← Aku Udah di Jalan

Chapter Five

Konsultan

POV: Kira

Percetakan Mas Yudi punya dua mesin besar dan satu mesin kecil, dan yang kecil itu yang paling sering rewel.

Aku pegang shift Selasa dan Kamis, jam empat sampai jam delapan, kadang lebih kalau ada orderan yang harus selesai malam itu juga. Kerjanya tidak berat. Menyusun, memotong, menjilid, melayani orang yang datang jam tujuh lewat dan bertanya apakah masih bisa cetak seratus lembar.

Yang bagus dari tempat itu adalah bisingnya. Mesin potong punya suara yang menutupi hampir semua hal, termasuk suara di kepala.

Jam tujuh lewat dua belas, hp-ku bergetar di saku celemek.

Haru
kira
kamu di mana
bukan darurat kok
bukan darurat acara maksudnya

Empat pesan, satu menit, tidak ada tanda seru. Haru tanpa tanda seru itu Haru yang lain.

aku butuh ngomong sama kamu. bisa nggak. sekarang.

Aku melihat ke arah tumpukan orderan yang belum selesai. Ada empat puluh set undangan yang harus dijilid, dan Mas Yudi sedang di belakang mengurus tinta.

Aku mengetik:

Aku udah di jalan.

Lalu aku mengetik pesan kedua, ke Mas Yudi, yang duduknya delapan meter dari aku, karena akan lebih mudah kalau dia membacanya daripada kalau aku bicara.

Mas, saya izin pulang sekarang. Sisa jilidan besok pagi jam 6 saya selesaikan sebelum kampus. Maaf.

Mas Yudi keluar dari ruang belakang tiga puluh detik kemudian dengan tangan penuh tinta, melihat aku yang sudah melepas celemek, dan tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

“Yang kemarin juga gitu,” katanya akhirnya.

“Iya.”

“Yang minggu lalu juga.”

“Iya.”

Dia menggeleng, mengambil celemekku, dan menggantungnya di paku.

“Hati-hati.”

Aku keluar, menyalakan motor, dan memutar ke arah selatan — bukan ke arah kos, bukan ke arah kampus, tapi memutar lewat Jalan Wijaya karena dari percetakan ke kedai yang dia sebut memang harus memutar.

Jaraknya delapan belas menit.

Aku sampai dalam dua belas.


Kedai Bu Tin itu kedai kopi murah dengan tiga meja panjang dan kipas angin yang berbunyi. Haru duduk di meja paling ujung dengan tudung hoodie-nya dipakai, dan itu tanda paling jelas bahwa sesuatu sedang terjadi, karena dia benci tudung, dia bilang bikin kepalanya kayak bakpao.

Dia melihatku masuk dan langsung berdiri.

“Kamu cepet banget.”

“Kebetulan lagi—“

“Duduk. Duduk duduk duduk.”

Aku duduk. Dia mendorong segelas teh panas ke arahku, yang berarti dia sudah memesankan, yang berarti dia sudah menunggu setidaknya sepuluh menit sebelum mengirim chat pertama.

“Kenapa?” tanyaku.

“Aku mau minta tolong.”

“Oke.”

“Kamu belum denger tolongnya.”

“Oke.”

Dia menghela napas, membuka tudungnya, dan rambutnya berdiri di satu sisi.

Lalu dia mengulurkan kedua tangannya ke seberang meja dan menangkap kedua tanganku.

Dia memegangnya seperti orang memegang pegangan tangga. Erat, dua tangan, tanpa maksud apa-apa, dengan ibu jari menekan punggung tanganku karena dia sedang tegang dan tangannya perlu melakukan sesuatu.

Tangannya dingin. Kedainya panas. Tangannya selalu dingin.

“Ra,” katanya. “Ajarin aku.”

“Ajarin apa.”

“Cara...” Dia mengerjap. “Cara bikin orang suka sama aku.”

Kipas angin berputar. Ada bunyi gelas di belakang. Bu Tin menggoreng sesuatu.

“Orang,” kataku.

“Ya jangan pura-pura bego.” Dia menendang kakiku di bawah meja. “Tama.”

“Oh.”

“OH?” Dia melepas tanganku untuk melempar tisu, lalu menangkap tanganku lagi. “Kira. Serius. Aku nggak pernah kayak gini. Aku tuh biasanya cuek. Sekarang aku ngecek hp tiap lima menit kayak orang gila dan aku benci diri aku sendiri.”

“Kenapa nanya ke aku.”

“Karena kamu tuh...” Dia melambaikan satu tangan, mencari kata, dan tangan satunya masih memegang tanganku. “Kamu paling ngerti aku. Kamu tau aku bakal kesel sebelum aku kesel. Kamu tau aku laper sebelum aku laper. Jadi kamu pasti tau aku harus ngapain.”

Ada satu detik — satu, aku menghitungnya — di mana aku memikirkan seluruh kalimat itu dari sisi yang lain. Kamu paling ngerti aku. Ada versi malam ini di mana aku menjawab pakai kalimat yang sudah tiga tahun disimpan, dan kalimat itu bahkan tidak akan terdengar tiba-tiba, karena semua buktinya sudah ada di depannya sejak semester dua.

Detik itu lewat.

Kalau aku melakukan itu sekarang, aku sedang melakukannya di malam saat dia datang meminta tolong. Itu bukan mengaku. Itu menagih.

“Oke,” kataku.

Wajahnya langsung menyala. “Beneran?”

“Iya.”

“Kira, kamu tuh—“ Dia mengguncang tanganku dua kali. “Kamu tuh malaikat.”

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Kamu bakal ngomong sesuatu yang bener. Kamu selalu.”


Ini yang aku katakan, dan aku mengingatnya semua, karena aku menyusunnya sambil bicara seperti orang menyusun kursi di ruangan yang akan dia tinggalkan.

Pertama: berhenti mengirim chat panjang jam dua pagi. Bukan karena salah. Karena besok jam tujuh dia akan membacanya ulang dan merasa bodoh, dan rasa bodoh itu akan membuat dia berlebihan seharian.

Kedua: Tama bukan tipe yang menebak. Aku sudah memperhatikannya tiga kali. Dia bertanya dulu sebelum melangkah — dia bahkan bertanya sebelum menarik kursi, dia bertanya sebelum melakukan hal yang sebenarnya tidak perlu ditanya. Orang seperti itu tidak akan maju kalau sinyalnya samar. Dia akan menganggap dirinya salah baca dan mundur, dan mundurnya sopan sekali sampai Haru tidak akan pernah tahu bahwa dia pernah maju.

“Jadi aku harus gimana?”

“Kamu yang kasih tanda jelas.”

“Jelas kayak gimana?”

“Ajak dia ngelakuin sesuatu. Bukan ngobrol. Sesuatu yang ada kerjaannya.”

“Kenapa?”

“Karena kamu jelek kalau diem-dieman berdua.”

Dia melempar tisu lagi. “Anjir.”

“Beneran. Kamu bagus kalau ada yang dikerjain. Kamu jadi kamu.”

Ketiga — dan ini yang paling aku pertimbangkan sebelum mengucapkannya, karena ini bukan taktik, ini kunci — jangan bercanda soal dirinya sendiri di depan Tama.

“Maksudnya?”

“Kamu suka ngeledek diri sendiri. Bilang kamu berisik, kamu ngerepotin, kamu nggak bisa apa-apa.”

“Ya emang.”

“Nggak,” kataku. “Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya orang kayak Tama bakal percaya kamu.”

Haru terdiam.

Kipas angin berputar.

“Dia bakal mikir kamu beneran nganggep diri kamu kayak gitu,” lanjutku, “terus dia bakal hati-hati banget sama kamu, kayak megang barang retak. Dan kamu bakal capek dianggep retak.”

Dia menatapku dengan cara yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Bukan lama. Mungkin tiga detik. Tapi matanya tidak bergerak dan mulutnya sedikit terbuka.

“Kok kamu tau itu.”

“Nebak.”

“Kamu selalu bilang nebak.”

“Iya.”

Dia melepaskan tanganku, akhirnya, dan menyandarkan punggung ke kursi, dan mengembuskan napas panjang ke atas sampai poninya terangkat.

“Kira.”

“Hm.”

“Kalau nanti aku jadian sama dia, aku traktir kamu apa aja yang kamu mau. Seumur hidup. Sumpah.”

“Nggak usah.”

“Harus. Aku bakal maksa.”

Dia tertawa. Aku ikut tertawa, karena itu memang lucu, dan karena tertawa lebih mudah daripada tidak.


Aku pulang jam sembilan lewat.

Aku tidak langsung ke kos. Aku berhenti di lampu merah Kalibaru dan tetap berhenti setelah lampunya hijau sampai motor di belakangku membunyikan klakson, lalu aku jalan lagi.

Jam sepuluh aku sampai di percetakan, membuka pintu samping pakai kunci cadangan, menyalakan mesin jilid, dan menyelesaikan empat puluh set undangan sendirian sampai jam dua belas lewat.

Bukan karena aku rajin.

Karena kalau aku pulang ke kamar jam sembilan malam itu, aku akan berbaring dan mengulang percakapan tadi dari awal sampai akhir, dan aku sudah cukup tahu diriku sendiri untuk tahu bahwa aku akan mengulangnya sampai pagi.

Mesin jilid punya suara yang menutupi hampir semua hal.


Dua hari kemudian, jam sebelas malam, hp-ku bergetar.

Haru
KIRA
KIRAAAAAA
AKU AJAK DIA BANTUIN NGUKUR PANGGUNG
KAYAK YANG KAMU BILANG
DIA MAU
terus tadi pas ngukur dia bilang “aku seneng kamu yang ngajak” TERUS DIA SENYUM GITU
RA ITU ARTINYA APA
RA
JAWAB
ini semua gara2 kamu
kamu tuh jenius
makasih ya. beneran. aku nggak tau harus gimana kalau nggak ada kamu

Aku membaca semuanya dua kali.

Lalu aku mengetik: Bagus.

Lalu aku menghapusnya.

Lalu aku mengetik: Udah aku bilang.

Lalu aku menghapusnya juga, dan mengirim satu emotikon jempol, dan menaruh hp di lantai dengan layar menghadap ke bawah.

Ada perasaan yang tidak punya nama yang bagus dalam bahasa apa pun: perasaan waktu kamu mengerjakan sesuatu dengan baik sekali, dan hasilnya persis seperti yang kamu rencanakan, dan itu bekerja, dan bekerjanya sempurna, dan kamu berbaring di lantai kamar kos jam sebelas malam sambil menyadari bahwa satu-satunya hal yang kamu kerjakan dengan sungguh-sungguh dalam hidupmu tiga tahun terakhir adalah membangun jalan yang akan dilewati orang lain untuk pergi.