, dan ditangkap oleh tidak seorang pun.
Aku sempat berpikir — di detik antara pertanyaan Wildan dan jawaban Haru — bahwa ada kemungkinan malam ini berjalan berbeda.
Tiga detik. Itu jarak antara semuanya tetap sama dan semuanya berubah.
Apotek Abadi jam setengah sembilan malam.
“Panas berapa?” tanyaku di motor, sebelum turun.
“Hah?”
“Suhunya. Tanya.”
Dia mengetik. Menunggu. “Tiga delapan koma dua.”
“Udah makan?”
“Katanya belum dari siang.”
“Ada muntah nggak.”
“Ra, aku nggak tau—“
“Tanya.”
Dia menatapku sedetik, lalu mengetik lagi.
Aku masuk, dan Mbak Rin mengangkat wajahnya dari belakang meja dan langsung berkata, “Kamu lagi. Siapa yang sakit sekarang?”
“Temen. Demam tiga delapan dua, belum makan dari siang, nggak muntah.”
Dia mengambilkan tiga hal, menjelaskan dua di antaranya, dan menekankan bahwa yang penting bukan obatnya tapi minumnya. Aku juga membeli air mineral dua botol besar, satu bungkus roti tawar, oralit, dan termometer digital yang paling murah karena Haru pasti tidak akan berpikir sampai situ.
Di kasir, Haru mengeluarkan dompetnya.
“Aku aja,” katanya.
“Udah kebayar.”
“Ra.”
“Nanti aja.”
Dia sudah menghitung uangnya tiga kali di tangan — kebiasaan itu — dan sekarang uang itu menggantung di antara kami dan dia tidak tahu harus dikembalikan ke dompet atau tidak.
“Nanti,” kataku lagi, dan dia menurut, dan aku tahu dia akan lupa, dan aku juga tahu aku tidak akan pernah menagih.
Kos Tama ada di gang kedua Jalan Cendana. Pagar hijau. Pot-pot yang diurus orang yang tahu cara mengurus pot.
Aku mengenali pagarnya sebelum motor berhenti.
Ini rumah yang sama dengan hari itu. Rumah tempat aku menunggu dua jam sebelas menit dengan laptop di atas jok.
Haru turun, melepas helm, menyerahkannya padaku, dan sudah setengah berlari ke pagar waktu dia berbalik.
“Kira.”
“Hm.”
“Kamu... “ Dia melihat ke arah pintu, lalu ke arahku, lalu ke arah pintu lagi. “Kamu tunggu di sini nggak apa-apa? Aku nggak enak ngajak kamu masuk, dia lagi sakit, terus kayaknya kosnya berantakan banget, terus—“
“Nggak apa-apa.”
“Bentar doang. Aku kasih obat, aku bikinin sesuatu, terus balik.”
“Iya.”
“Bentar banget.”
“Iya, Har.”
Dia mengangguk cepat dua kali, mengambil kantong plastik dari tanganku, dan masuk.
Pintunya tidak dibuka dari dalam kali ini. Dia yang mengetuk. Butuh waktu lama sebelum ada yang membuka, dan waktu terbuka, aku melihat bahu Tama sedikit — bahu orang yang sedang bersandar ke kusen — lalu pintunya menutup.
Aku duduk di jok motor selama satu jam tiga puluh empat menit.
Jam sembilan aku menyelesaikan setengah bahan rapat yang bohong sudah selesai itu, di layar hp, dengan dua jempol, mengetik di aplikasi catatan karena laptopku ada di tas dan mengeluarkan laptop di depan rumah orang itu terasa berlebihan bahkan untukku.
Jam sembilan lewat empat puluh, ibu-ibu rumah nomor tujuh keluar membawa sampah, melihatku, dan kali ini tidak curiga. Dia mengangguk. Aku mengangguk. Kami sudah kenal sekarang, dengan cara yang tidak enak.
Jam sepuluh aku memikirkan sesuatu yang tidak berguna dan tetap memikirkannya sampai selesai:
Kalau malam ini Tama tidak demam, aku sedang di sekre, mengerjakan bahan rapat sambil mendengar Bagas dan Sisil berdebat soal warna. Kalau aku tidak ikut, Haru tetap ke apotek, membeli obat penurun panas yang salah dosis dan tidak membeli oralit, dan besok Tama tetap sembuh karena orang berumur dua puluh dua tahun selalu sembuh dari demam.
Tidak ada satu pun bagian dari malam ini yang benar-benar membutuhkan aku.
Aku ada di sini bukan karena dibutuhkan.
Aku ada di sini karena aku menawarkan diri sebelum sempat ditolak.
Jam sepuluh lewat empat belas, pintu terbuka.
Dia keluar sambil menutup pintu pelan-pelan pakai dua tangan, cara orang menutup pintu kamar orang tidur, lalu berbalik dan berjalan ke motor dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya.
“Udah tidur,” katanya. “Panasnya turun jadi tiga tujuh lima.”
“Bagus.”
“Dia makan rotinya dua.” Dia naik ke motor. “Oralitnya juga diminum. Ra, kamu tau nggak, dia bilang oralit itu kepikiran banget. Katanya nggak ada yang pernah kepikiran beliin oralit.”
“Hm.”
“Aku bilang aku yang beli.”
Aku memasang helm.
“Bohong dikit,” lanjutnya, dan tertawa kecil, dan menepuk bahuku sekali. “Nggak apa-apa ya?”
“Nggak apa-apa.”
Jalanan sudah sepi. Aku jalan pelan.
Tiga menit setelah jembatan, aku merasakan berat di punggungku.
Bukan kepala di bahu kali ini. Dahinya — dahinya yang bersandar di antara tulang belikatku, langsung, satu titik, dan tangannya menggenggam ujung jaketku di kedua sisi.
“Ra.”
“Hm.”
“Aku ngantuk banget.”
“Tidur aja.”
“Nggak bisa, nanti jatoh.”
“Nggak bakal.”
Dia diam beberapa detik. Motor melewati polisi tidur dan dahinya membentur punggungku pelan.
“Kira.”
“Hm.”
“Makasih ya. Kamu tuh selalu ada.”
Ada empat ratus cara untuk menjawab itu dan aku sudah mencoba tiga ratus sembilan puluh sembilan di dalam kepala pada malam-malam yang lain.
“Iya,” kataku.
“Aku tuh sering mikir,” lanjutnya, suaranya makin pelan, setengah tenggelam di punggung jaketku, “kalau nggak ada kamu tuh aku bakal gimana ya.”
Aku tidak menjawab.
Aku mengambil jalur memutar lewat Jalan Wijaya, karena aspalnya lebih halus, dan tidak berpura-pura punya alasan lain.
Di depan kosnya, dia turun, dan wajahnya ada bekas garis dari jahitan jaketku di dahi.
“Ada bekasnya,” kataku.
“Hah? Mana?”
“Di sini.” Aku menunjuk dahiku sendiri.
Dia menggosoknya, gagal, tertawa, menyerah.
“Kira.”
“Hm.”
“Kamu nggak nyesel kan, malem ini kepake buat nganterin aku ke tempat orang lain?”
Ini pertama kalinya dia bertanya seperti itu.
Bukan pertama kalinya kejadiannya. Pertama kalinya dia bertanya.
Dan aku menyadari, sambil berdiri di sana memegang setang motor yang mesinnya masih menyala, bahwa satu-satunya alasan dia bertanya adalah karena dia sedang sangat bahagia, dan orang yang sedang sangat bahagia jadi lebih peka pada hal-hal di sekitarnya, seperti orang yang baru bangun dan tiba-tiba mendengar jam dinding yang sudah berdetak sejak tadi.
Kalau aku diam cukup lama, dia mungkin akan mendengarnya lebih lanjut.
“Nggak,” kataku.
“Beneran?”
“Beneran.”
“Yaudah.” Dia tersenyum, lega, dan lega itu tulus, dan itu bagian yang paling parah. “Hati-hati ya. Kos kamu jauh.”
Dia masuk.
Aku memutar balik, dan berkendara ke utara, dan di perempatan yang lampu merahnya sembilan puluh detik aku berhenti seperti biasa dan menghitung mundur seperti biasa dan sampai di kos jam sebelas lewat.
Bahan rapatku selesai jam dua pagi.
Besoknya, di rapat gabungan, Haru mempresentasikannya dengan sangat baik dan pihak kampus menyetujui semuanya, dan waktu keluar ruangan dia meninju bahuku dan bilang, “Kita hebat.”
Kita.
Aku memikirkan kata itu sepanjang perjalanan ke kelas dan memutuskan bahwa itu kata yang bagus, dan bahwa aku tidak boleh terlalu lama memikirkannya.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain reading
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan