← Aku Udah di Jalan

Chapter Thirteen

Sabana Fest

POV: Kira

Order itu masuk ke percetakan hari Rabu, dan Mas Yudi menyodorkan lembar pesanannya ke aku tanpa melihat.

“Ini yang gede. Kampus kamu.”

Aku membacanya.

Delapan spanduk, empat backdrop tambahan, seratus dua puluh ID card, dua ratus lembar rundown, dan satu banner utama ukuran tiga kali enam. Nama pemesan: Panitia Sabana Fest. Kontak: nomor Bagas.

Nilai ordernya paling besar bulan itu.

“Kamu yang pegang,” kata Mas Yudi. “Kamu ngerti acaranya.”

“Iya.”

“Pengiriman Jumat sore, pemasangan Sabtu pagi. Kamu ikut.”

Aku menaruh lembar pesanan itu di meja dan menatapnya beberapa saat.

Ada satu hal yang lucu di situ, kalau kalian punya selera humor jenis tertentu.

Tiga bulan lalu, aku yang menyusun rundown itu. Aku yang menghitung ukuran backdrop yang sekarang ada di lembar pesanan ini. Aku yang menawar harga ke Mas Yudi dan mendapat diskon dua belas persen karena aku pegawainya, dan Bagas mengumumkan diskon itu di rapat seolah-olah dia yang bernegosiasi.

Sekarang nama panitia ada di kolom “pemesan”, dan namaku ada di kolom “petugas”.

“Bisa?” tanya Mas Yudi.

“Bisa.”


Jumat sore, aku mengantar barang.

Mobil Avanza abu-abu itu penuh sampai ke jok depan. Aku memarkirnya di belakang gedung serbaguna, di area bongkar muat, dan membuka pintu bagasi.

Ada empat anak panitia yang bertugas menerima barang. Tiga di antaranya aku kenal — anak divisi perlengkapan, sudah setahun bareng — dan mereka langsung menyapa dan bertanya kenapa aku yang mengantar dan aku bilang aku memang kerja di percetakan itu dan mereka bilang oh iya ya, lupa.

Yang keempat Rara.

Anak humas semester dua. Yang di makrab bertanya apakah aku dan Haru pacaran.

Dia melihatku turun dari mobil, melihat kardus di tanganku, dan berkata dengan nada ramah yang sangat sopan:

“Mas, taruh di sana aja ya. Yang deket tembok.”

Lalu dia kembali menghitung ID card.

Aku menaruh kardus itu di dekat tembok.

Tiga bulan lalu, di makrab, dia duduk di seberangku dan memanggilku Kak Kira. Sekarang aku memakai kaus percetakan, membawa kardus, turun dari mobil di area bongkar muat, dan aku jadi Mas.

Aku tidak menyalahkan dia. Dia tidak melihat wajahku; dia melihat kardus. Otak manusia bekerja begitu, dan aku sudah cukup lama memperhatikan orang untuk tahu bahwa yang menentukan panggilan bukan wajahmu, tapi konteks tempat kamu berdiri.

Yang membuatku berdiri diam sebentar di samping mobil bukan itu.

Yang membuatku berdiri diam adalah: aku sudah berdiri di tempat ini sebelumnya. Bukan di sisi ini. Di sisi seberang, di area yang sama, tiga kali dalam tiga tahun, menerima barang, memegang daftar, mencentang.

Dan setiap kali, orang yang mengantar barang selalu dipanggil Mas.

Aku juga pernah memanggil orang Mas di area bongkar muat ini. Aku tidak ingat wajahnya.


Sabtu pagi, pemasangan.

Aku datang jam enam, dua jam sebelum panitia, karena itu jadwal vendor.

Gedung serbaguna jam enam pagi itu tempat yang berbeda. Kosong, dingin, dan lantainya masih basah bekas dipel. Cuma ada tiga orang: aku, satu petugas kebersihan, dan seorang bapak dari vendor sound yang sedang menurunkan speaker sendirian.

Aku membantunya menurunkan dua speaker karena dia sendirian dan speakernya berat.

“Makasih ya, Mas.”

“Iya, Pak.”

Aku memasang banner utama tiga kali enam di sisi panggung. Butuh dua jam karena harus naik tangga empat kali dan mengukur ulang, karena bracket yang disiapkan panitia ukurannya salah tiga sentimeter — bracket yang sama yang dulu dipasang Wildan.

Aku memperbaikinya. Aku membawa kunci pas sendiri di tas, karena aku selalu membawa kunci pas sendiri, dan itu kebiasaan yang tidak hilang cuma karena aku berhenti jadi panitia.

Jam delapan lewat, panitia mulai berdatangan.

Aku sedang di atas tangga waktu suara-suara itu masuk ke gedung. Bagas berteriak menanyakan siapa yang bawa lakban. Sisil mengoreksi seseorang soal urutan kursi. Wildan menjatuhkan sesuatu.

Aku tetap di atas tangga, mengencangkan baut terakhir, dan turun.

“KIRA?”

Bagas melihatku dari tengah ruangan dengan tangan setengah terangkat, seperti orang yang melihat teman lamanya di bandara.

“Hai.”

“Kamu—“ Dia melihat kausku. Melihat tangga. Melihat kunci pas di tanganku. “Kamu vendor?”

“Aku kerja di percetakannya.”

“Dari kapan?”

“Semester tiga.”

Bagas membuka mulut, menutupnya, lalu membukanya lagi.

“Tiga tahun?”

“Iya.”

“Kenapa aku nggak tau?”

Ini pertanyaan yang jawabannya sebenarnya sederhana dan agak memalukan untuk semua pihak: karena tidak ada yang pernah bertanya aku kerja di mana.

“Nggak penting,” kataku.

“Ya penting! Diskon dua belas persen itu—“ Bagas berhenti. Aku bisa melihat sesuatu tersambung di kepalanya, pelan, seperti orang yang baru sadar dia sudah lama salah menghitung. “Bentar. Diskon itu dari kamu?”

“Dari Mas Yudi.”

“Tapi kamu yang minta.”

“Iya.”

Dia berdiri di situ selama beberapa detik.

Lalu Sisil memanggilnya dari seberang ruangan karena ada masalah dengan kursi tamu undangan, dan Bagas berteriak “BENTAR”, dan berbalik ke aku, dan berkata:

“Kita ngomong lagi nanti, ya.”

“Iya.”

Kami tidak ngomong lagi nanti. Bukan karena dia jahat. Karena hari itu ada dua ribu orang dan seribu masalah, dan itulah yang terjadi pada percakapan yang ditunda di hari acara.


Aku melihat Haru jam sepuluh pagi.

Dia masuk dari pintu utama sambil bicara di telepon dan membawa map, dan rambutnya diikat asal, dan ada tiga orang yang mengikutinya sambil menunggu giliran bertanya.

Dia berhenti di tengah ruangan, mendongak, dan melihat banner tiga kali enam yang baru aku pasang.

Dari tempatku berdiri — di sisi kiri, di dekat pintu vendor, jarak mungkin dua puluh meter — aku bisa melihat wajahnya berubah. Dia menurunkan hp dari telinganya. Dia menatap banner itu lama sekali untuk ukuran orang yang sedang punya seribu masalah.

Lalu dia berkata sesuatu kepada anak di sebelahnya, dan anak itu mengangguk, dan mereka berjalan ke arah panggung.

Aku tidak tahu apa yang dia katakan.

Aku sempat berpikir — dan ini bagian yang aku simpan lama sekali sebelum akhirnya bisa menuliskannya tanpa merasa bodoh — aku sempat berpikir bahwa dia mengatakan sesuatu tentang bannernya. Bahwa dia bertanya siapa yang memasangnya. Bahwa jawabannya adalah namaku, dan dia akan berbalik dan mencari.

Dia tidak berbalik.

Belakangan aku tahu — dari Sisil, tentu saja, karena Sisil menyimpan semuanya — bahwa yang dia katakan waktu itu adalah bahwa bannernya kelihatan lebih tinggi tiga senti dari rencana dan apakah itu masalah.

Bukan masalah. Aku memang menaikkannya tiga senti, supaya tidak menutupi jalur kabel.


Aku tinggal sampai acara selesai.

Bukan karena harus. Tugas vendor selesai jam sebelas. Mas Yudi menyuruhku pulang setelah semua terpasang, dan mobilnya sudah aku parkir di tempat yang tidak mengganggu.

Aku tinggal karena tidak ada tempat lain yang lebih menarik untuk hari Sabtu, dan aku tidak akan berpura-pura ada alasan yang lebih mulia dari itu.

Jam empat sore, ada masalah dengan proyektor di ruang seminar. Aku lewat, mendengar Wildan panik, masuk, mencabut satu kabel dan menancapkannya ke port yang benar, dan keluar sebelum Wildan sempat berterima kasih dengan benar.

Jam enam, ada tiang lighting yang miring karena kabelnya tersangkut. Aku memperbaikinya dari belakang panggung. Tidak ada yang melihat.

Jam tujuh, acara puncak dimulai, dan aku naik ke lantai dua.


Lantai dua gedung serbaguna itu balkon yang tidak dipakai kalau tamunya di bawah dua ribu.

Aku duduk di kursi baris paling belakang, di sudut kiri, dan dari situ seluruh panggung terlihat kecil.

Band pertama main jam tujuh lewat. Suaranya pecah di bagian bass karena speakernya terlalu dekat tembok. Aku bisa memberi tahu bapak vendor sound itu; kemarin pagi kami sudah saling kenal.

Aku tidak turun.

Aku duduk di situ dan mendengarkan bass yang pecah dan tidak melakukan apa-apa tentang itu.

Ini bagian yang sulit dijelaskan tanpa terdengar seperti orang yang sedang berpura-pura tegar, jadi aku akan mencoba mengatakannya sedatar mungkin:

Malam itu adalah malam pertama dalam tiga tahun di mana aku ada di sebuah acara tanpa menunggu siapa pun.

Tidak ada yang akan mengirim chat. Tidak ada yang harus aku antar pulang. Tidak ada yang akan berteriak namaku dari seberang ruangan karena ada yang rusak. Hp-ku ada di saku dan aku tahu, dengan kepastian yang belum pernah aku punya sebelumnya, bahwa hp itu tidak akan bergetar.

Aku menonton band itu sampai selesai.

Lalu band kedua. Lalu ada sesi penampilan tari yang tidak aku mengerti dan tetap aku tonton sampai habis.

Jam sembilan, ada yang membagikan minuman di lantai dua dan orang itu memberi aku satu tanpa bertanya siapa aku, dan aku bilang makasih, dan dia bilang sama-sama, dan itu seluruh interaksi manusia yang aku punya malam itu selain dengan bapak vendor sound.

Aku minum es teh yang tidak terlalu manis.

Dan sekitar jam setengah sepuluh, di tengah lagu yang aku tidak tahu judulnya, aku menyadari bahwa dadaku tidak sakit.

Aku memeriksanya lagi untuk memastikan, karena aku tidak percaya.

Tidak sakit.

Ada yang lain, sesuatu yang lebih tumpul dan lebih luas, semacam kelelahan yang sudah tidak punya bentuk. Tapi bagian yang tajam — bagian yang selama dua bulan terakhir muncul setiap kali aku melihat namanya di layar — bagian itu tidak ada malam itu.

Aku duduk di balkon lantai dua gedung serbaguna, di antara dua ribu orang yang tidak satu pun tahu bahwa banner di belakang panggung itu aku yang pasang, dan menikmatinya.

Beneran menikmatinya.

Itu malam terbaik yang aku punya sepanjang semester itu, dan aku menghabiskannya sendirian, dan tidak ada yang tahu, dan aku pulang jam sebelas tanpa berpamitan pada siapa pun karena tidak ada yang perlu dipamiti.


Di parkiran, aku berpapasan dengan Gita.

Dia sedang menunggu ojek, dan dia melihatku keluar dari pintu vendor dengan kunci mobil di tangan.

“Kamu dari tadi di sini?”

“Iya.”

“Sampai selesai?”

“Sampai selesai.”

Dia menatapku, dan aku bisa melihat dia menyusun pertanyaan berikutnya, dan aku bisa melihat dia memutuskan untuk tidak menanyakannya.

“Bagus acaranya,” katanya.

“Iya.”

“Kamu nggak masuk foto panitia.”

“Aku bukan panitia.”

Gita mengangguk pelan, dua kali, seperti orang yang baru mendapat konfirmasi atas sesuatu yang dia curigai sejak lama.

“Iya,” katanya. “Sekarang enggak.”

Ojeknya datang.

Aku pulang, dan mengembalikan mobil ke percetakan, dan jalan kaki ke kos karena motorku ada di sana sejak pagi, dan tidur jam dua belas kurang.

Empat hari kemudian, jam sepuluh malam, Bagas mengirim pesan ke grup.