← Aku Udah di Jalan

Chapter One

Empat Menit

POV: Kira

Warkop Pak Umar buka dari jam empat sore sampai jam dua pagi, dan aku hafal jam berapa lampu depannya mulai dinyalakan.

Setengah lima. Selalu setengah lima, bahkan waktu masih terang. Pak Umar bilang lampunya bukan buat menerangi, tapi buat memberi tahu orang bahwa warungnya buka. Dua hal yang beda, katanya. Ada yang butuh terang, ada yang cuma butuh tahu bahwa ada tempat yang bisa didatangi.

Aku duduk di meja paling pojok, yang menghadap jalan, yang dari situ kelihatan gerbang samping kampus. Laptop terbuka. Layarnya menampilkan file yang sama sejak dua jam lalu — tugas perancangan sistem kerja, bab metode, halaman empat. Kursornya berkedip di tempat yang sama.

“Nambah, Ra?” Pak Umar mengangkat teko.

“Iya, Pak. Yang panas.”

“Kamu ini tiap hari di sini. Nggak ada kerjaan?”

“Ada,” kataku. “Ini lagi dikerjain.”

Pak Umar melirik layarku, lalu melirik aku, lalu menuang teh dan pergi tanpa berkomentar. Bagus. Aku suka orang yang tahu kapan berhenti bertanya.

Jam enam lewat. Anak-anak kampus mulai keluar dari gerbang samping, jaket almamater dilipat di lengan, ada yang berdua, ada yang serombongan sambil ribut soal siapa yang harus traktir. Jam tujuh warkop mulai ramai. Jam delapan aku memesan mi rebus karena kalau duduk tiga jam tanpa pesan apa-apa rasanya nggak enak sama Pak Umar.

Jam sembilan lewat empat menit, hp-ku bergetar.

Haru
Kiraaa
KIRA
DARURAT
ini beneran darurat bukan darurat yang kemarin

Aku menutup laptop sebelum membaca chat keempat.

aku di sekre. proposal sponsor harus masuk besok pagi jam 8 dan tokonya tutup setengah 10 dan aku baru sadar sekarang. TOLONG.

Ada dua hal yang perlu kalian tahu tentang jarak.

Yang pertama: kos aku ada di sisi utara, di belakang komplek perumahan, delapan menit naik motor dari kampus kalau jalanan kosong, dua belas kalau nggak. Lewat perempatan yang lampu merahnya sembilan puluh detik dan tidak pernah sekali pun aku dapat hijau.

Yang kedua: warkop Pak Umar ada di seberang gerbang samping. Empat puluh detik jalan kaki. Kalau naik motor, mungkin lima puluh, karena harus memutar sedikit lewat portal.

Aku mengetik:

Aku udah di jalan.

Lalu aku memasukkan laptop ke tas, membayar teh dan mi rebus, memakai helm, dan menyalakan motor.

Aku sudah di sini sejak jam setengah lima.


Sekre panitia Sabana Fest itu sebetulnya bekas gudang. Ada bau kardus yang tidak pernah hilang, satu AC yang mengembun di sudut kiri dan menetes ke ember, dan whiteboard besar di dinding yang seharusnya berisi timeline acara.

Seharusnya.

Yang ada di sana sekarang adalah tabel dengan judul yang ditulis Bagas pakai spidol merah, huruf kapital semua, dengan garis bawah dua kali:

LOMBA TEBAK KIRA

Di bawahnya ada kolom tanggal, kolom nama penebak, kolom tebakan dalam menit, dan kolom hasil. Ada sekitar dua puluh baris. Rekor terbawah tertulis 5 MENIT 12 DETIK, tanggal Rabu minggu lalu, penebak Sisil.

Aku mendorong pintu.

Bagas berdiri dari kursinya begitu cepat sampai kursinya jatuh ke belakang. Dia menunjuk aku, lalu menunjuk jam dinding, lalu menunjuk whiteboard, lalu menunjuk aku lagi.

“EMPAT MENIT,” teriaknya. “EMPAT. MENIT.”

“Turunin tangannya,” kata Sisil tanpa mengangkat kepala dari laptopnya.

“Sisil. Sisil, lihat. Ini rekor dunia. Ini—“ Bagas menyambar spidol dan menulis di kolom kosong dengan tangan gemetar dramatis. “Empat menit empat puluh detik. Aku hitung dari chat pertama.”

“Kamu hitung dari chat pertama atau dari chat yang bunyinya DARURAT?”

“Dari yang mana pun tetap gila.”

Wildan mengangkat kepalanya dari tumpukan proposal. “Kos kamu jauh, kan, Ra?”

“Lumayan,” kataku.

“Berarti kamu ngebut.”

“Nggak juga.”

“Berarti kamu terbang,” kata Bagas. “Sisil, catat. Kira terbang.”

“Nggak akan aku catat.”

“Kamu selalu nyatat semuanya.”

“Aku nyatat yang penting.”

“Ini penting! Ini fenomena! Ini—“

Pintu ruang belakang terbuka dan Haru keluar sambil membawa setumpuk kertas yang jelas terlalu tinggi untuk dipegang satu orang, dan langsung berhenti begitu melihat aku.

“KIRA.”

Dia tidak menaruh kertasnya dulu. Dia menyeberangi ruangan sambil membawa tumpukan itu, berhenti sepuluh senti di depanku, dan menatapku dengan tampang orang yang baru saja melihat ambulans datang.

“Kamu cepet banget.”

“Kebetulan lagi di luar.”

“Kamu selalu kebetulan lagi di luar.”

“Iya.”

Dia tertawa. Rambutnya diikat asal dan sudah lepas di sisi kanan, ada bekas spidol di pipinya, dan matanya merah karena sejak siang menatap layar. Aku tahu sejak siang karena dia mengirim foto layar itu ke grup jam satu, mengeluh soal format tabel.

“Oke, dengerin.” Haru menaruh tumpukannya di meja terdekat, meleset, dan setengahnya jatuh. Dia mengabaikannya. “Proposal sponsor. Delapan bundel. Harus dijilid spiral, cover mika, warna biru, bukan bening. Tokonya Mas Yudi. Tutup setengah sepuluh.”

Aku melirik jam. Sembilan lewat sembilan.

“Dua puluh satu menit,” kataku.

“AKU TAU.”

“File-nya udah fix?”

“Udah. Kayaknya. Hampir.”

“Haru.”

“Bagian daftar sponsornya belum aku update yang tier tiga.”

Aku menarik kursi, duduk, membuka laptopku, dan menyodorkan flashdisk yang ada di kantong depan tas. Bukan flashdisk baru. Isinya sudah ada folder bernama SABANA, dengan subfolder per divisi, karena tiga minggu terakhir hal seperti ini terjadi rata-rata dua kali seminggu.

“Kirim ke aku. Aku rapiin di jalan— nggak, aku rapiin sekarang, kamu telepon Mas Yudi bilang kita otw.”

“Dia nggak angkat kalau di atas jam sembilan.”

“Telepon dua kali. Yang kedua diangkat.”

Haru menatapku. “Kok kamu tau?”

“Pernah nyoba.”

Kapan aku pernah mencoba, dan untuk siapa, tidak dia tanyakan. Dia sudah menempelkan hp ke telinga dan berjalan mondar-mandir di antara meja sambil menggigit ibu jarinya.

Aku membuka file. Tabel tier tiga memang berantakan; kolom terakhir bergeser satu ke kanan sejak baris kedelapan. Butuh dua menit. Aku juga mengganti font judul yang entah kenapa jadi Calibri di halaman lima, dan memperbaiki nomor halaman yang mengulang angka empat dua kali.

Aku tidak memberitahunya soal font dan nomor halaman. Kalau aku bilang, dia akan minta maaf, dan aku tidak suka dia minta maaf untuk hal yang tidak perlu.

“Diangkat!” Haru berbalik, hp masih di telinga, dan wajahnya berubah jadi seratus watt. “Yang kedua diangkat! Kira, kamu—“

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia menyambar pergelangan tanganku, menariknya, dan aku setengah diseret berdiri dengan laptop masih menyala di tangan satunya.

“LARI.”

“Har, laptopku—“

“BAGAS PEGANGIN LAPTOPNYA.”

“KENAPA HARUS AKU—“

Kami sudah di luar.


Toko Mas Yudi ada di ujung gang, empat ratus meter dari sekre, dan lebih cepat jalan kaki daripada bawa motor karena gangnya searah dan harus memutar lewat jalan besar.

Haru berlari sambil memegang pergelangan tanganku. Bukan tanganku — pergelangan. Dia selalu begitu; menggenggam pergelangan orang seperti menarik tali. Aku bisa saja berlari lebih cepat dan melepaskan diri, dan dia tidak akan tersinggung, karena baginya itu cuma cara berpindah tempat.

Aku tidak melepaskan diri.

Delapan bundel proposal, jilid spiral, cover mika biru. Mas Yudi menggerutu sepanjang prosesnya dan tetap mengerjakannya. Jam sembilan lewat dua puluh delapan bundel terakhir keluar dari mesin, dan Haru mengangkatnya ke udara seperti piala.

“KITA MENANG.”

“Menang dari siapa.”

“Dari WAKTU, Kira. Dari waktu.”

Mas Yudi menutup rolling door setengah, tanda halus supaya kami pergi.

Kami jalan pulang pelan-pelan. Gangnya sepi, cuma ada suara TV dari rumah-rumah dan seekor kucing yang duduk di atas tumpukan galon dan menatap kami dengan penghinaan.

Haru memeluk delapan bundel itu di dada.

“Kira.”

“Hm.”

“Kamu tuh kenapa sih selalu bisa.”

Aku memindahkan setengah tumpukan itu ke tanganku sendiri sebelum menjawab. Dia menyerahkannya tanpa protes, seperti menyerahkan barang ke rak.

“Bisa apa.”

“Ya... itu. Datang.” Dia mengangkat bahu. “Aku chat, kamu ada. Kayak, aku nggak pernah mikirin dulu mau minta tolong siapa. Otomatis kamu.”

Ada bagian dari diriku yang ingin bertanya kenapa dia bilang itu seperti memuji mesin fotokopi.

Ada bagian lain yang tahu jawabannya, dan lebih memilih tidak mendengarnya diucapkan.

“Kebetulan aja,” kataku.

“Tiga tahun kebetulan?”

“Iya.”

Haru tertawa. Suaranya memantul di gang.

Kami sampai di depan sekre. Lampu masih menyala, Bagas masih memegangi laptopku dengan dua tangan seperti bayi, dan Sisil sudah memakai jaketnya, siap pulang.

Haru berhenti di anak tangga. Dia berbalik menghadapku, dan aku menyadari — dari cara dia menggigit bibir bawahnya sedikit, dari cara jarinya mengetuk-ngetuk sampul mika — bahwa dia mau meminta sesuatu lagi, dan kali ini ragu.

Haru tidak pernah ragu waktu meminta tolong.

“Kira.”

“Apa.”

“Besok siang kamu ada kelas nggak?”

“Ada. Sampai jam satu.”

“Habis itu?”

“Kosong.”

Dia mengangguk cepat, dua kali, seperti mengunci sesuatu.

“Bisa nganter aku, nggak?”

“Ke mana?”

Dan Haru — yang tiga tahun ini menyuruhku mengantar dia ke rumah sakit, ke stasiun, ke pemakaman neneknya, ke tempat fotokopi jam sebelas malam, tanpa satu detik pun jeda — Haru menunda satu ketukan sebelum menjawab.

“Ke tempat... seseorang.”

Dari dalam, aku bisa mendengar Bagas berteriak menanyakan siapa yang mau bertaruh untuk besok.