Chapter Thirty Three
Konsultan (Lagi)
POV: Haru
Dia pulang sembilan Agustus.
Aku ke terminal kali ini. Aku sudah bilang dari bulan Juli bahwa aku akan ke terminal dan bahwa kali ini aku boleh menangis karena tidak ada bus yang harus dia naiki setelahnya.
Aku menangis di terminal. Sangat jelek. Ada bapak-bapak yang menawarkan tisu.
Enam bulan itu lama, dan aku akan mengatakan itu kepada siapa pun yang bertanya, dan aku tidak akan pernah mengatakan bahwa enam bulan itu cepat karena itu bohong.
Tapi bab ini bukan tentang enam bulan itu.
September, dan sekre penuh anak baru.
Kepanitiaan tahun ini bukan punyaku lagi. Aku sudah semester tujuh, sudah sidang proposal, dan namaku ada di bagan struktur dengan tulisan “Dewan Pertimbangan” yang artinya aku boleh datang dan tidak boleh menyuruh siapa pun.
Kira lebih parah. Kira bukan siapa-siapa di kepanitiaan ini, tidak pernah, tidak sejak setahun lalu.
Tapi dia tetap datang, karena Bagas mengancam akan mendatangi kosnya, dan karena — ini bagian yang membuat aku senang setiap kali memikirkannya — dia sekarang datang karena dia mau.
Kami sedang di sekre hari Kamis sore, membantu memindahkan meja, waktu aku menyadari ada anak baru yang mengikuti Kira ke mana-mana.
Namanya Adit. Semester satu. Divisi perlengkapan.
Dan dia mengikuti Kira selama dua jam.
Aku memperhatikannya sepanjang sore itu, dan yang aku lihat membuat perutku terasa dingin.
Adit datang paling awal. Dia sudah di sekre jam dua padahal rapat jam empat.
Adit tahu di mana kunci cadangan.
Adit yang mengisi galon. Dia melakukannya sebelum ada yang menyadari galonnya kosong, dan waktu Bagas berterima kasih, dia bilang “kebetulan lewat”.
Adit membawa tas yang terlalu berat untuk anak semester satu, dan waktu ada kabel yang tidak cocok, dia mengeluarkan konverter dari tasnya, dan waktu ditanya kenapa bawa, dia bilang “kebetulan ada”.
Dan sekitar jam lima, ada seorang anak perempuan divisi humas — namanya Nabila, dan dia jelas tidak menyadari apa pun — yang meminta Adit menemaninya ke fotokopi.
Adit langsung berdiri.
Dia berdiri sebelum kalimatnya selesai.
Aku menoleh ke Kira, dan Kira sudah menonton sejak tadi, dan wajahnya adalah wajah orang yang sedang melihat rekaman lama dirinya sendiri.
Aku sedang di ruang belakang jam tujuh, memilah kardus arsip, waktu aku mendengar suara mereka dari ruang depan.
Pintunya setengah terbuka. Aku tidak sengaja. Aku ingin mencatat itu meskipun tidak ada yang akan percaya.
“Kak.”
“Hm.”
“Boleh nanya nggak?”
“Boleh.”
Ada bunyi kursi ditarik.
“Kak Kira dulu gimana sih caranya?”
“Caranya apa?”
“Ya...” Suara Adit turun. “Kata Kak Bagas, Kakak dulu tuh yang paling diandelin. Semua orang manggil Kakak duluan kalau ada apa-apa. Kata Kak Wildan, rekornya empat menit.”
Hening.
“Aku pengen kayak gitu,” kata Adit.
Aku berdiri di antara kardus arsip dengan tangan yang tiba-tiba tidak tahu harus memegang apa.
“Kenapa?” tanya Kira.
“Ya biar... “ Adit tertawa, canggung. “Biar kepake, Kak.”
“Kepake sama siapa?”
Jeda.
“Ya sama semua orang.”
“Adit.”
“Iya, Kak?”
“Sama siapa?”
Dan aku mendengar anak semester satu itu diam selama mungkin lima detik, dan aku bisa membayangkan wajahnya karena aku pernah melihat wajah seperti itu, dan aku pernah membuat orang punya wajah seperti itu.
“Sama... satu orang,” katanya.
“Dia tau?”
“Enggak.”
“Kamu mau dia tau?”
“Nanti,” kata Adit cepat. “Nanti kalau aku udah— ya, kalau aku udah cukup.”
Ini yang Kira katakan, dan aku menuliskannya malam itu juga, di halaman delapan belas buku biru, karena aku tahu aku akan ingin membacanya lagi suatu hari.
“Adit.”
“Iya, Kak.”
“Kamu nggak akan pernah cukup.”
Ada bunyi kursi.
“Bukan karena kamu kurang,” kata Kira. “Tapi karena ‘cukup’ itu nggak ada garisnya. Kamu bakal terus naikin standarnya sendiri. Tahun depan kamu bakal mikir kamu belum cukup, terus tahun depannya lagi juga.”
“Terus aku harus gimana?”
“Kamu tanya aku caranya biar diandelin,” kata Kira. “Aku bisa jawab itu. Aku jago banget di situ. Aku bisa kasih kamu daftarnya sekarang, dan dalam dua bulan kamu bakal jadi orang yang paling dipanggil di ruangan ini.”
“Nah itu—“
“Dan dua tahun lagi kamu bakal duduk sendirian di warung seberang gerbang dari jam setengah lima sore, tiap hari, nungguin hp bunyi.”
Hening total.
“Kak—“
“Aku serius.” Suara Kira tidak keras sama sekali. “Aku nggak lagi nakut-nakutin. Aku lagi ngasih tau kamu apa yang bakal kejadian, karena aku hafal jalurnya, karena aku yang bikin jalurnya.”
Aku memegang kardus arsip dengan dua tangan.
“Terus aku harus ngapain, Kak?”
“Kamu mau saran beneran?”
“Iya.”
“Bilang.”
“Bilang apa?”
“Bilang ke orangnya,” kata Kira. “Sekarang. Minggu ini. Nggak usah nunggu jadi berguna dulu.”
“Kalau dia nolak?”
“Ya kamu sedih dua bulan.”
“Cuma dua bulan?”
“Dua bulan itu jauh lebih pendek dari tiga tahun,” kata Kira.
Aku duduk di atas kardus.
“Dit, dengerin,” lanjutnya. “Kalau kamu bilang sekarang, ada dua kemungkinan. Yang pertama dia bilang iya. Yang kedua dia bilang enggak, dan kamu sakit, dan kamu sembuh, dan kamu jadi orang yang pernah berani.”
Jeda.
“Tapi kalau kamu milih cara aku,” katanya, “kemungkinannya cuma satu. Kamu bakal jadi orang yang dia panggil kalau ada yang rusak.”
“Kak Kira—“
“Dan yang paling parah bukan itu,” kata Kira, dan suaranya berubah sedikit, dan aku menutup mulutku dengan tangan di ruang belakang. “Yang paling parah, dia nggak akan pernah salah. Dia nggak akan pernah bisa disalahin. Karena kamu nggak pernah ngasih dia kesempatan buat milih.”
Hening panjang.
“Kamu nyembunyiin pilihannya,” kata Kira, “terus kamu marah karena dia nggak milih kamu.”
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di atas kardus itu.
Waktu aku keluar, Adit sudah pergi, dan Kira sedang berdiri di depan whiteboard sambil membetulkan penjepit spidol yang patah.
Dia tidak menoleh.
“Kamu di belakang dari tadi,” katanya.
“Iya.”
“Aku tau.”
“Kamu tau?”
“Kardusnya bunyi.”
Aku berjalan ke arahnya.
“Kira.”
“Hm.”
“Kamu tadi ngomong ‘dia nggak akan pernah salah’.”
Dia meletakkan spidolnya.
“Iya.”
“Kamu ngomongin aku.”
“Aku ngomongin aku,” katanya. “Bedanya tipis, tapi ada.”
Dia berbalik dan bersandar ke meja.
“Ru, aku marah sama kamu selama berbulan-bulan,” katanya. “Aku nggak pernah bilang, karena aku nggak ngerasa berhak. Dan aku baru ngerti kenapa aku nggak berhak.”
“Kenapa?”
“Karena aku nyembunyiin pilihannya,” katanya. “Kamu nggak pernah dikasih kesempatan buat milih aku. Terus aku marah karena kamu milih orang lain.”
Aku berdiri di depannya di sekre yang kosong dengan lampu yang tinggal setengah menyala karena anak baru belum tahu saklar mana yang mana.
“Aku juga salah,” kataku.
“Iya,” katanya. “Kamu juga salah. Aku nggak lagi ngebebasin kamu.”
Dan dia mengatakannya sambil tersenyum sedikit, dan aku menyadari bahwa itu — kalimat itu, dari orang itu — adalah hal paling romantis yang pernah dikatakan siapa pun kepadaku.
Dia tidak memaafkanku dengan menghapus catatannya.
Dia memaafkanku sambil tetap menyimpan catatannya, dan tetap memilih.
Aku menciumnya di sekre yang kosong itu.
Aku yang mulai. Aku selalu yang mulai, dan aku sudah berhenti merasa malu soal itu sejak bulan Mei.
Tapi kali ini dia tidak kaget.
Kali ini tangannya sampai ke pinggangku sebelum aku sempat berpikir, dan punggungku menyentuh tepi meja, dan spidol yang penjepitnya patah itu jatuh ke lantai dan menggelinding entah ke mana, dan tidak ada satu pun dari kami yang peduli.
Lama.
Aku tidak akan menulis berapa lama karena aku tidak menghitung, dan karena aku sudah belajar dari orang ini bahwa berhenti menghitung itu sendiri adalah kabar baik.
Waktu kami berhenti, dia menempelkan dahinya ke dahiku dan tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.
“Ru.”
“Hm.”
“Aku bukan orang yang sabar.”
“Hah?”
“Semua orang bilang aku sabar.” Napasnya masih pendek. “Bagas bilang. Sisil bilang. Kamu juga pernah nulis itu di buku kamu, terus kamu coret.”
“Aku coret karena aku sadar itu bukan fakta.”
“Itu bukan cuma bukan fakta,” katanya. “Itu salah.”
“Terus yang bener apa?”
Dia menjauhkan wajahnya sedikit supaya bisa melihatku.
“Aku nggak sabar,” katanya. “Aku takut. Tiga tahun itu bukan kesabaran, Ru. Itu tiga tahun aku takut nanya.”
Kami keluar dari sekre jam sembilan.
Dan di parkiran — tentu saja di parkiran, karena semua hal penting dalam hidupku terjadi di parkiran — ada Tama.
Dia sedang membuka kunci motornya. Dia lulus bulan Juli dan sedang mengurus sesuatu di kampus, entah apa.
Dia melihat kami.
Dan tiga hal terjadi berturut-turut dalam waktu mungkin empat detik.
Yang pertama: perutku menegang.
Yang kedua: Tama mengangkat tangan, dan berkata “Eh, Haru. Kira,” dengan nada yang persis sama dengan nada orang menyapa teman lama di minimarket.
Yang ketiga, dan ini yang membuat aku hampir tertawa di parkiran: Kira mengangguk balik dan berkata, “Tam. Sidang kapan?”
Dan mereka mengobrol selama satu setengah menit tentang jadwal sidang dan tentang dosen pembimbing yang susah dihubungi, dan Tama bilang selamat untuk magangnya, dan Kira bilang terima kasih, dan Tama naik motornya dan pergi.
Aku berdiri di situ.
“Ru?”
“Aku nggak apa-apa.”
“Kamu kaku banget.”
“Aku nggak nyangka aja.”
“Nyangka apa?”
Aku memakai helm — helm abu-abu, yang sudah setahun lebih ada di rumahku, dan yang sekarang menggantung di spion motor baru yang dia beli bulan Agustus dengan uang gaji magangnya.
“Nggak nyangka bisa biasa aja,” kataku.
Kira mengangkat bahu dan naik ke boncengan, karena giliran hari ini giliranku dan itu tertulis di kertas yang sekarang ditempel di dinding kamar kosnya yang baru.
“Dia orang baik,” katanya.
“Iya.”
“Aku pernah bilang gitu ke kamu, tiga tahun lalu.”
“Aku tau.”
“Waktu itu aku ngomongnya sambil pengen mati,” katanya. “Sekarang enggak.”
Dan dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan menyandarkan dagunya di bahuku, dan aku menyalakan motor, dan kami keluar dari parkiran gedung Fikom jam sembilan lewat, dan tidak ada satu pun yang mengganjal di dadaku sepanjang jalan pulang.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi) reading
- 34 Aku Udah di Jalan