Chapter Thirty Four
Aku Udah di Jalan
POV: Kira
Warkop Pak Umar masih buka dari jam empat sore sampai jam dua pagi, dan lampunya masih dinyalakan setengah lima meskipun masih terang.
Aku ke sana hari Sabtu, jam lima sore, untuk pertama kalinya sejak November tahun lalu.
Pak Umar menaruh lapnya waktu aku masuk.
“Lho.”
“Sore, Pak.”
“Kamu ke mana aja?”
“Kerja di luar kota.”
“Ooh.” Dia sudah mengambil gelas sebelum aku memesan. “Teh panas?”
“Iya, Pak. Setengah gula.”
Dia berhenti.
“Setengah gula?”
“Iya.”
“Dulu kamu nggak pernah minta setengah gula.”
“Dulu saya nggak tau boleh minta,” kataku.
Pak Umar menatapku sebentar, lalu tertawa — tawa pendek orang yang tidak sepenuhnya mengerti tapi memutuskan bahwa itu lucu — dan menuang teh.
Aku duduk di meja pojok yang menghadap jalan.
Kursi yang sama.
Dari situ masih terlihat gerbang samping kampus, dan kalau kalian melihat sedikit ke kiri, masih terlihat pintu sekre.
Aku duduk di situ selama empat puluh menit.
Bukan tiga setengah jam. Empat puluh menit, dan hp-ku ada di meja dengan layar menghadap ke atas, dan tidak berbunyi sekali pun, dan aku menghabiskan teh yang setengah gula sambil membaca berita tentang hal-hal yang tidak penting.
Waktu aku berdiri untuk membayar, Pak Umar bertanya:
“Nggak nunggu siapa-siapa?”
Dan aku memikirkannya dengan serius, karena pertanyaan itu pernah punya jawaban yang panjang.
“Nggak, Pak,” kataku.
“Yaudah, hati-hati.”
Aku keluar, dan berjalan ke motor, dan menyadari di tengah jalan bahwa aku tidak akan kembali lagi ke sana untuk alasan yang sama seperti dulu.
Aku akan kembali karena tehnya enak.
Itu saja. Dan itu ternyata cukup.
Sore itu aku menjemput Haru dari kampus, karena hari Sabtu adalah giliranku.
Kertas di dinding kamar kosku yang baru sekarang sudah empat lembar, ditempel berjejer dengan selotip, dan Haru bilang itu membuat kamarku terlihat seperti kantor polisi.
Aku tidak berencana menggantinya.
Kami lewat jalan biasa. Perempatan Kalibaru, lurus, lalu belok ke Wijaya, lalu perempatan besar sebelum masuk perumahan.
Perempatan yang lampu merahnya sembilan puluh detik.
Aku dapat merah, seperti biasa.
Aku berhenti, dan mulai menghitung mundur di kepala, karena tiga tahun kebiasaan tidak hilang dalam setahun.
“Ra.”
“Hm.”
“Ini lampu yang kamu ceritain?”
Aku menoleh.
“Aku pernah cerita?”
“Kamu cerita di telepon. Bulan April. Kamu lagi ngantuk banget dan kamu cerita ngelantur.” Dia mengetuk bahuku. “Kamu bilang lampu ini sembilan puluh detik dan kamu nggak pernah dapet hijau.”
“Aku nggak inget aku cerita itu.”
“Aku catat.”
“Kamu—“
“Halaman dua puluh satu,” katanya. “Aku catat semua yang kamu ngelantur. Itu bagian favorit aku.”
Aku menghadap ke depan lagi.
Delapan puluh satu. Delapan puluh. Tujuh puluh sembilan.
“Ra.”
“Hm.”
“Kamu masih ngitung?”
“Iya.”
“Aku ikut.”
Dan dia mulai menghitung keras-keras dari belakang, salah angka di detik keempat, aku membetulkan, dia protes, dan kami menghitung sisa tujuh puluh detik itu bersama-sama di atas motor di perempatan kosong jam enam sore sambil berdebat soal apakah tadi sudah lewat angka enam puluh tiga atau belum.
Lampunya hijau.
Aku tidak langsung jalan.
Ada mobil di belakang yang membunyikan klakson setelah dua detik, dan aku mengangkat tangan minta maaf, dan jalan.
“Kenapa nggak langsung jalan?” teriaknya dari belakang.
“Nggak apa-apa,” kataku.
Dan kali ini itu memang berarti tidak apa-apa.
Malamnya, aku pulang ke kos jam delapan.
Kosku yang baru ada di sisi selatan sekarang, dua belas menit dari kampus, dan pemiliknya ibu-ibu yang menanam terlalu banyak pot di halaman sampai motor harus diparkir miring.
Aku mandi, makan mi, dan mengerjakan revisi bab tiga sampai jam sembilan kurang.
Jam sembilan lewat empat menit, hp-ku bergetar.
Haru
ra
kamu udah tidur?
bukan darurat
bukan darurat yang kemarin juga
Aku membaca empat chat itu dan tertawa sendirian di kamar seperti orang bodoh.
Lalu hp-nya berdering.
“Halo.”
“Ra.” Suaranya di seberang sana bercampur suara angin dan mesin. “Kamu lagi ngapain?”
“Ngerjain revisi.”
“Bab tiga?”
“Bab tiga.”
“Yang dicoret dosen kamu seluruh halaman itu?”
“Iya.”
“Yaudah, berhenti. Aku mau ngajak keluar.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Aku melihat jam. Sembilan lewat tujuh.
“Ru, ini jam sembilan.”
“Iya.”
“Kamu mau ke mana jam sembilan?”
“Aku mau makan nasi goreng.”
Aku berhenti.
“Nasi goreng yang mana?”
“Yang di Cendana,” katanya. “Yang deket toko bunga.”
Aku berdiri dari lantai.
Aku tidak ingat memutuskan untuk berdiri. Aku cuma sudah berdiri, dengan hp di telinga, di tengah kamar kos yang lantainya penuh kertas revisi.
“Ru.”
“Iya?”
“Kamu tau kan warung itu—“
“Aku tau,” katanya. “Aku tau persis warung itu apa. Aku tau kamu udah ngerencanain mau cerita di situ. Aku tau kamu ngecek warungnya buka hari Minggu apa enggak.”
Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.
“Dan aku juga tau kamu nggak pernah nyampe ke sana,” katanya. “Jadi malam ini kita ke sana. Terus kamu cerita. Dari awal. Semuanya. Tentang emailnya, tentang dua ratus tiga puluh pendaftarnya, tentang semuanya.”
“Itu setahun lalu.”
“Aku nggak peduli.”
“Kamu udah tau semuanya.”
“Aku tau ceritanya,” katanya. “Aku belum pernah denger kamu ceritainnya sambil seneng.”
Aku berjalan ke jendela.
Kamarku di lantai satu, dan jendelanya menghadap gang, dan dari situ terlihat mulut gang sampai ke jalan besar.
Aku sudah berdiri di jendela itu sejak chat pertama masuk.
Aku bukan orang yang berdiri di jendela. Aku sudah cukup lama mengenal diriku untuk tahu bahwa berdiri di jendela adalah kebiasaan orang yang menunggu, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti jadi orang itu.
Tapi ada yang berbeda sekarang, dan perbedaannya kecil sekali, dan perbedaannya adalah seluruh isi buku ini:
Aku tahu dia datang.
Bukan berharap. Bukan mengira-ngira. Dia bilang dia datang, dan aku menunggu di jendela bukan karena kemungkinan, tapi karena kepastian, dan ternyata dua hal itu terasa sangat berbeda meskipun bentuknya persis sama dari luar.
Motor masuk ke mulut gang jam sembilan lewat sebelas.
Lampu depannya menyapu tembok rumah nomor empat. Suara mesinnya menurun waktu melewati polisi tidur pertama.
Dia memakai hoodie abu tua.
Dia selalu memakai hoodie abu tua kalau keluar malam, sudah setahun lebih, dan sudah tiga kali dicuci pakai pemutih yang salah sehingga warnanya sekarang lebih abu daripada tua, dan aku tidak pernah mengomentari itu sekali pun.
Motornya berhenti di depan pagar.
Dia tidak turun. Dia mematikan mesin, membuka kaca helm, dan mengangkat hp ke telinganya — hp yang teleponnya masih tersambung, karena kami belum menutup teleponnya sejak tadi.
Dan di telingaku, dari jarak delapan meter dan sekaligus dari dalam corong hp, aku mendengar suaranya:
“Ra.”
“Hm.”
“Aku udah di jalan.”
Aku berdiri di jendela kamar kos di sisi selatan kota ini, dengan lantai penuh kertas revisi bab tiga, jam sembilan lewat sebelas malam.
Delapan meter di depanku, di depan pagar, seorang perempuan duduk di atas motor dengan kaca helm terbuka dan hp menempel di telinga, dan berbohong dengan kalimat yang sama persis, dengan intonasi yang sama persis, dengan empat kata yang selama tiga tahun aku ketik ratusan kali dari kursi pojok warkop Pak Umar.
Bedanya cuma satu.
Kali ini yang berbohong sudah sampai.
Aku menempelkan telapak tanganku ke kaca jendela.
Dia melihatnya. Aku tahu dia melihatnya karena bahunya bergerak, dan karena dari delapan meter aku bisa melihat senyumnya bahkan di balik kaca helm yang terbuka setengah.
“Kira?” katanya di telepon. “Kamu masih di sana?”
Dan aku menjawab:
“Aku tahu. Aku lihat kamu dari tadi.”
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan reading